Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Berteman Ilusi


__ADS_3

Naja mengetukkan tangannya di atas meja bercat putih dengan pembatas dari kaca yang diberi lubang seukuran tangan. Ia tampak melamun, sesekali mengembuskan napas dengan nada berat. Ia pikir semua teleh selesai, tetapi rupanya apa yang ia lakukan meninggalkan luka dan patahan yang begitu dalam pada seorang yang ia pikir adalah penyebab runyamnya urusan hidupnya.


Ekor matanya kini melirik ke arah jam yang bertengger di dinding, detaknya menemani keheningan yang memeluk Naja. Ia hampir kehabisan waktu dengan menunggu. Mendesah perlahan, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang begitu dingin. Pikirannya menggulung ke beberapa saat lalu, saat Maureen menemuinya di Sam&Sam.


“Lihat ini, Na ... ini diambil pas selesai acara kemarin itu. Aku tidak tahu siapa yang merekamnya, tapi aku yakin, karena video ini ... sekarang Tuan Mateo sedang dalam kesulitan.” Maureen menunjukkan ponselnya yang tengah menampilkan sebuah adegan pertengkaran ayah dan anak.


“Kau tahu, aku dulu mengira kalau Tristan itu bereng sek karena ngga mengakui kehamilan Mikha, tapi setelah tahu kebenaran ini, aku jadi kasihan sama dia. Aku ngga habis pikir sama jalan pikiran Tuan Mateo, bisa-bisanya dia nyuruh anaknya ngakuin kehamilan yang disebabkan olehnya sendiri.”


“Maksudnya, Mateo menyuruh Tristan ngakuin kehamilan Mikha?”


“Iya, Na ... kau ingat ‘kan terakhir pas ruang kerja dia berantakan waktu itu? Itu karena Tristan kesel di suruh ngakuin kalau anak dalam perut Mikha adalah anaknya Tristan, dan jika Tristan tidak mau, dia akan diturunkan dari jabatannya. Kejam ngga, sih, Mateo itu? Aku jadi anaknya sehari aja pasti udah gila.”


“Jadi waktu itu, bukan Mikha yang bertengkar dengan Tristan, tapi Mateo dan Tristan?”


“Awalnya, Mikha juga ada di sana, tapi dia keluar sambil menangis setelah Mateo masuk ke sana. Setelah itu yang aku dengar hanya terikan Tristan yang mengatakan kalau dia tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan Mikha.”


“Aku baru tahu semuanya saat melihat video ini, Na ... meski aku sekretarisnya, ada hal-hal yang aku enggan untuk tahu, karena semakin aku masuk terlalu dalam, takutnya aku makin kerepotan. Lagi pula, dia punya seseorang yang bekerja di balik bayangan. Dia bahkan tahu semua tentang kamu hanya dengan satu kali panggilan telepon. Hebat sih, dia ... tapi sayangnya gila. Dia selalu menyangkal kenyataan dan meyakini apa saja yang ada dalam otaknya. Apa saja yang menurutnya benar.”


Naja mengembuskan napasnya dengan berat. Ia masih memakukan tatapannya pada hamparan kaca pembatas yang kini telah samar menampilkan sesosok pria yang begitu pucat dan kacau.


Pria itu duduk setelah seorang perawat mendudukkannya dengan paksa. Perawat itu membisikkan sesuatu yang membuat wajahnya terangkat. Tatapan kosong yang mengerikan menjurus pada Naja. Namun, Naja menghadapi itu dengan tenang.


“Sayang ...,” panggilnya pada Naja dengan binar yang berseri-seri. Ia menegakkan tubuhnya yang semula luruh, menumpukan tangannya yang terikat rapi pada meja, memandang Naja penuh kerinduan.


“Apa kabar, Tristan?” sapa Naja dingin. Ia prihatin melihat keadaan Tristan saat ini.


“Kenapa kau bersikap seperti itu padaku, Sayang?” Tristan kembali sendu. “Apa kau ingin membatalkan pernikahan kita karena aku dianggap gila oleh orang-orang ini?”


