Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Kepergok Diam-Diam


__ADS_3

Naja keluar kamar Jen usai bertukar suara dengan Ai yang membuatnya semakin resah dan bimbang. Ia tak mau sampai Jen tahu dirinya sedang tidak baik-baik saja. Naja melemparkan dirinya di kaca tebal sebagai pembatas ruangan lantai dua rumah mewah ini. Meremas kaca yang hanya sebatas perutnya dengan kuat, menyalurkan rasa yang entah mana dulu yang harus ia ungkapkan. Ya ... bila bualan Excel tidak diucapkan di hadapan orang tuanya, tentu Naja tak perlu takut hingga sebesar ini. Mudah saja dia menghindar dari hadapan Excel, menjauh sejauh-jauhnya, tanpa perlu memikirkan rasa sungkan terhadap orang tua Excel yang selama ini terlalu baik terhadapnya.


Naja mendesah dalam, bahkan merintih. Tetapi saat mendengar pintu di belakangnya terbuka, Naja segera menyeka air mata di pipinya. Berdiri mematung, sampai si pemilik pintu menjauhkan diri dari sana. Namun hingga beberapa saat, tidak terdengar derap langkah atau suara pintu menutup, membuat Naja penasaran dan menoleh perlahan.


Jantung Naja mulai berdetak dengan gelisah, ulu hatinya berdesir nyeri saat menatap mata bermanik gelap di depan pintu. Beradu pandang begitu lama. Gentar tapi Naja melawan, siapa dia berani mengatakan omong kosong tanpa rasa bersalah, dasar tak punya hati. Batin Naja menggerutu, menyumpah serapah hingga terlahir di sudut bibirnya.


“Kau pikir aku akan benar-benar mengakuimu?” sinis Excel sambil menutup pintu. Niatnya ingin mengambil air minum sebab hingga malam larut, dia belum bisa memejamkan mata.


“Dan apa aku tampak berharap, Tuan?” Naja balik bertanya dengan nada tak kalah sinis.


Excel mendengus, tampak meremehkan Naja dengan hanya meliriknya sekilas. “Lalu untuk apa kau menungguku di sini jika kau tidak berharap aku keluar?”


“Wah ... anda sangat percaya diri rupanya. Anda pikir anda siapa? Pengecut yang tidak mengakui perasaan yang sesungguhnya, dan bersembunyi di bawah perlindungan orang lain, begitu?”


Ucapan Naja memancing pitamnya naik beberapa derajat. Menggelegak menyambar-nyambar. Excel melesat secepat kilat dan meraih tubuh kecil Naja. Menyentak dan menyeret lengan rapuh itu hingga masuk ke dalam kamarnya. Sangat cepat hingga tidak memberi kesempatan Naja untuk melawan.


Membiarkan pintu sedikit terbuka, Excel menyurukkan tubuh Naja ke dinding. Menekannya dengan sorot mata menebar ancaman. Excel memang melepaskan Naja dari cekalan, memberi jarak di antara mereka, tetapi Naja membeku saat tatapan mereka saling mengunci.


“Dengar wanita ... jika saja kau tidak membuat keadaan semakin rumit untukku, tentu kau tidak akan mendapat kesulitan seperti sekarang. Ini adalah akibat ulah mulutmu yang tidak bisa menimbang keadaan.”


Beberapa detik, Naja masih hanyut di lautan ancaman Excel, “Kurasa, aku tidak perlu lagi bersikap hormat atau takut padamu, Excel. Kau lelaki paling buruk dari semua lelaki yang pernah kukenal. Sifatmu yang begitu munafik membuat aku, bahkan Mikha-mu itu memilih pergi. Harusnya kau tahu bahwa ada yang tidak beres dengan otak dan hatimu.”


Naja mendorong tubuh Excel sekuat tenaga, tetapi Excel menyentak lengan Naja hingga kembali menabrak dinding. Mata Naja memejam berpaling menjauhi Excel yang mendekatkan wajahnya.


“Bibir lancangmu itu tidak pantas menyebut nama Mikha. Lebih baik kau diam jika tidak tahu apa yang terjadi.” Desis Excel. Aroma napas Excel begitu kental memenuhi ruang penciuman Naja.


Lancang?

__ADS_1


Gemuruh amarah menggelegak menyemburkan hawa panas memenuhi dada hingga kepala Naja, mengular merah dibagian putih mata Naja. Kepala Naja memutar dengan cepat.


Hingga bibir Naja mendarat mulus di atas bibir Excel yang setengah terbuka.


Manik mata keduanya melebar sempurna. Beberapa saat mereka seolah enggan berjauhan, membeku dengan perasaan bergejolak. Mendesak naik hingga mereka tidak mampu menata napas.


