
Langkah Excel terayun menyeberangi jalan, tak dipedulikan seberapa terik matahari menyengat kulitnya. Jalanan yang lengang membuat pria itu tampak santai melenggang dengan kedua tangan bersembunyi di balik saku. Kaos berkerah warna gelap membuat tubuhnya terasa gerah, tetapi sekali lagi itu tidak menjadi masalah untuknya.
Rumah yang berada di kompleks ini memang tidak memiliki pintu pagar, halamannya terbuka, memungkinkan agar penghuni kompleks bisa saling berinteraksi. Rumah dengan cat yang hampir sama dengan rumahnya itu sudah berada di depan mata. Ekspresi Excel sejak meninggalkan rumah memang tidak bisa dibaca sama sekali. Datar, seperti biasa.
Tangan pria itu terulur untuk mengetuk daun pintu. Namun belum sempat menyentuh, pintu itu terbuka lebar. Menampakkan pemilik rumah yang terlihat kacau. Ekspresinya gelap seakan mendung kelabu tengah menaunginya.
Manik mata Ai memindai Excel penuh permusuhan, dadanya tiba-tiba bergemuruh, siap meledak. Napasnya memburu, pikirannya tiba-tiba gelap. Serta merta, tangan Ai menyerbu rahang Excel dengan tinjunya.
Excel terhuyung ke samping, ia tak menyangka menu makan siangnya adalah bogem mentah dari mantan kekasih istrinya. Meraba rahangnya yang terasa bergeser dan ngilu, Excel berusaha kembali berdiri. Namun belum sempat ia menegakkan tubuhnya, tangan Ai telah menghampiri bagian depan kaosnya, menyambarnya lagi, dan mengimbuhi rasa ngilu yang masih terasa di pipinya dengan pukulan berulang kali.
Excel benar, tidak bisa melawan tindakan Ai padanya. Bukan tidak berdaya, tapi Excel tahu, dia harus membiarkan itu terjadi. Ia harus membiarkan Ai menumpahkan amarahnya.
“Wow ...,” batin Excel. Ia sungguh tak menyangka pria yang tampak kalem itu bisa bertindak sekasar dan seekstrem ini. Excel membenahi rahang yang rasanya sudah tidak pada tempatnya itu, ia menerbitkan senyum singkat namun penuh ejekan.
Ai ambruk dengan lutut menumpu lantai, di depannya, Excel setengah berbaring dengan sudut bibir berdarah. Terengah-engah dan susah payah Ai mengendalikan diri.
Excel memiringkan senyumnya, ia mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan.
“Aku kemari berniat baik, kenapa sambutanmu begini?” membenarkan posisi tubuhnya, Excel mati-matian menahan sakit yang melanda tulang pipinya.
Ai menatap nyalang pria itu, ia sungguh sakit melihat kemesraan yang mereka berdua pertontonkan. Lelaki ini benar-benar satu langkah lebih dulu dari pada dia. Ia benar-benar telah merebut hati Naja, hati yang mati-matian ia jaga, hingga berdarah-darah. Dengannya, tidak hanya satu atau dua bulan, tetapi lima tahun kebersamaan. Yang terasa hanya sia-sia sebab hanya dengan kedipan mata terasa, Naja melunturkan cintanya dan memberikannya kepada pria di depannya ini. Ah ... dia sungguh tidak mengerti bagaimana cara cinta bekerja.
“Kau tidak di sambut di sini ... pergilah!” titah Ai masih dalam amarah yang membubung. Ia sudah berdiri dan siap berbalik memasuki rumah lagi, tetapi ucapan Excel menghentikannya.
“Ini uang yang dipinjam istriku semalam ... aku hanya ingin mengembalikannya. Tapi, aku tidak menyangka ... di belakang dia kau ternyata sangat kasar. Kau menunjukkan sifatmu sebenarnya."
Ai membalik tubuhnya, ia kembali menyalangkan pandangannya ke arah Excel yang menatapnya datar. Di tangannya tergenggam uang pecahan seratus ribuan, mengulur ke depan tubuh Ai.
__ADS_1
Ai menatap wajah dan tangan Excel bergantian. “Aku tidak butuh uangmu ....” ketus Ai. Sisa amarah masih menjejak di antara desah napasnya.
Excel memiringkan senyumnya, “Bagaimanapun aku tetap berterima kasih padamu ...,” kepala Excel miring seakan bingung ingin memanggil Ai dengan panggilan apa. Bro ...? Heh ... mereka tidak cukup akrab untuk saling mengadu tos dengan tinju khas brotherhood.
“... lagi pula aku tidak terbiasa berhutang budi pada seseorang, jadi mau diterima atau tidak aku tetap mengembalikan uang ini.” Excel mendekatkan tubuhnya selangkah lebih dekat. “Seperti janji istriku tersayang, semalam ...,” imbuh Excel berbisik. Lalu ia memundurkan tubuhnya perlahan, ia tak bisa menahan sorak sorai yang ingin muncul di permukaan.
Gemeretuk gigi Ai tertangkap jelas di telinga Excel. Tubuh Ai yang menegang kembali, juga tak bisa disamarkan lagi. Kembali membara, Ai melayangkan tinjunya ke arah Excel, tetapi kali ini Excel telah waspada sehingga ia bisa menangkis tepat di tengah pergelangan tangan Ai. Mencengkeram kuat seolah bisa meremukkan tulang.
“Apa sampai seperti ini, jika hanya berurusan dengan uang ... toh aku bilang berhutang semalam ... untungnya buatmu apa jika kau tidak mau menerima uang ini? Nana akan bersimpati dan kembali padamu? Dia akan berlari dan melebarkan matanya di depanmu? Aku rasa ... kau telah melihat semuanya ... jadi," Excel menghempas tangan Ai yang meronta untuk lepas dengan kekuatan penuh, membuat tubuh Ai terhuyung ke belakang.
