
Hari berganti ... rumah ini begitu hening sejak perselisihan terakhir yang berakhir dengan saling mendiamkan. Namun, Naja dan Excel masih bersikap layaknya suami istri, berbagi ranjang dan selimut, menyiapkan sarapan, bahkan Excel selalu membantu pekerjaan Naja di rumah. Meski mereka betah tidak mengucapkan sepatah katapun.
Excel bahkan setia mengantarkan istrinya itu ke studio Tristan hari ini. Pun dengan hari-hari lalu, ia betah menunggu Naja untuk sekadar menyesuaikan diri dengan teman dan lingkungan yang menurut Excel baru. Namun pada kenyataannya, Naja sudah akrab sekali dengan sorot lampu dan kilatan cahaya kamera. Jen telah membuatnya terbiasa, hanya kegugupan yang melanda dirinya susah sekali untuk di ajak berdamai.
Hari ini, adalah hari dimana pertunjukan perhiasan itu di gelar. Sejak turun dari mobil, Excel berniat membantu Naja, namun Naja menolak niat Excel dengan menjauhkan barang-barangnya dari jangkauan Excel. Bahkan Naja melangkah terlebih dahulu, meninggalkan halaman parkir dan suaminya seorang diri.
Setengah berlari, Excel segera menyusul dan menyelaraskan langkahnya dengan Naja yang berbalut heels yang tidak terlalu tinggi. Excel mau tak mau kagum dengan kemampuan kaki istrinya yang bisa berjalan seimbang dengan heels yang cukup tinggi. Dalam waktu singkat Naja bahkan bisa berlari dengan heels yang ujungnya cukup runcing.
“Na ... bisakah kita bicara sebentar?” Dia tidak tahan lagi menahan gejolak dalam hatinya, apalagi Naja mengeluarkan keringat dingin yang berlebih pada telapak tangan yang selalu ia genggam sepanjang perjalanan ke ruangan yang begitu megah dan mewah ini.
Bahkan Excel tidak mengizinkan wangi khas Naja menjauh darinya.
Di pandanginya belakang tubuh istrinya itu dengan sendu. Ia tahu Naja gugup dan merasa tertekan.
Naja yang berada satu langkah di depan Excel, memutar sedikit kepalanya, meski begitu ia bisa melihat jelas betapa pria itu mengkhawatirkannya.
“Aku sudah cukup jelas mengatakan padamu, Cel ... jadi percuma saja kau menghentikan aku sekarang!”
“Tapi Na ... kau terlalu memaksakan diri jika seperti ini ... kau akan terluka—“
Naja memutar tubuhnya sempurna, menghadap Excel yang tampak menelan ludah karena tatapan tajam dari Naja, “Aku bukan anak kecil yang harus kau khawatirkan lagi, Cel ... aku cukup tahu konsekuensi apa yang aku terima jika aku sudah berjalan sejauh ini ... kau tau ... alasanmu itu terlalu mengada-ada.”
Usai berkata begitu Naja berlalu pergi, meninggalkan Excel yang mematung. Benar-benar tak tahu harus bagaimana, harus melakukan apalagi untuk membuat Naja mundur dari semua ini.
__ADS_1
“Kalau kau tidak bisa menghentikannya, maka ikuti saja apa maunya, menurutku itu lebih baik daripada terus-terusan bertengkar kaya gini ...,” Rega menepuk bahu sahabatnya.
Menyejajarkan tubuhnya dengan Excel, Rega mempersilakan tim produksi yang sedang mengekor di belakangnya, melanjutkan langkah dengan tangan kanannya yang sedang memegang beberapa lembar kertas. Kemudian ia menepukkan kertas itu pada pundak salah satu kru yang berjalan paling akhir.
“Kerja yang bener ... pastikan semua aman, ya ...,” ucapan Rega di sahuti dengan acungan jempol dari segerombol manusia itu tanpa menghentikan langkah mereka.
Rega menipiskan bibir, ia mengalihkan pandangannya pada Excel yang sudah kusut dan seperti orang yang kehilangan nyawa. Telapak tangan Rega yang belum beralih sejak tadi, menepuk bahu kokoh Excel berulang-ulang. Ia tak tega melihat sahabatnya itu terpuruk dan hancur seperti ini, tetapi menurutnya, ini lebih baik demi kemajuan hubungan mereka. Ia tak mau sahabatnya terperosok lagi oleh bayangan Mikha yang menurut Rega, memiliki motif tersendiri saat mendekati Excel kembali.
“Dan satu lagi, Cel ... sebaiknya kau jujur pada Naja tentang Mikha. Lebih baik dia dengar sendiri darimu ....”
