
Acara pernikahan Shaphira dan Eric digelar di sebuah pantai dengan pasir putih di depan sebuah hotel yang menghadap ke pantai. Menghadap matahari senja dan terpaan angin yang begitu kuat menghempas, para tamu menyipitkan mata saat silau cahaya mentari sore yang begitu cerah itu tak lagi terhalang oleh mendung.
Di pintu masuk, bergerombol tetamu yang mengantre untuk memindaikan barcode yang telah disertakan pada setiap undangan. Pun dengan Excel dan Naja, mereka berdua tampak serasi dengan tuksedo hitam dan Naja dengan gaun perak yang ketat membalut tubuh kecilnya.
Naja mengamit lengan suaminya dengan bibir maju beberapa senti. Wanita itu tampak kesal, sebab ia memakai sneakers yang berhasil membuat orang yang melihatnya menahan senyum. Pun dengan gaun ketat ini dan panjangnya tidak mencapai mata kakinya itu adalah pilihan suaminya tercinta ini. Ia mengembalikan gaun yang dipilih oleh Naja dan menggantinya dengan gaun sedikit berat dan melekat pas di badannya. Meski Naja akui, gaun ini cukup nyaman dipakainya. Namun tetap saja, semua orang disini menatapnya aneh, mereka sebagian besar memakai dress panjang menjuntai atau dress selutut yang berlayer.
“Kondisikan bibirmu, atau aku akan membuatmu semakin malu di sini!” bisik Excel yang membuat telinga Naja geli setengah mati. Bisikan sensual itu tidak terdengar seperti ancaman, tetapi sedikit menyulut tungku gairah di dalam dada Naja.
Namun, ia segera menyingkirkan rasa yang menggelitiki hingga nyaris terlahir sebagai desahan napas dan bibir yang tercapit dalam. Mengusir rasa meremang di sekujur tubuhnya, Naja menghujam suaminya dengan tatapan tajam.
“Ini semua gara-gara kamu! Lihat semua orang mengejekku, mana ada ke pesta memakai sepatu beginian? Yang ada aku dikira mau joging ...,” bisik Naja tajam menekan di setiap katanya. Ingin rasanya dia memarahi Excel—yang tersenyum di balik tangan menutupi bibirnya—dengan suara lantang saking kesalnya, tetapi ia memilih menahan itu semua. Menyimpannya untuk nanti.
Antrean bergerak maju, di belakang mereka berjejal wanita seumuran Shaphira terdengar terkikik dan mencuri pandang dengan terus terang pada kaki Naja yang menjadi pusat perhatian. Naja menggeram kesal hingga ia meremas lengan yang tengah dipegangnya.
Terkekeh, Excel kembali membisikkan sesuatu di telinga Naja. “Berani bertaruh, yang mengejekmu, nanti akan menunduk penuh hormat padamu, mereka akan menyanjungmu! Aku pertaruhkan jatah bercintaku denganmu selama satu minggu penuh, bagaimana?”
Plak ....
Tamparan keras mendarat di lengan yang berada dalam apitan Naja. “Mana ada taruhan mes um begitu?” Sorot mata Naja kembali tajam, mengecam.
“Apa taruhanmu?” tantang Excel dengan memajukan dagunya sekilas.
Naja melirik suaminya yang tampak tak main-main dengan apa yang dia ucapkan. Dia terlihat begitu yakin dengan apa yang ia pertaruhkan. Ekspresinya kokoh dan tak acuh.
Mendadak waspada, Naja menyapukan pandangannya pada busana yang dikenakan para tamu lalu memandang dirinya sendiri. Mereka tampak baik-baik saja dengan gaun melambai dan sepatu hak tingginya.
Naja menyipitkan matanya, mendesis, “Baik ... aku terima, jika kau benar, aku menuruti apa maumu tapi jika aku malah ditertawakan, kau harus ... menurut pada apa yang aku katakan. Deal?”
Tangan mereka yang bebas saling mengadu. Saling berpadu pandang dalam keteguhan prinsip mereka sendiri. Naja menebarkan ancaman, tetapi Excel merentangkan senyum geli. Membiarkan saja Naja yang bersorak sebelum tiba di arena.
Gerakan antrean kini telah sampai pada mereka berdua. Excel mengulurkan kartu miliknya, dan langsung dipersilakan masuk bahkan saat kartu Excel tidak menyentuh alat sensor barcode.
Dipandu seseorang, mereka di giring menuju area terbuka di atas pasir pantai. Angin laut langsung menerpa wajah kedua orang itu. Kering dan dingin.
Tak ada tenda atau dekorasi yang berlebihan selain rangkaian bunga melengkung dan sebuah panggung yang akan di jadikan altar pernikahan. Karpet tergelar dari tempatnya berdiri hingga mencapai panggung kecil tersebut.
Naja dan Excel melangkah ringan menuju kursi yang telah tersedia tanpa melepas tautan tangan.
__ADS_1
Kasak kusuk dan keluhan terdengar dari bibir para tamu yang duduk tak jauh dari posisi Naja saat angin kembali gencar bertiup. Menerbangkan tirai tipis yang mendampingi dekorasi bunga di atas panggung. Seikat balon tampak bergoyang indah di sisi panggung.
