
Hal pertama yang Tristan lakukan dalam ruangan ini tentunya memindai atmosfer ruangan secara menyeluruh. Selama satu menit penuh, manik mata cokelat terang itu bergulir seiring kebisuan yang melanda.
“Silakan duduk ....” pinta Sam dengan ramah dan sopan.
Naja sedikit merasa aneh dengan gaya bicara Sam yang begitu formal sehingga memancing bibirnya meliukkan senyum. Namun, seketika tubuhnya membeku kala Tristan memaku tatapannya pada Naja.
“Kau ...?” Tristan mengulurkan telunjuknya ke arah Naja. Kepalanya patah ke samping, “OG di kantorku? Benar?”
Naja membeliak, “Tu-Tuan ingat saya?”
“Kalian sudah saling kenal?” Sam bergantian menatap Naja dan Tristan.
Naja mengangguk. “Maaf Tuan ... saya-saya belum–“
“Aku heran, kau bekerja di sini tapi kau juga kerja di kantorku? Bisa kau jelaskan sesuatu?” Tristan mendekat tanpa ragu, bahkan saat di kantor, Tristan dan Naja belum pernah terlibat obrolan apa pun selain perintah.
Naja gelagapan, tetapi dia mencoba untuk tenang. “Maafkan saya sebelumnya, Tuan Tristan ... jadi begini ...,” Naja mengatakan semuanya, kecuali menikah dengan siapa. Bahkan saat Sam mencoba menginterupsi, Naja memohon agar Sam tidak mengatakan apa pun. Naja khawatir, Excel tidak berkenan.
“Tapi ... kenapa kau bekerja usai menikah?” tanya Tristan penuh selidik.
“Karena saya yang memintanya kembali demi Anda, Tuan.” Sahut Sam saat Naja tampak bingung mencari jawaban.
“Oh ... apa kau keberatan akan hal itu?”
Naja menipiskan bibir dengan canggung seraya menggeleng. “Benar kata Lisa, Tuan Tristan pria yang perfeksionis.” Batin Naja. Bahkan dia tidak meminta maaf untuk keterlambatannya dan mengganggu hari pernikahan orang lain, meski Naja tidak terlalu memusingkannya. Meminta maaf ada cela bagi kesempurnaan seorang Tristan. Kesalahan adalah noda baginya.
“Baiklah ... sudah selesai ‘kan basa basinya?” Sam berbicara sambil mengela napas. Dia begitu lega sebab Tristan bisa melonggarkan “sikapnya” karena adanya Naja. Dewi Fortuna, pikir Sam dengan bibir mencebik dan alis terangkat.
“Ayo kita mulai kalau begitu ...,” ajak Sam diiringi senyum Naja yang menampakkan giginya.
Sam mulai menunjukkan beberapa gambar yang dihasilkan Naja kepada Tristan yang tampak antusias. Pria itu memang selalu ingin tampil sempurna, sehingga detail kecil sangat diperhatikan. Naja yang awalnya canggung akhirnya pada akhirnya bisa menjalin obrolan yang begitu hangat dan akrab. Kini malah Sam yang sedikit tersisihkan.
“Bisa makin panjang gue, kalau dikacangin begini.” Umpat Sam dalam hati sambil meraup wajahnya. Sesekali dia menguap bahkan dia bisa memainkan game online yang lagi hits hingga masuk peringkat atas.
“Tuan, Anda sudah terlalu lama berada di sini.” Maureen, sekretaris Tristan mengingatkan atasannya yang tampaknya lupa waktu karena Naja.
Tristan menarik tangannya, sedikit menaikkan lengan jas untuk melihat arloji limited edition yang dikenakannya. “Baiklah ... kita sampai pada kata sepakat, Naja. Saya ingin semua ini siap dalam waktu kurang dari satu bulan. Ehm ... nanti Maureen yang akan menghubungimu.”
“Baik Tuan ... akan saya usahakan.” Sahut Sam yang sepertinya senang Tristan hendak undur diri.
“Maafkan saya Mbak Maureen.” Naja menundukkan kepalanya sejenak.
__ADS_1
“Bukan salahmu ... kita memang punya banyak kesamaan, jadi tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, benar?” Tristan tersenyum meyakinkan.
“Dengan waktu saja dia enggan mengakui kalah.” Naja membatin. Tetapi bibir Naja mengembangkan senyum diiringi anggukan.
“Lain waktu kita bisa bertemu lagi. Dan ... tidak perlu mengajukan surat pengunduran diri atau apa pun, mengerti?” Tristan menarik tubuhnya untuk berdiri, sekali lagi seutas senyum terlukis di bibir dengan lekukan sempurna itu. Tangannya begitu ringan terulur ke arah Naja, yang segera mendapat sambutan dari Naja yang juga telah berdiri.
“Mengerti, Tuan Tristan.” Naja mengangguk sementara Maureen memisahkan kedua rahangnya hingga beberapa saat.
“Benarkah dia Tristan?” tanya Maureen melalui gerakan bibir tanpa suara di balik tubuh Tristan yang hendak keluar ruangan bersama Sam, sehingga membuat Naja terkikik geli.
***
“Mas Sam ... jika sudah tidak ada yang perlu saya kerjakan, sebaiknya saya pulang saja, ya ...,” Naja mencangklong tas di pundak. Setelah hampir satu jam lamanya lewat dari jam makan siang. Pesan yang dikirimkannya pun hanya dibaca tanpa di balas. Naja sudah menyimpan nomor ponsel Excel sejak Jen memasukkan Naja dalam grup keluarga Dirgantara.
“Tunggulah Excel menjemputmu ...,” Pinta Sam. Pria itu memeriksa jam yang memang sudah melewati batas yang telah Excel janjikan.
