
“Apa maksudmu dengan semua ini, Cel?” Kira tengah menyikukan tangannya di pinggang.
Tatapan wanita cantik itu tampak di penuhi amarah yang luar biasa terhunus,
menerjang Excel yang membulatkan matanya.
Kedua pria yang masih belum teratur irama napasnya itu terpaku beberapa jenak, jika
Harris masih butuh waktu untuk menyadari apa yang terjadi, lain halnya dengan
Excel yang hanya bisa pasrah akan nasib malang yang akan menimpa telinga dan
hatinya. Otaknya kini tengah merangkai alasan yang masuk akal, tetapi rasanya tidak ada selain hal konyol yang akan membuatnya kehilangan muka di depan orang tuanya.
“Apa kau sudah merencanakan semua ini saat mengatakan akan pindah rumah? Atau kau
memang sedang mempermainkan pernikahanmu?” suara Kira membelah suasana rumah
yang semula hening. Ia sama sekali tidak punya niat untuk mengendurkan
amarahnya sedikit saja, karena baginya mempermainkan pernikahan atau wanita
bukanlah hal yang bisa di tolerasi.
“Tidak. Sama sekali tidak, Ma ... semua ini hanya salah paham dan aku─” Excel membasahi tenggorokannya yang
mendadak gersang. Ia menarik napas dalam, di bawah tatapan amarah mamanya,
Excel selalu takut dibuatnya.
“Aku apa?” bentak Kira yang membuat Excel tersentak. Citranya sebagai pria yang
sempurna di mata kedua orang tuanya mendadak sirna hanya karena seorang Naja.
Harris meraih bahu istrinya, menenangkan amarah yang membuncah, “Sayang ... tenangkan
dirimu. Kenapa kau suka sekali marah, sih, akhir-akhir ini ...? ini tidak baik untuk kesehatanmu.”
“Ma ...,” Excel mendapatkan kembali suaranya yang tersambar amarah mamanya. “Ini
hanya salah paham saja, Ma.”
Kira memalingkan wajahnya, tangannya beralih menyilang di dada setelah sekian lama
mengapit pinggang. Amarahnya tersulut tatkala melihat anaknya tidur terpisah
dari istrinya. Ia tiba-tiba kembali teringat pada dirinya sendiri waktu itu,
yang tidur terpisah dari Harris. Jika ia dan Harris melakukan hal itu karena memang ia dan Harris terlibat pernikahan karena perjodohan, sementara Excel? Bukankah mereka saling mencintai?
Naja yang sejak awal terjadinya kericuhan tadi hanya berdiri di tangga paling atas, kini perlahan
mendekat. Ia juga nyaris mati berdiri melihat kemurkaan mertuanya yang baru
kali ini ia saksikan sependek mereka saling mengenal. Sungguh mengerikan,
tampaknya Naja harus berpikir dua kali untuk membuat mama mertuanya marah.
“Kenapa kau berbohong untuk menutupi kelakuan suamimu, Na?” kini mata Kira terpaku pada
sosok Naja yang secepat sambaran kilat diraih Excel ke belakang tubuhnya.
“Jangan salahkan Naja, Ma ...!” tangan Excel meremas telapak tangan Naja, “Naja tidak
__ADS_1
salah, aku sepenuhnya bertanggung jawab atas kekacauan ini.”
Mata Naja membulat saking terkejutnya, ia tak menyangka Excel akan mengatakan kata
itu. Ucapan yang membuat seorang wanita takluk dan berlutut. “Apa benar dia
Excel?” Naja masih mengerling sisi kepala Excel yang hanya menampilkan helaian rambut lebatnya.
Ibu dan anak itu saling tatap beberapa saat, ruangan ini berubah mencekam dan
dingin.
“Naja sedang takut padaku, Ma ... tadi aku memaksanya, padahal dia sedang datang
bulan.” Wajah Excel terasa panas. Ia sungguh terpaksa mengatakan itu, daripada
ia mendengar omelan mamanya yang tak akan berkesudahan dan berbuntut panjang. Setahu Excel mamanya adalah seorang pendendam.
Kira memindai wajah putranya penuh, “Kamu tidak berbohong ‘kan, Cel?”
“Tidak, Ma ... aku berkata jujur ...!” ujar Excel tegas.
Harris dan Kira saling pandang, “jadi dia tidak bohong jika telah lama berhubungan dengan Naja?” sorot mata Kira mengatakan itu.
Naja ... ia tak bisa berkata-kata selain memisahkan kedua bibirnya. Telapak
tangannya serasa remuk saat ini karena genggaman Excel terasa kuat, basah, dan
panas. Sungguh hari ini perlu dicatat dalam sejarah, Excel merendahkan diri di
hadapan orang tuanya demi seorang wanita. Hanya wanita biasa.
