Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Magic Soup


__ADS_3

"Kakak baik-baik saja?" Ranu terlihat khawatir, apalagi wajah kakaknya merah padam, mungkin saja pedasnya merica yang sedikit berlebihan pada sup ini membakar kerongkongannya.


Excel tercekat, tangannya erat memegang gelas yang sudah mendarat di meja makan. Selera makannya pun lenyap sudah. Berapa lama dia begitu ketagihan dengan sup itu? Meski dia bukan pemilih, namun sup itu membuatnya tidur nyenyak. Mengurangi mimpi buruknya.


Remasan di gelas bening itu memerahkan buku jarinya. Tampak tergesa-gesa, Excel mengangkat tubunya dari kursi. Mendorongnya kebelakang. Tanpa sepatah kata lagi, Excel meninggalkan meja makan. Menyisakan separuh makanannya, satu hal yang baru sekali dia lakukan.


Mencekam.


"Ada apa dengannya?" Ke empat manusia itu kembali menghadapi satu sama lain, setelah pandangan mereka mengantar kakaknya menghilang  di ujung ruangan. Saling melempar tanya. Ranu lah yang paling bingung. Karena dia yang bersinggungan dengan Excel terakhir kali


Gestur tubuh Jeje membenarkan posisi duduknya. Menyambar lagi sendok dan garpunya. "Sejak tadi sore dia sudah badmood. Sepertinya dia habis bertengkar dengan Jen!"


Ranu mengangguk meski tak paham. Apa hubungannya sup ayam dan perselisihan Excel dengan Jen? "Pantas Kak Jen tidak turun untuk makan malam!"


"Sepertinya, kali ini begitu serius! Bahkan Jaja Miharja sudah pergi dari sini!"


"Jaja?" Serempak Agiel dan Azziel menoleh dan berteriak. Membuat Jeje nyaris jatuh saking terkejutnya mendapat serangan koor kedua adiknya.


"Ish, ngga pake teriak juga kali!" Jeje mengusap kupingnya yang bergema nyaring. Melengking.


"Kenapa Mbak Naja pergi Kak?" Sergah Ranu yang menatap intens kakaknya.


Hening.


Jeje menghabiskan suapan terakhirnya di bawah tatapan sarat keingintahuan dari Ranu. Dan lirikan penuh harap dari adik kembarnya.


"Kakak ngga tahu!" Jawab Jeje enteng. Ditenggaknya segelas air putih hingga tandas. Ekor matanya melirik adik-adiknya yang tampak kecewa.


"Pasti ada masalah kan, diantara mereka?" Agiel dan Azziel tiba-tiba seperti tertantang mencampuri urusan kakaknya.


"Sebaiknya kalian bergegas menghabiskan sisa makanan kalian! Jangan ikut campur urusan orang dewasa! Terkena icy blast dari Kak Excel pingsan kalian!" Ucapan Ranu tegas, mengundang juluran lidah Agiel yang memang doyan menggoda Ranu.


"Telpon Papa nih!" Ancam Ranu yang pura-pura bangkit dari kursi. Namun segera urung, sebab Agiel menyuap sisa makanan dengan cepat.


"Good boy!" Azziel mendengus memdengar ucapan Ranu. Seolah dia adalah hewan piaraan.


***


Kolam renang memantulkan cahaya lampu di sekitar halaman. Cahaya kuning temaram yang begitu teduh membuat suasana syahdu. Terasa hangat, namun, hembusan angin malam seolah menghalaunya menjauh.

__ADS_1


Kedua tangan Excel saling menghangatkan tubuh. Pakaiannya tak mampu mengusir dingin yang membuatnya meremang.


Kursi kayu panjang, menerima dengan pasrah tubuh Excel. Memberinya sandaran yang nyaman. Tangan ramping namun tetap tampak kokoh itu terlipat sebagai ganjal kepalanya.


"Apa aku terlalu kejam padanya? Bukankah dia sudah membuatku tidur nyenyak tanpa memimpikan Mikha lagi? Tanpa mimpi buruk saat melihat Mikha menjauh dariku?"


Excel membenarkan posisi kepalanya. Menghembuskan rasa bersalahnya ke udara kosong di depannya. Manik matanya menyapu langit gelap dan dingin.


"Apa menghindari cinta juga sebuah kesalahan? Menolak mengatakan bahwa aku terluka karena aku mencintai Mikha juga sebuah kekeliruan?"


"Mikha apa kau juga mencintaiku dulu? Apa kau juga merasa sesak meninggalkanku begitu saja? Kenapa Mikha?"


