Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Menyelesaikan Misi pt 2


__ADS_3

Kasak-kusuk semakin keras saja berdengung, sejak awal Mateo, Ayah Tristan, sudah kesal karena keterlambatan Naja. Ia semakin kesal saat mendengar suara di belakangnya.


“Yang itu kok tidak ada di website-nya, ya? Apa mereka tidak mau menjualnya?”


“Tapi kenapa di pamerkan? Apa mereka pikir kita tidak mampu membelinya?”


“Mungkin perhiasan itu akan di lelang dengan harga yang mahal!”


“Ah ... aku tetap pilih yang dipakai Angel saja, bagaimanapun dia adalah bintangnya.”


“Aku tertarik membeli yang di pakai model terakhir, berapa pun harganya akan aku beli ... dari kilaunya sudah kelihatan kalau itu ditempa dengan sempurna.”


Tangan Mateo menegang di atas meja. Di sampingnya ada Mikha dan Vania, sejenak ia menaikkan tatapannya pada dua wanita itu. Mikha tampak gugup melihat mata Mateo, sedangkan Vania, dia dengan tenang menikmati minuman yang terhidang di depannya. Ia tampak tak peduli dengan suasana yang teramat kacau ini. Sementara Tristan, ia belum kembali sejak mencari tahu soal keterlambatan Naja tadi.


Panggung kembali terang dengan sejumlah model yang berjalan dengan gemulainya. Di bagian ujung belakang, ada Tristan dengan Naja mengapit lengannya. Mateo semakin geram melihat ini, rupanya Tristan memberikan berlian berharga itu pada wanita yang Mateo pikir hanya wanita yang akan dipermainkan oleh putranya. Tetapi pada kenyataannya, Tristan telah buta mata, ia bertekat menyatakan cintanya pada Naja di tempat ini, dengan perhiasan itu sebagai tanda keseriusannya.


“Terima kasih atas kehadiran saudara dan saudari sekalian pada kesempatan ini. Ah ... saya cukup tersanjung melihat respons yang sangat luar biasa baik pada beberapa koleksi saya. Ini pencapaian paling besar yang pernah saya capai selama saya berkarier.” Suara Tristan membahana di antara dengung tamu yang tak juga reda.


“Pada kesempatan kali ini juga, saya memohon kepada hadirin sekalian, memohon dengan penuh hormat untuk menjadi saksi keseriusan saya pada seorang wanita yang telah membuat saya jatuh cinta begitu dalam.” Tristan mendramatisir keadaan sehingga ruangan kembali hening. Tentu ia tahu bagaimana membuat semua perhatian tertarik padanya.


Tristan bertumpu pada lututnya dan meraih ujung jemari Naja.


“Naja ... maukah kau menerima perasaan cintaku untukmu?”


.


.


.


Sunyi sekali ruangan itu, Excel, Mateo, Mikha, Vania, dan sudah barang pasti Kira yang menghadiri acara ini tercekat dalam kebisuan yang dalam. Membeku menahan geram. Tetapi tidak dengan Naja, wanita itu tersenyum simpul. Dia tampak tenang sejauh ini.

__ADS_1


“Aku sudah memenuhi tugasku, Tristan ... sekarang apa kau sudah melakukan bagianmu?” Naja menyergah Tristan yang menghampirinya di belakang panggung beberapa saat lalu. Pria itu tampak senang dengan kerja Naja sore ini.


“Tentu sudah ... semua kembali normal bahkan sebelum kamu naik ke atas panggung. Jangan meragukanku ...,” Tristan mengulurkan tangan ke arah dagu Naja, tetapi dengan sigap Naja menepisnya dan memberi Tristan tatapan penuh peringatan.


“Baiklah ... baiklah, sekarang kita ke depan, ada sesuatu yang masih harus kita selesaikan ... dan setelah itu kau bisa bebas.” Tristan mengerling Naja dengan begitu nakalnya. Lalu ia melangkah pergi setelah melambai pada model yang tengah menguping pembicaraan mereka.


Sejenak Naja berpikir. “Bagaimana kalu aku menolak ikut denganmu?”


Mereka berdua yang semula membelakangi, kini kembali berhadapan lagi.


“Aku sudah tidak punya tugas ‘kan? Urusanku sudah selesai di sini!” seru Naja. Ia sebenarnya tidak mau terlalu percaya diri, tapi sikap dan ucapan Tristan seolah mengisyaratkan bahwa Tristan menginginkannya.