"... kubur saja apa yang menjadi obsesimu itu. Dia adalah milikku ...!"
Ai meringis dalam hati, menangis ... ia cukup sakit melihat kemesraan mereka, tetapi ketika Excel menegaskan kepemilikan akan Naja, ia merasa dunia telah tertutup untuknya. Kisahnya benar-benar telah berakhir. Selesai.
Excel sejenak menatap Ai, sebenarnya, dia tidak tega melihat pria itu tampak kesakitan. Tapi ini menyangkut harga diri seorang lelaki, ketika otoritasnya terganggu. Sesuatu yang wajar kalau ia mempertahankan wanita dalam wilayah teritorinya.
Excel menarik tangan Ai dan meletakkan uang di dalam genggaman Ai, "Terima kasih banyak atas pertolongannya." Ia mengulas senyum sekilas, pipinya sangat ngilu sekarang, bahkan untuk gerakan sedikit saja.
"Kau kenapa?" Tanya Naja saat Excel mengompres pipinya dengan es batu yang ia kemas dalam sebuah ice bag. Ia yang masih berjarak beberapa anak tangga dari Excel yang sedikit terkejut melihat kedatangan Naja, melompati dua anak tangga sekaligus. Raut wajah wanita itu tampak cemas melihat sudut bibir Excel yang seperti mendapat luka robek. "kau kenapa?"
"Tidak kenapa-napa ... kau sudah sembuh?" Excel menjauh saat Naja menghiasi pandangannya secara penuh. Ia menahan tangan Naja yang berusaha mengusir kantong kompres yang lekat ia tempelkan di pipi.
Naja menurunkan tangannya, tatapannya tampak jengah dengan pertanyaan Excel. "Berhenti mencemaskan aku, aku sudah tidak apa-apa, sekarang kamu yang harus dicemaskan!" omel Naja, suaranya naik satu tingkat lebih tinggi, sehingga Excel melemaskan cekalannya pada kompres itu. Membiarkan Naja melihat pipinya yang mulai membiru atau ungu.
"Kenapa kau diam saja tadi?" Naja mengambil alih kompres itu, ia menarik tangan Excel untuk duduk di sofa ruang tengah. Selain masih pusing, Naja juga lelah jika harus menyangga kompres yang posisinya jauh lebih tinggi darinya.
"Kau melihatnya?" Naja membisu. Benar ia melihatnya, semuanya, ia bahkan sampai membekap mulutnya agar tidak menjerit saat Ai meninju suaminya itu. Ia sudah hampir menghampiri suaminya itu, tapi ia mengurungkan niatnya. Pikirnya, ketika ia hanya menolong Excel dan menyalahkan Ai, itu malah akan membuat Ai semakin buruk. Ai adalah korban, korban dari mereka berdua. Korban keadaan. Jadi ketika Excel tidak membalas pukulan Ai, juga tidak berlaku kasar padanya, Naja hanya berdoa dalam hati, agar kedua pria itu diberi kejernihan pikiran. Terutama suaminya, sikap dingin dan kaku Excel, Naja pikir akan mudah membuatnya terpancing. Namun, ia sangat lega saat Excel hanya membela diri saja. Meski tidak bersyukur juga melihat suaminya kesakitan seperti ini.
__ADS_1
"Menurutmu, apa aku melihatmu?"
Mata Excel mendelik. "Kalau sudah melihat, kenapa bertanya lagi?"
"Memangnya tidak boleh?" Naja yang telah sampai di sofa, menyingkirkan bantal sofa dan mengisyaratkan agar Excel duduk di sana. Mengabaikan apapun ekspresi yang mengambang diwajah suaminya. Tanpa menjawab, Excel segera mendaratkan tubuhnya di sana. Ia merebahkan kepalanya di sandaran sofa.
Naja mulai menempelkan kantung kompres di pipi Excel, menekannya pelan, sehingga Excel mendesis sakit.
"Tahan sedikit, jangan cengeng ...!" Manik mata kedua orang itu beradu pandang, tetapi, Naja segera memutusnya dan kembali fokus pada tangannya yang masih setia menempel di pipi.
Keheningan menaungi mereka berdua, hanya sesekali Excel mendesis dan kedua mata mereka saling menatap, terkadang memergoki satu dari mereka mencuri pandang.
"Na ... pesen makanan yuk, aku lapar ... dan kita ngga punya apapun bahkan sebutir beras." pinta Excel saat perutnya berkeriut lapar.
"Kau ini orang kaya macam apa sampai beras saja tidak punya?" sinis Naja sambil menekankan kompres di pipi Excel, yang langsung mengaduh lirih. Ia beranjak untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja dapur dimana pertama kali ia melihat Excel tadi.
"Besok rumahmu ini akan dipenuhi berkarung-karung beras, puas?" Kesal Excel yang masih kesakitan akibat ulah istrinya itu.
"Memangnya mau buka toko sembako?" Naja menghilang sebentar lalu kembali lagi dengan mata menatap ponsel. "Mau pesan apa?"
Naja yang tidak memperhatikan jalannya, tidak menyadari jika kakinya terantuk ujung meja. Terkejut, bukan karena ia mulai oleng atau karena ujung kaki dan dengkulnya yang menubruk meja, tapi karena ponselnya meluncur dari genggamannya. Tak sempat memekik, ia hanya membulatkan matanya. Tubuhnya ambruk mengikuti arah ponselnya, yang berakhir diatas tubuh Excel. Tepat diatasnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.