Ia menatap Naja dengan sendu, kecewa di hatinya tampak mengambang di atas permukaan wajahnya. Bahkan, Naja melihat dengan jelas ambang mata pria itu mengembun dan basah.


“Serapuh itukah pria ini?”


Namun, Naja dibuat tersentak ketika Tristan menoleh pada dua orang perawat yang tengah bersiaga di belakangnya seraya berteriak.

__ADS_1


“Hei ... perawat! Biarkan aku menemui calon istriku ... kalian membuat dia takut dengan mengikatku seperti ini! Kalau sampai dia meninggalkan aku, kalian semua akan aku binasakan! Ayo, cepat ... lepaskan aku!” Tristan menghardik siapa saja yang berada dalam jangkauan matanya. Manik matanya yang gelap itu menajam penuh ancaman. Ekspresinya yang penuh kharisma itu lenyap, berganti raut wajah bengis yang membuat siapa pun merepet takut saat bertemu muka dengannya.


“Tristan ...,” panggil Naja lembut, saat Tristan mulai menampakkan geliat yang siap meremukkan siapa saja.


Tristan mendengar suara Naja layaknya majikan memanggil piaraannya. Pria itu melarutkan amarah yang memenuhi wajahnya. Tatapannya yang semula nyalang menyapu seluruh perawat yang mulai berdatangan untuk berjaga kalau-kalau Tristan mengamuk, kini perlahan pudar. Tristan meringkuk patuh pada Naja, ia kembali duduk dengan tenang.


Naja masih tegak menatap Tristan. Ia tak melunakkan pandangannya. Meski rasa iba menggerogoti hatinya. Tidak adakah orang yang peduli padanya. Tristan hanya korban tuntutan, keegoisan, dan keadaan.


“Bisakah kau merasakan dirimu sekarang? Apa kau Tristan yang pernah kukenal dulu?”


“Sayangku ...,” tatapan itu semakin nelangsa menghujam Naja. “... aku memang gila, Sayang. Aku gila karena kamu, kamu menolakku, meninggalkan aku demi pria lain. Aku tahu kau masih mencintaiku, kembalilah padaku, dengan begitu aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini.”


“Tristan ... hadapilah kenyataan yang ada di depan matamu. Lihatlah ke dalam hatimu bahwa kau hanya sedang menyangkal kenyataan. Bahwa kau berada dalam ilusi. Kau tidak bisa keluar dari tempat ini sebelum kamu bisa membedakan kenyataan dan khayalanmu. Aku memang milik pria lain sejak kita bertemu. Kau mengerti itu bukan?”


Tristan gemetar, bibirnya bergerak tak terkendali. Manik matanya yang semula beradu pandang dengan Naja kini berguncang dan luruh. Menunduk, seakan sedang menengok ke dalam hatinya, seakan ia tak mendengar ucapan yang begitu sakit menusuk telinganya.


“Tristan ... cobalah mengakui bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Cobalah menghadapi bahwa semua yang kau ingini tidak harus kau miliki. Kau memiliki apa yang sebagian besar orang tidak punya, kau hanya tidak menyadarinya. Tan ... pria yang sebenar-benarnya pria adalah lelaki yang mampu menundukkan egonya, melepas apa yang bukan miliknya, merelakan apa yang bukan menjadi haknya.”


“Aku mendoakan yang terbaik untukmu, aku tidak membencimu, Tan ... aku hanya berharap kelak kau akan menjadi pria yang lebih baik.”


Masih menunggu sejenak, Naja memandang iba pria yang menunduk dalam itu. Tetapi, ia tahu ... Tristan butuh waktu dan penanganan yang benar. Sehingga ia segera menarik dirinya berdiri dan perlahan menjauh. Ia terus berharap Tristan bisa sembuh dari sakit yang mendera jiwanya.


Ambang mata Naja masih basah, ia menyekanya dengan telunjuknya yang menekuk. Ia telah sampai di halaman rumah sakit khusus untuk penderita gangguan kejiwaan, langkahnya kini terayun pada taksi yang telah membawanya kemari.


