Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
"Semua akan baik-baik saja"


__ADS_3

*  “Ah benar.. Wanda sangat cerdas loh.. Dia memiliki IQ yang lebih tinggi dari ayahnya.. sepertinya ia membuktikan dirinya pantas untuk mengambil ahli perusahaan..”*


*  “Tapi, yang paling penting itu akhlak ayah..” Ucap Wadma mengambil minuman ditemani bodyguard pribadinya.*


*  “hei! Sudah sana main sama sepupu kita..” Ucap Wanda.*


*  “Owh jelas dong Wansa kelihatannya juga seneng banget hehe..” Ucap Wadma tersenyum senang membuat ayah dan ibu Wansa terkejut. “Nak Wadma??” Tanya papa Wansa yang langsung memegang bahu Wadma menatap mata Wadma yang menatap balik dengan kebingungan. “Ada apa paman?” Tanya Wadma.*


*  “Tolong semangati Wansa yah.. Tak ada yang biisa mengingatnya..” Ucap Ayah Wansa yang membuat Wadma tertegun menatap semua orang tak percaya. Kata yang ingin ia ucapkan adalah “Apa maksud kalian?” Namun yang keluar adalah “Om.. ngomong apa yah Wadma gak ngeti maksud om..” Ucapnya menjaga diri karena ia yang masih anak usia 6 tahun.*


*  “Pergilah.. bermain bersama Wansa..” Ucap ayah Wansa dengan Wadma yang tersenyum imut “Baiklah! Serahkan sama Wadma om.. Wadma itu punya banyak mainan hehe..” Ucap Wadma yang menyembunyikan pertanyaannya sambil menatap kakaknya seakan memohon kakaknya untuk menyelidiki ada apa sebenarnya.*


*  “Wadma? Sebentar ayah sama bunda gk ngerti apa yang om kamu omongin.. Kamu mau main sama siapa?” Tanya ayah Wadma.*


*  “Main sama anaknya bodyguard palingan tuh yah..” Ucap Wanda menggaruk kepalanya. Wadma melihat ayah Wansa berdiri dan menangkupkan tangan pada ayahnya. “Tolong biarkan ia bermain dengan anak itu..” Ucap Ayah wansa.*


*  “Mengapa aku melarangnya? Ada apa denganmu? Aku tak pernah menjalankan aturan keluarga kita tentang kasta.. Anakku selalu bermain dengan anak-anak pembantu disini..” Ucap Ayah Wadma.*

__ADS_1


*  “Benar.. justru kami bingung kamu memohon untuk pembantu? Bukankah keluarga kalian selalu memedulikan aturan berdasarkan kasta?” Tanya Bunda Wadma.*


*  “Wadma!! Mengapa kau lama sekali?” Tanya Wansa.*


*  “Ah.. ini aku sudah bawa.. ayo!” Ucap Wadma.*


*  “Tunggu! Hei nak? Siapa kau? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya..” Tanya Ayah Wadma.*


*  “Ayah bicara pada siapa?” Tanya Wadma membuat semua terkejut termasuk kakaknya.*


*  “Jika ayah tak ingat sudah melihatnya 3 kali atau lebih untuk apa ayah menanyainya.. Menganggapnya tak ada itu lebih membuatnya tak tersakiti..” Ucap Wadma menarik tangan Wansa.*


*  “Ada apa dengan anak itu.. Apa dia tak ingin ayahnya berteman dengan teman barunya? Bahkan ia berbicara seperti orang dewasa..” Ucap Ayah Wadma bingung sementara Ayah Wansa berkata “Anak-anakmu benar istimewanya.. Aku rasa karma dari ramalan hari itu benar terjadi..”*


*  “Ramalan?” Tanya Ibu Wadma dengan Dani kecil yang menguping.*


*  “Benar kak.. kami yang berpegang teguh pada aturan kasta membuat satu pembantu kami menderita dan dia mengatakan ia meramalkan hal buruk akan menimpa kami..” Ucap Ibu Wansa.*

__ADS_1


*  “Hal buruk.. ayolah jangan terlalu dipikirkan… lagi pula keluarga kalian baik-baik saja kan? Aku dengar kamu mengandung yah dek?” Tanya Bunda Wadma.*


*  “Iya kak.. Kami harap anak kami yang ini akan baik-baik saja..”*


*  “Bukankah.. ini akan jadi anak pertama kalian?” Tanya ayah Wadma antusias.*


*  “...”*


*  “Ada apa?” Tanya Bunda Wadma melihat raut sedih adiknya.*


*  “Kami ingin menceritakannya tapi kami lelah karena kalian hanya akan melupakannya.. Kami sudah punya anak apa kalian tak ingat? Ia lahir 2 tahun setelah Wanda.. kami pun memberi nama yang hampir mirip yaitu Wansa..” Ucap Ayah Wansa.*


*  “Wansa?” Tanya Ayah Wadma bingung dan tertawa tiba-tiba “Kalian pasti bercanda.. hahaha.. “ Namun, tawa itu berhenti ketika  bunda Wadma menyentuh bahu suaminya untuk tak tertawa. “Aku tak tau apa yang kalian bicarakan.. Kalian terlihat serius dan tak bercanda sama sekali.. Namun, ingatlah kalimat ini..  semuanya akan baik-baik saja..” Bunda Wadma.*


*  Sementara Wadma, Wansa dan Wanda di taman keluarga menikmati pemandangan. Wansa menceritakan kekurangan yang ia sebut kutukan karena ibu dan ayahnya yang mempedulikan perbedaan kasta di rumah dan masyarakat. Wadma hanya terdiam karena itu tak sepenuhnya kutukan dan sadar ia yang membuatnya menjadi buruk seperti itu tanpa sengaja.*


*  “Aku juga menyesalinya..” Ucap Wadma membuat Wanda terkejut sementara Wansa bingung.*

__ADS_1


#ME_Mawad


#KSW_Part52


__ADS_2