
“Apa maksudnya? Kau menyerang dirimu sendiri?” Tanya Cevin menyembuhkan luka bakarnya Wadma.
“Apa paman mengenal pria jubah hitam itu? Paman tau aku menyerang diriku sendiri.. itu berarti paman tau sesuatu?” Tanya Wadma.
“Bagaimana kau tau kau terhubung dengannya?” Tanya Cevin membuat Wadma melihatnya.
“Jadi paman dan Cevin sudah tau?” Tanya Wadma.
“ah.. bukan begitu..” Ucap Cevin.
“Paman??”
“sebaiknya kamu istirahat dulu.. Paman ada perlu..” Ucap sopir Weraa pergi teleport.
“Aku juga..” Cevin berhenti berbicara karena Wadma menggenggam pergelangan tangan cevin “Jelaskan dulu!! Jangan ada rahasia? Aku harus tau siapa dia??” Ucap Wadma namun Cevin hanya tersenyum dan mengelus kepala Wadma.
“Tidur dan istirahatlah.. Kau akan tau nanti..” Ucap Cevin pergi.
Wadma melihat tangannya berulang kali dan berpikir keras hingga ia tak bisa tidur dan keluar dari apartemen. Di tengah malam itu dia hanya berjalan tanpa arah sambil berpikir tentang pria berjubah itu. “Apa aku yang memberikan jubah itu?” Tanya Wadma.
Wadma kesal dan menendang batu yang mengenai seekor anjing yang langsung menggonggong padanya. Wadma hampir menggunakan kekuatannya namun seseorang datang mengehentikan. “Jangan sihir lagi.. dia mengonggong karena aku..” Ucap Weraa.
“Mengapa kau keluar?” Tanya Wadma.
“Yang benar adalah kau baru sadar lalu mengapa keluar?” Tanya Weraa.
“Sedang berpikir di malam yang tenang..”
“Soal apa?”
__ADS_1
“Seseorang..”
“Apa dia orang yang kau suka..”
“Lupakan itu.. Kau mengikutiku atau sedang mencariku?”
“Aku mengikutimu..”
“Hish.. kau benar-benar seperti hantu.. Oiyah.. jadi selama kau jadi hantu apa saja yang kau lakukan?”
“Tidak ada.. setelah aku bebas dari nya aku hanya berkeliaran melihat kota.. dan melihat tubuhku dengan wansa.. Sepertinya Wansa menyukai gadis yang ada ditubuhku..”
“Maaf..” Ucap Wadma.
“It’s okay.. Paman sudah bercerita padaku tadi bahwa kau sudah punya sihir sejak kecil.. Itu yang membuatmu terkadang melepaskan sihirnya.. kau blum bisa mengendalikannya dulu.. aku tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya..” Ucap Weraa.
“haish.. pengertianmu membuatku merasa lebih bersalah.. Ini aneh.. tapi aku malah lebih lega bila kau memarahiku..” Ucap Wadma.
“Tapi.. kau bukan hantu.. oiyah.. apa kau ingat wajah..”
“Tidak.. dia mengubah wajahnya kan? Dan dia juga menyihir orang-orang agar kita tak mengingatnya..”
“Itu yang masih kucari tau.. Dia menggunakan sihir hingga aku tak bisa melacaknya..”
“Mengubah Wajahnya.. Sepertinya dia tau aku melacaknya..” Ucap Wadma mengambil batu dan melemparnya ke perairan.
“Kau memberikan cahaya?” Tanya Weraa melihat gelombang cahaya dari batu yang ia lontarkan.
“Yah.. kira-kira begitu… Kau ingin coba?”
__ADS_1
“Bisakah?” Tanya Weraa.
“Tentu saja..”
Mereka berdua melempar bebatuan hingga lelah dan tertawa bersama-sama. Melihat bintang diatas langit dengan posisi tubuh tiduran di rerumputan. “Hah, sudah lama aku tak melihat bintang dengan seorang teman..” Ucap wadma.
“Kau menyukai bintang?”
“Yah.. lumayan.. Tapi aku tak terlalu menyukai bintang jatuh..”
“kenapa?”
“Karena… rahasia..”
“Hih.. kau ini..” Ucap Weraa berdiri. “Baiklah.. ayo pulang.. aku hawatir orang-orang akan memarahiku karena membiarkanmu pulang selarut ini..” Ucap Weraa.
“cih! Peduli apa mereka padaku:v”
Sesampainya di rumah. Sandi yang berputar kesana kemari sambil menelfon Wadma langsung memeluk Wadma yang mendorongnya. “Hei.. kau mengejutkanku!!” Ucap Wadma.
“Kemana saja kau? Mengapa kau tak menjawab telfonku? Kau baik-baik saja kan?” Tanya Sandi.
“Of course.. I’m okay..”
“Weraa? Kau bersama Wadma?” Tanya Sandi.
“Iya… Weraa.. istirahatlah aku dan sandi..”
#ME_Mawad
__ADS_1
#KSW_Part65