Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Si Penebar Luka


__ADS_3

Bermaksud ingin segera merebahkan badannya usai menunaikan kewajibannya, Excel tiba-tiba merasa bersalah. Hadir begitu saja, menelusup, bagai retih hujan. Namun pasti, nyeri, hingga membuat Excel mengusap dadanya.


"Ada apa denganku?" Excel menunduk, seakan ada tulisan di atas perutnya. Setitik perasaan yang sulit diterjemahkan. Sesuatu menariknya mendekati jendela, menekan kaca tebal.


Diingatkan akan kenangan tentang Mikha atau bersalah sebab memarahi adiknya?


Tangan Excel memijat pelipisnya. Titik dimana beban dikepalanya seakan tertarik layaknya ingatan yang akan di simpan di sebuah tube. Menyimpan kenangan, ingatan dan peristiwa saat ini. Demi menarik seutas benang merah suatu tragedi ataupun kebenaran. Dimasa mendatang.


Excel mencoba memberanikan diri melihat ke luasnya hamparan langit malam dari balik jendela kaca kamarnya. Gelap. Hanya bintik bintang yang menjadi penerangnya. Terhalang kabut malam yang menggurat tipis. Indah. Tapi, bagi yang tidak suka gelap, ini mengerikan. Fantasi otak lah yang menghadirkan bayangan mengerikan di balik kabut itu.


Mikha....Mikha...Mikha...


Lirih batin seorang Excel. Saat sendiri dia lemah, terluka dan kecewa. Iya, saat sendiri dia sadar, rupa Mikha tak begitu jelas lagi di mata batinnya. Namun, rasa itu pasti. Meski mulai terkikis masa.


Naik dan turun, dada Excel mengikuti gerak udara di dalam parunya. Beban perasaan yang sungguh menyakitkan.


Mikha...Mikha....Mikha.


Excel memejamkan mata. Mundur, menjauh dari tepian jendela yang seakan bisa menjatuhkannya. Jauh di sana, sedang memainkan rekaman kebersamaannya dengan Mikha. Excel tersenyum, ah, betapa rindunya dia pada gadis ini. Gadisnya. Senyumnya, tawanya.


Ranjang bergoyang saat Excel menurunkan tubuhnya di sana. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Rega, dia harus jujur pada sahabatnya itu. Mencari Mikha bukan hal sulit bagi seorang Rega. Mencari kepastian perasaannya yang terombang-ambing sekian lama.


"Makan malam sudah siap, Kak!" Seru Jeje di balik pintu. Tidak mengetuk tidak pula masuk. Namun Excel mendengarnya dengan jelas. Menekan tombol pause dalam rekaman memorinya.


Excel mengangkat wajahnya, menatap pintu. Lalu memasangkan sandal rumahan di telapak kakinya. Dia memilih menahan niatannya.


Sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini, meski kedua orang tuanya tidak ada, makan malam harus tetap berlangsung seperti biasa. Excel yang mengambil alih tanggung jawab memimpin meja makan malam ini.


Interior rumah dan ruang makan ini tak banyak berubah, hanya kehangatan yang semakin bertambah. Juga keributan yang tak pernah mau mengalah.


Ranu, Agiel dan Azziel sudah duduk di masing masing kursi mereka. Selalu sama, membiarkan kursi Papa dan Mamanya kosong.


"Malam Kak!" Sapa ketiga remaja yang kini duduk di bangku SMA itu nyaris bersamaan.


Melihat sikap manis adiknya, membuatnya meluruhkan keangkuhannya. Membuang jauh-jauh pahatan es di atas manik matanya. Teduh bagai semilir angin saat menjelang senja. "Malam juga adik-adik Kakak!"

__ADS_1


"Mana Kak Jeje?" Ranu melongok ke belakang Excel. Namun tak ada siapa-siapa di sana.


"Kakak pikir sudah kemari duluan tadi?" Excel mengambil posisi Papanya. Ia sengaja melakukan ini, agar Jen tahu, dia dan Papanya satu tipe. Tidak terbantahkan. Namun bukan berarti tidak bisa bersikap lembut.


"Mungkin masih memanggil Kak Jen, Kak!" Ranu sepertinya belum tahu perselisihan kedua kakaknya.


"Bagaimana sekolah kalian?" Excel menatap mereka bergantian dengan tangan bergerak membalik piring. Alih-alih menyahuti pernyataan adiknya. Ketiga adiknya melakukan hal yang sama.


