Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Kali Kedua


__ADS_3

Naja membuka matanya saat dirasakan tubuhnya terguncang. Manik matanya terasa jernih meski kelopak mata itu sedikit membengkak. Bergerak liar meneliti ruangan remang-remang cenderung gelap.


Kamar Excel, begitu pikiran pertama yang tertangkap saat membaui aroma khas Excel yang menjejak di penciumannya. Naja memegang erat selimut abu-abu tua yang membingkai tubuhnya, kepalanya memutar pelan. Tampak oleh matanya punggung berlapis kaos putih yang sedang memunggunginya.


Naja mengembuskan napas lega, setidaknya dia tidak dibuang di tengah jalan, sebab sejak memasuki mobil yang mengangkut mereka dari bandara, Naja tak sanggup menahan kantuk. Ya, Naja ikut serta kembali ke ibu kota setelah semua orang mengusulkan begitu.


“Ikutlah suamimu kemana dia membawamu Ja ...,” lirih Edi saat Naja mengatakan ingin tinggal dan merawatnya. “Bapak esok akan pulang usai kemo Nak ....”


“Tapi Pak ... aku masih ingin bersama kalian di sini. Aku belum melepas rindu dengan kalian.”


“Akan ada waktu lain setelah ini ... kau bisa mengunjungi Bapak lain waktu, tapi untuk sekarang kamu harus ikut suamimu ....” timpal Wasti menegaskan. Sejak tadi Wasti berdiri di depan pintu dengan menyandarkan punggungnya.


Naja menoleh ke arah ibunya, lalu mengembuskan napas seakan sudah tak bisa lagi membantah keputusan orang tuanya. “Baiklah ... tapi jangan menyembunyikan apa pun lagi dariku,” pinta Naja seraya menundukkan wajahnya.


Setelah mengatakan itu, ia bergegas pamit pada orang tuanya. Tak lupa sejuta wejangan mengikuti langkah Naja hingga sampai ke mobil. Wasti, Pita dan Tara baru berhenti berceloteh ketika kaca mobil tertutup, menyisakan lambaian tangan yang mengantar kepergiannya.


Naja mendudukkan tubuhnya yang terasa lemas, mata gadis itu menjumpai jam yang bertengger di meja lampu sebelah Excel. “Tengah malam ...,” gumam Naja. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berakhir pada belakang tubuh Excel yang tampak membenahi posisi tidurnya.


Dipastikan tak akan bisa tidur lagi, Naja bergerak turun dari ranjang dengan perlahan sebab tak ingin mengganggu tidur pria di sebelahnya. Menyalakan lampu, Naja mencari-cari tas gendong yang senantiasa menjadi teman perjalanannya. Tas yang dibelikan oleh Jen saat dia pergi ke Paris enam bulan lalu. Hampir semua barang miliknya adalah pemberian Jen, dan Naja yang selalu dibuat pingsan melihat banderol harga yang melekat, tidak bisa menolak permintaan Jen supaya memakainya. Bos Naja itu selalu memanyunkan bibir mungilnya jika Naja keberatan menerima barang-barang tersebut.


Tas berukuran sedang itu teronggok di atas sofa, Naja bergegas menghampirinya. Merogoh ponsel yang seharian ini sama sekali tak disentuhnya. “Mati ...,” gumamnya seraya bangkit usai mencari perangkat pengisi daya ponsel tersebut.


“Kau mau membunuhku?”


“ASTAGA ...,” Naja berjingkat saat suara dingin Excel dengan tegas menerkamnya. Sambil memegangi dadanya yang masih berdentum, ia membalik tubuhnya, mendapati Excel yang tengah duduk dengan tangan bersilang di dada.


“Bisa tidak jangan mengagetkan orang seperti itu?” teriak Naja yang belum menguasai diri. Napas besar-besar yang terembus dari hidung Naja, memenuhi ruangan yang begitu hening.


“Kau saja yang melamun,” tuduh Excel dengan ekspresi yang menikam Naja sinis.

__ADS_1


Naja meluruhkan tangannya dari dada, mengakhiri keterkejutannya dengan hembusan napas begitu keras. “Aku tidak melamun, tapi sedang mencari tempat untuk men-charger hape ...,” bantah Naja membela diri.


“Di samping sofa sana ...,” dagu Excel menunjuk sofa tunggal berseberangan dengan posisinya. “jangan berisik, aku baru saja akan tidur.” Peringatan Excel mendapat dengusan dari Naja.


Excel hari ini harus menyelesaikan pekerjaannya hingga hampir dini hari. Meski Rega telah menyelesaikan sebagian tetapi Rega juga tak bisa menangani semuanya. Usai memberi tatapan peringatan terakhir saat Naja mendaratkan tubuhnya di sofa, Excel merebahkan tubuhnya kembali. Berniat segera tidur sebab tubuhnya terasa penat sangat.


“Iya ... iya,” sungut Naja sambil berdecak. “Memangnya aku bocah yang ngga ngerti peringatan.” Bibir Naja menggerutu.


“Iya kau memang bocah ...,” sahut Excel meski tak mengubah posisinya.


“Menyebalkan ...,” Naja menggerakkan bibirnya tanpa suara. Bahkan bibir itu meliuk tak terkendali mencaci Excel.


