
Entah ini hari keberapa, Naja harus menelan kekecawaannya lagi karena ia tak berhasil berjumpa dengan Tristan meski ia telah mengintainya sepanjang pagi. Pria itu sepertinya memang menghindari Naja, hingga membuat Naja uring-uringan tak jelas, baik pada Lisa maupun pada Sam yang mencoba menghentikannya.
Namun, bibir wanita itu merekahkan senyum saat ia melihat jas milik Tristan yang baru saja di bawa masuk ke dalam ruangan Sam. Tristan tidak mau fitting baju di ruangan yang dipakai orang lain, ia selalu melakukannya di ruangan Sam. Cermin besar bertahtakan lampu memenuhi setengah ruangan Sam.
“Kapan dia ke sini?” tanya Naja pada Sam yang memberikan instruksi pada beberapa anak buahnya.
“Entahlah ... mungkin menunggu lo lengah atau mungkin dia beneran sibuk,” Sam tidak menoleh sama sekali, ia sibuk menata ruangannya agar terlihat rapi.
“Katakan padanya, aku libur sekarang ...,” titah Naja pada Sam yang langsung menoleh ke arah Naja.
“Jangan bertindak macam-macam, gue ngga mau suami lo semakin marah sama gue!” seru Sam tajam. Ia sudah diultimatum oleh sahabatnya itu agar menjaga Naja, jangan sampai Naja mendekati Tristan barang sejengkal pun. Selain iya, apa Sam punya pilihan?
“Kalau begitu jangan sampai dia tahu ... aku akan keluar sebentar hingga Tristan datang ...,” Naja berlalu pergi tanpa membiarkan Sam menyetujui atau menolak permintaan Naja.
“Ngga laki ... ngga perempuan, sukanya maksa.” Gerutu Sam sembari mengambil ponselnya. Ia menghubungi Tristan bila saja ia mau datang sekarang.
“Kasih tahu Excel ngga, ya?” batin Sam dengan ponsel tergenggam di tangannya, sejenak berpikir apa alasan yang akan ia gunakan agar Tristan mau datang hari ini. Sam mengangkat bahunya, mencoba peruntungannya kali ini.
***
Naja berniat menantikan kedatangan Tristan di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah mode Sam, ia memilih makan siang lebih awal, lagi pula ia sering cepat lapar sekarang. Tak peduli malam buta, atau dini hari, ia akan mengisi perutnya, tergantung Excel yang kini tidak tahu waktu mengganggu tidurnya.
Tetapi langkah Naja terhenti saat matanya menangkap pemandangan yang menyakiti matanya. Ia menatap intens, dua orang yang sedang berbicara di dalam ruangan kaca, meski ia tak bisa mendengarnya, ia yakin mereka tengah membicarakan hal yang sangat serius.
“Pasangan yang terpisah kini telah kembali bersama, ya ....” Tanna sudah berdiri di sebelah Naja. Wajah wanita itu tampak dipenuhi kebahagiaan. “... aku senang sekali melihat pemandangan ini, meski aku tak bisa memiliki Excel, tapi aku senang melihat mereka bersama dan bahagia.”
Naja terkesiap, "Tanna ...?" gumamnya, buru-buru menarik bibirnya sekilas, ia hanya menatap sahabatnya itu sejenak. Ia tak ingin sakit hati yang tiba-tiba muncul menguasai wajahnya itu terbaca oleh Tanna. “Kamu sedang apa di sini?”
__ADS_1
“Tidak ada ... kebetulan saja berada di sini, dan kebetulan juga kau ada di sini ... bagaimana kalau kita makan bareng,” ajak Tana dengan gayanya yang manja. Gadis itu meraih pertengahan lengan Naja, menariknya lebih dekat ke pintu. Tetapi Naja buru-buru menahan langkahnya, sehingga Tanna segera berbalik menghadapi Naja.
“Tan ... sepertinya aku harus mengecewakanmu ... aku harus kembali ke butik, aku rasa aku terlalu lama di sini ...,” Naja memang tidak terlalu pandai membuat alasan, apalagi berbohong, ia sungguh tidak terbiasa. Sehingga sering kali ia tak kuasa menolak ajakan temannya. Seperti saat ini.
Tanna membalik tubuhnya. “Kenapa? Jangan bilang kau cemburu melihat mereka?” Tanna melepaskan cekalannya, ia menatap tajam sahabatnya itu. “ Na ... tidak seharusnya kamu baper gara-gara Excel pernah mengakuimu di hadapan orang tuanya. Aku yakin Excel saat itu tidak punya pilihan, dan aku yakin, kau juga sama senangnya denganku saat melihat mereka bersama lagi, iya ‘kan?”
“Aku ... aku tidak tahu ...,” Naja mengedipkan matanya dengan cepat, mengusir air mata yang sudah menumpuk. Ia sungguh tidak tahu perasaannya saat ini, yang pasti ia merasa kecewa, “... sebaiknya aku kembali, Tan ... maaf mengecewakanmu.” Naja berbalik dan segera pergi dari kafe itu. Meninggalkan Tanna yang menatap kepergian Naja dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.
Naja berusaha kembali fokus setelah melihat suaminya dan Mikha, ia tak mau terpengaruh dengan kejadian tadi dan berusaha berpikir positif. Lagi pula, Naja tak berniat melepaskan Excel begitu saja, sekalipun ucapan Tanna tadi ada benarnya. Ia yakin banyak yang bisa ia lakukan bila Excel mulai terpengaruh mantannya itu.
