Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Mentok Di Kamu ...


__ADS_3

Kedua kali ia dibuat kelabakan mencari Naja setelah tak satu pun orang yang ia dan Naja kenal tak mengetahui di mana Naja berada. Excel bahkan tak segan menelepon rumah papanya, dan juga mertuanya. Meski ia berdalih, kalau hanya menanyakan kabar dan meminta maaf karena belum sempat berkunjung.


“Kemana lagi, kamu pergi?” Excel membenturkan kepalanya di sandaran kursi kemudi berulang-ulang. Tidak mungkin ‘kan adiknya berbohong dan menyembunyikan Naja?


Mata pria itu mulai mengembun, pikirannya ruwet, seperti benang kusut. Ia meraup wajahnya dengan kedua belah tangannya sebelum kembali melajukan mobilnya. Sementara ponselnya terus berusaha menghubungi Naja. Entah kemana lagi ia akan mencari istrinya itu.


**


“Loh ... kalian kok ngga masuk rumah?” Naja yang pulang di antarkan Agus, berlari menghampiri kedua adiknya yang tampak kaget melihat kedatangan Naja. Kotak pizza dan pembungkus burger berhamburan, ketika dua pria itu berdiri menyambut kakak iparnya datang.


“Jaja ... aku laper ...,” rengek Agiel dengan wajah memelas. Ia menggaet tangan Naja dan sedikit mendorongnya untuk membuka pintu. “kita udah kaya orang ngga punya rumah, lesehan di depan pintu rumah orang ... hiks!”


Naja ingin tertawa melihat aksi memelas adiknya yang tidak dibuat-buat. “Maaf, tadi aku nemenin mama belanja,” dengan cepat Naja merogoh tas dan mengambil kunci rumah. Memang hanya Naja yang membawa kunci karena dialah yang pulang lebih awal, dan Excel, melihat penampakan garasi yang masih kosong mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya.


Kedua bocah itu saling pandang penuh takut, saling sodok, saling memajukan dagu, seakan saling menunjuk siapa yang patut memberi tahu kenapa mereka menginap. Atau mungkin, kakak iparnya sudah diberi tahu oleh sang Mama. Gawat ... pikir dua orang itu kembali beradu pandang.


“Masuklah ... biar aku kemasi dulu sampah kalian itu ...,” titah Naja pada adiknya yang langsung nyelonong masuk dengan membawa barang-barang bawaan mereka. “Mas Agus ... masuk dulu, aku buatin kopi ...!” teriak Naja. Sembari berjongkok, tangannya mulai meringkus bekas makanan cepat saji itu menjadi satu. Ia mengerutkan dahi saat menjumpai sebuah tas yang sepertinya berisi makanan dari sebuah restoran terkenal.


“Ashiap ...,” jawab Agus. Ia membawa barang-barang hasil paksaan Kira kepada menantunya itu. Membayangkan isinya, Naja bergidik ngeri. “taruh di mana ini semua?” sepuluh tas belanja, menggantung di sisi kiri dan kanan tangan Agus.


“Di dekat tangga saja, Mas,” Naja yang masih fokus pada kantung yang tergeletak tak berdaya itu, sejenak berdiri untuk memandang Agus, “Nanti aku bawa sendiri ke atas.”


“Oke ...,” Agus berlalu masuk, membiarkan Naja menyelesaikan pekerjaannya.


Meski lelah, Naja tetap harus membereskan terasnya yang memang berantakan, ia tidak suka teritorinya dilanda kerusuhan yang amat menyakiti mata. Memastikan semua bersih, Naja baru berhenti dan membuang sampah di tong sampah yang terletak di luar halaman rumahnya.


“Mbak Na ...,” panggil Aziel dari dalam rumah, ia berjalan mendekati Naja yang baru saja kembali membuang sampah di tong sampah depan. “... coba telpon kakak, Mbak ... tadi dia nyari kamu ....”


“Nyari? Kenapa dia nyari aku?” kening Naja berkerut.


“Tadi kakak sudah pulang, tapi karena kamu belum pulang dia langsung kabur nyariin kamu ... aku juga heran, sih ... kenapa dia langsung kalang kabut, padahal ‘kan bisa nunggu kamu sampai pulang?” kepala Aziel patah kanan dan kiri, ia sedang memahami kebingungan yang terjadi pada Excel, tadi.


Kedua mata Naja membulat penuh, ia segera meraih tas yang masih setia menggantung di belakang punggungnya. Ia lupa kalau ponselnya masih dalam mode silent. Astaga. Mata Naja membulat lebih lebar saat melihat ratusan missed calls dari suaminya itu.

__ADS_1


Naja gelagapan, dengan cepat ia menelepon suaminya tersebut, ia tak bisa membayangkan betapa bingungnya Excel saat ini. Namun sayang, nomor Excel sedang sibuk dan dalam panggilan lain.


"Kenapa baru bilang sekarang sih, Ziel?" Naja mencoba menghubungi Excel kembali.


"Aku lupa Mbak ... baru saja di ingatkan Agiel ...," Aziel mengaruk pelipisnya, senyum pria tanggung itu melebar tanpa dosa.


“Ziel ... aku nyari kakakmu dulu, ya ... pasti dia sedang kebingungan nyari aku ...,” Naja menurunkan ponselnya, menoleh ke kanan dan kiri. Bingung.


“Mending tunggu di rumah saja, Mbak ... nanti kalau saling nyari malah ngga ketemu malah bingung semua,” saran Aziel.


