
Naja masih mematung layaknya arca saat Kira berjalan ke arahnya dengan senyum terkembang sempurna. Di belakangnya ada Jen, Viona dan seorang asisten Viona. Membawa sebuah koper dan satu buah tas yang Naja tahu pasti apa isinya. “Sudah siap Sayang?”
“Si-siap?” kebingungan melanda Naja. Seketika dia menoleh kepada Pita dan Tara yang sudah berdiri dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
“Iya, Nyonya ... Sebentar lagi Naja akan siap.” Wasti muncul dari arah kamar. Wanita itu tampak gugup terlebih kini Naja menatapnya penuh tanya. Langkah panjang Wasti mencapai Naja, lalu menarik anak gadisnya ke dalam kamar.
“Ini ada apa Bu?” tanya Naja setelah mereka berada tak jauh dari tempat Edi berbaring. Gadis itu tampak bingung.
Wasti mengusap pipi putrinya, raut pucat putrinya tampak kabur dalam penglihatannya. Wasti berusaha menguatkan hati untuk mengatakan hal yang pasti sulit diterima Naja. “Nduk ... setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, bukan?”
Tangan Wasti menyeka air mata Naja, mungkin Naja mengerti kemana arah pembicaraan mereka. “kami juga seperti itu, Ja ... Bapak dan Ibu ingin kamu bahagia. Tapi tidak dengan Syailendra. Bukan Syailendra yang akan membahagiakan kamu, Ja.”
Tumpah sudah air mata Naja, “lalu apa dengan orang yang tidak kukenal aku akan bahagia Bu?”
“Kebahagiaan ada karena dicari dan diusahakan, Ja ... temukan kebahagiaanmu dengan pria lain. Kenali dia maka bahagia akan kamu dapatkan. Ibu mohon demi ketenangan Bapak, turuti kehendak bapakmu Nduk ... meski ini bukan salahmu, tapi kami mohon dengan sangat Ja, tinggalkan Ai dan menikahlah dengan putra Nyonya Kira.”
“Excel?” Naja sudah menduga tapi saat mendengar langsung dari ibunya, tiba-tiba rasa bencinya pada pria itu mengambang. Pria yang terang-terangan menjadikan Naja sebagai tumbal. Naja hanya tidak menyangka, Excel akan menggilasnya hingga tak berbekas. Menyeretnya lebih dalam memasuki jurang.
“Kenapa harus dia Bu?” lirih Naja.
“Karena orang tua Excel yang mendatangi kami, Nduk. Memohon agar mengizinkan kamu menjadi pendamping hidup putranya. Tidak seperti—“ Wasti memeluk putrinya, tidak ingin menumbuhkan luka lain di hati Naja. “Maaf kami tidak memberitahumu lebih awal, kami takut kamu akan kabur atau berbuat nekat, Nduk.”
Kepala Naja begitu pening, berdenyut-denyut. Sakit, sampai dia tidak bisa merasakan bagian mana yang terluka cukup dalam. Air mata juga tak kunjung berhenti mengalir. “Lenyapkan saja aku." Naja mengigit bibir kuat-kuat.
“Ayo, Ja ... semua orang sudah menunggumu.” panggil Pita dari luar pintu.
Naja melerai pelukannya. Beringsut mundur, menyeka matanya kasar, dan menegaskan wajahnya. “Bahkan mereka tidak menunggu keputusanku.”
__ADS_1
Kini tak terkecuali Tara dan Jen, Naja menatap semua orang bagai musuh. Seperti raga tanpa nyawa, Naja berjalan gontai dibelakang Pita. Entah demi apa, Naja tidak tahu. Yang pasti Naja berpikir semua orang egois dan berlaku kejam padanya.
Usai membersihkan diri secara singkat, Naja sudah duduk di hadapan Viona, wanita yang selama ini juga sangat dekat dengan Naja dan juga Jen. Tapi kali ini, Naja tidak bisa bersikap seramah dulu. Kebencian sedang meraja dalam hatinya.
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Pranaja Utari binti Edi Susanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Saaahhh ...,” seru beberapa orang yang sengaja dihadirkan sebagai saksi pernikahan.
Sebuah musala yang berada tak jauh dari rumah singgah menjadi tempat terikatnya janji suci kedua anak manusia ini. Sederhana tetapi tetap tercipta suasana sakral dan mengharu biru.
