Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Benar-Benar Sakit


__ADS_3

Suara


desisan yang begitu dalam merambat ke telinga Excel, sehingga membuat matanya membuka. Sejenak


menajamkan seluruh indra, memastikan darimana suara itu berasal. Keningnya berkerut penuh tanya.  Excel membalik tubuhnya menemui


si pemilik suara. Tampak olehnya, tubuh Naja menekuk, tangannya tampak bergerak seirama seperti


sedang membelai perutnya.


Excel


segera menggeser tubuhnya mendekat, “Na, kau kenapa?” cemas membingkai wajah


yang masih terlihat mengantuk itu. Tangannya terulur untuk membalik tubuh Naja.


Namun , si pemilik tubuh sepertinya


memberatkan dirinya, enggan sekali menurut pada ajakan suaminya, sehingga


membuat Excel semakin cemas dan mengulurkan kepala di atas tubuh Naja. Napas


Excel membeku sesaat.


“Kau sakit?” tak sabar menunggu jawaban,


telapak tangan ramping nan panjang itu mencari jawaban sendiri. Meraba kening yang


berpeluh dingin dan menyekanya, “Kau sakit, Na?!” Antara bertanya dan berseru,


Excel segera bangkit untuk memeriksa kondisi tubuh istrinya, ia berpindah ke


depan Naja dan duduk berjongkok di lantai' menumpu tepian ranjang. Matanya tak lekang mengamati


wajah istrinya itu.


Naja melepaskan gigitan bibirnya tatkala


ingin menjawab Excel, “Hanya nyeri haid saja, Cel ... akan sembuh dengan


sendirinya besok pagi.” ia memang merasakan nyeri haid setiap bulan, tetapi


kali ini adalah yang paling parah . Mata Naja terbuka untuk meyakinkan Excel


akan keadaannya.


Manik mata Excel mengerling jam yang


berada di meja lampu sebelah Naja. Dini hari.  “Apa kau setiap bulan mengalami hal ini?” ia merasakan benar jika Naja tengah


menahan sakit yang luar biasa, hingga wajahnya yang memang sudah putih itu


semakin memutih. Anggukan kecil di sertai desisan dalam kembali terdengar,


sebagai jawaban. Naja membenamkan wajahnya pada bantal, kedua tangannya memeluk


perutnya sendiri ketika ia merasakan gelenyar nyeri kembali mendatanginya.


“Na ... kita ke dokter saja, ya? Atau ku


panggilkan Mama?” Excel berdiri, tetapi Naja meraih tangan kekar suaminya


sehingga membuatnya mengurungkan langkah untuk beranjak.


“Jangan membuat keributan hanya karena masalah


seperti ini, aku akan mengompres nya dengan air hangat dan segera tidur pasti


akan segera reda.” Tatapan pasangan itu saling beradu beberapa saat, sebelum


Naja mengakhirinya terlebih dahulu. Ia menurunkan kakinya berniat beranjak ke


dapur, namun sebelum ia sampai mengangkat tubuhnya, Excel terlebih dahulu


mencegahnya.


“Biar aku saja, beritahu saja bagaimana


caranya! Apa itu seperti mengompres saat demam?” matanya masih menatap Naja

__ADS_1


penuh perintah, sehingga membuat Naja meluruhkan bahunya.


“Pakai botol kaca aja, Cel ... biar ngga


membuat kasurmu basah dan kotor.”


“Jangan memikirkan hal yang tidak penting


saat ini, kasur yang basah bisa dikeringkan, yang kotor bisa di cuci!” ucap


Excel sedikit ketus sebelum beranjak meninggalkan kamar.


Naja menatap kosong ke sembarang arah


setelah mengantar kepergian Excel. “aku ‘kan hanya tidak ingin airnya


berceceran membasahi kasur dan  selimut yang malah akan membuat tidurku tidak


nyaman nantinya ....” ucapan yang hanya ada dalam hatinya, hatinya selalu


mencelos saat Excel berkata ketus kepadanya. Naja menghembuskan napasnya,


mungkin ia harus memupuk sabar yang ia rasa semakin luruh daunnya.


“Ouch ... sakit sekali.” Rintih Naja


kembali merebahkan tubuhnya yang sempat terbangun.


