
Suara
desisan yang begitu dalam merambat ke telinga Excel, sehingga membuat matanya membuka. Sejenak
menajamkan seluruh indra, memastikan darimana suara itu berasal. Keningnya berkerut penuh tanya. Excel membalik tubuhnya menemui
si pemilik suara. Tampak olehnya, tubuh Naja menekuk, tangannya tampak bergerak seirama seperti
sedang membelai perutnya.
Excel
segera menggeser tubuhnya mendekat, “Na, kau kenapa?” cemas membingkai wajah
yang masih terlihat mengantuk itu. Tangannya terulur untuk membalik tubuh Naja.
Namun , si pemilik tubuh sepertinya
memberatkan dirinya, enggan sekali menurut pada ajakan suaminya, sehingga
membuat Excel semakin cemas dan mengulurkan kepala di atas tubuh Naja. Napas
Excel membeku sesaat.
“Kau sakit?” tak sabar menunggu jawaban,
telapak tangan ramping nan panjang itu mencari jawaban sendiri. Meraba kening yang
berpeluh dingin dan menyekanya, “Kau sakit, Na?!” Antara bertanya dan berseru,
Excel segera bangkit untuk memeriksa kondisi tubuh istrinya, ia berpindah ke
depan Naja dan duduk berjongkok di lantai' menumpu tepian ranjang. Matanya tak lekang mengamati
wajah istrinya itu.
Naja melepaskan gigitan bibirnya tatkala
ingin menjawab Excel, “Hanya nyeri haid saja, Cel ... akan sembuh dengan
sendirinya besok pagi.” ia memang merasakan nyeri haid setiap bulan, tetapi
kali ini adalah yang paling parah . Mata Naja terbuka untuk meyakinkan Excel
akan keadaannya.
Manik mata Excel mengerling jam yang
berada di meja lampu sebelah Naja. Dini hari. “Apa kau setiap bulan mengalami hal ini?” ia merasakan benar jika Naja tengah
menahan sakit yang luar biasa, hingga wajahnya yang memang sudah putih itu
semakin memutih. Anggukan kecil di sertai desisan dalam kembali terdengar,
sebagai jawaban. Naja membenamkan wajahnya pada bantal, kedua tangannya memeluk
perutnya sendiri ketika ia merasakan gelenyar nyeri kembali mendatanginya.
“Na ... kita ke dokter saja, ya? Atau ku
panggilkan Mama?” Excel berdiri, tetapi Naja meraih tangan kekar suaminya
sehingga membuatnya mengurungkan langkah untuk beranjak.
“Jangan membuat keributan hanya karena masalah
seperti ini, aku akan mengompres nya dengan air hangat dan segera tidur pasti
akan segera reda.” Tatapan pasangan itu saling beradu beberapa saat, sebelum
Naja mengakhirinya terlebih dahulu. Ia menurunkan kakinya berniat beranjak ke
dapur, namun sebelum ia sampai mengangkat tubuhnya, Excel terlebih dahulu
mencegahnya.
“Biar aku saja, beritahu saja bagaimana
caranya! Apa itu seperti mengompres saat demam?” matanya masih menatap Naja
__ADS_1
penuh perintah, sehingga membuat Naja meluruhkan bahunya.
“Pakai botol kaca aja, Cel ... biar ngga
membuat kasurmu basah dan kotor.”
“Jangan memikirkan hal yang tidak penting
saat ini, kasur yang basah bisa dikeringkan, yang kotor bisa di cuci!” ucap
Excel sedikit ketus sebelum beranjak meninggalkan kamar.
Naja menatap kosong ke sembarang arah
setelah mengantar kepergian Excel. “aku ‘kan hanya tidak ingin airnya
berceceran membasahi kasur dan selimut yang malah akan membuat tidurku tidak
nyaman nantinya ....” ucapan yang hanya ada dalam hatinya, hatinya selalu
mencelos saat Excel berkata ketus kepadanya. Naja menghembuskan napasnya,
mungkin ia harus memupuk sabar yang ia rasa semakin luruh daunnya.
“Ouch ... sakit sekali.” Rintih Naja
kembali merebahkan tubuhnya yang sempat terbangun.