“Mungkin dia sibuk, Mas ... ngga apa-apa aku pulang dulu. Lagian aku sudah mengirimnya pesan.”
“Hati-hati di jalan ya, Na ...,” ujar Sam akhirnya. Lagi pula Sam sudah tidak punya alasan untuk menahan Naja lebih lama.
Naja bangkit dari duduknya, tangannya merangkum tumpukan kertas yang disediakan oleh Sam untuk Naja. “Saya permisi, Mas ... selamat siang.”
Sam melambaikan tangannya sebagai jawaban. Pria itu tak beranjak dari posisi duduknya.
**
Tujuan Naja kali ini adalah tempat jasa penatu dimana seragam OG-nya tengah dicuci. Menurut Lisa, baju itu sudah siap jika ingin diambil. Naja merebahkan kepalanya di sandaran kursi, manik mata wanita itu menyapu ke luar jendela kaca mobil.
Laju mobil mulai melambat kala lampu lalu lintas menghadang perjalanan mereka. Sang sopir tampak kesal dengan keadaan ini. Sembari tersenyum, Naja kembali fokus pada pemandangan di luar mobil.
Tetapi, dia menarik tubuhnya tegak kembali saat menjumpai sosok tinggi berwajah angkuh, turun dari mobil hitamnya menuju sebuah restoran. Tangan pria itu meraih ponsel miliknya, tampak mengetikkan sesuatu. Sesekali, sorot tajam matanya memindai sekeliling seolah sedang mencari keberadaan seseorang.
“Excel? Sedang apa dia di sini? Bukannya dia janji mau menjemputku?” gumam Naja, tetapi tak lama kemudian ponselnya berdering singkat menandakan adanya pesan masuk.
Tangan Naja meraba ponsel yang berada di dalam tas, entahlah ... Naja begitu penasaran akan apa yang dilakukan Excel.
“Tunggulah ... aku akan menjemputmu sebentar lagi.” Tulis Excel dalam pesan yang dikirim pada Naja.
“Aku sudah dalam perjalanan pulang.” Balas Naja cepat. Usai menekan tombol send, Naja kembali memerhatikan Excel.
Namun, Naja dibuat membulatkan matanya saat Excel saat ini tersenyum ke arahnya. Bibir Naja memisah, “A ... aku?” Naja menunjuk dadanya sambil celingukan. Tetapi, memang benar hanya dia seorang di jangkauan sudut pandang Excel. Panas tapi terasa dingin, punggung tangan Naja menyeka keringat menitik di keningnya.
__ADS_1
“Pak ... saya turun di sini saja,” Ujar Naja usai memastikan memang kepadanyalah Excel tersenyum bahkan melambai.
“Loh Mbak ... ini masih jauh dari tempat yang Mbak tuju?” tanya sopir itu seraya membalik tubuhnya menghadap Naja.
“Saya ada keperluan di sekitar sini, Pak ... tenang saja ... saya bayar penuh kok.” Senyum Naja meyakinkan sang sopir untuk menepi, sebab lampu lalu lintas berganti hijau.
Naja menipiskan bibir ketika Excel berjalan menuju ke arahnya. Senyumnya yang belum memudar membuat Naja semakin terbakar. Tetapi, ragu kembali merayapi sehingga Naja sekali lagi memastikan bahwa Excel sedang menujunya.
“Kakak ...,” suara wanita terdengar begitu manja dari arah depan mobil. Manik mata Naja tergiring ke arah suara tersebut.
Seorang wanita cantik, bertubuh mungil dengan rambut ikal menggantung di belakang tubuhnya, berlari ke arah Excel dan langsung menghambur ke dalam pelukan Excel. Bahkan pria itu menyematkan kecupan di rambut wanita itu.
“Hei ... jangan seperti itu ... malu dilihat orang!” seorang pria yang sepertinya ayah dari gadis itu tampak keberatan dengan aksi mesra kedua manusia di depannya.
“Ngga jadi Pak ... kita jalan lagi.” Naja menarik kakinya yang terulur ke trotor, menutup pintu mobil yang setengah terbuka. Menegakkan lagi tubuhnya menghadap ke depan.
Si sopir menggaruk pelipisnya yang mendadak gatal melihat sikap aneh penumpangnya. Tetapi dia tidak punya pilihan kecuali segeram melaju jika tidak mau terhambat lagi.
Ekor mata Naja dengan jelas melihat perlakuan hangat pada gadis yang berparas manis itu. “Apa itu Mikha?” Naja menggigit bibir, tiba-tiba manik matanya terasa panas.
“Entah aku harus senang atau sedih jika Excel bertemu Mikha,” Naja tertunduk membiarkan titik bening membasahi pakaian yang membalut pahanya.
“Mungkin kita bisa berpisah baik-baik jika memang Excel memilih bersama Mikha ... dan aku ...,” Naja mengembuskan napas melalui mulutnya, terhempas bersamaan dengan kepalanya yang mengenyak di sandaran kursi. Mengawang masa depan yang kembali suram usai secercah sinar mencerahkan jalannya.
**
Meminta sang sopir menunggu, Naja bergegas menuju tempat londrian, beruntung setelah beberapa saat, apa yang dia minta sudah tersedia di depannya.
“Ini saya temukan di saku baju ini, Mbak ... mungkin masih diperlukan.” Ujar pegawai loundry sembari mengulurkan secarik kertas kepada Naja.
“Oh ... makasih Mbak, saya permisi.” Naja undur diri usai membayarkan sejumlah uang untuk jasa yang telah diberikan.
Sekali jalan, Naja menuju kantor Tristan usai memeriksa ponsel yang tidak menunjukkan tanda bahwa Excel membalas pesannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.