
Tapi, aku merasa terakhir kali dia tak berbicara padaku dan fokus pada wadma Saudara kembarnya. "Aku pikir dia melupakan diriku.." Singa itu berhenti dan menatapku remeh.
Ep. 111
"Apa kau pikir begitu? Jika kau pikir begitu pasti dia sudah mengambilku darimu secara tak sadar.. mungkin dia hanya mengulur waktu.. aku akan menghubunginya saat kita tiba di gunung itu.." Ucap singa itu.
Kenapa harus disana? Aku ingin bertanya.. tapi ah sebaiknya aku diam saja. "Gunung es adalah tempat aku bisa mengobarkan kekuatanku yang sepanas api membara.. jika aku berubah menjadi phoenix disini.. hutan ini akan hancur.." Ucapnya dengan aku yang menjawab "ooo.. aku mengerti.. phoenix.." Ucapku tersenyum.
***
*Angga POV
Aku sudah mendapatkan kembali apa yang menjadi milikku. Keluargaku, harta, dan kekayaanku tapi Weraa sudah kembali ketubuhnya. Apa yang harus kulakukan? Sementara aku mendengar dan sudah mengetahui rencana kakakku itu yang ingin menjodohkan Weraa dengan Wansa sepupu kami. Lalu bagaimana aku bisa merusaknya.
"Permisi.. hei broo!! Gimana apakah aman?" Tanya Hoshi teman kak Wanda ini sangat welcome akan kehadiranku.
"Kau tau tidak aku bersyukur kau muncul tiba-tiba ah.. tidak! harus nya kau itu muncul sejak awal.. Kakakmu Wadma itu selalu kesulitan menolak memegang perusahaan keluarga kalian ini.. dan Wanda tak perlu lembur karena sekarang sudah teratasi dengan adanya dirimu.." Ucap kak Hoshi.
__ADS_1
"Mengapa Wadma tak menginginkan semua ini?" Tanyaku. "Saudara kembarmu itu menolak karena ia sudah menikmati profesi idolnya.." Ucap kak Hoshi. "Menikmati.. kak.. apa kakak menyukai kak Wadma?" Tanyaku terus terang.
"Apa itu terlihat jelas?" Tanyanya mengubah wajah nya menjadi serius.
"Aku hanya merasa begitu.." Ucapku.
"Tok tok tok" bunyi ketukan pintu dan kak Wanda masuk. "Kalian sudah lihat berita terbaru soal pembunuhan itu?" Tanya kak Wanda.
"Ah.. itu.. aku sudah baca.. aku sudah menghubungi Mingyu.. dia bilang dia memang menemukan jejak Randa.. tapi itu hanya saat pembunuhan Cantika.. karena itu dia tak bisa menuduh Randa karna buktinya hanya ada di pembunuhan pertama.." Ucap kak Hoshi.
"Tapi.. menurutmu siapa yang menyorot sekumpulan geng weraa? Media itu bahkan menyorot wajah Kartika yang digunakan tubuhnya oleh loosa.." Ucap kak Wanda. Aku membuka web dan melihat dengan teliti dan melihat sosok yang memotret dan menelfon seorang pria.
"Song Arvandita.. kakak dari Weraa.." Ucap kak Wanda. Kakak weraa? Jadi.. dia kakak weraa? "Memangnya dia kenapa ngga?" Tanya kak hoshi dengan aku diam melihat sketsa itu lagi..
Menghela nafas dahulu dan barulah kukatakan "aku melihat dia menyuruh beberapa orang untuk mengikuti gerak-gerik adiknya.. dia juga mengikuti semua teman-teman weraa.." ucapku dengan mereka saling pandang. "Tapi apa dia harus mempublikasikan teman adiknya sendiri?" Tanya kak Hoshi.