“Kau masih memiliki hari yang lain, Nak ... hanya tujuh hari atau setara satu minggu
kau libur membahagiakan istrimu, memuaskan kehendakmu. Astaga ... Papa jadi
menepuk pundak sang putra. Bahkan dalam hal seperti itu Harris dan Excel
memiliki kesamaan. Senyum yang tak bisa dimengerti artinya, terukir di sudut bibir pria yang masih terlihat bugar di usianya yang tak lagi muda itu. "Jadi seperti ini rasanya menanti kehadiran seorang cucu?" batin Harris, manik mata hitam yang tak pernah pudar warnanya itu melirik putranya.
Tepukan keras dan berulang-ulang kembali menimpa bahu kokoh Excel, sebelum Harris berlalu pergi dari sisi tubuh putranya. Napas Excel berebut untuk keluar setelah sekian lama tertahan di pangkal lehernya, RIP citra dirinya yang selalu baik dan sempurna.
“Iya, Pa ...!” lirih Excel seraya menundukkan wajahnya. Ingin rasanya Excel tenggelam
dalam Palung Mariana atau terbang ke planet Neptunus saja, setidaknya ia tidak bisa
melihat atau tampak dalam bayangan mata siapapun. Malu yang tak bisa di ukur
oleh satuan ukur yang ada di dunia. Apalagi ia bisa membayangkan dengan jelas,
mamanya tengah menahan tawa.
“Lain kali jangan buat istrimu takut, Cel ... kau ini seperti tidak berpengalaman
saja,” bisik Kira tepat di depan wajah Excel yang kian pias. Ia tersenyum penuh
kemenangan, “segera kemasi barang-barang istrimu, Cel ... dan buatkan mama cucu
yang banyak!” seru Kira. Ia menyusul suaminya yang telah berdiri di ujung
tangga, mereka membiarkan anak-anaknya menyelesaikan urusannya.
__ADS_1
Naja mengigit bibirnya, di beranikan dirinya untuk melirik kedua mertuanya tersebut,
tetapi sayang Kira masih belum mengalihkan pandangannya dari anak dan
menantunya itu, sehingga tatapan mereka saling beradu beberapa saat. Kira
mengedipkan sebelah matanya sebelum lenyap tertelan tangga.
Naja mengisi rongga pipinya dengan udara yang sempat ia tahan di dada, sebelum
mengembuskan nya perlahan dan menimbulkan suara melenguh. Entah apa lagi yang
akan terjadi setelah ini, setelah lepas dari amarah mertuanya, ia masih harus
menghadapi Excel yang pastinya akan meminta imbalan atas semua malu yang ia
timpakan saat ini.
Tangan yang masih digenggam Excel itu ia tarik ke belakang, agar terlepas dari
genggaman suaminya itu, “Kau baik-baik
saja?” cemas, itulah yang Naja rasakan saat ini. ia membawa tatapannya untuk
mengintip Excel yang masih menyembunyikan ekspresinya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan yang cukup luas di lantai dua rumah ini, setelah
Excel tak jua menyahuti ucapan Naja. Cukup lama hingga Naja kembali memberanikan
diri mengulangi panggilannya. “Cel ... aku-aku sungguh minta maaf atas semua
ini. aku tak bermaksud membuatmu malu.”
Naja kembali menggigit bibirnya, meremas telapak tangannya sendiri yang mulai
dibanjiri keringat.
“Sudahlah ... biar ku bantu memindahkan barang-barangmu!” Excel menghembuskan napasnya,
tidak ada gunanya juga menyesalinya sekarang, toh hanya di depan kedua orang
tuanya saja dia mengatakan hal itu, bukan di depan orang lain. Pasrah. Ia tak mau lebih buruk lagi di mata orang tuanya, dicap sebagai pria yang mempermainkan wanita.
"Biar aku saja, kau pasti lelah setelah bekerja dan mencariku seharian ...," Naja merapatkan bibirnya saat Excel menatapnya. Kedua tangannya beradu dengan ragu di depan dadanya, "terima kasih sudah mengkhawatirkan ku." Naja berlalu pergi sembari menyisipkan rambutnya ke belakang telinga.
Manik mata Excel masih lekat mengawasi langkah Naja, "Kenapa aku mau melakukan hal memalukan seperti itu, hanya karena wanita seperti dia?" Excel melegakan dadanya, ia rasa ada yang salah dengan dirinya. Langkah Excel kembali terayun menyusul Naja di dalam kamar, ia membantu Naja memindahkan barang, sementara Naja yang mengumpulkannya dalam satu wadah agar lebih mudah dibawa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Yuk gabung ke gc author, selalu dinantikan kehadirannya, ya man-teman ... ;)