Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Dia ...?


__ADS_3

Pintu kamar hotel menjeblak terbuka saat tangan lembut seorang wanita mendorongnya dengan kasar penuh kekesalan. Bibir wanita itu mengumpat dan menggerutu.


"Dasar bo doh ... begitu saja ngga becus!" umpatnya geram. Ia berulang kali meraupkan jemarinya ke rambutnya dan mendorongnya ke belakang. Ia menendang pintu hingga memantul di dinding dekat pintu. Seakan kemarahannya tidak bisa teredam, tangannya mendorong pintu itu hingga menutup.


Sial.


Tanna mengumpat dalam geram, menendang udara kosong di depannya. Telinganya perlahan dan samar menegak saat mendengar suara lengguhan dari arah tempat tidur.


“Sh it ... apa yang lo lakukan, ha?” Tanna menerjang Josh yang tengah menggagahi Mikha yang tergolek lemas di atas tempat tidur. “Lo mau ngerusak rencana gue?” Kesal sembari menarik tubuh Josh dengan brutal.


Tinju Tanna yang tak seberapa itu, meninju rahang Josh sekuat tenaga hingga pria itu mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Josh yang tak siap dengan keadaan ini hanya bisa tergolek pasrah. Senyum smirknya terukir saat mengelap sudut bibirnya.


“Lo berniat jauhin dia dari jangkauan gue ... lo juga jahat jadi temen, Tan ...!" kecamnya pada Tanna sambil meringis. Josh berulang kali memakai Mikha dan ia mulai terobsesi memiliki wanita itu, tak peduli apa pun keadaan Mikha. Sekalipun ia tahu, Mikha tengah mengandung anak Mateo, Josh tidak peduli akan hal itu. Dia tulus menyayangi wanita itu.


“Gue udah janji bakal kasih dia ke elo kalau semua udah selesai. Gue bakal jadiin elo sebagai pahlawan yang bakal nyelamatin dia. Be go, banget sih, lo jadi orang. Coba mikir dulu, jangan ceroboh. Gue udah nunggu kesempatan ini sangat lama. Malah lo ancurin begini. Kalau sampe Mikha dan bayinya kenapa-napa, kita bakal dapat masalah baru ... ngerti lo!” masih mengepulkan amarah, Tanna tampak berapi-api menyerbu Josh.


"Tapi ngga kaya gini juga, 'kan, Tan ... lo bisa ngelakuin ini sendiri tanpa memanfaatkan Mikha ... setelah obat itu diminum Excel, lo bisa 'kan miliki dia semau lo."


"Lo pikir ini semudah yang lo kira, ha? Excel jelas-jelas benci gue, kalau gue yang dateng ke dia secara langsung, pasti dia langsung curiga, be go ...!" Tanna memutar tubuhnya, melirik Mikha sejenak, lalu menyikukan sebelah tangannya, dan mengusap bibirnya dengan tangan yang lain.


Ia saat ini tengah kalut dan berdebar, usahanya satu per satu patah dan lebur. Mereka terlihat seperti tidak terpengaruh oleh beberapa hal yang Tanna lakukan, meski segala upaya telah ia coba usahakan. Mental dan terberai. Tersisa satu cara terakhir ini yang ia yakin akan berhasil. Setelah usahanya untuk memiliki Excel dengan obat perang sang itu menuai kegagalan.


Tanna frustrasi dan hampir gila menahan kekesalan dan cintanya yang tak terbalas. Hatinya sudah terpikat pada satu pria bernama Excel. Dia memilih mati daripada pria sedingin es itu dimiliki orang lain. Apalagi, hanya seorang Naja, Tanna yang sempurna tidak bisa menerima hal itu.


“Mana sih, dia? Lama sekali!” gerutunya sambil sesekali menengok Josh yang kepayahan berdiri dan berpakaian. Ia berjalan mondar-mandir dengan tangan saling meremas. Seharusnya mereka datang lebih cepat, ulu hati Tanna seakan dipelintir oleh kecemasan.

__ADS_1


Josh yang belum tuntas, mengusap Mikha dengan segenap perasaan. “Gue cinta sama lo, Mikha,” lirih Josh sembari membenahi pakaian yang telah ia koyak. Menyusuri lekuk tubuh Mikha yang sedikit lebih berisi, Josh terpaku pada lelehan merah disela paha mulus Mikha yang terlipat. Ia terkesiap dan panik. Namun, belum sempat ia mengutarakan keterkejutannya, pintu kamar terdobrak dengan kasar. Dengan segera ia menutup tubuh Mikha dengan selimut. Keringat dingin mulai membanjiri kening pria itu.


