
Naja menepikan tubuhnya agar tidak menabrak Linda yang masih mengeram dengan tangan terkepal. Wanita sebaya dengan ibu Naja itu tampak mengerutkan bibir dan giginya rapat-rapat. Kesal sebab Naja sekali lagi mendapat perlindungan dari pria lain selain putranya.
“Beruntung sekali dia ...,” batin Linda sambil terus mengekori kepergian Naja dan dengan pandangannya.
“Mama puas sekarang?” Syailendra menatap nanar kepergian Naja yang menyisakan sesak di dadanya. Pria yang senantiasa menuruti kemauan Mamanya itu tampak nelangsa.
Linda menoleh putranya yang berdiri bersebelahan dengannya, tetapi ada jarak yang cukup jauh menjeda keduanya. Tatapannya melunak, “Sayang ...,” Linda mendekati putranya. “Mama melakukan ini demi kamu, Nak! Demi masa depan kamu.” Tangan Linda mengusap lembut pundak Ai, memberi tepukan pelan, seolah menegaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah yang terbaik.
Ai masih belum membalas tatapan Mamanya, memandang sembarang arah dengan tatapan kosong. “masa depan yang mana, Ma? Masa depanku sudah pergi bersama Naja.”
Linda merapatkan gigi, jengah dengan sikap gigih putranya. Namun dia sadar, dia harus meredam kejengkelannya dalam-dalam agar Ai mendengarkannya. Perlahan Linda meraih pipi Ai agar fokus padanya, “Masa depan seperti apa yang akan kau dapat dengan wanita penggoda seperti dia, hem? Nak ... Mama juga wanita jadi Mama tahu seperti apa Naja itu. Dia hanya memanfaatkan kamu karena harta yang kamu miliki. Lihatlah setelah berpisah denganmu ... dia sudah menggandeng pria lain kan?”
“Nak ... Mama hanya ingin kamu dapat wanita baik-baik dan sederajat dengan kita—”
“Seperti Shifia maksud Mama? Wanita baik menurut Mama seperti dia?” Ai menajamkan mata ke arah Linda. Cukup sudah selama ini dia menuruti kemauan Mamanya yang selalu bertolak belakang dengan inginnya. Ai menarik sudut bibirnya, membuat Linda menjatuhkan tangannya. Syailendra tampak tak bisa luluh lagi dengan bujuk rayunya.
“Wanita baik yang hamil tanpa tahu siapa ayah dari bayinya, iya?” sindir Ai yang tampak muntab, ledakan amarah berkobar di wajah Ai. “Bayangkan jika aku menuruti Mama dengan menikahi Shifia saat itu? Anak Mama hanya akan jadi tutup aib mereka Ma! Anak Mama ini ...,” Ai meraih kasar tangan mamanya, meletakkan di pipi Ai. “hanya akan jadi tumbal keluarga mereka Ma. Sadarlah Ma ... Mama hanya jadi bahan cemoohan mereka karena kebodohan Mama saat itu.”
Linda terkesiap mendengar penuturan Ai, benarkah dia hanya diperalat? “Tetap saja Nak ... Mama tidak akan menyetujui jika kau tetap memilih Naja. Mama hanya mau kamu menikah dengan wanita yang sederajat dengan keluarga kita. Banyak wanita lain, yang jauh lebih baik dari dia, Ndra ...!”
“Hanya Naja wanita yang akan jadi istri Ai, sekalipun Mama menurunkan bidadari.” Pungkas Ai dengan kecewa. Dibuangnya tangan sang Mama yang masih menyentuh pipi. Setelah itu Ai memilih meninggalkan Mamanya yang masih gencar meneriakkan namanya. Menjadi pusat perhatian pengunjung hotel yang kian membludak saat malam menjelang.
**
__ADS_1
Naja merasakan pilu begitu menyayat hati, tetapi sejak beranjak dari hotel itu, Naja hanya membisu di bawah tarikan Excel yang masih menggenggam tangannya. Mendengar Ai mengutarakan isi hati dan kesungguhan cintanya membuat Naja tak henti meluruhkan air mata.
Excel tahu jika Naja begitu terluka saat ini, tetapi bukan maksudnya menyumpahi Naja bertemu dengan kekasihnya. Dia hanya bercanda tentang menemui kekasihnya saat masih di dalam kamar. Jujur saja, Excel melihat besarnya cinta pria itu pada wanita yang menahan isak tangis di belakangnya. Namun, dia juga tak bisa melakukan apa pun untuk mengubah keadaan menjadi seperti semula.
“Berhentilah menangis ...!” hardik Excel alih-alih meminta maaf agar Naja sedikit merasa lega. Langkah pria itu berhenti tepat di samping mobil yang akan membawa mereka ke rumah singgah. Tangannya hendak membuka pintu mobil terurung tatkala Naja tak juga menghentikan tangisnya.
