
~Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri ketika melihat bahagianya wanita karena makhluk kecil bernama janin. Belum berjumpa tetapi berjuta cinta selalu terlantun untuknya. Menyatu tetapi tidak bisa melihatnya. Bagaimana bisa hanya karena merasa ada, hatimu begitu bahagia~
.
.
.
Memasuki bulan ke empat kehamilannya, Naja tak banyak membuat Excel kerepotan perihal ngidam. Istrinya itu tidak banyak menginginkan sesuatu yang aneh. Tingkahnya masih sama, bahkan Excel merasa tidak ada bedanya antara hamil dan tidak, masih sembrono dan bertingkah semaunya.
Mengenai mood swing, Excel rasa sudah dari dulu istrinya itu bermasalah dengan suasana hatinya, jadi sejauh ini, dia masih bisa mengendalikan keadaan. Mencoba memahami meski gigi Excel sering bergemuruh beradu.
Yang terbaru, telinga Excel sering pengang dengan banyaknya kosa kata yang tiba-tiba dimiliki wanita itu. Suaranya kini lebih sering terdengar manja layaknya anak balita, senang sekali mencari perhatian, dan jika Excel dirumah, Naja selalu menempel padanya. Sering menggusurnya saat ia tengah bekerja hanya untuk berdiskusi nama untuk bayi mereka kelak.
Itu masih lama, bukan?
Tetapi malam ini sepertinya tidak akan ada gangguan, sebab istrinya itu tengah asyik dengan teh Esih menonton drama di televisi. Meski demikian, Excel tetap waspada dan berusaha cepat menyelesaikan pekerjaannya.
“Daddy ....” Excel memejamkan mata dibalik kacamatanya, memijat kening, dan menggeram.
Baru juga diomongin.
Berjalan ke arahnya, wanita dengan perut menyundul kaos kedodoran miliknya—alih-alih membeli baju hamil—tengah tersenyum ceria.
“Dad ... mau teh.” tanyanya ambigu, berlagak sok manis dengan kedua tangannya yang mengencang dan bertaut terbalik di belakang tubuhnya. Menggerakkan tubuh atasnya ke kiri dan kanan, Naja mengedip dengan cepat dan berulang.
Astaga ... ekspresinya!
Excel melirik malas. “Nawarin atau minta?” tanyanya seraya kembali menatap layar komputer, tetapi ia terlupa akan melakukan apa di layar komputer tersebut. Wanita itu sungguh berbahaya, mampu mengalihkan perhatiannya.
“Ngajak, Dad ... dedeknya minta di temenin, nih.” Merasa gangguan pertamanya gagal, Naja mengangkat sebelah tangan Excel yang sibuk membelai tombol-tombol di keyboard, sebagai jalan untuk duduk di pangkuan Excel. Lalu mengembalikan tangan Excel persis dimana jemarinya berada tadi.
Bibir Naja menunjukkan gestur senyum yang dibuat-buat. Duduk menyilang seperti siap untuk di bopong ala bridal style, Naja merebahkan kepalanya di dada kiri atas Excel. Melihat ekspresi kesal suaminya, Naja mengecupi garis dagu pria itu.
“Daddy marah? Sama dedeknya marah? Kan cuma minta ditemenin doang, Dad ....” dibuat seolah-olah mau menangis, setelah beberapa saat Excel tak mengubah ekspresinya. Isakan kecil dan bibir bawah yang maju, tak jua membuat Excel ingin menuruti kemauan istrinya itu.
“Na ... aku mau kerja, nanti saja, ya.” Berusaha tetap lembut ... oh bukan, lebih tepatnya, tidak mampu berbuat apa-apa. Meski saat ini Excel ingin meledak karena fokusnya terbelah, tapi dia tak tega untuk menyatakan kekesalannya itu. Dia hanya berharap pengertian dari istrinya, karena untuk saat ini pekerjaannya sangatlah mendesak untuk diselesaikan.
Menguncup, Naja perlahan menurunkan kakinya. “Daddy yakin ngga mau nemenin dedek? Yakin ngga mau ngapa-ngapain mommy?"
Sebenarnya maunya apa?
Excel terpana, terbengong hingga meneguk air liurnya. Wanita yang tengah duduk tegak di pangkuannya ini, memang sangat ajaib. Menggelengkan kepalanya karena sungguh tak tahu harus berkata apa.
Tetapi dia selalu punya cara agar wanita itu menyingkir sejenak.
“Jadi ... mau ngeteh atau mau di eksekusi?” mendesis, Excel menyugar rambut Naja dari belakang telinga. Menyisihkan helaian itu hingga tampak leher yang acapkali ia gunakan sebagai pelampiasan rasa nikmat yang meledak diujung tubuhnya. Menelusur hingga sampai ke punggung Naja, ia baru melanjutkan ucapannya.
