
“Eh? Udah kebuka? Weraa? Kamu…” Ucapan Shanti terdiam melihat tak ada orang dikamarnya.
“Dimana dia?” Tanya Shanti lagi.
“apa kalian tak ada yang terbangun walau sebentar?” Tanya Nisa.
“Apa kau tau kalau pintunya sudah terbuka?” Tanya Ririn.
“Dia pergi kemana??” Tanya Nisa panik masuk dan melihat barang kali ia meninggalkan pesan.
“Sa? Kenapa ada pisau disini?” Tanya Sarah yang mau menurunkan kakinya dari sofa namun menginjak gagang pisau.
“Pisau itu..” Ucap Nisa melihat rak pisau di dekat piring kosong yang ia suguhkan itu.
“Apa mungkin?”
“Ting tong!” Bunyi bel dari Sheli yang membawa makanan.
“Siapa?” Tanya Rinjani membuka pintu dan melihat Sheli bersama Wansa.
“Kalian?”
“Aku membawa lauk untuk sarapan.. apa Weraa sudah keluar? Ah.. benar.. kita harus mengganti namanya menjadi Loosa agar Weraa yang asli tak merasa kesulitan..” Ucap Sheli.
“Kau tau namanya?” Tanya Nisa.
“Apa itu namanya?” Tanya Ririn.
“Owh.. Sheli.. Kau datang.. Aku baru akan menelfonmu.. Weraa mengatakan ia ingin menemuimu? Aku penasaran apa yang kalian bicarakan? Tapi.. Mengapa kau datang dengan Wansa dan bukannya Weraa?” Ucap Windy.
“??”
“Apa maksudmu Windy?” Tanya Sheli bingung meletakkan makanannya..
“Windy? Apa kau juga tau Weraa sudah keluar dari kamarnya pagi tadi?” Tanya Nisa.
__ADS_1
“Iya.. Dia tadi memegang pisau.. kau tau? Kukira ia ingin bunuh diri.. Namun, ternyata ia hanya ingin mengupas apel didepanku.. Lalu dia bilang dia akan pergi menemui Sheli..”
“Apa kau benar tak menemuinya Shel?” Tanya Ririn.
“Tidak.. aku semalaman tidur.. dan pagi tadi bersama Wadma serta Wansa dan lainnya..”
“Wadma? Sedang apa kau bersama gadis itu? Kita masih belum bisa mempercayainya!!” Ucap Rinjani.
***
Wadma dan Sandi pergi kesebuah restoran dan makan disana dengan tenang ups.. maaf karena lebih tepatnya Sandi diam menanggapi secara singkat atas semua celoteh keluhan Wadma karena moodnya dirusak Wansa.
“cih… Kau benar-benar menjawab semua komentarku dengan singkat.. Menyebalkan!!”
“Kau ingin aku seperti ibumu yang balik memarahimu panjang lebar? Kau bahkan tak meminta saran kan? Untuk apa aku menasehatmu??”
“Tidak tapi.. baik-baik…”
“Yaampun.. ada apa ini nak Wadma?’
“Bibik.. aku pesan mie instan dengan kuah sub nya yah..”
“Hah?” Tanya Wadma bingung. Bibik itu melihat Sandi dan tersenyum mengatakan “Kau akan mendapat tugas dan tanggung jawab besar untuk menunjukkan perasaanmu.. Semangatlah anakmuda..”
“Hah? Maksud bibi??”
“Bibik… Buatin cepetan…” Ucap Wadma beracting cute sperti anak kecil.
***
“Aku yakin Wadma tau sesuatu tentang kepergian Weraa.. dia penyihir profesional kan?” Tanya Sarah.
“Dari mana kau tau?” Tanya Windy.
“Ibu Shanti hampir mati namun, seorang anak menyelamatkannya dengan mengeluarkan secercah cahaya yang samar-samar bida terlihat dari kaca pembatas ruang.. Namun, aku bisa melihatnya..” ucap Sarah.
“Bagaimana kau bisa melihatnya?” Tanya Nisa.
__ADS_1
“Aku memiliki kekuatan baru.. Entahlah.." Sarah memperhatikan pisau yang diinjak
"cih.. Sejak kapan.. " Ucap Shanti namun dia cepat mengingat seorang anak yang dulu pinsan setelah masuk ke ruang oprasi ibunya.
"Jika kau mendapat kekuatan baru itu artinya Wadma yang memberinya padamu kan??" Tanya Wansa.
"Semua kekuatan itu datang dari Allah.." batin Nisa.
"Tunggu kalo gitu.. Kamu bisa lihat kejadian yang dah berlalu?? Bahkan masa lalu orang lain?" Tanya sheli.
"iya juga. Itu kan masa lalu.. Shanti? Berarti bener wadma pernah nyelamatin ibumu??" Tanya ririn.
Sarah memperhatikan pisau itu dan memperhatikan tempat pisau dekat dengan piring kosong di meja dapur yang berhadapan dengan sofa. Dan kemudian melihat Nisa.
"Tunggu.. Kak wansa? Kau bilang Wadma yng memberikan kekuatan ini pada Sarah??" tanya Rinjani.
"Iya.."
"Mengapa dia memberikannya?" Tanya Rinjani.
"Hanya ingin memberikan kekuatan agar kita sama dengannya yang memiliki kelebihan.." ucap Wansa.
"Kesepian.." batin Nisa.
"sudahlah tak perlu membahas Wadma jika kalian tak menyukainya.. Dimana fokus pada weraa!! Maksudku loona.." Ucap Nisa.
"Windy.. Kau bilang dia ingin mengupas apel?" Ucap Sarah.
"Iya.."
"Ada apa memangnya Sar?" Tanya Shanti yang memakan camilan dari kulkas.
"Masih sempat-sempatnya mu makan Shan.." Ucap Ririn namun ikut makan diikuti Windy.
"Kalian sama saja.. wansa.. Bukannya mu biasanya tau keberadaan Weraa?" Tanya Rinjani.
ME_Mawad
__ADS_1
KSW_Part73