“Minumlah dulu ...!’ Naja membuka mata


yang baru saja ia pejamkan, matanya menangkap penuh bayangan suaminya yang


telah berjongkok lagi di depannya. Mengulurkan gelas yang dipenuhi air hangat.


Naja menerima dan segera meminumnya. “Aku tidak menemukan botol kaca, tidak apa


‘kan pakai handuk?”


“Tidak apa-apa ...,” Naja menggeleng setelah


menenggak air dalam gelas itu hingga tak menyisakan setetes pun di sana. Ia


meletakkan gelas pada meja di sebelahnya. "Makasih ...."


kecil yang ia rendam air hangat dalam sebuah wadah. Tangannya dengan tangkas


terulur di atas perut Naja, menyibak piama yang menutupi perut rata nan kecil


milik Naja. Tetapi, Naja buru-buru menahan kain bermotif bunga itu, ia tampak


malu.


“Bi-biar ku lakukan sendiri saja, Cel ...,”


Naja kembali meringis saat ia bergerak dengan tiba-tiba.


“Jangan banyak gerak dulu ... biar aku


yang melakukannya, kau berbaringlah, yang penting kau sembuh, jangan pikirkan hal lain!” perintah Excel lembut. Ia kembali


menurunkan pandangannya pada handuk biru muda yang tertempel di kulit perut


Naja.


Meski ia merasa tidak enak hati dan malu,


Naja menurut saja. Ia merebahkan kepalanya, berbaring dengan benar dan tenang,


tetapi tangannya masih menahan piama di atas diafragma perutnya.


Dengan telaten, Excel mengompres perut


Naja,  bolak balik   ia menghangatkan handuk bila dirasa handuk


itu mulai dingin. Mata Naja enggan berpaling dari wajah Excel yang tampak


serius, telapak tangan Excel menempel ketat di atas handuk hangat itu. Tampan


mempesona seperi biasa. Naja membenarkan posisi kepalanya untuk menikmati rasa

__ADS_1


hangat yang menjalar di perut hingga keseluruh tubuh, nyaman dan membuatnya


rileks.


Mata itu enggan sekali diajak berkompromi


sekadar berkedip, sehingga ketika Excel mengangkat wajahnya yang tertunduk,


tatapan mereka kembali saling terkunci. Lama dan dalam, hingga akhirnya mereka


serempak memutuskan tautan mata mereka. Suasana dipenuhi rasa canggung yang


luar biasa, baik Excel maupun Naja kini sama-sama menggaruk tengkuk


masing-masing.


“Maaf, sudah mengganggu tidurmu ...!” Naja


melipat bibirnya, ia merasa tak enak hati sudah merepotkan Excel dini hari buta


seperti ini, juga untuk basa basi membelah suasana yang terasa canggung.


“Tidak apa-apa,” jawab Excel kembali


datar. “airnya sudah dingin, aku akan menggantinya dulu.” Naja mengangguk kecil


dan membiarkan Excel melakukan apa yang ia ucapkan.


“Kau itu idaman atau kutukan, sih?


Sebentar ketus, sebentar baik ... kadang malaikat kadang laknat,” udara dalam


tubuh Naja kembali terembus perlahan. Pasrah, jika seumur hidupnya akan


berdampingan dengan pria yang sama sekali tidak bisa ditebak.


Pintu kamar mandi menjeblak terbuka, “Cepat


sekali? Apa kau naik sapu terbang?” gurau Naja menyembunyikan pikirannya.


“Iya ... aku baru saja pinjam dari Aladin


...,” gerakan tangannya menutup pintu perlahan, tangannya yang lain menyangga


wadah berisi air yang mengepulkan asapnya samar.


“Itu karpet terbang ....”


“Sama-sama terbang ‘kan?” jawab Excel


santai, membuat bibir Naja terbungkam dalam kebisuan.


Mata Naja mengawasi langkah suaminya,


“banyak sekali kau isi airnya? Dan itu tampak sekali panas!” memindai dengan


curiga.


Excel berdecak sembari melayangkan tatapan


tajam pada Naja. Ia kembali duduk di tempatnya semula, “cerewet


sekali ... sudah diurus juga! Apa kau sudah sembuh sehingga bibirmu mulai tak


bisa diam?”


Nah ‘kan? Baru juga diomongin, udah keluar


tuh sikap laknatnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maafkan typo yak ... belum sempat revisi ...


Happy Reading


__ADS_2