Dering singkat terdengar dari ponsel yang berada di sakunya. Perlahan ia mengambil ponsel itu dan membukanya.
"Dimana? Tristan dateng ... sebaiknya lo siap-siap, tunggu kode dari gue agar semuanya ngga berantakan."
Naja menggenggam erat ponsel ditangannya, usai membaca pesan tersebut. Ia hanya berharap, urusan suaminya dengan Tristan segera selesai. Naja merasa, Tristan terlalu kekanak-kanakan dengan memperbesar masalah yang terdengar sepele.
Tiga puluh menit penuh, telinga Naja dipenuhi suara orang lalu lalang dengan wajah panik. Naja menebak, Tristan menunjukkan sikap berkuasa dan teliti khas seorang Tristan. Hingga seruan penuh kelegaan dari salah seorang karyawan Sam, membuat Naja segera memasukkan beberapa barang ke dalam tas yang telah ia sediakan tadi.
Dan suara Sam yang sengaja ia keraskan agar Naja mendengar, membuat Naja berkeringat dingin dan menggigil di ulu hati. Meski begitu ia telah siap dengan tangan mencengkeram gagang pintu. Begitu derap langkah Tristan mulai merambat di telinganya, Naja segera mendorong pintu dan pura-pura sibuk dengan barang-barangnya.
Tristan yang diikuti Maureen, melambatkan laju langkahnya saat melihat Naja menguasai lorong menuju lift ini. Keangkuhan di wajah pria itu naik dengan cepat dan tampak mengabaikan Naja.
"Anda menghalangi jalan kami, Nona ...," tegur Tristan dengan suara khasnya yang tajam dan mendominasi.
Langkah Naja terhenti tepat di depan Tristan, berjarak dua langkah. Naja menaikkan wajahnya dengan perlahan menjumpai Tristan. Lantas ia menoleh ke kanan dan kiri, sebelum kembali menatap Sam dengan kedua alis terangkat, "Benarkah? Kurasa lorong ini masih luas bahkan untuk berjalan sepuluh orang sekaligus!" menatap Tristan tak kalah angkuh dan tajam, ucapan Naja bahkan terdengar lebih menusuk.
Tristan mendengkuskan napasnya. "Bersuami pria kaya dan berkuasa membuat anda menjadi wanita arogan dan bersikap kurang ajar rupanya, Nona ... tetapi kurasa sikap anda itu tidak akan bertahan lama, karena baik harta dan kekuasaan suami anda akan segera lenyap." bibir Tristan meliuk penuh kesombongan.
__ADS_1
"Oh ya?" Naja menegakkan kepalanya yang semula miring. "Dan apa itu karena pria yang bersembunyi di balik kekuasaan orang tuanya hanya karena masalah kecil saja? Kurasa pria sejati adalah pria yang berlapang dada saat penolakan dan kekalahan datang padanya."
"Heuh ... wanita di balik keluarga Dirgantara rupanya memiliki nyali yang tinggi." bibir Tristan mencibir saat ia mulai jengah dengan keberanian Naja yang memojokkannya. Tristan memang melebih-lebihkan permasalahan yang ada saat mengadu kepada ayahnya, sehingga mengundang murka sang ayah. Sejenak ia berpikir, ekor matanya melirik Naja yang masih menatapnya intens.
"Kenapa, Tuan? Apa ucapanku benar? Sebaiknya anda segera mengatakan kebenaran pada orang tua anda, di sini masalah bisa lebih sederhana jika kita membicarakannya dengan hati-hati dan memakai logika."
Tristan mendesis semakin jengah. Giginya beradu ketat, geram karena ada wanita yang begitu berani menantang dan mengatai dirinya sesuka hati.
"Jika anda masih ingin memakai saya, mari kita bicarakan untung ruginya, bagi anda tentunya, karena saya tidak akan merasa rugi sekalipun saya mengacaukan acara anda, benar? Suami saya tahu batasan saya dan saya menyadari kekurangan saya ... apa itu juga belum membuat anda bisa mengerti?"
"Baiklah ... rupanya saya tidak mempunyai celah untuk menghindari anda, Nona." Tristan mengibaskan tangannya di depan Naja, seperti meredakan kegusaran Naja.
"Baiklah ... aku mengakui jika sebenarnya ada hal yang lebih serius yang membuat saya tidak bisa berhenti menyerang suami anda ... dan pastinya anda belum mengetahui ini," Senyum penuh misteri menghiasi bibir Tristan. Ia melangkah maju dan berbicara, "Katakan pada suami anda, jangan suka mencampuri urusan orang lain ... meski membantu seseorang yang lemah adalah sebuah kebaikan yang patut dibanggakan!"
Kalimat penuh penekanan dari Tristan membuat Naja mengerutkan kening. Ia menatap Tristan menuntut penjelasan. Apalagi pria itu terkekeh penuh kemenangan.
Tristan berlalu dengan tawa kemenangan menghiasi bibirnya. Ia melenggang, melewati Naja begitu saja. Sementara Maureen, ia tersenyum penuh sungkan pada Naja. Bibir wanita itu meliukkan ucapan maaf tanpa suara.
.
.
.
.
.
__ADS_1