“Lelet banget kerja kalian!” Sergah Tanna dengan segenap rasa yang bercampur. Sebenarnya ia sangat takut akan hal ini. Tapi ia sudah membulatkan tekat. Sudah terlajur terjun, ia putuskan untuk menyelam.


"Brisik, lo ... gue dibanting sama dia. Hampir saja semua rencana lo gagal kalau D ngga datang di saat yang tepat. Sial banget laki lo ini ...," maki pria yang memapah tubuh Excel yang tengah tak sadarkan diri. Ukuran tubuhnya yang lebih kecil dari Excel, membuat irama napasnya tersengal, kepayahan membawa tubuh Excel kemari, terlebih melewati tangga.


"Yang penting 'kan semua beres ... jangan bawel mulut lo, dasar wanita!" Pria yang dipanggil D itu menghempas tubuh Excel di kasur sebelah Mikha. Lalu ia meregangkan tubuhnya yang terasa lelah.


“Atur dan posisikan dengan benar, D! Josh ... lo ambil kamera lo ... setting dengan benar seolah mereka mengambil foto mereka sendiri!" Ia kelabakan memberi perintah, sementara Josh panik dan tak fokus mengarahkan kamera dengan tangan gemetar. Sudut matanya dipenuhi bayangan lelehan merah yang ia rasa terus mengucur.


"Apa sih yang lo tunggu? Buang waktu saja!" Tanna menampar—sedikit mendorong—bahu Josh yang notabene seorang fotografer yang cukup diperhitungkan keahliannya. Dia tampak kesal karena Josh sepertinya berlama-lama melakukan tugasnya. Sementara Tanna harus bergegas karena efek obat yang diberikan untuk Mikha tidak akan bertahan lama, pun dengan Excel, ia takut pria itu segera tersadar setelah bius yang seharusnya terhirup, tidak menyasar dengan benar. Hingga D harus memukul tengkuk Excel dengan sebuah vas dari kayu yang ia ambil dari salah satu sudut ruangan.


"Brisik lo ... gue lagi nyari sudut yang tepat, bo doh." kilah Josh sembari mengatur lensa kameranya kembali.


Josh kembali menarik sebelah sudut bibirnya, ia bertekat, untuk membuat Mikha keluar dari cengkeraman Tanna. Wanita itu cukup mengerikan.


Pria bernama D itu melirik gelagat permusuhan yang begitu kental dari dua orang didepannya, lalu usai menempatkan Excel lebih dekat dengan Mikha, D menegakkan tubuhnya dan berkata.


"Gue keluar dulu kalau udah beres semua, kelamaan di sini nanti—"


"Pacar lo yang manja itu ngambek, iya?" Tanna memangkas ucapan D dengan cepat dan jengah. Dengan kasar, Tanna merampas ponsel D yang berada di saku belakang.


D yang tidak siap dengan tindakan Tanna berusaha merebut kembali ponsel miliknya, akan tetapi, Tanna menangkis tangan D dengan gesit. Hingga D yang begitu kesal, menangkap tangan Tanna, membawanya berhadapan.


"Apa-apaan, lo ... gue udah lakuin bagian gue, seenggaknya biarkan dia bekerja," kepala D mengendik ke arah Josh yang mulai mengarahkan kameranya dengan gerakan malas. "Gue udah banyak bantuin lo, mati-matian buat ngebela lo, jadi tameng lo, tapi dia mulu yang dapet enaknya!"

__ADS_1


"Lo ngga suka bantuin gue?" Tanna memindai mata D yang mengobarkan amarah dengan berani, ia sedikit melemaskan tangan dan tubuhnya. "Lo lupa apa yang gue beri ke elo? Lo dan Mikha tuh sama, ngga tahu terimakasih!"


D mendengkus kesal, ia menghempaskan Tanna dengan begitu keras hingga tubuh kecil Tanna nyaris ambruk. Menghujamkan tatapan penuh kekesalan, D berlalu meninggalkan Tanna.


Tanna segera kembali siaga setelah mengantarkan D dengan tatapan sinis penuh kemenangan. Seorang Tanna tidak akan pernah kalah, dengan uang, kekuasaan orang tuanya, dan juga tampangnya yang polos, tidak ada yang tidak bisa dia taklukkan.


Ia segera mengambil beberapa foto dan tersenyum penuh kemenangan usai merapikan diri dengan menyentak turun kemeja yang ia kenakan.


Brak ....


Ketiga orang itu terkesiap namun membeku di tempat, seakan hawa dingin mencengkeram tubuh mereka.


"Sial ...," umpat Tanna dengan mata menutup dan tangan meremas ponsel.


"Tanna ...."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2