Pekikan keras terdengar dari arah belakang Naja, membuat perhatian seluruh tamu terarah pada suara itu. Seorang wanita tampak memegangi ujung gaun yang tertiup angin.
“Pegangi gaunmu dengan benar ... aku tak mau kau sampai membuat aku malu.”
Naja menoleh ke arah tamu pria yang duduk di belakang Excel. Ia melihat banyak sekali tamu yang kerepotan dengan gaun dan langkahnya. Pasir tentu sangat menyulitkan mereka berjalan dan angin membuat mereka kurang nyaman sebab menerbangkan gaun mereka.
Sementara Naja sibuk memerhatikan para tamu itu, Excel menyapa beberapa rekan yang ia kenal dengan baik. Hingga dering ponselnya gencar memanggil, ia meminta izin untuk menjawabnya.
Dokter Luna?
Kening Excel berkerut dalam. Seingatnya ... tak ada orang ataupun kerabat dekat yang sedang membutuhkan bantuan dokter kandungan.
Meninggalkan rasa penasaran, Excel segera menjawab panggilan dokter Luna.
“Naja mana, Cel? Kok dia ngga bisa dihubungi?”
“Dia ada di sini, Dok ... kami sedang menghadiri pernikahan teman.”
“Oh ... aku mengirimkan email hasil pemeriksaan Naja ke kamu barusan. Sejak siang nomor istrimu ngga aktif, aku takut dia kan penasaran sekali dengan hasilnya.”
“Kamu lihat saja dulu ... nanti aku hubungi lagi ... lagi main sama anak-anak, nih Cel ...,”
Dokter Luna mematikan sambungan teleponnya, sehingga membuat Excel semakin bergerak cepat membuka surat elektronik yang dikirimkan dokter Luna.
Semakin mengening, Excel menggerakkan manik matanya di atas layar ponselnya. Ia mencermati apa yang tertera dalam surat itu.
Sedetik kemudian, ia mengalihkan tatapannya pada awang-awang yang membatasi langit dan samudra. Ia mencoba menggabungkan segala sesuatu yang terjadi pada Naja belakangan ini dan satu bulan yang lalu. Iya ... ada yang janggal.
“Na ...,” tak sabar, Excel menarik bahu Naja agar wanita itu kembali fokus padanya.
“Apa kau tidak merasakan nyeri datang bulan?” sergahnya saat wajah istrinya memenuhi penglihatannya.
Naja menggeleng dengan heran. “Kenapa?”
“Kau tidak sedang datang bulan?”
__ADS_1
“Tidak ... aku sudah telat dua hari ... memangnya kenapa?”
.
.
Manik mata Naja melebar sempurna ... bibirnya membulat dengan hebatnya. Menepukkan tangannya pada lengan Excel dengan gencar, ia tampak seperti ikan kehabisan napas. Kelabakan.
“Cel ... aku lupa ... aku lupa kalau hari ini aku memeriksakan diri ke dokter Luna. Ya Tuhan ... bagaimana hasilnya, ya?”
Masih menggumamkan astaga berulang-ulang, Naja serampangan membuka tas tangannya.
“Tidak perlu mencari ponselmu ... ini hasilnya sudah di kirim ke sini.”
Excel yang awalnya menepuk keningnya seraya berdecak, kini tersenyum sambil menggoyangkan ponselnya yang menyala dan masih menampakkan hasil pemeriksaan Naja.
Naja menghentikan gerakannya dan membola menatap ponsel dan Excel bergantian. Tangannya mengulur dengan cepat dan menyambar ponsel Excel lalu membaca bagian paling akhir dari surat elektronik itu.
Negative.
Excel menepuk dan mengelus pundak Naja dengan lembut. Ia menahan senyum. Entah ... dia hanya ingin tersenyum.
“Jangan terlalu kecewa ... lagipula ... itu baru—“
Naja memburu bibir Excel dengan telapak tangannya. Menekan bibir suaminya itu dengan kuat sembari menoleh kiri kanan, seakan takut kalau sesiapa mendengar ucapan suaminya yang menggelikan itu.
Terus menekan hingga Excel mengangkat tangannya, menyerah karena mereka kini jadi pusat perhatian.
“Apaan, sih, Na ...?” kesalnya saat berhasil menyingkirkan jemari Naja dari bibirnya.
“Kau pasti mau bilang kalau baru beberapa kali melakukannya ‘kan?” kecam Naja dengan gigi beradu dan mendesis. Ia tak berani berbicara normal, yang malah akan semakin membuat orang-orang tertarik untuk melihat ke arah mereka.
“Tidak ... aku mau bilang kalau baru terlambat dua hari ... bisa saja kau hanya mundur dari jadwal biasanya. Makanya punya otak mikirnya panjangin dikit, pastikan dulu semuanya, baru periksa ... lagian aku saja santai kok, mana mungkin jadi, orang ....”
“Diam, Cel ... diam ... kau ini malah membuatku pusing saja!” pangkas Naja cepat. Ia gemas sekali dengan bicara Excel yang menggelikan dan konyol itu.
Excel kembali tergelak melihat Naja yang merona tetapi tampak kesal itu. “Kau ini lucu sekali ...,”
__ADS_1
Excel mengusap rambut istrinya alih-alih mengacak. Ia tak mau Naja semakin mencucutkan bibirnya dan kesal karena penampilannya berantakan.