
“Ga ... apa Excel dan Naja sudah menikah?” Mikha memburu Rega yang telah ia cari sejak matanya melihat Excel menggendong Naja. Ia begitu cemas menunggu Rega berbalik untuk menjawabnya, seolah tak sabar, ingin rasanya Mikha mendatangi Rega dan meraih bahu pria itu agar segera menatapnya.
Jangan-jangan ... mereka sudah ... ah, ia tak mau memikirkan hal yang membuat dirinya semakin berada di level bawah.
Rega yang tengah memberikan instruksi pada para anak buahnya, menghembuskan napasnya berat. “Iya ... bukankah kau seharusnya tahu sejak dulu?”
Tak dipungkiri Mikha, ucapan Rega menyiratkan ketidak sukaan yang begitu kentara.
“Bagaimana mereka bisa saling mengenal?” Mikha menelan kecewa, ia terlambat memberi tahukan Excel tentang kecurigaannya.
“Naja dulu kerja sama Jen, mereka sudah saling kenal sangat lama ... kau saja yang menghilang terlalu lama hingga tidak tahu Excel sudah move on dari kamu ... kamu juga cepetan cari pengganti sana ... jangan ganggu mereka!”
Mikha menghempaskan napasnya yang terasa berat. Menyandarkan tubuhnya di kaca apartemen, yang menghadap langsung pada suasana malam kota yang begitu gempita. Hiruk pikuk kota sangat kontras dengan suasana hatinya yang sepi.
Ucapan Rega tadi siang begitu lekat dibenaknya. Ia sangat malu telah menuduh Naja yang bukan-bukan di depan Excel. Tentu Excel tertawa dalam hati mendengar tuduhannya itu. Suami mana yang tidak tahu istrinya. Terlebih melihat sikap Excel yang begitu over perhatian pada wanita yang ia anggap miliknya.
“Bodohnya aku ...,” desah Mikha sembari meluruhkan tubuhnya yang sempat tegang. Perlahan ia membawa tangannya mengusap perutnya yang mulai membuncit. Bodoh rasanya saat ia sempat berharap, Excel bersimpati padanya dan berpikir untuk meraihnya.
Mikha tersenyum miring, “Excel bukan orang yang mudah bersimpati, sekalipun aku berusaha mati-matian membuatnya menoleh padaku. Bodohnya aku yang masih berharap padanya.”
Ia membalik posisi tubuhnya, dan berjalan menuju ranjang. Merebahkan tubuhnya yang kini sering lelah, menatap langit-langit. Ia adalah wanita paling bodoh di dunia, saat terbuai oleh ucapan Mateo. Pria itu begitu lihai mempermainkan perasaannya. Mencurahi kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari pria manapun di dunia. Bahkan dari ayahnya sendiri pun, ia tidak pernah diperlakukan dengan baik.
Mikha ingat betul saat ia tengah frustrasi dan lelah karena Rudi terus-terusan melemparkannya pada setiap pria yang membayarnya mahal, setelah Tristan tidak berhasil ia taklukan. Hingga Mateo yang saat itu dengan tulus meraih Mikha, memperlakukan Mikha dengan baik. Penuh perhatian dan kasih sayang. Akhirnya, Mikha hanyut oleh rayuan buaya Mateo, meski ia tahu Mateo dan Tristan adalah ayah dan anak.
Mata Mikha terpejam, ia sungguh menyesal kini. Tristan membencinya, Mateo juga menjauhinya sejak tahu ia hamil. Harta benda peninggalan orang tuanya yang tak seberapa banyaknya itu ludes untuk membayar hutang yang mereka tinggalkan, dan kini dia tak punya siapa-siapa untuk sekadar bersandar dan mencurahkan keluh kesah.
Helaan napas Mikha begitu berat terdengar, ia semakin meraptkan matanya yang tiba-tiba terasa panas. Sendiri, belum pernah ia seorang diri menghadapi dunia, dunianya yang penuh kepalsuan.
Ketukan di pintu membuatnya kembali menapak alam nyata. Meluruhkan semua yang menyesakkan dan memendamnya dalam-dalam. Ia memutuskan untuk menyudahi semuanya, ia ingin menjadi orang yang baru, orang yang lebih baik lagi.
“Ya ... tunggu sebentar,” sahutnya pada ketukan yang kembali terdengar. Mikha berjalan sembari mengikat rambutnya yang panjang, menyambar sweater untuk membalut pakaiannya yang minim.
__ADS_1
“Tanna ...,” sapa Mikha pada wanita cantik yang tengah tersenyum lebar di depan pintu. “... biasanya juga langsung masuk, kenapa pakai mengetuk segala?”
“Aku takut kau ada tamu ...,” jawabnya sembari melangkah masuk.
Mikha mengerutkan keningnya. Tamu? Bukankah dia tahu aku selalu sendiri selama aku tinggal di sini?
“Siapa yang kau maksud, Tan?” rasa penasaran yang meronta untuk lepas, terlahir sudah, Mikha mengekori Tanna yang melangkah lebih dulu di depannya. Ia masih lekat memandang belakang tubuh wanita itu, menanti jawabannya.