“Ayolah ... ini hanya seperti ucapan terima kasih saja dan ucapan perpisahan pada para tamu ...,” Tristan sedikit ketakutan saat Naja mengatakan itu. Ia segera menghampiri Naja dan sedikit menyeretnya. Namun, Naja memberatkan langkahnya, menarik tangannya menjauh.


“Kumohon, Na ...,” pinta Tristan penuh harap.


Tristan memohon? Sepertinya ada yang aneh ... pikir Naja. Tetapi ia tetap memenuhi permintaannya dan akhirnya apa yang ditakutkan wanita itu pun terjadi.


Semua orang cemas menanti jawaban Naja, bahkan Excel sudah merangsek ke bagian paling depan. Amarahnya sudah terkumpul di depan dada siap menyambar Tristan dengan tinju yang sudah mengepal. Excel bahkan tidak menyangka kalau Tristan akan melampui batas.


“Saya tersanjung bisa mendapatkan kehormatan dengan pernyataan Anda, Tuan. Tetapi ada yang harus saya luruskan ... saya saat ini sudah menikah dan saya yakin anda tahu dengan jelas akan hal itu, benar ‘kan, Tuan? Saya rasa saya salah bila menerima perasaan anda. Dan bukankah anda sudah memiliki kekasih? Jadi dengan sangat berat hati, saya menolak perasaan anda, dan kita tidak punya hal yang berkenaan sejak saat ini!” tegas Naja sembari melepaskan seluruh perhiasan yang melekat padanya, dan mengangsurkan seluruh benda mahal itu di tangan Tristan. Dia segera berlalu pergi tanpa menghiraukan Tristan yang tampak bingung mengatasi keributan yang terjadi di bawah panggung.


“Mohon tenang semuanya ... saya yakin dia sangat terkejut mendengar pernyataan saya yang terlalu tiba-tiba ...,” gelegar Tristan mencoba mengatasi suasana. Namun itu tak juga berhasil. Malah semakin kencang saja semua dengungan itu terdengar.


Mateo berdiri dan berniat menghampiri Tristan, tetapi sebelum itu ia menghentikan langkahnya saat Ai mendekatinya dan membisikkan sesuatu.


“Tuan ... ada yang membeli perhiasan itu dengan penawaran paling tinggi. Ini lebih baik dari pada harus menanggung kerugian jika sampai perhiasan itu tidak ada yang menawar maupun membelinya.”


“Baiklah ... setujui saja. Aku akan mengurus anak kurang ajar itu!” Mateo berlalu pergi setelah mengucapkan itu. Ia melangkah pasti ke landasan dan menyeret Tristan ke belakang layar.


“Apa kau sudah gila, ha? Apa otakmu ini sudah kehilangan kewarasan, ha?” Mateo mendorong kepala Tristan ujung jemarinya. Tristan dengan pasrah menerima semua itu tetapi dalam hati ia mengepul penuh amarah.

__ADS_1


“Papi sudah bilang jangan berlebihan menyenangkan wanita, dia hanya mau uangmu. Coba saja, besok-besok wanita itu akan semakin sombong dan meminta lebih padamu sebagai syarat diterimanya cintamu! Lagipula kau sudah punya Mikha ... apa masih kurang dia untukmu? Lalu kau merebut istri pria lain, ha? Demi Tuhan, Tristan ... Papi sudah tidak punya muka lagi di hadapan semua orang.” Mateo menggeram frustrasi. Wajah pria itu tampak merah menahan amarah.


“Lalu Papi pikir Papi itu baik? Apa jangan-jangan kematian Mami karena ulah papi yang suka main wanita? Atau jangan-jangan, bayi di kandungan Mikha adalah anak papi?”


Mateo terkesiap mendengar penuturan Tristan. Sejauh apa Tristan mengetahui hubungannya dengan Mikha?


“Tunggu sampai dia lahir, atau kita ke dokter sekarang? Kurasa bisa melakukan tes DNA sekarang ...,” kecam Tristan dengan amarah menyembul di atas kepalanya. Namun, air muka pria itu tidak menunjukkan ekspresi kemarahan, cenderung datar. Lebih mirip orang yang depresi apalagi dengan senyum devil yang perlahan terbit di kedua sudut bibirnya. Mateo beringsut mundur. Ia begitu takut dengan sorot mata putranya yang ia rasa sudah mengetahui rahasia kelamnya.


