
Naja kini sudah berada di ruang bersalin. Dia berusaha kuat, tetapi rasa sakit itu seperti merontokkan seluruh persendian dan tulang di tubuhnya. Seakan satu persatu dicabut dan diremukkan bersamaan.
"Tahan ya, Na ... terus miring ke kiri agar mempercepat proses pembukaannya, Na!" Dokter Luna cukup kelabakan melihat Naja yang sudah sangat kesakitan, tetapi ternyata baru pembukaan ke tiga. Kini sudah dua jam berlalu, Dokter Luna telah usai memeriksa perkembangan Naja, ia tersenyum.
Dia memang hebat.
Sayangnya, Excel tidak berada di sini, hanya seorang perawat yang membantu meredakan nyeri yang menjalari punggungnya.
Dalam pikiran Naja, ia hanya memikirkan sakit, ia bahkan tak ingat suaminya yang tak bersamanya. Apa rasa sakitnya akan berkurang jika ada Excel? Sungguh dia tidak percaya hal itu.
"Dokter, apa masih lama?" tanya Naja merintih di sela sakit yang menderanya. Kontraksi Naja semakin kerap datang. Memelintir dan mendorong rasanya. Selain menggeram dan meremas apa saja yang ada di dalam jangkauannya, Naja hanya bisa menitikkan air matanya.
"Tidak akan lama, Na ... kamu yang tenang. Fokus ya, Na ... ingat kalau kamu sedang mempersembahkan sebuah kehidupan baru." Dokter Luna tampak memberi instruksi kepada beberapa perawat untuk bersiap.
Naja memejam, dalam hati ia menangis, ingat ibunya dulu pasti juga merasakan hal yang sama dengannya saat melahirkan dirinya.
"Bu, maafkan kesalahanku, ya ... maafkan aku yang suka membantah perintahmu. Maaf, aku sering menyakitimu, Bu." rintih Naja dalam hati.
Kini ia sadar, seorang ibu marah saat anaknya membantah, bukan tidak ikhlas melahirkan tetapi mengingat sakit saat melahirkan, seakan nyawa hanya setebal benang, yang bisa putus kapan saja.
Ibu ... rasanya seluruh hidup diberikan, tak akan cukup untuk mengembalikan pengorbanannya saat memberimu kehidupan.
Naja menarik napas panjang, ketika sakit itu melonggarkan cengkeramannya. Menimba udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang seakan kosong. Ia sedang mempersiapkan tubuhnya menerima sakit lagi, yang rasanya tiap kali datang semakin naik satu tingkat lebih kuat mencengkeram.
Di luar, Excel yang akhirnya berhasil di hubungi, langsung menuju rumah sakit. Ia sedikit terperangah saat melihat Ai tampak cemas di depan ruang bersalin. Agus juga tampak tak bisa berkata-kata saat bersitatap dengan pria yang mempercayakan anak dan istrinya padanya. Sedangkan Teh Esih, hanya menunduk dalam, merasakan kemarahan di ambang mata majikannya.
Merasa ada yang lebih ingin ia temui, Excel merangsek masuk ke dalam ruang bersalin. Tatapan pria itu masih tajam hingga ia melihat istrinya tergolek diatas ranjang dengan segala persiapan persalinan mengelilinginya. Semua orang menoleh, kecuali Naja yang masih asyik menikmati sakitnya.
Ia tak bisa menjelaskan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Melihat tangan Naja yang sedang mencengkeram tepian ranjang, melihat wajah istrinya yang tenggelam di dalam bantal, ia tahu, istrinya sedang meredam kesakitan yang dalam.
Seakan pisau tak kasat mata merajam tubuhnya, Excel melangkah pelan ke depan Dokter Luna. "Berapa lama lagi, Dok?"
"Kurang dari tiga puluh menit, seharusnya. Istri dan bayimu sungguh hebat." Dokter Luna melirik jam yang melingkar di dinding. "Perkembangannya cukup cepat, sepertinya kamu mengikuti saranku dengan baik." Mau tak mau Dokter Luna mengerling ke arah Excel.
