
Naja mengelilingi ruangan dan lorong dengan pandangannya, hingga terpaku pada vas yang terbuat dari kayu yang tergeletak sembarangan. Seketika ia membeku, bayangan Excel yang tengah celaka menggentayangi pikirannya. Matanya kembali nyalang dan berlari ke ruangan di mana Rega berada. Mencari bantuan atau mungkin Excel kembali ke aula setelah memastikan keberadaan Naja. Sungguh Naja ingin memercayai pikiran terakhirnya itu.
Napasnya masih tersengal, akan tetapi kekhawatiran akan Excel membuat Naja tak memedulikan keadaan dirinya yang kacau. Larinya kembali mencari Rega yang tertelan oleh gempita pesta. Ia terus mendesakkan diri di sela tamu undangan yang semakin memenuhi jalannya ke tempat Rega tadi berada.
***
Sementara, Rega dan Sam kini masih terhanyut dalam riuhnya pesta. Rega bahkan tidak menyadari kalau ponselnya berdering panjang. Ia sedang berbincang dengan beberapa temannya. Sedangkan Sam, ia asyik menyapa beberapa wanita yang tertawa dan mengerling nakal.
Sampai pada seorang wanita yang dianggapnya menarik, Sam berniat mendekatinya. Ia melewati Maureen begitu saja, tanpa memerhatikan tingkah wanita itu yang sedikit aneh. Maureen tampak kepayahan dengan suasana dalam dirinya yang mendadak panas. Bahkan saat Sam menabrak bahunya, Maureen langsung memeluk tubuh tinggi Sam.
“Sakit lo?” ketus Sam sambil memelototkan matanya. “Jangan kaya wanita murahan lo, gue sama sekali ngga tertarik sama lo ...,” sambungnya lagi saat Maureen malah merekatkan dirinya lebih dalam dan mulai bertingkah menjijikkan.
Sam mendorong Maureen pada bahunya, ia jijik dan meremang mendapat sentuhan kasar wanita itu. “Gue ngga suka cara lo, ya ... malu dilihat orang! Lo gila, gue rasa!” mata Sam memindai Maureen yang tampak merah dan bernapas kasar dan pendek-pendek.
“Sam ... gue kepanasan. Gue kenapa, ya?” tanyanya di sela engahan napas yang tampak payah. Ia bahkan menarik turun kain yang membalut bahu dan lengannya, sehingga membuat Sam waspada.
“Dia kenapa?” Rega yang melihat adegan Sam dan Maureen sejenak mengukir senyum. Ia pikir mereka saling terpikat, tetapi saat menyadari Maureen bertindak agresif dan diluar kendali, senyum Rega mendadak pudar, berganti kepanikan. Ia segera memeriksa tubuh Maureen.
“Sam ... kamu kasih dia apaan? Kenapa dia jadi begini?” Rega memandang mereka bergantian. Tangannya ikut membantu Sam menahan gerakan Maureen yang semakin menggila.
“Buruk sangka lo. Gue mana tahu dia kenapa, tiba-tiba sudah begini!” Sam tidak terima dan mendelik sebal ke arah sahabatnya yang juga mulai kewalahan dengan tingkah Maureen.
Keduanya beradu pandang dalam kepanikan, tetapi seakan saling mengadu diskusi, kedua pria itu tampak terperangah saat simpulannya mengerucut pada satu hal.
“Bawa dia ke dokter, Sam ... atau setidaknya singkirkan dia dari sini, bisa-bisa kita yang mendapat masalah,” perintahnya pada Sam yang berjingkat tidak mau.
“Kenapa mesti gue? Kenapa ngga lo aja ...,” sungutnya.
“Maksudnya kita berdua, Sam ...,” ralat Rega. Ia tak punya banyak waktu untuk berdebat dengan Sam sementara, Maureen sudah diambang batas normal. Dia terus saja mengeluarkan desah yang membuat mereka berdua merinding.
__ADS_1
“Nah ... kalau begitu kan enak, nanti yang ada gue lagi yang disalahkan dan terjebak. Gue ngga mau," tegas Sam yang memang benar tidak mau terlibat masalah apapun dengan wanita, terutama Maureen yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali, menurutnya.
Rega melepas jasnya, menutupi tubuh depan Maureen yang sedikit mengintip keluar.
“Mas ...,” panggil Naja dari ujung ruangan tanpa menyurutkan larinya yang tampak tergesa-gesa.
Rega memutar kepalanya ke arah Naja yang hampir mencapai dirinya.
“Excel mungkin dalam bahaya, Mas ... tadi dia menyusulku dan ketika aku keluar, dia susah tidak ada.” Napas Naja belum berganti normal sehingga suaranya tak lebih baik dari desahan Maureen tadi.
Rega menatap Naja sejenak, lalu mengalihkan perhatiannya pada Sam yang seolah bisa menduga apa mau Rega dan apa yang akan terjadi dengannya.