"Sepertinya meja ini cukup kuat untuk menumpu tubuh kecilmu. Atau ...," Excel menarik ujung kaos Naja dan mengigitnya, menariknya ke atas. "... punggungmu sepertinya terlalu sering kubiarkan sepi."
Naja menoleh, menggugurkan ekspresi betapa ia sangat terkejut mendengar perkataan suaminya. Kekejaman Excel saat menggaulinya selalu diluar batas ketika ia mengucapkan kata itu. Jujur saja, Naja takut melihat mata yang menatapnya tajam. Memutar tubuhnya kembali hingga berhadapan, Naja melingkarkan tangannya penuh rayu.
“Hanya ngeteh bareng ... Daddy." Naja menatap suaminya sebentar, lalu menunduk, “... katanya mari ngeteh, mari bicara.” Mengusap lembut dada suaminya, Naja menirukan slogan sebuah iklan teh. Matanya sekilas-kilas mengintip suaminya.
Takut.
"Ya sudah kalau tidak mau ...." Naja beranjak sedikit menghentak, sehingga membuat kursi yang diduduki mereka berdua bergoyang pelan. Kabur adalah cara paling aman untuk saat ini, lagipula ia tak mau menjadi hiasan meja kerja suaminya itu. Mengerikan ... sadar betul bahwa ia sering dibuat gila ketika pria itu memainkannya.
Dasar player!
__ADS_1
Gosh ... demi apapun, saat ini Excel hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kembali menghadapi pekerjaannya, Excel mengembuskan napasnya ke udara. Pikirnya, lenyap dibalik pintu bukan berarti wanita itu tidak akan kembali lagi untuk mengusiknya, sehingga ia memilih menambah kecepatan otak dan jemarinya.
Hampir tiga puluh menit penuh, ruangan ini hanya terisi oleh suara berisik dari hentakan jari dan keyboard. Sesekali ia membenahi posisi kaca matanya yang melorot.
"DAD ... DADDY ....!"
Napas Excel seperti berhenti mengalir, ia langsung melompat dari kursi dan berlari cepat menuruni tangga. Pikiran buruk menyertainya, hingga di anak tangga terakhir ia melihat Naja sedang mengintip di balik jendela.
"Ya Tuhan ...." hampir lepas semua tulang belulang dalam tubuhnya. Hampir meledak jantungnya mendengar teriakan Naja. Telapak tangan Excel menampar keningnya dengan keras lalu meneruskannya ke belakang hingga. Menggeram dalam hati.
Sialan!
"Dad, aku mau mangga." seperti tahu akan kedatangan suaminya, Naja tidak mengubah posisinya yang menempel di kusen jendela.
Excel menoleh sejenak ke arah dinding dimana jam bertengger sedang anggun. Lambaian jarumnya menunjukkan sepuluh malam. "Aku ambil dompet dulu." sahutnya lemah. Ia berbalik dengan gontai, seakan tenaganya telah terkuras habis.
"Bukan beli, Dad, tapi metik di depan itu."
What the ....
Excel memutar tubuhnya, "Jangan aneh-aneh ... beli saja biar lebih mudah."
Ya, segalanya lebih mudah dengan menukar beberapa lembar uang dengan sekantung mangga. Daripada berurusan dengan mangga yang ia tahu benar, itu milik mantan kekasih Naja.
Yang benar saja.
"Tapi aku maunya mangga yang itu," rubah kecil itu menggoyangkan ekornya, membesarkan pupil matanya.
Mengumpat lebih kasar lagi, Excel merentangkan senyumnya semanis mungkin. Berjalan dengan lembut—lunglai—Excel merendahkan tempo suara yang semula sudah bernada mayor.
"Sayang, kalau malem mana bisa metik mangga dari pohonnya? Sekarang beli saja kalau mau, kamu mau mangga apa? Sekarang juga aku jalan," pinta Excel melembut. Tentu dia tidak akan mau jika harus mengetuk pintu rumah Ai dan minta mangga malam buta seperti ini. Lebih baik jika harus memutari seluruh kota ini untuk mencarikan istrinya mangga yang diingini.
"Mom ... itu mangganya masih muda ... ngga enak dan masih asem," bujuk Excel lagi saat ia melihat tingginya buah-buah berwarna hijau itu.
Hening di belakang, "Na ... ayolah." pintanya putus asa.
"Daddy ngga mau, nih? Kalau begitu biar aku sendiri yang kesana dan memetiknya sendiri." ancam Naja penuh kesungguhan. Ia tak bisa lagi menahan liurnya yang hampir menetes. Mangga-mangga itu seperti memiliki pesona tersendiri bagi lidah Naja.
