
“Apa yang kalian BICARAKAN!!!” Bentak pria jubah hitam menyerang Cevin dan Pangeran Wansa yang langsung menghindar.
“Fiuh.. Hampir saja…” Ucap Cevin yang langsung mengarahkan tangannya ke arah pria jubah hitam itu. “Hei.. Setidaknya sapalah orang lain dengan sopan.. misalnya ‘Hi!’ atau ‘Hello!’ Dasar..”
“Swinggg!!!” Secepat kilat ia mengarahkan pedang petirnya yang bercabang tepat dileher Cevin dan Pangeran Wansa.
“Hei…”
“Katakan apa maksud kalian? Siapa gadis itu sebenarnya?”
Seketika ponsel Cevin berdering dan meenunjukkan nama Sandi. Pria jubah itu membuat ponsel Cevin melayang dan melihat namanya. “Jawab dengan tenang..”
“Halo.. Cevin.. Wadma pinsan secara tiba-tiba.”
“Benarkah? Aneh jika yang satunya tidak pinsan..” Ucap Cevin.
“Apa dia benar-benar pinsan? Atau tertidur karena lelah?” Tanya Cevin lagi.
“Entahlah.. Tubuhnya sangat Dingin..” Ucap Sandi hawatir.
“Tutupi saja dia dengan selimut.. Dia hanya kelelahan..” Ucap Cevin.
“Baiklah.. oiyah.. kau dimana?” Tanya Sandi.
“Sedang ada urusan..” ucap Cevin dan pria jubah itu langsung menutupnya dan melihat kontak Wadma dan mengidentifikasinya serta mengingatnya..
“sepertinya kalian tak akan memberi tau ku siapa gadis itu!” Ucap Pria jubah itu menjatuhkan ponsel Cevin dan melepaskan mereka berdua serta menjauh 10 meter dari mereka.
“Tapi aku akan tau siapa dirinya segera..”
__ADS_1
“Hei! Untuk apa kau penasaran tentang gadis ini? Lepaskan dan jangan menganggu manusia lagi!!”
“Aku perlu alasan yang kuat untuk mematuhimu… memangnya siapa kau?” Ucap pria jubah itu pergi.
“Paman? Paman tidak apa?” Tanya Cevin yang melihat Pangeran Wansa dengan tubuh yang mulai menghilang.
“Apa yang terjadi paman?” Tanya Cevin.
“Paman sudah menceritakan semuanya padamu.. Ini adalah surat dari Ratu rinjani.. Kau akan mengerti mengapa paman akan menghilang..”
“Paman!!”
***
“Cih.. Sudah dimulai yah..” Ucap gadis yang berada di tubuh Weraa.
“Weraa… Weraa.. Kamu masih belum tidur? Kalau belum buka dong.. makan dulu.. Kamu kan belum makan malam..” Ucap Nisa.
“... cih.. memuakkan..” Ucap gadis itu membuka pintu.
“Mereka..”
“ah.. biarin aja mereka.. ayo cepetan kamu belum makan kan? Aku mau sholat dulu ke masjid dekat sini..”
“Kamu kok sering sholat di mesjid sih? Kenapa gk di sini aja?”
“Kan kamu bukan orang islam.. aku hanya menghormati.. Lagi pula abis sholat aku baca qur’an.. kek abis sholat magrib..”
“Emang gk papa? kamu baca qur’an milih milih Waktu gitu..”
“Selagi aku gk ninggalin kewajiban kan gk papa… lagi pula ustadznya ngasih aku kunci cadangan buat kemasjid hehe..”
__ADS_1
“Hmm… Yalah tuh..”
“Yaudah kamu makan aja yah.. Habisin..”
“Nisa…” Panggil Gadis satu itu membuat Nisa berhenti dan menoleh kearah tubuh weraa dengan Aura hitam itu.
“Bagaimana bila aku bukan Weraa?”
“Kau adalah temanku kan? Bahkan aku tidak mengenal weraa yang mereka katakan.. itu artinya aku nyaman denganmu.. mau kau weraa atau siapapuun namamu.. kau temanku..” Ucap Nisa yang kemudian melihat aura hitam pekat itu berubah ke abu-abuan.
“Kau hanya membual kan..”
“Haish.. terserah kau percaya atau tidak.. aku pergi dulu..” Ucap Nisa menutup pintu apartemen dan menuju lift. Saat ia masuk ke lift ia berpikir tentang apa yang ia lihat adalah gadis yang di tubuh Weraa memiliki niat Jahat sejak awal bertemu. Namun seperti kejadian barusan juga ia mengurungkan niat jahatnya.
“aku percaya padanya kan.. aku yakin dia tak akan melukai teman-teman..” Ucap Nisa ke masjid.
Sementara itu Gadis yang sampai sekarang tak diketahui namanya itu mendorong piringnya yang masih kosong tanpa selera makan. Gadis itu berdiri di hadapan teman-temannya dan mengarahkan tangannya ke arah mereka dengan sinar sihir.
***
Wadma yang tengah tertidur sedang memimpikan seseorang yang penting dalam hidupnya. Dia adalah Ratu Rinjani dari dimensi sihir dan juga anaknya Pangeran Sandi serta kekasihnya Shanti.
“Siapa kalian?”
“Perkenalkan aku adalah Ratu Rinjani dari kerajaan di dimensi sihir.. Dan ini adalah putraku Pangeran Sandi serta kekasihnya …”
“Sebentar-sebentar… Rinjani? Sandi? Jangan-jangan kau Sheli atau Ririn atau siapa sih? Wajah kalian juga sama sekali tak mirip..” Ucap Wadma.
“Perkenalkan namaku Shanti.. aku dari dimensi manusia..”
“Shanti? Mengapa bukan Sheli? Ah.. benar nama Sandi dan Shanti.. kurasa itu memang takdir.. Jadi ada apa kalian menemuiku?”
__ADS_1
ME_Mawad
KSW_Part70