Tatapan kedua saudara itu beradu, tak dipungkiri, masing-masing ragu akan apa yang mereka ucapkan. Namun, pantas dipertimbangkan.


***


“Bolehkah aku minta sesuatu darimu, Cel?” Mikha menghentikan langkah Excel yang hendak berlalu pergi dari meja yang mereka duduki. Membuat tubuh yang semula membelakangi Mikha itu berbalik, memandang Mikha penuh tanya.


Mikha menarik napas, bibirnya tergigit ragu, sebelum ia menghembuskan udara dari dalam dadanya perlahan-lahan. Menatap Excel dengan penuh keyakinan. “Aku melakukan hal yang benar.”


“Jauhi Naja ...!” serunya sembari mengangkat tubuhnya berdiri. Meski gemetar, Mikha tetap menguatkan hati. Ia hafal, rahang keras itu menegang, menandakan ia tak suka orang lain mulai mengurusi hidupnya.


Excel mengalihkan kepalanya miring, “Bicaralah yang jelas, Kha ...!”


Mikha berkeringat dingin, matanya berkeliaran ke sembarang arah, tetapi sejurus kemudian, ia kembali fokus pada Excel yang menuntutnya lebih gigih melalui sorot matanya.


“Aku ... mungkin meninggalkanmu karena aku mengejar Tristan, ta-tapi aku, melakukan semua itu karena papaku, yang sebenarnya ... aku dulu ...,” Mikha sejenak membasahi tenggorokannya. “... aku masih mencintaimu, Cel ...,”


Napas Mikha naik turun, lega tetapi ia masih harus menyiapkan hati, bisa jadi, Excel akan mengoyak indra pendengarannya dengan suaranya yang menghujam dingin.


“Aku tidak begitu mengerti apa maksud ucapanmu itu, tapi sepertinya kau ingin mengatakan bahwa Naja tidak baik karena tidak mencintaiku, begitu?” kepala Excel beralih miring ke sisi lain, bahkan ia sampai memajukan dagunya untuk memperjelas semuanya.


“Bu-bukan ... eh ... mungkin iya ...,” gugup Mikha sembari mengibaskan tangannya. “Lihatlah pakaian dan barang-barang yang dia kenakan, Cel ... jika hanya pekerja rendahan, apa iya dia bisa beli pakaian seperti itu? Mungkin saja dia menjual dirinya pada pria kaya lain selain dirimu!” sambung Mikha cepat.


Excel menarik bibirnya samar, “Lebih baik kau diam jika tidak tahu apa-apa!” seru Excel. “Jangan samakan orang lain dengan dirimu ... karena kau bukan ukuran dan juga bukan patokan baik buruknya wanita ....” pungkas Excel sebelum berbalik dan meninggalkan Mikha.

__ADS_1


Napas Excel terhempas perlahan, ia menggerakkan kepalanya dengan liar. Ucapan Mikha begitu mengusik pikiran pria itu, meski hal itu tidak akan membuat hati Excel goyah.


Excel membenturkan belakang kepalanya di sandaran kursi kemudi, tangannya memijat pelan keningnya yang terasa mau pecah. Panggilan terakhir dari ponsel Excel, mengalami kegagalan karena nomor Naja mendadak sibuk. Kacau sudah isi kepala pria itu. Meski ia mulai menyadari satu hal, Mikha mungkin menyembunyikan sesuatu darinya. Tetapi rasanya ia ingin tertawa, jika saja Mikha tahu bahwa dialah yang membuat Naja menjadi miliknya, mungkin Mikha akan pingsan di tempat.


Dering ponsel mengagetkan Excel, hatinya melompat penuh harap. Ia segera meraih ponsel yang membelah sunyi jalanan dimana Excel tengah mengantre di sebuah stasiun pengisian bahan bakar.


“Ya Ma ...,” lemah suara Excel menjawab panggilan sang Mama. Ia tak punya tenaga lagi saat harapannya buyar begitu saja ketika menggeser ikon hijau, yang rupanya bukan dari Naja.


“Naja sudah sampai rumah belum, kok Agus belum kembali?”


“Naja sama Mama?” Manik mata Excel merangkak naik. Binar dimatanya kembali mengembang dengan cepat. “Eh ... maksudku ... iya, Naja mungkin sudah sampai ... a-aku masih di jalan soalnya, Ma ....”


“Suruh Agus cepat pulang, ya ... istri dan anaknya menyusul kemari ...,”


Excel mengiyakan dengan asal apa saja yang diucapkan mamanya. Ia segera mematikan ponsel yang nyaris kehabisan daya. Lega hatinya mendengar kabar ini. Ah ... dia menyesal karena selalu menomor terakhir kan wanita yang telah melahirkannya ini. Selain takut kena sembur, apalagi yang Excel takutkan? Terlebih jika menyangkut Naja, ia takut mamanya akan mencium dengan cepat ada yang tidak beres dengan rumah tangganya. Namun, kali ini, setelah kejadian ini, ia memilih menghadapi risiko, sekalipun ia harus kehilangan pendengaran akibat teriakan marah mamanya, asalkan tidak kehilangan ... Naja.


~One Naja is enough to strengthen him to face the whole world~


.


.


.


.


.


Jangan bosan nungguin si Thor ini update ya ... percayalah ... menyusun sebaris kalimat itu lebih sulit daripada move on dari mantan ... hiks😥


-Halah ... lebay lu thor ...


Wkwkwkwkwk ...

__ADS_1


Terimakasih supportnya akak-akak kece yang menginspirasi ... Banyak cinta dari othornya Excel dan Naja ... love you satu milyar❤❤❤


__ADS_2