Menemukan apa yang dia cari, Naja menghubungkan ponsel dengan charger. Sembari menunggu ponselnya terisi, Naja kembali meneliti kamar Excel yang tentu sangat besar dan mewah. Kali kedua masuk ke kamar ini, hidupnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Naja menumpu siku pada lututnya, telapak tangan wanita itu menyangga dagu. Manik matanya terpaku pada pemilik kamar yang bernapas dengan teratur.


Naja sedang menata hati untuk menerima semua ini. Hanya menerima ... tetapi tidak dengan hidup bersama selamanya. Sulit rasanya mengalihkan cinta yang terlanjur lama menetap dalam hati. Tapi tidak mudah juga mengabaikan orang tua yang sepertinya banyak berharap dari pernikahan tanpa cinta ini. Naja mengembuskan napas seraya menghempaskan punggungnya ke sofa yang lembut memantul.


Ketika hari berganti pagi, Naja sudah duduk manis menunggu Excel bangun. Rasanya asing ketika berada di tempat yang sama tetapi status telah berubah. Di kamar ini, bahkan tak ada yang bisa Naja lakukan selain diam. Merutuki dirinya sendiri, kenapa semalam malah berdebat bukannya membuat to do list, tentang apa dan bagaimana Naja harus bersikap.


Tak tahan, akhirnya Naja bergerak mendekati Excel yang sejak semalam -sepertinya- tidak mengubah posisi tidurnya, sedikit menelungkup. Lagi pula ini sudah siang, seingat Naja Excel akan berangkat ke kantor satu jam lagi. Tentu tak masalah jika membangunkannya lebih pagi.


Sesempurna malaikat kala tidur tetapi menjelma menjadi sangat menyebalkan saat mata gelap itu tengah menatapnya. Naja membasahi bibirnya sebelum menyentuhkan jemarinya di lengan bergelombang nan kokoh milik Excel.


“Cel ... bangun,” Naja menarik lagi tangannya, menggenggamnya di udara. Ragu untuk menyentuh lagi tubuh pria di depannya ini. Naja memundurkan langkah setelah beberapa saat pria itu tak bergeming sama sekali, sembari menggigit bibir Naja berbalik dan memasang alarm di ponselnya sebagai ganti. Meletakkan ponsel yang di setting untuk berbunyi lima menit lagi di meja lampu.


“Jadilah istri yang baik,” ucapan ibunya yang menjadi alunan imajiner yang menguasai telinganya. Naja merapatkan bibir, pikirannya bergolak untuk melakukan apa yang dititahkan sang ibu, meski dalam hatinya kukuh menolak. Otak Naja memang sudah terbiasa menerima doktrin sang ibu, mengabaikannya menjadikan harinya terasa janggal.


Naja berjalan pelan mendekati lemari, “mungkin nyiapin baju kali ya.” tangan Naja terulur untuk membuka kotak terbuat dari kaca gelap. Rahang Naja memisah tatkala melihat koleksi baju dan setelan milik Excel yang dominan warna dasar dan gelap. Kening wanita itu berkerut ketika tangannya menyusuri tumpukan pakaian yang bertumpuk sesuai warna. Hitam, putih, abu, dan biru. Just it.


“Apa yang kau lakukan?” Naja membola dengan telunjuk masih tertinggal di antara lipatan baju. Jantung Naja berhenti seketika, pun dengan napasnya. Naja menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku hanya akan mengambilkan baju untukmu,” tubuh Naja beringsut untuk menghadap si pemilik lemari. Ketika pandangan Naja tiba di atas Excel, pria itu sedang mengusap matanya, meregangkan lengannya ke atas kepala. Menguap sambil menarik tubuhnya bangkit dan menjuntaikan kakinya menyentuh lantai.


Bibir Naja meliuk turun, “kukira dia langsung ke fase membunuh tanpa melewati fase normal orang bangun tidur,” Batin Naja saat mendapati Excel dalam keangkuhan yang mengendur.


"Apa yang kau lihat?" Excel mengangkat tubuhnya dari ranjang, "keluarlah, aku bisa melakukan semua sendiri." titahnya ketus dan dingin. Mata gelap itu menerkam Naja dengan lirikan yang mampu merobek lapisan tipis kulit Naja.


Naja mencebik, "Kebetulan di depanku ada manusia yang masih bernapas, jadi aku melihatnya. Jika tinggal bayangan, pasti aku lari." Naja berpaling dengan cepat dan melangkah ke pintu.


"Lagi pula siapa yang mau membantunya? Baguslah kalau semua bisa sendiri, nanti lahirkan anakmu sendiri." gerutu Naja ketika tangannya menyentuh besi gagang pintu. "Lebih baik aku ke dapur ... di sana lebih menyenangkan." Bibir Naja sudah maju beberapa senti seakan bisa dikucir.


"Aku mendengar itu ...," suara Excel menggema ditelinga Naja sehingga membuat bola matanya melebar sempurna, sebelum melompat keluar kamar dalam satu langkah.


.


.


.


.


.


Mohon Maaf jika ada komentar yang ngga kebales, soalnya di Mangatoon notifikasi ada, tapi ketika di klik ngga ada sama sekali. Bukan maksud saya ngga mau bales ya manteman🙏


Maaf juga untuk part yang gaje akhir-akhir ini😌🙏


Tapi mulai maruk ni, jempolin ya manteman ... meski ngga ada bagus-bagusnya😊 ngga komen, ngga nge-gift, ngga nge-vote, ngga papa, yang penting baca✌


Gomawo🙏❤

__ADS_1


__ADS_2