“Iya, gue bakal pergi sendiri. Lo urus istri sahabat lo sana ...,” usir Sam dengan kesal. Ia mengerti benar bahwa Rega pasti akan mendahulukan kewajibannya pada Excel daripada dirinya. Sejujurnya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang pada wanita yang tengah meracau itu, selain membawanya pergi jauh dari tempat ini. Dasar menyusahkan.
“Jaga dia baik-baik,” pesannya lembut, sembari menepuk bahu Sam yang telah dipenuhi oleh lengan dan jemari Maureen.
Rega berlalu usai memberikan tatapan meyakinkan pada Sam. Ia berlari menyusul Naja sembari membuka ponselnya. Ia ingat untuk melacak Excel melalui ponselnya. Namun, ia harus menelan kecewa sebab ponsel Excel mati.
Rega menggeram dengan ponsel tergenggam nyaris remuk, “Na ... tunggu, Na ...,” panggilnya pada Naja, ia harus menyibak beberapa orang yang berada di lorong itu, terkadang ia harus bersinggungan bahu, dan mendapat makian.
“Aku akan memeriksa cctv dulu, Na ... kita bakal kesusahan kalau harus mencari di tiap kamar,” teriak Rega yang membuat Naja menghentikan langkahnya.
“Mas ... kurasa kita kecolongan,” lirih Naja tampak frustrasi. Ia merapatkan bibir, menutupnya dengan punggung tangan dan menggeseknya perlahan, mengusir genangan yang menganak sungai di pipinya.
Rega menepuk bahu Naja. “maafkan aku yang terlena karena kupikir Tristan dan Mikha sudah tidak akan mengganggu kalian lagi.”
Rega menuntun langkah Naja menuju ruangan dimana ia bisa mengakses rekaman kamera pengawas hotel ini.
“Tapi kejadian ini menunjukkan bahwa apa yang menimpa kamu dan Excel memang direncanakan, dan aku yakin ... siapa pun di balik kejadian ini, dia sudah sangat frustrasi dan kehabisan cara memisahkan kalian.” Rega menjelaskan apa yang dipikirkan oleh otaknya.
__ADS_1
Ya, selama ini, Regalah yang membantu Naja, mencarikan Naja informasi sedetail mungkin dan membukakan peluang untuk mendekati Tristan lagi. Rega yang membuat akses Naja menjadi lebih mudah. Memberi sebanyak-banyaknya informasi tentang Mikha dan Tristan. Tetapi, ia tidak menyangka setelah berhasil melewati itu semua, masih ada lagi yang mengganggu hubungan sahabatnya.
***
Rega dengan mudah mengakses rekaman kamera pengawas hotel tersebut, sebelumnya, ia sudah meminta bantuan Riko untuk bersiaga jika mengalami kesulitan. Meminta bantuan petugas, Rega mengarahkan sebentar apa yang harus mereka lakukan dan menunjukkan foto Excel.
Akan tetapi, rupanya si pelaku telah merencanakan semua dengan matang. Semua rekaman cctv tak menampakkan keanehan sama sekali, namun itu yang membuat Rega yakin bahwa cctv di sini telah dimanipulasi. Hingga Rega yang memang jeli menemukan keanehan pada sebuah lorong di lantai yang menghubungkan selasar toilet dengan lantai di atasnya.
Cctv depan toilet seharusnya menampakkan Naja dan Excel berada di sana beberapa saat lalu, akan tetapi di sana tidak seorangpun mengunjungi toilet dalam beberapa waktu terakhir. Sungguh aneh.
"Mas, toilet tadi sangat penuh orang loh, aku saja sampai menunggu di sini cukup lama." Naja menunjuk tempatnya berdiri tadi.
Bingo!
"Coba lihat ini, Na ... cctv depan lift jelas menunjukkan ada orang yang turun di sini, tetapi lihat koridor ini, seharusnya orang tadi melewati tempat ini, 'kan?" Rega menunjuk layar yang menghubungkan cctv depan lift dan koridor menuju beberapa kamar yang berada di lantai tersebut. Iya ... memang seperti ada yang tidak bersambung dari rekaman tersebut. Lagi pula itu sangat tidak mungkin, mengingat hotel ini sedang mengadakan hajat besar dengan banyak tamu. Dalam jangka waktu yang cukup lama tidak mungkin jika seorangpun tidak melewati koridor itu. Koridor dan kamar yang berada di lantai tersebut, terlalu tenang setengah jam terakhir.
Rega dan Naja saling berpandangan, lalu mereka bergegas menuju lantai tersebut setelah mengucapkan terima kasih kepada petugas di ruang cctv dan meminta kunci akses ke sebuah kamar yang Rega curigai sebagai tempat Excel di sembunyikan. Cukup rapi memang, tapi Rega, tentu tidak mudah dikelabuhi.
Bagi Rega, tindakan mereka terlalu cepat terbaca.
.
.
.
.
.
__ADS_1