Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep.97


__ADS_3

"Angga.. Wadma sejak kemarin mengawasi senyuman Angga yang menyiratkan rasa sakit karena terbayang saat ayah dan bunda lebih percaya pada para ratu yang entah dari mana asalnya itu dibanding anaknya sendiri.. Wadma tidak bisa menyalahkan Ayah dan Bunda.. tapi, sebaiknya minta maaflah.. berhenti berpura-pura bahwa kalian melupakannya.." Ucap Wadma dengan Ayah yang menghela nafas sedih.


Ep.97


Wadma meminum cappucino miliknya dan hendak pergi "baiklah.. Wadma izin pamit menemui para penyihir itu.." Ucapnya beranjak. "Ayah bangga padamu.." Ucap Ayah menghentikan langkahnya dan menghadap kearah ayahnya bingung "Sejak kapan ayah tidak bangga pada putrinya ini?" Ucap Wadma dengan senyuman dan memeluk ayahnya dan pergi dengan senyuman.


  "Jika saja semua yang terjadi di masa lalu bisa kuhentikan mungkin Angga akan mendapatkan keluarga sejak kecil.. dan Wansa tak akan kesepian karena efek batinku yang merindukan sosok saudari kembar.." Ucap Wadma yang duduk di taman dengan makanan siap saji di pinggir jalan yang ia beli.


  "Hey.. lihat siapa disini?" Tanya Sandi duduk di samping Wadma dengan tersenyum ramah.


  "Cih.. Ada apa? Kau tidak masuk kuliah?" Tanya Wadma tersenyum.


  "Memangnya kenapa? Apa aku harus memiliki sebuah gelar kemudian harus memiliki perusahaanku dulu untuk meminangmu nanti?" Tanyanya membuat Wadma diam melihat Sandi bingung.


  "Santai-santai.. jangan menatapku seperti itu.. minumlah dulu.." Ucap nya tersenyum memberikan air mineral.

__ADS_1


  "Kau.. ucapanmu tadi?" Wadma menatap Sandi lagi dengan penuh penasaran. Namun, Sandi segera mengubah topik pembicaraannya. "Aku hanya bercanda.. mana mungkin kau menyukaiku hahaha.. kau mau kerumah lama itu?" Tanya Sandi membuat Wadma langsung mencoba mengontrol emosinya dan hanya diam mengangguk sambil meminum air mineralnya.


  "Boleh aku ikut?" tanya nya membuat Wadma diam berpikir. "Selama ini laranganku tak pernah mempan padamu kan?" Tanya Wadma membuat Sandi tersenyum kembali seperti bangga Wadma sudah mengerti tentang dirinya.


***


Saka mengingat kejadian saat di goa anti sihir itu dimana Wadma pinsan karena menggunakan sihirnya demi menyelamatkan dirinya dan Rinjani. "Woe! Lo kenapa sih? Semenjak diculik jadi sering diam.. mikirin apa sih lo?" Tanya Adri.


  "Wadma.. dia tidak mungkin tidak tau tentang semua rahasia itu kan?" Tanya Saka.


  "Kak Adri, kak saka!! Boleh duduk sini gk?" Tanya Sarah datang dengan Rinjani yang gugup karena Saka menyatakan perasaannya saat mereka di goa. "Oh.. iya duduk aja Sar.. kan kalian gimanapun sekolah disini.." Ucap Saka mencoba tak bertatapan dengan Rinjani.


  "Numpang makan kami kak.. Kak Adri sama kak Saka gk makan?" Tanya Sarah.


  "Nanti sar.. kami bentar lagi ada mata kuliah.." Ucap Saka.

__ADS_1


  "Ooh.. jadi anak kuliahan Keknya seru yah kak? Gk harus seragam kayak kami.." Ucap Sarah.


"Nikmati aja waktu kalian.. masa SMA itu masa yang dirindukan loh.." Ucap Adri.


  "Iya bener tuh.. apalagi dengan kalian yang hidup dalam suatu keajaiban.. pasti lebih gak terlupakan.." Ucap Saka.


  "Rinjani kok diam aja?" Tanya Adri.


  "Lagi gak pengen banyak omong kak.. hehe.. maaf.. lanjutin aja kak.. Rinjani pendengar aja deh.." Ucap Rinjani.


***


"Jadi? Pada saat gerhana bulan adalah batas waktu putri weraa untuk mendapatkan tubuh yang mirip dengan dirinya dimasa lampau yaitu tubuh weraa?" Tanya Wadma dengan Cevin di ruang tamu. "Itu yang aku dengar malam tadi saat aku pura-pura tertidur.." Ucap Cevin.


  "Boleh aku menemui mereka sendiri?" Tanya Wadma yang dari awal sudah dilarang menemui 3 orang itu sendirian.

__ADS_1


  "Tiap kemari kau selalu ingin masuk keruangan itu sendirian.. memangnya kau ingin membicarakan apa?" Tanya Cevin.


__ADS_2