Ranu bangkit lalu menyendok nasi untuk Kakaknya. "Jangan tanya lagi Kak! Seperti biasa, aku selalu di buat malu sama Agiel!"


"Benarkah itu, Giel?" Excel melirik Agiel yang mendelik ke arah Ranu. Bahkan Ranu membalasnya dengan bibir sedikit terangkat. Seperti "tau rasa kau, Giel!"


Cengengesan.


Seringai menyebalkan Agiel membuat pertanyaan Excel tak membutuhkan jawaban.


"Kasihan Nanu loh, Giel! Harusnya kan Agiel melindungi Nanu! Katanya sayang?" Excel menahan tangan Ranu yang hendak mengambilkan sayur dan lauk untuknya.


"Maaf Kak, Agiel ngga bermaksud membuat Nanu malu!" Lirih Agiel. Dia selalu tak berkutik di hadapan kakaknya yang menurutnya sempurna.


"Weeeishh....udah pada kumpul aja nih bocah!" Jeje dengan gayanya yang santai menghampiri kursi Agiel. Menumpu sandaran kursi dan mengadu tinju dengan Agiel dan Azziel.


"Ayo duduk Kak Je, biar Nanu ambilkan!" Nanu berdiri lagi. Meninggalkan piringnya yang sudah terisi penuh makanan.


Jeje segera menggeser tubuhnya ke kursi di sebelah Agiel. "Weiss....adikku yang paling cantik dan pengertian! Tau aja kakaknya laper!"


"Kak Jeje ngga boleh makan nasi pas malem!" Celetuk Azziel tanpa menghentikan suapannya. Seketika Jeje menahan piringnya menggantung di udara.


"Kurang asem ni bocah! Aku ngga lagi pemusatan latihan, woy! Jadi suka-suka dong! Jangan ganggu kesenangan kakakmu ini Ziel! Atau nanti ngga kakak ajak nonton liga satu di sana lho!"


Azziel membelalak lebar. "Oke-oke! Nanu, penuhin piring Kaka Je dengan nasi! Kalau perlu jatahmu kasih juga, Nu!"


Azziel berdiri mencondongkan tubuhnya meraih piring Ranu. Namun urung sebab ucapan Ranu menghentikan tangan Azziel.


"Eits, ingat PR kamu masih banyak yang belum selesai!" Telunjuk Ranu bergoyang di depan batang hidung Azziel yang runcing. Kedua manik mata Azziel bergerak mengikutinya. Sambil mendengus, dia mendudukkan tubuhnya kembali.

__ADS_1


"Skakmat kamu, Ziel!" batin Ranu dengan bibir berkeriut dalam.


"Ayo segera di habiskan makannya!" Titah Excel pada penghuni meja makan yang mulai berkasak kusuk sebab Agiel dan Azziel mulai mengadu lebar matanya satu sama lain. Saling mengancam jika Ranu sampai tidak membantu mereka mengerjakan tugas sekolah. Ranu selalu menepati janji. Dialah putri seorang Harris Dirgantara.


Sekali lagi ada rasa aneh menelusup diantara riuhnya meja makan. Excel bahkan harus mengunyah perlahan suap demi suap makanan yang masuk ke mulutnya. Benar. Ada yang kurang.


"Hei, kalian sadar ngga sih? Rasa sup ayamnya beda! Dan sambelnya ngga nendang kaya biasanya!" Jeje memiringkan kepalanya. Dia sedang mencoba merasai keanehan makanan hari ini. Sop ayam dan sambel. Entah sejak kapan menu itu ada di setiap makan malam. Hangat dari merica terkadang membuat Excel ketagihan untuk memakannya sebelum tidur. Aneh memang.


Sungguh aneh.


Semua mengangguk setuju. Semakin memperlambat bahkan berhenti menguyah. Hanya Ranu saja yang cuek bebek dengan rasa masakan. Baginya semua makanan rasanya sama saja. Mood saja yang membedakan.


"Lidah Kak Je saja yang terbiasa dengan masakan Mbak Naja!"


"Uhuk, uhuk!"


Seketika semua menoleh ke ujung meja.


"Pelan-pelan Kak!" Ranu menyodorkan gelas berisi air putih miliknya ke arah kakaknya. Yang langsung segera di sambarnya. "Kakak kenapa sih?"


Tak ada sahutan, hanya air yang menetes di sudut bibirnya dan gerakan naik turun dari leher kakak mereka yang sempurna.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2