Tanna berputar saat ia akan duduk di sebuah sofa, ia memiringkan kepalanya dan tersenyum, “Ku kira Tristan kemari setelah Naja menolaknya. Dan aku minta maaf, Kha ... karena aku tidak mengetahui kalau mereka sudah menikah, seharusnya aku tidak membuatmu terluka dengan melihat ini semua.”
“Aku dan Tristan tidak terlibat hubungan yang seindah itu, Tan ... kami hanya saling memanfaatkan saja. Tidak ada cinta diantara kami ...,” Mikha mendudukkan tubuhnya di depan Tanna. Berusaha menutupi kepahitan akan Excel dengan mengatakan kebenaran hubungannya dengan Tristan yang tak ada bagus-bagusnya.
Tanna menggeser duduknya lebih dekat pada Mikha, meraih tangan wanita itu dan menatapnya penuh penghiburan, “Aku tahu kau dan Excel masih saling mencintai dan aku yakin, sekalipun Naja dan Excel menikah, itu hanya sebuah sandiwara. Setahuku, Naja digunakan Excel untuk menutupi perasaan Excel yang sebenarnya.”
“Tapi aku tidak mau lagi berharap padanya, Tan ... aku hanya setumpuk kotoran dimatanya,” Mikha tersenyum, menutupi getir yang mulai meraja dalam dirinya. Kenyataan yang semakin sakit saat ia mengucapkan sendiri betapa hinanya dia dimata orang.
“Oh ya ... aku akan pindah dari sini secepatnya, Tan ... aku ingin menjalani hidupku seperti orang lain setelah ini," putusnya setelah berpikir beberapa jenak.
***
Sang mentari tampak percaya diri menunjukkan pesonanya, ia gencar berlarian menyusup celah-celah gorden dan tirai yang membingkai kaca. Menusukkan cahayanya yang begitu hangat dan silau di mata seorang wanita yang masih pulas. Tidak berhenti hingga mata wanita itu mengerjap dan perlahan terbuka.
“Pagi Na ... apa tidurmu nyenyak semalam?” suara dingin itu terdengar lucu saat ia berusaha membuatnya lebih hangat. Terdengar aneh hingga Naja tertawa meski matanya belum terbuka sepenuhnya.
“Apa kau memimpikan sesuatu yang lucu?” sambungnya sembari berjalan mendekati ranjang. “apa kakimu sudah baikan?”
“Tidak juga ... aku hanya merasa lucu dengan suaramu yang tidak ada hangat-hangatnya itu ... dan kakiku sudah sangat baik karena aku sama sekali tidak menggunakannya untuk berjalan.”
Ya, kemanapun Naja pergi, Excel lah yang menjadi kakinya.
Excel mengerutkan keningnya sembari menyibak selimut yang membalut tubuh Naja, “Coba gerakkan kakimu ...!”
__ADS_1
Perlahan Naja menggoyangkan kakinya memutar, “sudah tidak papa ...,”
Excel menghembuskan napasnya, “Astaga Na ... maksudku coba dipake buat jalan ... bukan seperti itu.”
“Oh ...,” Naja membulatkan bibirnya dan segera beranjak turun. Ia mencoba berjalan beberapa langkah ....
“Sudah tidak sakit, kok ... kurasa aku bisa berjalan seperti biasa,” Naja menatap ke bawah mengikuti kemana kakinya berjalan. Sesekali ia menyisihkan helaian rambutnya yang menjuntai di sisi wajahnya ke belakang telinga. Ia layaknya anak kecil yang senang dengan langkah pertamanya.
“Baguslah kalau begitu ...,” Excel tersenyum dan mendekati Naja. “aku bisa bekerja dengan tenang, di bawah ada teteh Esih, yang akan menemanimu hari ini. Hati-hati jalannya, jangan banyak tingkah ...,” pesan Excel panjang lebar. Ia mengusap kepala Naja yang mengangguk dan bibir menipis.
“Aku berangkat dulu ...,” Excel memajukan wajahnya dan mengecup kening istrinya. Lama dan dalam.
Andai ia tak banyak pekerjaan hari ini, ia tak ingin beranjak dari sisi istrinya itu. Sedikit menyesal juga menyuruh Naja menunjukkan bahwa kakinya sudah baik-baik saja. Tetapi ia juga tidak yakin bisa tenang dalam bekerja bila pikirannya terus berada di rumah bersama Naja. Mengkhawatirkan wanita itu, seperti hari-hari lalu saat mereka masih saling adu ego.
“Hati-hati di jalan, Cel ...,” balas Naja sedikit canggung. Ini adalah momen pertamanya sejak menjadi istri Excel, melepas suaminya dengan benar dan layak.
“Kau tidak berniat mencegahku berangkat bekerja?”
“Ha ...?” Naja yang masih menghindari tatapan Excel dibuat bingung dengan pertanyaan itu.
“Kau tidak ingin berlama-lama bersama denganku?”
“Kurasa tidak ...,” Naja menggeleng. Memangnya kenapa harus melakukan itu? Pikirnya.
.
.
.
.
__ADS_1