"Ayo temui dia.." Ucap kak Wanda. Dan aku langsung berdiri hendak menawarkan diri. Namun kak Wanda langsung melihatku "kau temui Wadma saja.. semenjak kau kembali sepertinya kau memiliki keraguan yang ingin kau tanyakan.. kakak tidak tau apa itu.. tpi kurasa Wadma tau yang ingin kau tanyakan.." ucap Kak Wanda dan bergegas pergi dengan kak Hoshi yang tersenyum dan mengisyaratkan "semangat!" padaku. Aku menghela nafas dan teleportasi ke lokasi rumah tempat mereka menyekap Putri weraa sebelumnya tepatnya kediaman Cevin.
__ADS_1
Aku melihat sekitar rumah itu dan mulai flashback saat aku mengingat bagaimana Wadma bertemu dengan Cevin dan selalu belajar sihir disini. Benar, sejak dulu aku sudah melihat mereka dari jauh dan meningkatkan kekuatanku dengan meniru ajaran Cevin. Bedanya, perkembangan kekuatanku lebih cepat dibanding Wadma. Karena perbandingan kekuatan kami yang jauh berbeda itulah yang membuatku tak menyadari dia adalah saudara kembarku sampai aku melukainya waktu itu di betlan school.
"Aku hanya terlalu fokus pada diriku.. dan kalaupun ada orang yang kupedulikan hanya Weraa.." tapi, dia sudah kembali ke tubuhnya. Dan apa gunanya aku sementara kakakku sendiri.. saudara kembarku sendirilah yang menjodohkan weraa dengan Wansa.
Aku iseng masuk ke dalam rumah itu dan melihat bagaimana rutinitas bayangan mereka yang kulihat. Sejujurnya aku juga tak memahami apa rencana Wadma. Tapi entah kenapa dia tau banyak hal dibanding diriku.
"Mungkin itu kelebihannya.. dia lebih tau banyak hal dibanding aku.. sementara aku lebih kuat darinya.." Ucapku duduk di sofa dan masih melihat bagaimana bayang-bayang masa kecil Wadma, kak Wanda dan paman Wansa serta si Cevin.
"Berikan saja semua bagian warisan wadma pada Angga ayah.. Wadma tak memerlukan itu semua.. dan lagi pula anggaplah itu penebusan dosa karena ayah dan ibu tak memberi tau bahwa Wadma memiliki kembaran.." Ucapan Wadma waktu itu bisa terlihat sok pahlawan tapi dia memang tulus dan lagi pula dia sudah bekerja dan memang tak tertarik pada perusahaan. Ayah dan ibu juga memanjakanku seperti menyambut anak kecil mereka yang baru kembali dari negeri yang jauh.
"Tapi, aku tak bisa menyalahkan mereka juga.. jawaban kesalahan siapa ada pada dua arwah ratu dimensi sihir itu.. ratu Ririn dan Rinjani.." Ucapku menutup mata dan tertidur di sofa itu.
***
*Wadma POV
"Permisi.. boleh aku ikut duduk disini?" tanya ku datang dihadapan Randa yang menunjukkan senyum sinisnya itu. "Cih, kau ingin menuduhku membunuh Sharika?" Tanya Randa membuatku diam dan tersenyum sambil menatapnya dan melihat keraguan pada aura miliknya. "Jika benar kau pelakunya.. boleh aku tau mengapa alasan apa kau melakukannya?" Tanyaku dengan dia yang menyandarkan punggungnya dikursi.
__ADS_1
"Aku penasaran.. mengapa kau sangat tertarik pada kasus seperti ini? Maksudku.. kau itu artis, idol, lalu apa yang kau lakukan ditengah-tengah kami? Ingin menunjukkan kekuasaan? Atau apa?" Tanyanya dengan aku langsung menatapnya kesal. "Semakin kau menilai buruk orang lain, semakin kelihatan seburuk apa dirimu.." Ucapku santai dengan mata membelalak menatap tajam padaku dengan kesal & amarah.
"Aku sudah pernah mendapat petunjuk tentangmu tapi aku melewatkannya dan malah melupakannya... Kau orang yang waktu itu mengacaukan acara song arvandita kan? Bisa aku tau apa alasanmu?"