“Minumlah dulu ...!’ Naja membuka mata
yang baru saja ia pejamkan, matanya menangkap penuh bayangan suaminya yang
telah berjongkok lagi di depannya. Mengulurkan gelas yang dipenuhi air hangat.
Naja menerima dan segera meminumnya. “Aku tidak menemukan botol kaca, tidak apa
‘kan pakai handuk?”
“Tidak apa-apa ...,” Naja menggeleng setelah
menenggak air dalam gelas itu hingga tak menyisakan setetes pun di sana. Ia
meletakkan gelas pada meja di sebelahnya. "Makasih ...."
kecil yang ia rendam air hangat dalam sebuah wadah. Tangannya dengan tangkas
terulur di atas perut Naja, menyibak piama yang menutupi perut rata nan kecil
milik Naja. Tetapi, Naja buru-buru menahan kain bermotif bunga itu, ia tampak
malu.
“Bi-biar ku lakukan sendiri saja, Cel ...,”
Naja kembali meringis saat ia bergerak dengan tiba-tiba.
“Jangan banyak gerak dulu ... biar aku
yang melakukannya, kau berbaringlah, yang penting kau sembuh, jangan pikirkan hal lain!” perintah Excel lembut. Ia kembali
menurunkan pandangannya pada handuk biru muda yang tertempel di kulit perut
Naja.
Meski ia merasa tidak enak hati dan malu,
Naja menurut saja. Ia merebahkan kepalanya, berbaring dengan benar dan tenang,
tetapi tangannya masih menahan piama di atas diafragma perutnya.
Dengan telaten, Excel mengompres perut
Naja, bolak balik ia menghangatkan handuk bila dirasa handuk
itu mulai dingin. Mata Naja enggan berpaling dari wajah Excel yang tampak
serius, telapak tangan Excel menempel ketat di atas handuk hangat itu. Tampan
mempesona seperi biasa. Naja membenarkan posisi kepalanya untuk menikmati rasa
__ADS_1
hangat yang menjalar di perut hingga keseluruh tubuh, nyaman dan membuatnya
rileks.
Mata itu enggan sekali diajak berkompromi
sekadar berkedip, sehingga ketika Excel mengangkat wajahnya yang tertunduk,
tatapan mereka kembali saling terkunci. Lama dan dalam, hingga akhirnya mereka
serempak memutuskan tautan mata mereka. Suasana dipenuhi rasa canggung yang
luar biasa, baik Excel maupun Naja kini sama-sama menggaruk tengkuk
masing-masing.
“Maaf, sudah mengganggu tidurmu ...!” Naja
melipat bibirnya, ia merasa tak enak hati sudah merepotkan Excel dini hari buta
seperti ini, juga untuk basa basi membelah suasana yang terasa canggung.
“Tidak apa-apa,” jawab Excel kembali
datar. “airnya sudah dingin, aku akan menggantinya dulu.” Naja mengangguk kecil
dan membiarkan Excel melakukan apa yang ia ucapkan.
“Kau itu idaman atau kutukan, sih?
Sebentar ketus, sebentar baik ... kadang malaikat kadang laknat,” udara dalam
tubuh Naja kembali terembus perlahan. Pasrah, jika seumur hidupnya akan
berdampingan dengan pria yang sama sekali tidak bisa ditebak.
Pintu kamar mandi menjeblak terbuka, “Cepat
sekali? Apa kau naik sapu terbang?” gurau Naja menyembunyikan pikirannya.
“Iya ... aku baru saja pinjam dari Aladin
...,” gerakan tangannya menutup pintu perlahan, tangannya yang lain menyangga
wadah berisi air yang mengepulkan asapnya samar.
“Itu karpet terbang ....”
“Sama-sama terbang ‘kan?” jawab Excel
santai, membuat bibir Naja terbungkam dalam kebisuan.
Mata Naja mengawasi langkah suaminya,
“banyak sekali kau isi airnya? Dan itu tampak sekali panas!” memindai dengan
curiga.
Excel berdecak sembari melayangkan tatapan
tajam pada Naja. Ia kembali duduk di tempatnya semula, “cerewet
sekali ... sudah diurus juga! Apa kau sudah sembuh sehingga bibirmu mulai tak
bisa diam?”
Nah ‘kan? Baru juga diomongin, udah keluar
tuh sikap laknatnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan typo yak ... belum sempat revisi ...
Happy Reading