Excel menghela napas, ya ... saran yang cukup menggelikan memang. Tapi entahlah, dia juga tidak terlalu menikmatinya, terlebih melihat Naja yang sering kesakitan saat melakukannya.
"Na ...," lirih Excel di telinga Naja. Ia mengusap kepala istrinya, menghujaninya dengan kecupan yang sangat banyak dan lembut.
Naja terkesiap, suara Excel seperti guyuran air yang menyejukkan. Rasanya, seluruh sakit hilang. Perlahan, ia mengarahkan kepalanya ke arah suaminya.
"Hai, Bae ... maaf aku datang terlambat." Ingin rasanya Excel menelan utuh kesakitan di wajah yang begitu sayu menatapnya. Ingin rasanya menggantikannya.
__ADS_1
Naja menyimpan suaranya dalam-dalam, ia memilih tenggelam di tubuh suaminya. Mengerat ketat apa saja yang bisa dijadikan pegangan olehnya. Terlebih sakit itu datang lagi, lebih sakit, dan lebih menyiksa.
"Dokter ... aku ngga kuat lagi!" Naja menangis histeris. Panggulnya rasanya sudah mau pecah. Ia berbalik telentang, entah siapa yang memberi tahu, dia mengangkat tubuhnya setengah duduk.
"Nana, Sayang ...!" Excel melepas jas yang masih membalut tubuhnya. Ia melebarkan matanya melihat Naja yang seperti meregang diantara kesakitannya.
"Ya, Tuhan ... ampuni hambamu ini, yang sering membuat dia sakit. Yang sering mengeluh karena permintaannya yang sedikit, sedangkan dia rela meregang nyawanya demi anak dan diriku."
Excel mengusap perut Naja dan membatin. "Jangan sakiti mamamu, Nak ... jangan sakiti mamamu!"
Rasanya, Excel sudah tidak punya tulang lagi di tubuhnya. Mendengar Naja menggeram dan Dokter Luna yang terus berteriak memberi instruksi kepada Naja. Entahlah, baginya semua suara itu terdengar keras ditelinganya.
"Errhhhmmm ...," mendorong lagi tubuhnya hingga setengah duduk, Naja menggeram dengan tangan berpegangan pada Excel.
"Ayo, Nana ... tarik napas lagi, dedeknya sebentar lagi keluar."
Naja terengah, napasnya rasanya sudah habis, pun dengan tenaganya. Lemas sekali rasanya. Samar, ia melihat Excel di atasnya, tengah mengecupi tangannya. Pria itu menangis.
"Ayo, Na ... ayo, Sayang. Kasihan kepala dedek bayinya terhimpit terlalu lama. Na ... fokus, Na." Dokter Luna memberi peringatan lagi, tetapi sakit itu tak kunjung datang. Naja benar-benar lemas. Ia ingin beristirahat sebentar saja.
Excel semakin pucat, ia mengecupi Naja yang hampir memejamkan mata, "Sayang ... Nana, bangun, Na ... jangan tidur, Na ...! Jangan tinggalkan aku, Na ...!" Pria tinggi itu merintih dalam tangis.
Naja meneguk salivanya, ia merasa akan datang sakit yang luar biasa. Entahlah, di sana sudah terlalu mengganjal dan tak nyaman. Di tariknya napas dalam-dalam, dan sakit itu benar-benar datang.
"Eeenggghhh ...," geram Naja mendorong tubuhnya. Buku jarinya menghujam begitu dalam. "Aahh ...." Naja melepaskan napasnya. Tetapi dia segera menarik napas lagi, dan mendorong lagi.
Dan ....
"Iya, pinter Sayang!" Dokter Luna menangkap kepala bayi Naja, ia tersenyum. "Ayo, tarik napas sekali lagi," perintah Dokter Luna.
"Iyap ... pinter!" Ucapan Dokter Luna tenggelam diantara riuh tangis bayi. Nyaring dan melengking. "Kenceng banget nangisnya, kaya suara Mommy, ya!"
