Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep.105


__ADS_3

"Hei!" Yaampun, nih bocah sumpahlah ngagetin aja. "Ada apa?" Tanyaku melihat kearah Windy. Dia menatapku tajam sinis ada apa dengan gadis ini? "Mengapa kau menatapku?" Tanyaku lagi.


Ep.105


"Ini.. ada roti bro.. kau tau roti ini kan? Tentu saja kau tau ini kesukaan mu waktu kau di tubuh weraa" Ucapnya membuat aku mengingat saat aku menjadi weraa dan aku memang tanpa sengaja menjadi orang baik. Cih, orang baik yang bahkan berniat mencari pembunuh berantai yang padahal aku biangnya.


  "Apa kalian benar-benar percaya pada si Wadma itu? Kalian pikir aku akan berubah begitu? Dengar aku yang ditubuh weraa adalah aku yang tak ingat jati diriku!" Ucap ku menatapnya balik berdiri dihadapannya.


  "Kau tau? Aku bukan orang religius dalam agamaku.. tapi setidaknya aku tau Umar Bin Khatab adalah orang yang paling ingin membunuh Nabi Muhammad SAW, namun sekarang makamnya berada di sisi Muhammad SAW.." Ucap Windy membuatku terdiam aku ingat waktu aku ditubuh weraa aku sering mempertanyakan perihal agama islam pada Nisa.

__ADS_1


  "Yasudah.. makanlah.. aku mau istirahat.. kau juga, besok kita jalan-jalan lagi.." Ucapnya pergi menutup pintu kamar.


Tak berapa lama ponsel baruku yang dibelikan Wadma berbunyi notifikasi pesan masuk "Putri weraa bisa aku meminta tolong? Untuk membangunkan Shanti, Sheli, Rinjani untuk sholat tahajud malam nanti? Karena baterai ponselku sudah sekarat.. tolong yah.. jam 3 bangunin.." Bacaku dalam hati melihat pesan Nisa.


Aku melihat Aura yang berbeda dari dia. Dia yang selalu positif. Bahkan setelah tau kebenaran. Apa dia akan hidup seperti itu terus ditengah gemparan manusia yang keras ini. Eh- "ada apa denganku.. apa peduliku.." Ucapku mengambil roti Bro dan memakannya.


Hari ini mereka mengajak weraa berkeliling lebih tepatnya bukan aku. Mereka terus-menerus mengatakan kau kan sudah tau. Yah, itu seperti sindiran bahwa aku sudah merebut kehidupan orang lain. Sebenarnya ini cukup aneh, biasanya aku masuk ke tubuh orang lain yang memang bukan orang baik. Tapi, aku kali ini malah masuk ke tubuh gadis itu. Ditambah nama yang ia miliki adalah Weraa. Ah, benar.. mengapa cowok waktu itu menangkap Weraa dan ingin menggantikan dengan adiknya. "Bomat ah.. aku mau tidur"


Malam hari berlalu, aku keluar dari kamar dan mendapati mereka sudah menyiapkan makanan. Raut wajah Shanti seperti lagi kesal. "Ada apa Shan?" Tanyaku yang seperti saat menjadi Weraa. "Nisa, dia lupa membangunkan kami untuk Tahajud.. huaaaa~ gagal deh challenge aku.. Allah marah tak yah..." Ucapnya dengan aku yang membeku. "Maaaf.. aku lupa.. Nisa sudah mengAmanahkan padaku untuk membangunkan kalian.. aku lupa.." Ucapku dengan mereka menatapku seperti kebingungan.

__ADS_1


  "Nisa?" Tanya Sheli sementara Weraa hanya diam. Aku bisa merasakan aura keraguan mereka padaku semakin berkurang padaku. Tunggu, apa itu artinya kekuatanku masih ada padaku?. "Itu artinya.. Nisa percaya padamu.. selamat yah.." Ucap Weraa dengan senyumannya yang terasa palsu. "Kau tau dalam hidup ini cobalah berfikir positif pada orang lain.." Ucapan Nisa dahulu teringat dibenakku.


  "Weh!! Coba buka ponsel kalian sekarang!!" Ucap Ririn terus menscrool ponselnya. Aku pun juga membuka ponselku. Dan terkejut melihat pemberitaan. Teman Sharika dengan inisial C menggunggah rekaman suara dimana Sharika dibawa oleh suara seorang cowok. Aku kenal suara itu, suara yang ingin memasukkan arwah Sirah ke tubuh Weraa namun aku menghadangnya. Benar, dimana arwah gadis yang bernama Sirah itu.


  "Randa.. dia kak Randa kan?" Tanya Windy dengan yang lain bingung. "Aku kenal suaranya.. kak Randa dia ketua klub tekwondo.. Shanti, kau ingatkan?" Tanya Windy lagi sementara Shanti menjatuhkan ponselnya dan seakan tak percaya. "Tidak mungkin dia kan.. Dia tak mungkin melakukan hal sekejam itu pada Sharika.." Ucapnya.


  "Lah.. iya tapi maksudku bukan yang itu, berita wajah Putri Weraa yang mirip dengan Kartika yang hilang.." Ucap Ririn dengan aku yang melihat beberapa potretku.


  "Siapa yang memotret mu diam-diam??" Tanya Rinjani.

__ADS_1


  "Bukankah Kartika sudah lama hilang? Seharusnya tak ada yang sadar.." Ucap Sheli.


  "Kecuali.. ada yang membeberkannya?" tanya Ririn lagi. Aku terdiam dan tak lama setelah itu Wadma menelfon. "Halo?" Tanyaku.


__ADS_2