Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Kuberi Sgalanya


__ADS_3

“Pagi ... Teteh Esih ...,” sapa Naja pada wanita berusia empat puluhan yang sedang asyik memasak di dapur. Teteh Esih adalah Asisten rumah tangga di rumah Kira. Ia biasa datang kemari untuk membersihkan rumah dan mencuci, meski lebih sering hanya membersihkan rumah setiap dua hari sekali.


“Eh Eneng ... kenapa turun sendiri? Panggil teteh saja, si eneng butuhnya apa ...,” Esih meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Naja yang masih setengah jalan di tangga. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Naja turun.


“Aku udah ngga papa kok, Teh ... bisa jalan sendiri juga, lagian bosan ‘kan kalau di kamar terus?” Naja menggenggam erat tangan Esih dan mengikutinya agak berhati-hati.


“Tetap saja, nanti diomelin sama Mas Excel, kalau sampai tidak menurutinya ...,” Esih teringat jelas pesan Excel yang mungkin sepuluh kali ia katakan padanya. Bahwa Naja tidak boleh bergerak dan bertingkah berlebihan, bahwa Naja belum pulih dan masih harus terus di awasi.


“Dia ngga bakal tahu, Teh ... sudahlah ...,” Naja melepaskan tangannya dan berjalan sendiri ke meja bar.


“Eh ... eh ... Eneng ... hati-hati ...,” Esih menyusul Naja dengan khawatir, ia berjaga dengan tangan di sekitar tubuh Naja. Kalau -kalau Naja terjatuh, dirinya siap menangkapnya. Sepenuh hati, Esih menjalankan amanah yang telah ditimpakan pada pundaknya.


Naja mengusap keningnya saking kesal dengan tingkah Esih yang berlebihan. Naja segera mendudukkan tubuhnya di kursi tinggi yang biasa ia pakai untuk sarapan.


“Teteh masak apa? Sepertinya baunya agak gosong ...,” celetuk Naja.


Esih terkesiap hingga kedua matanya melebar sempurna. “Duh Gusti ...,” ia segera menghamburkan larinya ke arah kompor. Dan mengaduk sendok di atas wajan yang belum terisi apa-apa, bahkan nyala apinya saja belum ada.


Naja tergelak saat melihat Esih panik dan bingung. Esih sejak tadi naik turun memeriksa api yang memang tidak menyala sambil bergumam.


“Ngga gosong kok, Neng ... gasnya abis mungkin ...,” ucapnya polos sembari menoleh ke arah Naja.


“Memang belum dinyalain, Teh ... dan memang teteh ngga masak apa2 ...,” jawab Naja di sela tawanya. Ia menutup mulut sesekali dan memukul meja bar dengan keras. Lucu sekali teteh satu ini.


“Eneng ngerjain teteh lagi?” tanyanya dengan wajah memelas.


“Abisnya teteh berlebihan sekali padaku, padahal aku sudah tidak apa-apa.” Naja menghentikan tawanya dengan paksa, merasa tak enak hati pada teteh yang sudah terlampau baik dan sabar menghadapi tingkah anak-anak di keluarga Harris Dirgantara, ditambah anak menantunya yang ketularan jahil. Ia meraih susu yang telah terhidang di depannya dan mengguyur tenggorokannya yang terasa kering karena tawanya barusan. Menenggaknya hingga tandas.

__ADS_1


“Mas Excel itu ngga berlebihan menyuruh teteh seperti itu, tapi Eneng yang sering ceroboh dan terburu-buru, dia hanya berjaga-jaga, Neng ... sepatutnya Eneng hargai itu ... teteh lihat tadi Mas Excel seperti tidak begitu rela meninggalkan eneng di rumah sendirian.” Cerita Esih panjang lebar.


Naja tertegun, menelaah dengan benar ucapan Esih barusan. Tangan yang semula terulur untuk meraih roti panggang, ia tarik kembali.


“Sejak kalian pindah rumah, Mas Excel selalu bilang pada teteh agar mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, jangan sampai Eneng yang sudah lelah bekerja seharian masih harus beres-beres rumah ...,” Naja semakin tercengang mendengar ini. Iya ... memang ia tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tapi ia pikir, teteh kemari karena perintah mama mertuanya, bukan Excel yang meminta.


Naja menggigit bibir menahan haru, ia baru tahu kalau Excel selama ini peduli padanya. Mungkin ia harus mengucapkan terima kasih dengan layak padanya. Senyum Naja terkembang ragu saat ia menatap Esih yang masih setia memandangnya.