Naja mendorong lagi tubuh Excel yang kaku seperti gedebok pisang. Terasa berat karena tenaga Naja seperti habis terisap oleh adegan oh, bukan ... ucapan Excel barusan. Kakinya terasa lumpuh saking marah dan kesalnya dia kepada Excel. Namun, untuk mencecar Excel dengan berbagai umpatan, dia juga tak lagi mampu. Gemetaran Naja keluar kamar yang seumur hidupnya tinggal di rumah ini, baru sekali dipijaknya.


Excel tak bergeming dari posisinya, masih menerjemahkan dentuman jantung yang tak berirama tetapi malah menimbulkan sensasi aneh yang menyenangkan. Tiba-tiba hidungnya dipenuhi aroma lembut dan penuh gairah.


Excel meremas dadanya yang penuh dan seakan mau meledak. Bahkan tubuhnya limbung, sehingga dia menumpukan tangannya di dinding.


“Apa benar Mikha pergi karena sikap burukku?” Excel merosot, ambruk di lantai yang dingin. Kepada siapa dia bertanya?


“Mikha ... kembalilah, setidaknya jelaskan padaku kenapa kau pergi.” Jemari Excel meremas rambutnya, menariknya hingga beberapa helai tercabut dari akarnya.


Excel begitu lemah saat ini, terpuruk tak bersisa. Butiran sakit hati luruh sudah. Terlalu lama mengkristal di dalam hatinya, bersembunyi hingga tanpa sadar ujung kristal itu mengoyaknya dari dalam, merobek secercah hati yang mencoba menjahit kasar luka.


“Ada apa Pa?” Kira begitu terkejut saat suaminya masuk kembali ke dalam kamar seperti ketakutan. Dadanya naik turun tanda usai mengalami hal yang mengejutkan.


Harris meraup wajahnya dengan kasar, menelan saliva membasahi tenggorokannya yang terasa gersang.


Penasaran dengan apa yang terjadi, Kira bangkit dan menghampiri suaminya. Memberi ketenangan dengan mengulurkan segelas air yang selalu tersedia di kamar. “Apa ada masalah dengan Jen?” Kira masih mengunci tatapannya pada suaminya yang menenggak air putih dengan tergesa-gesa.


Embusan napas Harris terhempas begitu keras, sambil merangkul bahu Kira, mereka bersisian menuju sofa. “Sayang ... kurasa benar jika kita segera melamar Naja. Bahkan lebih cepat lebih baik.”


Kira yang baru saja mengenyakkan tubuhnya di sofa, memberi suaminya tatapan keheranan. “Papa ngigo ya?” Kemudian Kira menoleh ke arah jam yang masih menunjukkan tengah malam.

__ADS_1


Harris berdecak, begitu gelisah dan seperti kesulitan menjelaskan situasi yang dialaminya barusan. “Sayang ... aku, aku hanya berpikir jika Excel sudah melupakan Mikha dan–dan mungkin saja Excel terlihat ragu karena terjadi perselisihan antara Excel dan Naja,"


Masih belum sepenuhnya mengerti kemana arah pembicaraan suaminya, Kira memperhatikan suaminya yang aneh. Berbicara gagap seperti bukan seorang Harris saja. “Kamu ngomong apa sih, Pa? Tadi aja bilang jangan dulu, kok baru keluar kamar langsung setuju? Ini kan aneh?”


“Entahlah ... setelah kupikir lagi, Naja dan Excel harus segera menikah dan menjauhkan Excel dari Mikha ... aku khawatir jika Mikha kembali dan menyakiti Excel lagi.”


“Bagus kalau Papa setuju denganku,” Kira manggut-manggut, jika alasannya Mikha, Kira tidak akan ragu lagi. “kita akan melamar ke rumah Naja setelah keadaan Papa stabil aja, Pa.”


“Kita pikirkan lagi nanti ...,” Harris beranjak dari sofa, diikuti Kira yang sebenarnya heran dengan sikap suaminya, “sudah malam, sebaiknya segera tidur, besok aku ada rapat pagi, Yang.”


Kira meletakkan gelas yang sedari tadi berada dalam genggamannya di atas nakas. Kemudian menyusul suaminya yang sudah menantinya di balik selimut. “malam Pa ...,” Kira mengecup pipi suaminya dan segera mendaratkan kepalanya di bantal. Meski masih diselimuti tanya, Kira memilih diam, selama apa yang menjadi keputusan suaminya seiras dengan keinginannya.


“Malam juga, Yang.” Harris pun segera memejamkan matanya setelah mengecup kening istrinya, meski belum tidur.


“Maaf Cel, Papa harus melakukan ini karena Papa tidak mau jika kamu sampai seperti Papa. Dan menyakiti hati Mama jika sampai tahu kamu dan Naja sudah terlalu jauh.”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2