Masih tersengal, ia memejamkan mata, rasanya wajah Naja dipenuhi bekas bibir suaminya. Bahkan rasanya, Excel sudah melahap habis bibirnya.
Di sisa tenaganya, Naja menepuk pelan dada suaminya. Napas sudah mau habis juga masih saja dilibas.
Excel tidak memedulikan ucapan apapun yang keluar dari Dokter Luna, ia hanya fokus pada istrinya. "Terimakasih sudah berjuang untukku, terimakasih sudah kembali padaku!" bibirnya tersenyum, tapi pelupuk matanya masih basah.
"Gak mungkin aku ngga kembali, aku belum puas menyiksamu," kekeh Naja lemah.
Excel tertawa, "Ya ... siksa saja aku semaumu. Asal kau tetap bersamaku."
__ADS_1
"Haish ... kalian berdua ini! Ngga ada peduli-pedulinya sama anaknya, malah asyik pacaran!" suara Dokter Luna membuyarkan tatap-tatapan ala drama ikan terbang. Ditangannya ada bayi menggelepar kedinginan.
Excel bangkit dan memberi ruang pada Dokter Luna, sambil tersenyum malu.
"Biarkan bayimu mencari pu tingnya, Na ...." Dokter Luna meletakkan bayi yang masih merah itu diatas dada Naja yang langsung mencecap-cecap.
"Selamat menjadi orang tua! Ingat sudah ada anak di antara kalian, jangan ditinggal pacaran terus. Bisa-bisa setahun punya adik dia." Dokter Luna menatap Excel dalam-dalam, melihat gelagatnya, pria itu sedikit mengerikan.
"Ish, jangan nyumpahin yang enggak-enggak!" Excel salah tingkah sendiri, ia bahkan malu membalas tatapan Luna padanya.
***
Diluar, Kira dan Harris tak kalah cemas dan khawatir. Kira datang lebih awal, tetapi ia harus mengurus orang yang ditabrak Agus. Agus usai mengantar Ranu dan Si kembar ke sekolah berniat langsung ke rumah Excel tetapi nahas baginya, karena seorang pengendara motor menyerobot lampu merah, hingga tabrakan tak terelakkan.
"Pa ... kok lama, sih?" rengek Kira, ia berkata seolah Harris bisa mempercepat kelahiran cucu pertamanya.
"Ya, gimana, Yang ... masa iya aku harus masuk dan nyuruh bayinya keluar? Kan ngga mungkin?" jawab Harris sok polos.
"Ih, Papa ... bukan gitu juga kali!" Kira merengut, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Pa, dulu Ranu juga lahir di sini."
"Jangan mengenang masa lalu, aku jadi ingin buat yang kaya Ranu lagi, loh." Harris mencandai istrinya agar tidak mellow, ia kesal jika Kira menangis. Hati wanita itu terlalu lembut hingga mudah terharu.
"Papa ... kenapa ngomongnya selalu kesitu, sih. Ingat umur, ingat rambut udah dua warnanya." Kira mau tak mau tertawa. Umur boleh bertambah, tapi pria itu tetap tidak mau kalah dengan anak muda. Staminanya masih utuh dan terjaga.
"Kenapa memangnya dengan umur dan rambut? Di luar boleh tampak berumur, tapi di dalam 'kan selalu bikin kamu berliur."
"Papa, ih ...," Kira mencubit pinggang Harris yang merengkuhnya dalam dekapan. Pasangan itu melepas tawa dalam pelukan yang begitu mesra.
Pintu ruang bersalin terbuka, menampilkan Excel yang masih pucat dan tampak lemas. Harris dan Kira menoleh bersamaan, melihat anaknya yang tersenyum, "Selamat menjadi Kakek dan Nenek."
Kira, Harris, Esih, dan Agus berdiri bersamaan. "Selamat, Sayang ... mantu mama sehat, 'kan? Cucu Mama baik-baik saja, 'kan?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sambung kesini ya gaes 😍 kisah Jen dan Darren