Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Sungguh Meresahkan


__ADS_3

Excel melepas kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya sejak beberapa jam lalu. Mengusap kedua matanya yang terasa lelah sebab menghadapi layar komputer terlalu lama. Napasnya terembus perlahan setelah melihat pukul berapa sekarang. Tengah malam.


Bergegas ia menyimpan jejak pekerjaannya lalu mematikan komputer tersebut. Merapikan lagi beberapa barang yang masih terserak ke tempatnya semula kemudian ia mengayunkan kakinya ke kamar.


Lampu memang selalu menyala redup selama Naja menjadi penghuni tambahan di kamar ini, Excel langsung menuju lemari untuk mengganti pakaiannya dengan piama. Akan tetapi ketika berbalik, ia tak mendapati Naja di atas ranjang seperti yang ia titahkan. Sambil berdecak, ia melangkah mendekati sofa.


“Inilah kenapa aku ingin pindah ...,” gumam Excel. Tangan pria itu terulur ke bawah tubuh Naja untuk memindahkannya ke ranjang usai menyingkirkan bantal yang dipeluk Naja dengan erat. Perlahan sekali sebab ia takut jika sampai Naja terbangun.


Naja yang merasakan tubuhnya melayang, membulatkan matanya penuh. Ia bahkan memekik nyaring saat sadar tengah berada di dekapan Excel.


“Kau mau apa?” teriak Naja sambil mendorong dada bidang Excel. Rontaan yang begitu tiba-tiba membuat Excel mengeratkan pegangannya, ia takut jika Naja sampai terlempar ke lantai sebab ia juga tak kalah terkejut mendengar teriakan Naja.


“Lepaskan aku ...!” Hardik Naja masih terus meronta. Hingga lolos sudah pegangan Excel dari balik lutut Naja, dan gadis itu pun terjun bebas di atas lantai. Beruntung telapak kaki Excel berada di tempat yang tepat sehingga kepala Naja tidak membentur lantai.


“Kau ini ceroboh sekali ... bagaimana jika kau malah terluka?”


Naja mengaduh seraya menegakkan dirinya, ia mengusap bagian belakang tubuhnya sambil meringis menahan sakit.


“Tidurlah di ranjang, biar aku yang tidur di sofa ...,” Excel meraih tangan Naja, membantunya berdiri.


“Ngga usah, aku sudah terbiasa tidur di sana.” Ekor mata Naja mencuri pandang ke arah Excel dengan curiga.

__ADS_1


“Aku memaksa ... tidur di sana atau aku akan melakukan apa yang kau takutkan!” Excel menekan setiap perkataannya, sorot matanya tajam menikam.


“Ngga mau ... nanti kamu yang sakit malah aku yang di salahin,” Naja mengibaskan telapak tangannya, sambil memegangi pinggulnya yang sakit Naja melangkan kembali ke sofa. Meringis menahan sakit dan malu.


“Apa kau sudah merelakan kekasihmu itu, sehingga kau mau membantahku? Kau sungguh tidak ingin kembali padanya?” Excel menyusul Naja, ia kesal sebab hampir setiap malam Excel selalu tidur sambil duduk di seberang Naja. Hingga pagi menjelang, Excel baru ke ranjang untuk beristirahat dengan benar.


Naja berbalik dan ujung hidung mungil tetapi sedikit runcing itu menubruk dada Excel. “Auch,” Naja terhuyung ... tentu saja ia hanya berlagak, sebab ia merasa terbakar kala membaui aroma tubuh Excel yang selintas memenuhi hidungnya.


Tangan Excel dengan cekatan meraih tangan Naja, mencegahnya terperenyak. Menarik Naja hingga—tanpa sengaja— menabrak dadanya lagi.


Naja mendadak lumpuh saat manik matanya terisi penuh oleh wajah dingin Excel. Seakan tersihir, Naja menatap jelaga legam itu bergantian. Dekat, hanya kedua tangan Naja yang menumpu dada Excel sebagai pemisahnya, hingga aroma mint terasa menerpa wajah semakin lekat.


Tetapi Excel segera memutus kontak mata itu, ia membuang wajah ke sembarang arah. Ia takut akan terhanyut oleh suasana yang terlalu mendukung. Lagi pula ... ia tak mau membuat Naja semakin membenci dirinya.


“Tapi Cel ... di sana pasti tidak nyaman—“


“Sudah tahu di sini tidak nyaman, masih saja nekat tidur di sini ... kalaupun kau tidur di ranjang, aku juga tidak berniat menyentuhmu!” sekali lagi, Excel membekukan Naja dengan tatapannya.


“Jangan banyak bicara ... tidur di sana dan pejamkan mata. Jangan berisik ... suaramu itu bisa membuat telingaku sakit!” sambung Excel masih dengan nada suara meninggi.


Naja masih mematung beberapa saat, ia masih mengamati Excel yang merebahkan tubuhnya di sofa yang sebenarnya cukup empuk. Jika Naja yang berbaring di sana, panjang sofa masih mampu memuat tubuhnya meski harus melipat kaki dan pagi hari, leher terasa kaku. Tetapi jika Excel, —Naja yakin— dia pasti akan merasa pegal esok pagi.

__ADS_1


Excel meletakkan lengannya menutupi mata, tapi sebelum itu ia masih sempat melayangkan tatapan penuh peringatan pada Naja, sehingga Naja menuju ranjang dengan perasaan tidak enak.


Naja masih berlama-lama menatap suaminya yang tak bergerak sama sekali. Sedikit menarik sudut bibirnya, Naja turun dan mengambil selimut di dalam lemari. Tanpa ragu ia menebarkan selimut tebal itu ke tubuh Excel. Bibir Naja terlipat ke dalam menutupi senyum yang hendak merekah.


“Sampai kapan kau akan berdiri di situ? Atau kau mau tidur di sini denganku?” suara dingin Excel meluncur meski ia sama sekali tak mengubah posisinya.


Naja terkesiap lalu dengan cepat ia kembali ke ranjang dan menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut. Kelopak matanya pun menyatu dengan rapat. Napas Naja masih kembang kempis tak karuan saking terkejutnya. Naja tak menyangka Excel mengetahui tingkahnya dari balik lengan.


“Memalukan sekali ...,” bibir Naja bergerak tanpa suara sebelum ia berguling membelakangi Excel. Kedua telapak tangannya menutupi wajah dengan perasaan malu yang membubung.


Excel, sebenarnya belum terlelap. Ia masih berusaha mengusir bayangan wajah Naja yang menatapnya. Tatapan wanita itu begitu memikat, bibir mungilnya yang nyaris pucat membuatnya tampak alami. Berhadapan dengan Naja, Excel harus meninggikan kendali diri, ia tidak mau sampai kelepasan dan malah membuat semua kacau. Tetapi tetap saja, bayangan nakal itu menggoda.


“Wajah itu sungguh meresahkan,” Excel memiringkan tubuhnya, menarik selimut tinggi-tinggi. Saking kesalnya, napasnya berembus lebih cepat, pun dengan jantungnya. Iramanya mulai menghentak.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2