Kehidupan Song Weraa

Kehidupan Song Weraa
Ep. 114


__ADS_3

"Hei.. matamu berkaca-kaca.." Ucap Ririn.


"Sejak kapan kau tidak tahan saat mengiris bawang?" Tanya Rinjani.


"Aneh banget mu Sar.." Ucap Windy tertawa kecil.


"Gak tau.. kek tiba-tiba pengen nangis.. mu pasti selama ini kesulitan yah Wer? Kek tubuhmu diambil alih sama Loosa.. maaf loosa.. bukan aku belum maafin.. aku tiba-tiba keinget aja.. kalau misal aku di posisi weraa mungkin aku bakal nyerah sama kehidupan aku.." Ucapku benar-benar meneteskan air mataku.


"Hei hei.. sudah.. mengapa jadi nangis sih.." Ucap Ririn.


"Tau nih.. kok malah nangis.." Ucap Shanti.


"Aku akui aku salah.. cuman, buat tulus minta maaf aku masih belum bisa sepenuhnya minta maaf ke weraa sekarang.." Ucap Loosa.


"Lagi pula kau tidak berniat minta maaf kan.. tuk apa meminta maaf padanya? Dia hanyalah gadis bodoh.." Batin Weraa yang terdengar oleh Nisa yang sedang merawat bibinya.


"Suara apa itu tadi? Feelingku kok gak enak yah.." batin Nisa yang sedang menyuapkan bubur pada bibinya dan kemudian memberi bibinya minum. "ini obatnya diminum dulu bik.. setelah itu bibik tidur.. Nisa nanti keluar kamar sebentar buat nelfon temen.." Ucap Nisa.


"Tidak masalah.. sudahlah jangan menangis.. aku yang menderita untuk apa kau menangis?" Tanya Weraa membuatku diam dan mengelap air mataku. Sial, aku menangis bukan karena mu.. kau bukan weraa!! apa penderitaan mu? Kau juga hanya memanfaatkan Randa. "Aku harus segera memberi tau Wadma.." Batinku dengan Loosa yang mendengarnya.


"Maaf.. aku hanya kepikiran sulitnya hidup seperti mu Weraa.." Ucapku yang berharap Weraa yang asli baik-baik saja disuatu tempat.


***


*Wanda POV


"Jadi? Maksudmu semua pembunuhan berantai itu penyebabnya adalah aku?" Tanya Arvandita.


"Bukan, maksudku adalah jika benar kau dan Randa memiliki masalah pribadi yang membuatnya memiliki dendam padamu.. dia bisa saja menjatuhkan semua reputasi mu.." Ucapku meyakinkan pria keras kepala ini.


"Maksudmu?" Arvan bingung menatap diriku..

__ADS_1


"Adikmu.. sepertinya kau tak terlalu peduli padanya yah?" Tanya Hoshi.


"Semenjak kecelakaan itu dia mengucilkan diri dari keluarga.. dan dia tinggal dengan teman-teman nya.." Ucapnya


"Pantas saja.. kau tidak tau bahwa selama ini yang selalu kau temui itu bukan adikmu, melainkan orang lain yang merasuki raga adikmu.." Jelas Hoshi.


"Hah? Cih.. hahahahaha.. kalian ini ada-ada aja.. tidak ada hal yang seperti itu.." Ucap Arvan membuatku menatapnya dengan berkata "adikku waktu itu pernah menemuimu kan? Apa.. yang ia lakukan juga sulit dipercaya?" Tanyaku.


Dia kembali mengingat dan langsung mengangkat kakinya seperti trauma. "Hei!! Adikmu itu.. apa dia manusia? Bagaimana dia bisa melayangkan air diakuarium? Mengeluarkan api dari tangannya dan.. ah iya benar! Dia menumbuk pipiku lalu seketika menyembuhkannya.." Tanya Arvan membuatku menghela nafas tak kusangka Wadma berbuat sejauh itu.


"Kau berbuat apa sampai membuatnya berbuat sejauh itu?" Tanya Hoshi.


"Aku hanya tak menjawab pertanyaannya dan.. aku sengaja tak ingin menemuinya dan membuatnya menunggu.." Ucapnya dengan Hoshi langsung tersenyum sinis.


"Sudah kuduga.. kalau begitu kau memang pantas diperlakukan seperti itu.." Lanjut Hoshi lagi.


"Jadi.. perkataan kalian tadi.. apa benar adikku selama ini bukan adikku?" Tanya Arvan.