Gemuruh didadanya mendadak berkontraksi, mendorong untuk segera terlahir. Diskusi batin yang membuatnya semakin bingung.


Excel bangkit, mulai melangkahkan kakinya di sisi kolam renang. Sesekali dia menengadah saat bulir bening menunjukkan betapa rapuhnya seorang Excel. Pria tinggi dengan segala kesempurnaan miliknya.


"Maaf Ja! Kali ini aku harus egois! Kau terlalu berani membuatku semakin lemah seperti ini!"


Entah mengapa semua menjadi jelas, saat dia tak sengaja mendengar Naja berbicara di telpon beberapa hari lalu. Restoran, makan siang dan Tanna. Ingatan itu berputar seakan menjelaskan bahwa Naja lah yang patut dipersalahkan paling banyak.


Heuh...


***


Temaram senja menyapa, memaksa seorang laki-laki muda mengayunkan langkahnya meninggalkan sebuah kafe. Menyandang tas ransel hitam yang setia menemani harinya selama tinggal di kota besar ini.


Tidak terlalu jauh memang, tapi tubuhnya yang letih membuat jalannya sedikit lambat dan gontai. Berulang kali dia meregangkan badannya, seakan membuat sarafnya tetap terjaga.


Penghuni kos banyak yang mulai duduk-duduk santai di teras. Bibir pria ini tak henti bergerak, menyapa setiap orang yang di temuinya. Hingga sampailah dia di depan kamarnya.


Seperti biasa, dia melepas sepatu dan mengambil kunci dari bawah rak. Manik matanya membola, meraba lebih dalam. Namun nihil. Bahkan sampai dia memindahkan rak sepatu itu agar bisa melihat lebih jelas.


Seakan mendapat tarikan, dia langsung berdiri mendorong pintu yang sudah tak terkunci. Kamarnya bersih dan rapi. Keranjang baju kotornya kosong, tong sampah kosong. Hanya ada sebuah koper dengan ponsel yang amat di kenalnya tergeletak di kasur lantai.


Telapak tangannya menepuk jidat sekencang-kencangnya. "Nenek sihir kemari pas kamarku kotor lagi! Bisa-bisa telingaku penuh nanti!"


Tara bergegas keluar kamar berlarian mencari kakaknya. Bertanya pada beberapa orang yang tetangga kosnya.


"Tadi lihat kakakku ngga?" Tanya Tara pada dua orang pria yang sedang duduk tak jauh dari kamarnya.

__ADS_1


"Ngga tau, Ra! Emang kakakmu kemari tadi?" Salah seorang dari mereka malah balik bertanya. Membuat Tara semakin gusar.


Kerena bingung dan tidak tahu harus kemana, Tara memutuskan untuk kembali ke kamar. "Kenapa dia bawa koper segala jika hanya mencari ku saja? Atau dia di pecat dari pekerjaannya?"


Tara membuka koper milik Kakaknya. Sedikit tahu apa alasan Naja kemari. "Kau terlalu angkuh saat membawaku kemari, Ja!"


Diletakkan kembali koper kakaknya ke tempat semula. Kemudian dia menyambar handuk yang tergantung rapi di sisi kamar mandi.


Derit engsel pintu begitu nyaring terdengar. Memaksa Tara mengurungkan langkahnya ke kamar mandi.


"Sudah pulang?" Naja kerepotan membawa masuk kasur lipat yang sepertinya di pinjam dari Ibu kos. Di pergelangan tangannya, tergantung sebuah kantung berisi dua bungkusan, sepertinya makanan.


"Kau mau tinggal di sini?" Mau tak mau Tara berjalan mendekati Naja. Membantunya membawa kasur itu ke dalam kamar.


"Terimakasih, Adekku yang manis!"


"Ada masalah atau kau di pecat?" Tara meletakkan kasur tak jauh dari kasurnya. Kasur yang sepertinya akan menjadi tempat tidurnya malam ini, atau mungkin malam-malam selanjutnya.


Naja sibuk sendiri, sengaja mengeraskan suara kantung kresek itu, menyembunyikan kebohongannya."Aku hanya lelah saja bekerja di sana!"


"Aku mandi dulu!" Percuma saja berbicara dengan kakaknya, sekalipun dipaksa, jika bukan kehendak hatinya, sepatah katapun tak akan meninggalkan kerongkongannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


satu dulu yak....author lagi sakit kepala ini🤭


__ADS_2