Excel menguapkan napasnya dengan malas, “kau pikir aku tadi mau bicara apa sama dia kalau bukan tentang Mikha ... aku yakin Mikha akan datang di acara ini ... dan aku tidak mau Naja salah paham padaku ... apalagi Mama akan datang juga!”
Rega menggaruk kepalanya sambil meringis, “kupikir kau mau menghalangi Naja tadi ....”
“Kau ini sok tahu ... tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa! Hubunganmu sendiri hancur juga ... masih sok-sok an ngurusin orang ...!” Excel berlalu pergi setelah memberi Rega tatapan malas dan meremehkan. Bercampur kesal.
Pikir Naja tempat yang di bilang oleh Tristan adalah sebuah studio biasa seperti milik Jen. Tetapi ini lebih mirip landasan pacu sebuah peragaan busana yang sering digelar oleh perancang busana terkenal. Di sana sini banyak ia temui orang dari Star dan beberapa orang lain ia ketahui sebagai karyawan Tristan. Di sini, hanya Naja yang sendirian, yang lain didampingi manager dan asisten masing-masing. Tak kurang sepuluh orang model tanah air berjalan dengan angkuh melintasi Naja, mereka akan bergantian membawakan rangkaian batu mulia buatan Tristan.
Naja mengusap lengannya yang tiba-tiba merinding, bukan karena perlakuan dari para model itu melainkan suasana yang belum sepenuhnya terang membuat Naja merasa kecil. Hanya demi menyudahi semua keributan, ia harus melakukan ini. Lambat, Naja melangkah menuju ruangan yang telah di tunjukkan oleh salah satu pegawai Tristan.
Tiba di depan pintu, Naja menghembuskan napasnya kuat-kuat, di dalam mungkin ia akan di rundung habis-habisan. Memang, Naja yang meminta untuk tidak mengganti salah satu dari mereka, Naja mau, dia hanya sebagai tambahan saja. Dan meski sedikit tidak mengerti apa yang dipikirkan Tristan, Tristan dengan mudah mengiyakan permintaan Naja.
Perlahan ia membuka pintu bercat putih itu, tetapi hening menyambutnya, tidak ada sesiapapun di sana selain gaun strapless putih yang telah ia coba kemarin, tergantung rapi di salah satu sudut ruangan. Tidak tahu harus melakukan apa, Naja memandangi gaun yang ia sedikit tahu harganya.
__ADS_1
“Pi, Tristan mohon dengan sangat ... percaya padaku kali ini ... beri kesempatan padaku sekali ini saja ...,” Naja menajamkan telinga, ia memandangi pintu yang tidak tertutup sempurna itu.
Dengan rasa ingin tahu yang menggebu, Naja mendekati pintu. Mengulurkan sedikit saja kepalanya, agar jelas mendengar keributan di luar.
“Tan, Papi sudah kehilangan muka dengan Harris. Kau tahu ... Papi jadi seperti orang bodoh yang di kendalikan anaknya karena obsesi gila yang tidak masuk akal itu. Kita hampir kehilangan separuh kepercayaan dari pelanggan lama kita, mengulur waktu, membuang percuma semua keuntungan yang seharusnya sudah bisa dipakai untuk mendirikan sepuluh lagi perusahaan baru. Astaga Tan ... Papi rasa papi akan mati setelah ini ...!”
“Setelah Rudi menguras uang papi karena investasi bodongnya ... papi nyaris bangkrut! Dan gara-gara anaknya Rudi sialan itu, papi nyaris kehilangan harta yang papi kumpulkan susah payah ...!”
“Maksud Papi? Anaknya Rudi? Mikha?” pertanyaan bak rentetan gerbong kereta itu, menerjang orang yang Tristan panggil papi.
“Arrgh ... sudahlah ... pokoknya papi mau ... acara hari ini berjalan lancar dan pastikan wanita yang membuatmu gila itu bekerja dengan benar, kau tahu ‘kan dia yang membawakan produk bintang kita? Kalau saja dia sampai membuat citra kita jatuh ... kau berakhir, papi akan menggantikanmu dengan Vania!”
Derap sepatu menjauh dari lorong di luar bilik, membuat Naja menjauhkan diri dari dinding pembatas itu. Teriakan frustrasi Tristan turut meramaikan loronga yang hening dan sepi itu.
Napas Naja naik turun mendengar kecaman dari orang tua Tristan, dan hal itu membuat Naja mengembangkan senyum, ia bergegas mengirim pesan pada seseorang. Rasanya tabir mulai tersingkap. “Aku harus tabah ... sedikit lagi ...!” tangan Naja mengatup rapat di dada, sampai kepala wanita itu menengadah penuh harap.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Yok like yang kenceng yok ... 😂😂😂😂