
WARNING!!!! MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN DAN ADEGAN DEWASA ... MOHON BIJAK DALAM MEMBACA!!!!!
.
.
Mikha seharusnya sudah pulang berjam-jam lalu, tetapi karena dia menemui beberapa karyawan Star yang masih memujanya ia baru pulang saat matahari condong ke barat. Tentu saja mereka tidak mengetahui dengan pasti apa penyebab Mikha meninggalkan Excel dan sedikit pemberian kecil yang membuat mereka meluangkan waktu saat makan siang. Mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak ingin melukai Excel, tiga orang wanita karyawan Star tersebut tak berpikir dua kali untuk membantu Mikha. Ya ... tujuannya hanya satu, membongkar kebusukan Naja di hadapan Excel.
Mikha rela jika Excel bersama wanita lain yang lebih baik darinya, bukan Naja yang tampaknya bukan wanita baik-baik atau bisa jadi Naja sama saja dengan dirinya. Dalam hatinya, dia selalu menginginkan Excel bahagia meski tidak bersama dengannya.
Taksi yang di tumpangi Mikha berhenti di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah dimana Mikha menghabiskan masa kecil hingga kini. Rumah yang menjadi saksi hidup Mikha yang kelam dan berliku. Rudi, papa Mikha, yang seharusnya mengayomi, melindungi anak semata wayangnya malah mengumpankan putrinya kepada pria kaya demi kelancaran bisnisnya. Meski pada akhirnya, satu tahun terakhir Mikha tak berhasil membuat Tristan takluk padanya.
Rudi begitu geram saat Mikha kabur di hari pertunangannya. Menjadi menantu Dirgantara, bisa dipastikan bisnis properti yang digeluti Rudi selama puluhan tahun—yang kini dinyatakan pailit— di harapkan bisa berkembang dan meski ia tak bekerja, Mikha akan tetap mengurusnya beserta Diana, mama Mikha. Ia bisa bersenang-senang tanpa khawatir dengan masa tuanya. Sehingga kini sebagai gantinya, Rudi mengharuskan Mikha menjual dirinya pada siapa saja yang memberinya uang.
Mikha mendorong pintu depan hingga terbuka, ruangan dalam rumah ini terasa sepi hingga suara khas pergumulan Rudi dan entah siapa lagi wanita yang ia bawa ke rumah ini, merayapi pendengaran Mikha. Mikha tak terlalu memedulikan hal tersebut, telinganya terbiasa dengan suara yang sudah didengarnya dua puluh tahun terakhir.
Mikha melangkah menuju kamar dimana Diana berada, kamar tamu yang terletak di sisi kiri rumah ini. Sejak Diana mengalami kelumpuhan akibat stroke, Mikha menempatkan mamanya di sana. Ia tak bisa membiarkan Diana dalam bahaya bila berada di lantai dua, sebab terkadang Rudi sampai hati menyuruh Diana—yang kala itu masih belum separah ini— mengambilkan makan atau minum untuknya dan wanitanya. Sungguh pria yang tak berperasaan.
Mikha begitu terkejut ketika kamar itu kosong. Panik, Mikha menyerbu kamar dan memeriksa kamar mandi, meski ia tahu mamanya tak bisa lagi berjalan sekalipun ke kamar mandi. Mikha berlari menuju kamar di belakang dapur, dimana pembantunya berada. Ia yakin Surti berada di kamarnya seperti perintah Rudi. Surti baru akan keluar jika Rudi memanggilnya.
“Bi ... Bibi!” seru Mikha saat ia melewati dapur. Ia berlari dan nyaris bertabrakan dengan Surti yang juga bergegas saat mendengar panggilan Mikha.
“Neng ... Ibu ada di atas, sebaiknya kita segera ke sana!” Surti tampak panik, sebab ia hanya bisa melihat dari bawah tanpa diizinkan mendekat.
__ADS_1
Tak menjawab, Mikha pun segera berbalik dan berlari menuju lantai atas diikuti Surti. Dengan napas memburu ia mendobrak pintu kamar yang paling dekat dengan tangga.
Surti memekik dan Mikha langsung menghambur ke arah wanita yang tengah duduk di kursi roda dengan tubuh terguncang. “Mama ...,” panggil Mikha seraya memastikan kondisi sang Mama. Ia tak peduli teriakan Rudi di belakangnya yang mengecam Mikha karena mengganggu aktivitasnya.
“Dasar anak tidak berguna!” raung Rudi yang telah membenahi diri sekenanya. Pria itu menarik Mikha dari Mamanya. Mendorong tubuh Mikha hingga kepalanya membentur meja lampu.