"Benar.. dan sekarang kami juga sedang meragukan jati diri adikmu.." Ucap Hoshi. "Jika pertanyaan kalian tadi soal Randa.. aku tidak tau apa-apa soal dia.. yang kutau Sirah.." Ucapan Arvan terhenti dan ada rasa yang berat saat ia menceritakannya.


"Apa itu artinya kau tau penyebabnya?" Tanya ku.


"Lebih tepatnya saat itu.. aku mengidap gangguan kecemasan.. Aku terobsesi pada kemenangan.. kalian ingat? Saat itu ratu disekolah kita kalah dengan ratu di betlan school.. Sirah.." Ucapnya.


"Ratu?" Tanyaku.


"Aaaaa.. waktu itu.. lomba ratu tercantik? Antar sekolah kan?" Tanya Hoshi.


"Waktu itu aku tidak berpartisipasi.. aku malas mengikutinya.." Ucapku.


"Benar.. kau tidak tertarik karena kau pikir itu buang-buang waktu.." Ucap Hoshi.

__ADS_1


"Lalu.. apa hubungannya denganmu?" Tanyaku. "Karena kau tidak hadir.. aku menjadi perwakilan sekolah sebagai raja dan aku memenangkannya.." Jelasnya lagi.


"Sebentar.. waktu itu Randa juga disana? Dia.. aku mengerti.. Randa perwakilan raja dari betlan school kan? Dan kau bersanding dengan Sirah.. itu artinya.." Ucap Hoshi menutup mulutnya dengan tangan kanannya menunjuk seperti berkomunikasi mengerti pada arvan yang mengangguk.


"Sirah jatuh hati padaku.. sementara aku tidak terlalu menyukai rakyat jelata seperti mereka.. kelas kita dan mereka itu berbeda.. waktu itu.. Sirah menyatakan perasaannya padaku didepan semua orang.." Jelasnya.


"Lalu? Kau menolaknya?" Tanya Hoshi.


"Tidak.. aku menerimanya.. hanya saja.."


"Hanya saja?" Tanya hoshi penasaran.


"Kau mempermalukannya saat berpacaran dengannya dan merendahkannya secara terus menerus setiap waktu kau bertemu teman-teman kelas atasmu?" Tanya ku yang memiliki feeling seperti itu.


"Benar.. lalu.. saat itu adalah puncaknya.." Ucap Arvan. "Saat ayahku menekan semua masalah perusahaan padaku.. aku kalang kabut dan gangguan kecemasan yang aku idap kambuh.. dia mencoba menenangkanku yang ingin memotong urat nadi ditanganku.. namun, pisau itu.." jelasnya lagi menutup matanya dengan penuh penyesalan dan mata berkaca-kaca.


"Kau.. membunuhnya tanpa sengaja?" Tanyanya.


"Aku mendorongnya begitu kuat hingga ia terjatuh dari atap gedung.. maka saat itulah berakhirnya kehidupan Sirah.." Ucap Arvan menutup matanya dengan lengan kanannya dan kepala yang disandarkan di sofanya.


***


*Sandi POV


"Meditasi adalah praktik yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup kita sehari-hari" Bacaku lalu melihat Angga yang masih pinsan.. atau koma.. ntahlah aku tidak paham.


"Wadma.. Entah mengapa semakin menjalani kehidupan ini aku semakin takut melihat perbedaan antara kita.. ntah mengapa aku semakin takut kau akan pergi jauh.. aku hanya hawatir akan keselamatan mu.. aku hawatir akan ada yang mencelakaimu.. Tidak bisa kah kau berhenti melibatkan dirimu pada hal hal seperti ini.." Ucapku menatap dirinya yang tengah meditasi dihadapanku.


"Kalian disini? Apa yang terjadi pada Wadma?" Tanya Dinda dengan Cevin datang. Cevin langsung membungkuk melihat tepat dihadapan wajah Wadma. "Dia meditasi lagi?" Tanya Cevin dengan aku yang mengangguk.


"Lalu yang satu ini ngapain?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Dia ditidurkan oleh Wadma entahlah aku tak begitu paham.." Jawabku dengan Cevin memeriksa Angga.


"Wadma mengirim angga ke alam bawah sadarnya.. dimana dunia yang akan membuatnya putus asa.. jika ia tak bisa mengalahkan alam bawah sadarnya.. maka ia akan tertidur selamanya." Ucap Cevin.


__ADS_2