Keluarga besar kedua mempelai duduk melingkar, tergambar jelas kelegaan di wajah mereka. Setelah sempat bersitegang beberapa saat sebelum acara ini dimulai, keseluruhan acara ijab kabul putra tertua Akira berjalan lancar.
Ustadz Ilham menyampaikan nasihat dan pengetahuan tentang pernikahan kepada Excel dan Naja yang sejak awal acara menundukkan wajahnya. Sekalipun, wanita yang telah resmi dipersunting oleh putra seorang pengusaha besar ibukota ini, tidak menegakkan wajahnya.
Senyum terpaksa menghiasi sudut bibir Naja, saat Ustadz Ilham menggodanya dengan tausiah mengenai kewajiban seorang istri.
“Mbak Naja ... utamakan suamimu, karena surgamu bukan lagi pada ibumu saja, tetapi juga suamimu. Ridho suamimu akan membuka seribu pintu yang terkunci. Hebat bukan satu kata iya darinya?”
Naja melipat bibir dengan mata berkaca-kaca. Sejauh ini dia harus terlibat dalam kebohongan yang diucapkan seorang Excel. Meski tidak sesempurna wanita shaleha, selama ini dia berusaha menjaga dirinya dari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama tetapi, hari ini, dialah manusia berlumur dosa.
“Tetapi meski Mas Excel adalah surga bagi Mbak Naja, bukan berarti neraka tidak menyertainya. Ada banyak godaan mengikuti pria rupawan dan mapan seperti anda. Kuatkanlah keteguhan hati Anda, Mas. Yakinkan bahwa hanya Mbak Naja ratu dalam hati anda, bidadari yang di utus Allah untuk menggenapi setengah lagi ibadah anda.” Pungkas Ustadz Ilham, diikuti anggukan mantap seorang Excel.
**
Menjelang tengah hari acara sederhana ini berakhir. Mengenakan kebaya putih bersih Naja berdiri di sebelah Excel yang memakai setelan hitam dan kemeja putih. Excel tidak tampak seperti orang yang melakukan prosesi pernikahan, pakaian yang dikenakannya seperti hari-hari biasa saat bekerja.
__ADS_1
Naja memejamkan matanya singkat, merasakan sesak yang begitu menghujamnya. "Dia memang benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini. Aku hanya dijadikan tumbal olehnya." batin Naja menggeram. Manik mata Naja mengawasi punggung Excel yang berjalan menjauhinya
"Sayang ...," Kira yang memakai gamis panjang dan kerudung membingkai wajah ayunya tampak berpuas diri saat membelai pipi Naja. "Mama minta maaf jika bersikap kejam padamu, tapi Mama mohon dengan sangat apapun alasannya jangan tinggalkan putra Mama. Mama memang orangtua yang buruk, Nak ... Mama egois karena telah memaksa kalian menikah secepat ini."
Kira memeluk Naja dengan erat. Kekhawatirannya masih ada tapi dengan Naja bersama Excel, Kira lebih tenang dan tidak lagi khawatir akan Mikha. Lagipula, Excel bilang hanya masalah waktu kebersamaan mereka yang belum terjalin lama.
Naja membisu, apapun yang akan diucapkan atau dilakukannya saat ini tidak akan membuat keadaan berubah.
Kira melerai pelukan yang tak bersambut, membelai pipi Naja sekali lagi, "Cel, bawa Naja ke hotel tempat kalian menginap." titahnya pada putra sulungnya yang sedang berbicara di telepon. Pria itu menoleh dan mengangguk, bibirnya tampak mengucapkan maaf karena menutup telepon dengan tidak sopan. Naja berdecih dalam hati melihat itu semua.
"Bagus jika kami dibiarkan sendiri, jadi tidak ada yang tahu apa yang bisa kulakukan padamu, Cel." entah se tan mana yang meracuni pikiran Naja tapi sebersit pikiran konyol memutari benaknya saat Naja dirias. Senyum licik terukir samar disudut bibir Naja.
Usai berpamitan singkat, sebab Naja masih belum bisa menerima statusnya saat ini, Naja menuju mobil yang akan membawanya ke hotel. Duduk bersebelahan dengan Excel rasa bencinya menyalat-nyalat bagai lidah api. Tak sabar rasanya untuk memuntahkan kekesalannya pada pria yang sejak tadi sibuk dengan gawainya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1