Excel menyudahi genggaman tangannya, mengembuskan napas seraya meluruhkan tubuhnya. “Ayolah, jangan seperti ini ... jika kau masih ingin bersama dengannya, seharusnya kau tidak mengakui pernikahan ini. Bukankah dia akan menerimamu apa pun keadaanmu?” pikiran Excel benar-benar berjejal dengan ruwetnya jalan pikiran wanita. Yang katanya iya adalah tidak dan sebaliknya.
Naja menengadahkan wajahnya, berjumpa dengan manik mata gelap Excel yang tampak jengah padanya. “Mudah sekali kau memintaku melakukan itu? Apa kau pikir pernikahan itu sebuah permainan, yang bisa diputus dan disambung semaumu? Andai saja kau tidak membuyarkan rencana kami, tentu hari ini atau esok aku akan bersama dia, bukan denganmu seperti ini!" ujar Naja gusar. Manik mata wanita itu sampai berguncang.
“Mana ku tahu rencana setiap orang? Apa kau lapor padaku jika kau berencana menikah dengannya?” kilah Excel. Sebenarnya, jika Excel mau, dia bisa memberitahu Naja jauh-jauh hari, tetapi dipikir Excel tidak apa-apa menikah dengan Naja yang tampaknya tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun. Sekali lagi, Excel berada disudut, semua memang salahnya.
“Kau memang pria menyebalkan ...!” seolah kehabisan kata mendebat Excel, Naja menubruk tubuh Excel dengan keras sebelum naik ke dalam mobil dengan wajah sembab dan tampak menyedihkan.
Excel berdecak saat Naja mengusap pipinya dengan brutal, kemudian mengambil beberapa lembar tisu yang selalu tersedia di dalam mobil ini. “Pakai ini, nanti wajahmu tergores kalau seperti itu.” Menyodorkan tisu di depan wajah Naja, tapi pandangan Excel lurus ke depan.
Naja menerima tisu tersebut, lalu mengeringkan jejak air matanya. “Terima ka—"
“Tidak perlu ... aku hanya tidak mau kalau sampai wajahmu terluka, nanti Mama menyangka aku telah menganiayamu.” Tukas Excel ketus.
Embusan napas Naja kembali terdengar, seolah bebannya ikut terempas bersamaan dengan CO2 yang keluar dari rongga dadanya. Lelah berdebat dengan Excel yang benar-benar ingin terlihat sempurna di mata semua orang. Apa pun yang dilakukannya adalah demi dirinya sendiri, bukan bentuk empati pada orang lain.
Seakan mengerti, sopir yang memang diperkerjakan oleh keluarga Dirgantara jika mereka sedang berada di kota ini, segera melajukan mobil. Pun dengan tujuan mereka, Excel sudah memberitahunya melalui pesan sebelum dia turun tadi, sehingga tanpa mengatakan lagi, sopir bernama Ahmad itu tidak perlu bertanya lagi, kecuali mendapat perintah baru.
__ADS_1
Keheningan membingkai kabin mobil, hanya deru napas Naja yang masih terdengar berat. Bahkan Excel tidak memegang ponsel sama sekali, pria itu tampak santai menikmati pemandangan jalanan yang memikat matanya.
Naja bergelung dengan pikirannya yang kacau, sesekali melirik Excel yang tak peduli padanya.
“Untuk apa dia membelaku di depan Bu Linda?” gumam Naja dalam hati. Ekor mata Naja beralih meninggalkan pria itu kembali meniti jalanan yang mulai berkerlip. Tetapi justru yang tampak adalah wajah Ai yang kecewa, Linda yang kesal karena Excel membelanya dan tatapan Excel saat Ai bertekat akan terus mengejarnya.
“Terima kasih sudah melindungiku dari Bu Linda ...,” lirih Naja dengan suara nyaris hilang sebab kerongkongannya terasa kering. Naja membasahi tenggorokan dan bibir yang terasa kering nyaris bersamaan.
“Kau bicara padaku?” tanya Excel.
Naja memejamkan mata, giginya beradu ketat dibalik bibir yang mengatup rapat.
“Sama pak sopir ...!” ketus Naja tanpa berpaling.
Excel mencebik, semula dia melihat Naja ketika telinganya menangkap suara kering Naja yang tak begitu jelas, tetapi kini dia kembali melempar pandangan ke luar mobil.
“Kuharap kita impas ....” ujar Excel. Tersirat samar harapan dalam ucapan Excel, agar Naja mengurangi kebencian padanya. Entah, ternyata meminta maaf itu susah diucapkan, dan ia ingin meminta maaf dengan cara yang lain. Namun Naja tak menyahut, hanya helaan napas yang kembali mengusik pendengaran Excel.
.
.
.
__ADS_1
.