"Oke-oke!" Excel menahan udara di sekitar bahu Naja yang hampir saja melangkah melewatinya. "Tunggu di sini dan diam. Jangan bergerak seincipun, oke!"
Akhirnya, Excel melangkah menyeberang jalan. Mengumpat juga percuma.
"Love you, Daddy ...," teriak rubah kecil itu riang.
"Itu tidak akan mengubah apapun!" gerutu Excel. Apa dia pikir ucapannya itu bisa membuatnya melangkah ringan?
Excel mengetuk pintu rumah Ai, tetapi hanya istri Ai yang berada dirumah.
Syukurlah.
"Maaf Nona, malam-malam mengganggu. Bolehkah saya minta mangganya?"
Yang ditanyai membisu, menatapnya seperti orang linglung.
"Nona?" Excel melambaikan tangannya di depan Sheila, istri Ai.
"Eh ... iya, silakan petik saja. Saya agak terkejut, kupikir anda su—"
"Terimakasih," potong Excel cepat. Ia segera berjalan menuju pohon mangga yang besarnya belum seberapa, tetapi memang buahnya sangat banyak.
__ADS_1
Excel menengadah, mengamati mana saja buah yang bisa ia jangkau. Meski tubuhnya tinggi, tetapi menjangkau buah itu cukup sulit, hingga Excel terpaksa melompat berulang kali.
Dengan keringat mengucur, tergenggamlah tiga buah mangga yang Excel rasa tidak terlalu muda. Setidaknya bijinya sudah mengeras, pikirnya.
"Enak ya, tinggal metik!"
Excel menoleh dengan cepat, karena tak menyadari kedatangan seseorang disekitarnya.
"Nana yang minta ...," sedikit bodoh rasanya mengatakan itu di depan Ai. Nana? Bukankah itu julukan sayang dari Ai untuk istrinya?
Sh it.
Ai tersenyum sinis, ia mengantungi kedua tangannya. "Pohon ini memang milik dia, ambil saja sebanyak yang dia mau, selama itu bisa menyenangkannya."
"Anakku yang mau ... bukan Nana!" ucap Excel sedikit menyolot dan rasa-rasanya hatinya sudah muntab. Ingin meledak.
Ya, Tuhan ... sesorean ini, pitamnya naik dengan cepat.
"Naif jika kamu percaya apa yang dia mau adalah kemauan bayimu. Kupikir kau pintar," Ai mencibir dengan bahu mengendik tak acuh.
"Ternyata ...," ia menggantung ucapannya. Sengaja ia membiarkan Excel melanjutkan sendiri tuduhannya.
"Aku anggap itu hanya ucapan pria yang kalah memperebutkan seorang wanita." ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Ai yang meluruhkan seluruh cibiran di wajahnya.
Sumpah, kesabaran Excel diuji saat ini. Ia sudah tak tahan lagi membendung perasaan kesal yang datang padanya. Iya, memang dia sekarang banyak tersenyum dan berbicara, tetapi ia juga sering mudah marah dan merengut semakin masam.
Setibanya di teras rumah, ia menyerahkan buah-buah itu ke dalam pelukan Naja yang berbinar girang.
"Yang membuatmu senang pasti karena pemiliknya adalah mantan pemilik hatimu, iya 'kan?"
"Kalau iya, kenapa? Mau marah? Kesel? Sini kalau berani?" Naja memajukan tubuh depannya yang memang kian menantang.
"Pastikan saja kau menghabiskannya, kalau tidak aku yang akan menghabisimu!" Excel membuang muka, ucapan Naja semakin membuatnya meledak. Bisa-bisanya dia berkata begitu?
Naja meliuk penuh cibiran melihat suaminya itu, tetapi ketika melihat buah mangga di tangannya, Naja kembali ceria. Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
Ngidamnya keturutan.
.
.
.
.
Jangan bilang kurang ... ini 1,5 k kata😥
wkwkwkwk ...
Terimakasih sudah bertahan di tulisan othor figuran🤭 wkwkwkwk ...
Just for attention ... setiap bahasa enggres di sini berasal dari mesin penerjemah ... 😂😂😂 tapi isinya murni dari peresan isi kepala othor yang selebar daun kelor😂😂😂 jadi maaf kalau kadang agak mabok membacanya🤭🙏
Sekebon Apa yang belum aku kasih ke kalian? Asal bukan sekebon duidh, bakal aku kasih ... wkwkwk ...
Continued to be ...
(Sori, sengaja di balik biar ngga kek penyakit pas disingkat)😂😂😂
__ADS_1