“Tan ... Papi hanya ingin agar kamu tidak seperti Papi—“


“Tapi semua sudah terlanjur, Pi ... kecuali aku mengeluarkan separuh darahmu dari tubuhku ... aku baru bisa bebas dari pengaruh buruk papi! Darah papi telah papi wariskan padaku, sehingga aku lebih terobsesi dengan wanita yang telah dimiliki pria lain ... sama seperti papi ‘kan?”


“Tan ... apa yang kamu lakukan?” Mateo melebarkan matanya saat Tristan menarik sebuah pisau lipat dari balik sakunya. Beberapa orang yang melihat itu lari tunggang langgang sementara beberapa pria berusaha mendekati Tristan yang sudah siap menggoreskan pisau pada pergelangan tangannya.


“Tan ... papi mohon jangan lakukan itu ... oke papi akan mengakui semuanya agar kamu merasa senang ... papi akan menikahi Mikha agar dia tidak terus muncul mengganggumu ... dan ambil saja wanita mana yang kamu mau ... papi tidak akan melarangnya. Manjakan wanitamu dengan semua kesenangan yang dia inginkan, Tan ... tapi papi mohon ... jangan bertingkah aneh-aneh ... Nak ...!”


Tristan sudah kebal dengan bujuk rayu papinya, sehingga dia tersenyum sinis dan dalam. Ia menurunkan tangannya dan melangkah pelan ke depan papinya.


“Benarkah? Sayangnya ... aku tidak percaya!” secepat kilat Tristan mengayunkan pisau itu ke arah perut papinya, tetapi beberapa orang berdatangan dan mengamankan Tristan. Mereka adalah orang suruhan Mateo yang sejak tadi berjaga di depan. Sedikit saja terlambat, mereka pasti binasa oleh Mateo.


Tristan meronta dengan sumpah serapah keluar dari mulutnya. Tetapi tidak ada yang peduli, terlebih Mateo ... ia malah merasa senang saat Tristan menjauh darinya. Ia pikir ia bisa tidak menepati janjinya. Termasuk menikahi Mikha yang bisa dipastikan tengah mengandung anaknya. Ya ... Mikha selama kurang lebih enam bulan terakhir intens berhubungan dengannya, meski saat itu juga Mikha sedang berhubungan dengan Tristan. Entah sejauh apa hubungan Mikha dan Tristan, Mateo tidak peduli. Ia hanya membayar apa yang telah ia beli. Harga yang pantas untuk sebuah kesenangan dan kepuasan.


Mateo membenarkan posisi kerah jasnya. Ia hendak berlalu pergi, tetapi lengannya di tahan oleh seorang wanita yang ia ketahui sebagai perancang busana yang di kenakan Naja.


"Saya akan menuntut ganti rugi atas hinaan ini, Tuan ... anak anda sungguh tidak punya etika dalam bermitra." Ia menunjukkan gaun Naja yang penuh dengan noda dan bau amis telur, lalu menghempaskan gaun itu di wajah Mateo. "Bersiap-siaplah Tuan ... penuhi ganti ruginya atau kita akan berurusan di pengadilan." tegas wanita itu sembari berputar dan mengibaskan rambut panjangnya hingga mengenai wajah Mateo.


Excel sejak tadi melihat semua kerusuhan antara bapak dan anak itu. Namun ia tak melakukan apapun, ia hanya tersenyum sinis sebelum menyusul Naja di ruang ganti. Ia akui, ia salah menerka Tristan dan menghubunginya karena pendarahan yang dialami Mikha waktu itu. Lagipula, apa yang tidak mungkin dalam sebuah hubungan di zaman sekarang apalagi mereka telah dewasa. Excel hanya menduga saja, dan setelah Mikha sadar, ia tidak menyangkal apapun tentang Tristan. Mikha bahkan terkesan membiarkan saja saat Excel berusaha menemui Tristan. Nasib baik, saat ia dalam perjalanan hendak menemui Tristan, Sam menghubunginya dan mengatakan bahwa Naja sedang menemui Tristan, sehingga Excel yang saat itu sebenarnya sedang diliputi kecemburuan, memilih mengurungkan niatnya membantu Mikha, dan membawa istrinya pergi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2