
"Weraa? Kok mu ngomong gitu sih? Gak ada salahnya kita mencintai dalam diam.. selama cinta kita tak membuat kita tersesat ke jalan yang salah maka cinta itu adalah kebenaran.." Ucap Rinjani.
"Cih.. Cinta itu hal bhulshit tau gak sih.. kalian terlalu dibutakan sama yang namanya cinta gak guna itu.." Ucap Weraa membuatku tertegun mengingat perkataan Wadma tadi pagi menanyakan siapa Weraa yang berbicara ditelfon.
"Kau siapa?" Tanyaku langsung membuatnya kelihatan gugup dan sepertinya tersadar. "Yaampun, maaf aku kelewatan ngomongnya.. maaf maaf.. gimana kalau kita sarapan aja.. maaf yah sekali lagi.. tau apa aku soal cinta.. mungkin efek karena aku belum terbiasa hidup sebagai manusia.. karena selama aku jadi hantu aku hanya melihat berbagai kemunafikan manusia dan penghianatan mereka satu sama lain.." Ucapnya memelas.
"Huft.. kalau begitu cobalah biasakan.." Ucap Shanti.
"Jadi Weraa enak yah.. dia gak menghadapi banyaknya tugas.. jadi hantu keliling kota main kesana kemari pas balik ketubuhnya dah langsung kelas 12 SMA.." Ucap Ririn tertawa namun yang lain diam.
"Jadi hantu tak semenyenangkan itu Rin.. dari gambaran bagaimana Cantika, Sharika, dan Kartika yang berkali-kali ingin hidup kembali membuat kita sadar sesulit apapun kita hidup dari segi tugas pun akan lebih baik dari pada mati.." Ucap Shanti.
"Hmm maaf.. cuman kek kalau arwah kan bisa terbang.. terus ada kekuatan kek bikin mati hidupkan lampu, terus.." Ucapan Ririn disela.
"Makan saja makanan dipiringmu Ririn.. jangan mikirin yang lain-lain.." Ucap Windy.
Setelah makan semuanya kembali beraktivitas didalam rumah karena pesan Wadma yang menyuruh kami agar tetap berjaga-jaga dan sebaiknya tidak keluar rumah. Sementara aku mau memasak menu makan siang.
"Mu mau masak apa Sar?" Tanya Sheli.
"Menurutmu?" Ucapku tersenyum.
"Ririn.. bantuin gih.. Mu juga Shan.." Ucapku lagi.
"Wah.. mau makan besar nih?" Tanya Ririn.
"Weraa? Mau bantu gak?" Tanyaku lupa ada dua weraa. Dengan keduannya menjawab berbeda "bantu apa?" Tanya Putri weraa dan "nggak ah.." jawab Weraa.
__ADS_1
"Mu nyebut siapa?" Tanya Windy.
"Gimana kalau kita sebut Putri weraa kek diawal Wadma ngasih nama? Loosa?" Tanyaku dengan Putri Weraa diam dan kemudian mengangguk pelan. "Okey.. loosa mau bantu berarti tadi kan? Kita bagi tugas.. Loosa bagian bersihin daging ayam, sama daging sapinya.. terus Ririn bagian urus bumbu-bumbu nya dibantu sama Rinjani.. Shanti! Mu.. cuci bersih semua sayur terus dipotongin yah.." Ucap ku.
"Oghey!!" Jawab Shanti.
"Sar.. keknya bumbunya ada yang kurang deh.." Ucap Ririn.
"Masa sih?" Tanyaku.
"Iya nih.. Ketumbarnya, jahe, sama kunyit abis.. soalnya kita mau bikin Gulai, Semur, tumis, sama.. goreng tempe tahu kan?" Ucap Rinjani
"Yaudh.. siapa yang mau beli? Aku atau mu?" Tanyaku pada Rinjani.
"Aku aja.." Ucap Loosa.
"Udah aku aja kalau gitu.." Ucap Sheli meletakkan buku yang ia baca di rak buku.
"Yaudh sheli aja.." Ucapku.
Semua mulai mengerjakan bagiannya. Tak berapa lama Windy mendatangiku dan menarikku ke kamarnya. "Ada apa win?" Tanyaku.
"Weraa dia memakai kutek milik ku.. dan tak meminta izin.. tadi juga aku melihat Loosa sering memperhatikan Weraa dengan penuh curiga.." Ucapnya membuatku menghela nafas.