Mikha merasakan kepalanya berdenyut hebat, namun ia masih bisa melihat Rudi memandangnya dengan amarah berkobar. Manik mata pria itu sudah semerah darah, mungkin dia menenggak minuman beralkohol atau mengonsumsi barang haram sebelum ini.
“Kau dan ibumu sama saja, sampah ... tidak berguna! Menyusahkan saja!” tangan Rudi kembali menerjang Mikha yang sedang berusaha bangkit. Mendaratkan telapak tangannya di pipi Mikha berulang-ulang hingga Mikha terhempas kembali di meja lampu. Sudut bibir Mikha mengeluarkan darah bahkan air liurnya kini terasa tak tawar lagi.
Puas melampiaskan amarahnya pada Mikha, Rudi menghampiri Surti yang telah setengah jalan menuju pintu, ia berniat membawa Diana ke bawah dan mencari pertolongan.
“Ke mana kau, wanita pembawa sial?” Raung Rudi.
Terhuyung menahan sakit, Mikha berjalan ke arah Rudi yang berusaha mendorong Surti. Mikha mengayunkan asbak bening itu tepat di puncak kepala Rudi sekuat tenaga. Pria itu memekik sambil memegangi kepalanya.
Rudi membalik tubuhnya menghadapi Mikha yang masih mengangkat asbak. “Anak kurang ajar ... beraninya ka—“
Rudi tak sempat menyelesaikan ucapannya, sebab Mikha kembali menimpakan asbak itu di kening Rudi sehingga tubuh Rudi limbung. Darah tampak merembes dari rambut yang sudah tak hitam lagi.
Napas Mikha memburu, asbak yang masih berada di depan dadanya itu luruh hingga membuat asbak itu terberai. Mikha menatap nanar pria yang tergeletak dengan mata perlahan menutup. Ia tak takut jika harus mendekam di penjara karena melenyapkan pria yang tak pernah mencurahinya kasih sayang. Ia malah senang, sehingga bibirnya menerbitkan senyum dingin.
“Seharusnya aku melakukan ini dari dulu ....” ucapnya dingin, sambil menyenggol kaki Rudi yang lunglai dengan ujung kakinya. Ia lantas menarik pandangannya pada wanita yang membeku di sudut kamar. Wanita yang membalut tubuhnya dengan selimut, berdiri seperti patung namun tubuhnya gemetar hebat.
__ADS_1
“Sebaiknya kau pergi dan tutup mulutmu ... jika kau tidak ingin berakhir seperti dia!” kecam Mikha yang masih dalam mode membunuh yang kuat. Tak ada kilasan kecantikan di wajah Mikha saat ini, yang ada hanya kegelapan menyelimuti.
Wanita itu beringsut dengan wajah pias, serampangan memakai kembali pakaiannya setelah Mikha berlalu dari kamar berdarah ini.
***
Mikha dan Surti hilir mudik di depan ICU. Sudah lebih dari satu jam lamanya Diana berada di dalam tetapi belum ada tanda-tanda yang melegakan mereka. Diana dinyatakan kritis saat masuk ke ruang ICU setelah mengalami pendarahan di pembuluh darah yang menuju ke otak. Mendengar itu, tubuh Mikha yang sebenarnya lemah, lunglai seketika. Ia takut jika Mamanya pergi meninggalkannya seorang diri di dunia yang kejam ini. Tak ada lagi alasan untuk tertawa dan bahagia, tak ada lagi sesuatu yang berharga yang patut ia perjuangkan meski ia harus menahan sakit yang tak terperi.
"Saudara Mikhayla ...," suara bariton nan tegas merambat di telinganya, membuat Mikha dan Surti menoleh serempak ke sumber suara. Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat, tetapi jika boleh ia ingin menemani sang mama barang sejenak atau hingga ia memastikan kondisi mamanya. Namun, ia bukanlah orang yang kebal hukum dan pandai bernegosiasi, ia tahu ia berbuat salah meski niatnya untuk membela diri. Mikha melangkah maju dengan napas terhempas perlahan. Sepasrah itu dia sekarang, ia tak mau lagi berangan akan hidup yang indah. Bebas dari cengkeraman pria kejam itu adalah kemerdekaan yang ia citakan sepuluh tahun terakhir.
.
.
.
.
.
Maafkan Author ya ... author yang imut, baik hati, dan tidak sombong😂😂😂 lagi puyeng, anemia melanda ... semoga esok udah baikan dan bisa up part Excel yang ngeselin dan Nana yang lola😂😂😂
Terimakasih yang udah vote, ngegift, ngelike, dan berkomentar ... jangan lupa update ke versi terbaru agar like, komen, gift, dan vote kalian meninggalkan jejak di TOP Fans ... 💞💞💞 yang belum di bales komennya harap sabar ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Arigatou gozaimashu🙏🙏🙏