***


Malam merangkak, bulan kembali menduduki singgasana menggantikan mentari dengan sinarnya yang teduh. Namun, teduhnya rembulan tak mampu dinikmati oleh seorang wanita yang tengah menekuri ponsel ditangannya. Dagunya ditopang oleh tangan yang bertumpu pada salah satu pahanya. Sepertinya sesuatu yang ada di benda nan canggih itu lebih mengasyikkan dari pada menengadah pada langit atau sejenak bermandi sinar bulan yang menenangkan.


Ia begitu asyik hingga ia terkesiap saat sebuah lengan kokoh meraih bahunya di sisi lain. Ia membawa tatapannya ke arah ujung tangan yang begitu runcing dan panjang. Menilik aroma dan bentukan tangan itu ia tahu benar siapa pemilik tangan itu, sesegera kedipan mata, ia menoleh ke arah yang berlawanan untuk menjumpai suaminya.


Excel tengah menunggu istrinya menoleh dan berniat mengejutkannya dengan sebuah ciuman. Dan ....


Naja memejamkan mata saat ia hampir menabrak wajah suaminya alih-alih memadukan bibirnya. Tetapi sepertinya pipinya masih tak selamat dari serangan Excel yang membuat jantungnya berlompatan.


“Ugh ... kau mengejutkanku!” menghentikan gerakan Excel dengan telapak tangannya, Naja membuang jauh wajahnya. Namun, Excel malah menciumi tangan Naja dengan gemas. Menggigit ujung jemari Naja yang malah membuat Naja menafsirkan berbeda.


“Kenapa malam sekali pulangnya?” tanya Naja sembari menarik tangannya. Ia berusaha mengalihkan apa pun yang ia rasakan sekarang dengan berusaha bersikap biasa.


Kepala Excel menoleh ke arah jam yang bertengger di dinding. “Kau takut di rumah sedirian?”


“Tidak juga ... memangnya apa yang kutakutkan?” Naja beranjak berdiri dan melangkah pelan ke arah dapur.


“Kau merindukanku, ya?” Excel pun beranjak dan mengikuti Naja, setengah memburu.

__ADS_1


“Pastilah ... kalau aku merindukan Ai, kau pasti akan marah.” Tangan Naja meraih satu kotak teh dan menggoyangkan di depan Excel, sebagai ganti ucapan untuk menawari suaminya itu.


Excel mengangguk, “Rindukan saja pria yang sudah beristri itu ... aku tidak akan merasa tersaingi, lagipula ...,” Excel mendekat dan meraih pinggang Naja yang membelakanginya. “... aku sudah mendapatkan hatimu ... seluruhnya.”


Diciuminya rambut Naja yang diikat tinggi dan membentuk simpul dengan pensil sebagai tusuknya. Rambut cokelat yang begitu indah saat tergerai.


“Ck ... itu karena aku yang memberikannya ... kau tidak pernah mendapatkannya.” Ia memberi perintah mundur saat ia hendak menyeduh teh herbal yang begitu melimpah di lemari penyimpanan Naja.


“Tidak peduli ... yang penting sekarang aku tidak takut lagi kau berpaling dariku.” Excel yang menuruti kemauan istrinya, segera duduk di kursi tinggi tempat Naja mengobrol dengan Teh Esih.


Naja mengangsurkan cangkir teh yang masih mengepul itu di depan suaminya. Ia menyangga dagunya dengan kedua belah tangannya. “Bukan hanya hati ....”


Excel yang menerima cangkir itu dan mulai menyesapnya, sejenak mengerling istrinya dari sudut cangkir yang miring. Wajah polos itu tampak menggemaskan dengan ekspresi yang tengah ingin mengatakan hal yang serius.


“Apa saja yang kau minta ... akan aku berikan.” Naja menipiskan bibir hingga membentuk sebuah senyuman penuh sipu. Kedua matanya menyipit, menutupi rasa canggung karena gombalan yang ia katakan terdengar konyol.


Excel nyaris tersedak oleh teh yang ia sesap, sehingga ia dengan cepat meletakkan cangkir itu pada tatakannya lagi. Bibirnya mengeluarkan tawa tanpa suara menanggapi istrinya. “Aku tidak meminta apa pun Na ... cukup temani aku dan jangan pernah berpikir pergi dariku.”


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2