"Suamimu di sini, Na ...," panggilan yang membuat Naja melebarkan kelopak matanya. Ia mendadak waspada. Lalu perlahan ia mengatur wajahnya agar tampak biasa. Padahal saat ini, ia ketakutan setengah mati. Pencuri kalau ketahuan begini kali, ya rasanya?


Naja tertawa, tetapi nyalinya menciut takut. Suara boleh lembut, tapi ekspresi Excel tak ada lembut-lembutnya sama sekali.


"Hehehe ... aku ngga lihat kamu, tadi ...."


Sepi di ujung sana, hanya gerakan membuka pintu mobil sebagai jawaban atas ucapan Naja.


"Owh ...," beo Naja seakan baru mengerti apa yang diinginkan suaminya. Bergegas ia menghampiri taksi yang masih setia menunggunya.

__ADS_1


"Pak ... maaf ya, saya dijemput suami saya, ini ... sebagai ganti waktu bapak yang terbuang karena menunggu saya." Naja mengangsurkan beberapa nominal uang kepada pengemudi taksi yang tampak kecewa itu. Namun, ia segera menerima uang dari Naja dengan perasaan rikuh. Tepat ketika ia sadar bahwa uang yang diberikan Naja terlalu banyak, Naja sudah menghamburkan larinya seperti orang melihat hantu.


Memasuki mobil dengan napas tersengal, Naja memakai sabuk pengaman dengan tergesa-gesa. Ia sampai tak berani sekadar melirik suaminya yang tengah menatap ponsel di tangannya.


"Maaf Cel ...," ucap Naja sembari merapikan anak rambutnya yang berantakan dengan kedua tangannya.


"Untuk?" tanya Excel tak acuh tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang terus ia gulir.


"Untuk tidak izinnya aku saat kemari ...," jawab Naja polos. Harap-harap cemas, ia menantikan reaksi Excel yang tak bisa ia terka.


"Bukannya kau tidak pernah izin padaku, kemanapun kamu pergi? Lalu kenapa kau tiba-tiba minta maaf? Apa kau merasa bersalah akan hal itu?" kali ini Excel meletakkan ponselnya dan mengalihkan tatapannya pada Naja sepenuhnya. Tampak gugup, Naja ketika mendapati tatapan dari suaminya itu.


"A-aku hanya tidak mau kamu salah paham dan marah padaku ... ja-jadi lebih baik aku minta maaf dulu." Ucapan Naja diakhiri dengan bibir menyengirkan senyum lebar.


Excel tak kuasa ikut hanyut dalam senyum Naja yang menggusur mata bulatnya hingga menyipit. "Aku sudah tahu kemana kau pergi hari ini dengan ini." Excel menunjuk ponselnya. "Satu sentuhan dan aku bisa melihat kamu dimana ... dua kali aku pernah kelabakan kaya orang gila pas nyariin kamu, kini aku tidak mau tampak bodoh lagi."


Excel mengusap pipi Naja dengan lembut dan berakhir di dagu. Sementara Naja tersipu-sipu hingga pipinya terasa mendidih. Ia menimpa tangan suaminya, mengusirnya dengan menyela jemari panjang suaminya itu.


"Pulang atau makan dulu?" Excel segera mentas dari arus yang menghanyutkannya. Meski ia sudah sering menatap istrinya itu, tetapi tetap saja, ia merasa terbuai dengan apa yang ditampilkan di raut wajah Naja.


"Makan dong ... laper!" seru Naja sembari mengusap perutnya yang penuh dendang. Ia bahkan lupa kalau seharian ini baru sepotong sandwich saja yang mengisi perutnya.


"Oh iya ... bagaimana anak-anak tadi? Apa mereka belum pulang? Ya Tuhan ... aku lupa kalau ada mereka di rumah ... pasti mereka kelaparan. Aduh ... aku sungguh kakak yanv buruk menelantarkan adik-adikku ...."


Excel menggeleng sebagai tanggapan atas ocehan Naja. Ia segera melajukan mobilnya dan mengeraskan volume musik yang ia putar. Sungguh mengerikan suara Naja itu, tetapi ia sangat merindukannya. Bahkan jika belum mendengar suara Naja, napasnya seolah terhenti seketika.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2