"Kita masih ngasih kesempatan pertama.. jangan langsung nganggap dia baik.. dan wajar Weraa mungkin frustasi.. waktu jadi hantu dia kan ngambil barang manusia sesuka hatinya aja.." Ucapku mencoba positif thinking walau aku juga ragu.
"Duh.. gimana yah.. mu pasti bisa liat aura dia kan? Kekuatanmu? Gak mu coba?" Tanya Windy padaku.
__ADS_1
Aku diam dan kemudian menatapnya. "Aku sudah belajar pada Wadma bagaimana caranya agar aku bisa menutup kekuatanku saat aku tak ingin menggunakannya.. kau tau dari dulu aku ingin hidup normal kan?" Ucapku dengan dia yang mengubah ekspresinya menjadi sedih dan mengehela nafas.
"Jika kau sudah bilang begitu.. mau bagaimana lagi.. aku tak bisa memaksamu.." Ucapnya membuatku bimbang. "Kalian membicarakan apa?" Tanya Weraa langsung membuka pintu kamar membuatku langsung menggunakan kekuatanku dan melihat aura hitam pekat padanya. "Tidak ada apa-apa.." Ucap Windy sedikit gelagapan. "Apa kau tak bisa mengetuk pintu sebelum masuk? Sejak pagi tadi ada yang berbeda dari dirimu!" Ucap ku terang-terangan dan melihat tatapan matanya yang terlihat tak suka dengan yang kukatakan.
"Benar juga.. aku juga perlu saran satu orang lagi.. akan kutanyakan pada Rinjani.. makasih sarannya Sarah.." Ucap Windy keluar dan menemui Rinjani untuk kekamar lain. Dia begitu totalitas kalau tengah berbohong. "Kau menyadarinya? Maaf aku hanya lelah diam seharian seperti kemarin seperti yang paling asing.. jadi aku hanya ingin berbaur dengan kalian.. dan kalian harus tau sifat ku yang asli.." Ucapnya membuatku menaikkan alis.
"Sifatmu yang asli? Apa wadma juga tau sifat mu yang asli ini?" Tanyaku.
"Tidak.. dia belum tau.. tapi, sebentar lagi pasti akan tau.. jika kau meragukanku katakan saja Langsung padaku.. tidak perlu dipendam.." Ucapnya.
"Hei.. kalian membicarakan apa?" Tanya Shanti dengan kami hanya saling menatap diam. Shanti yang canggung langsung mananyakan padaku "itu bumbunya mau digimanain Sar?" Tanyanya.
Aku kembali mengikuti Shanti ke dapur dan memasak bersama Rinjani yang sudah kembali dan langsung dihadang weraa. "Kalian membahas apa?" Tanyanya.
"Ah.. windy.. dia menanyakan bagaimana hukum menikah muda menurut islam.." Ucap Rinjani dengan pendengaran Ririn yang tajam. "Kau mau menikah secepatnya?" Tanya Ririn ke arah Windy yang langsung melihat Rinjani menangkupkan tangan minta maaf "aku lupa kita punya si pendengaran liar." Ucap Rinjani.
Padahal, windy hanya membuat pengalihan agar Weraa tak mencurigai dirinya. Namun, sudah berakhir seperti itu. Aku kemudian bertatapan dengan Weraa dan saat itu adalah ketepatan waktu aku melihat masa lalunya. "Astagfirullah.." Ucapku dengan Rinjani bertanya "ada apa?"
"Hp mana?" Tanyaku.
"Disakumu.." Ucap Loosa.
"Ah iya benar.. aku lupa memberi tau sheli.. sekalian belikan kotak nasi.." Ucapku mengalihkan pandangan yang panik melihat masa lalu orang itu.. dia bukan weraa dia orang lain. Aku kembali menutup kekuatanku. Dan mengetik pada Sheli tuk membeli kotak nasi.
"Kirain apaan.." Ucap Rinjani.
Bagaimana ini.. ada masa kecil orang lain. Pemilik Coffe Shop adalah Sirah. Wajahnya mengapa begitu mirip? Lalu dimana keberadaan Weraa yang asli? Mengapa hidup Weraa begitu sulit? Tidak bisakah dia mengalami ketenangan? Aku harus bagaimana? Ingin menangis jika aku membayangkan aku di posisi Weraa yang raganya selalu diambil alih orang lain.
__ADS_1