
Excel menarik tubuhnya dengan kasar dari depan Naja dan beranjak turun dari ranjang. Meninggalkan Naja yang masih meringkuk ketakutan di atas tempat tidur. Mendesak pintu kamar mandi dengan kasar, ia tak sabar menenggelamkan diri di bawah guyuran air untuk menjernihkan pikirannya.
Kelopak mata Naja mengerjap dengan cepat, ketika tak dirasakan lagi embusan napas Excel di sekitar tubuhnya. Hawa panas yang menyesakkan pun seakan menjauh. Udara pun bebas keluar masuk rongga hidungnya tanpa adanya tubuh Excel yang menghalangi.
Perlahan Naja membawa pandangannya menjejak udara yang ditinggalkan Excel. Guncangan yang begitu hebat melanda tempat tidur seolah menandakan bahwa Excel pergi masih dengan amarah yang membubung tinggi. Desahan napas Naja begitu keras terhembus, lega tetapi ia belum merasa aman, sehingga dengan gerakan cepat Naja menuruni ranjang dan berlari melewati tangga.
"Aku harus pergi ... tapi kemana?" gumam Naja sambil menoleh ke kanan dan kiri. Manik mata Naja merangkak naik seakan menemukan jalan terang. Hanya di sana ia merasa aman.
**
Excel menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya tertimpa rintik air yang begitu deras mengucur, tanpa melepaskan busana yang melekat di kakinya. Tangan kanannya menekan dinding yang mulai dipenuhi titik-titik air. Sementara tangan kirinya mengusap rambut dan wajahnya berulang-ulang. Mengepalkan buku jari, Excel meninjukan kepalan tangannya tersebut ke dinding berkali-kali. Nyaris saja dia menyakiti Naja. Ia semakin tak mengerti kenapa dia bisa begitu marah pada Naja.
Kepala Excel menengadah, membiarkan keningnya yang teraba panas, terguyur air yang akan memadamkan kobaran api dalam tempurung kepalanya. Dia akan menjadi pria yang paling buruk bila sampai memaksakan dirinya pada Naja. Tidak ... dia tidak mau itu terjadi, tetapi ia juga tak rela bila ada pria lain yang terus saja mengincar miliknya. Seperti teror saja ketika memiliki wanita, bahkan wanita biasa seperti Naja. Excel membenturkan kepalanya ke dinding, bisakah alasan tak ingin miliknya diharapkan orang lain dijadikan sebagai pembenaran atas pemaksaan seorang pria pada wanita? Jika bisa, Excel akan melakukan itu sekarang. Kepada Naja, yang mungkin akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya.
***
Tempat tidur telah kosong saat Excel keluar dari kamar mandi setelah sekian lama ia berada di dalam sana. Excel kembali mendesahkan napasnya, ia segera membuka lemari untuk berpakaian. Pikirnya, wajar jika Naja kabur darinya mengingat kejadian tadi. Ah ... bodohnya.
Excel menuruni tangga, bibirnya ingin sekali meneriakkan nama Naja yang entah mengapa ia menjadi begitu suka melakukan itu. Melihat Naja yang membulatkan mata ketika terkejut karena panggilannya, membuat Excel ketagihan membuat gadis itu kesal atau terkaget-kaget. Excel menarik sebelah bibirnya hingga sampai di anak tangga paling bawah.
"Na ...," panggil Excel ketika dia tak mendapati Naja di ruang tamu, ruang tengah, dan dapur. Di saat bersamaan, ponsel dalam saku celananya berdering panjang, tetapi Excel tak begitu menghiraukan. Pikirannya kelabakan mencari gadis itu. Seluruh ruangan dalam rumah ini telah ia jelajahi akan tetapi Naja tak juga ia temukan. Bibir Excel terus saja meneriakkan nama istrinya tersebut, namun sepertinya ... Naja memang pergi.
Excel mengerang frustasi, berulang kali ia mengusap wajahnya dengan brutal. "Kamu di mana, Na?" Menjambak kasar rambut yang telah ia sisir dengan rapi. Berlari ke depan rumah, dan menekan nomor Naja yang hanya di jawab oleh operator saja.
__ADS_1
Excel semakin geram sebab ponselnya berdering karena telepon dari pengacara yang ia utus untuk menangani Mikha. Bukan dari orang yang sedang ia khawatirkan dan ia cari sekarang.
"Ya ...," Excel memutuskan menjawab panggilan pengacara tersebut setelah sekali lagi memastikan Naja benar tidak ada di rumah.
***
Naja turun dari sepeda motor yang ia tumpangi untuk mengantarkannya pulang dari mini market. Menenteng sekantung belanjaan yang isinya kebutuhan wanita, Naja mengulurkan sejumlah uang pada si pengemudi. Ya, Naja semula menenggelamkan diri di kamar belakang, akan tetapi setelah mendapati tamu bulanannya datang, ia segera pergi ke mini market terdekat untuk membeli barang kebutuhannya tersebut, yang seingatnya, ia tak memiliki stok barang sebiji pun.
Naja juga telah menemukan kunci kamar yang disembunyikan Jen, beralasan Tara akan menginap di rumah, Naja akhirnya berhasil memperdayai Jen. "Sorry Jen ... semua ini demi ketentraman hidup sahabatmu," gumam Naja dengan kedua alis terangkat. Ia melangkah ke lantai atas dengan perasaan ringan. Setidaknya ia akan tetap aman setelah memiliki kamar sendiri.
Sepi ... sehingga Naja kembali berlari ke depan rumah, ia bersorak ketika mobil Excel tidak ada. Langkah Naja semakin ringan saja, segera berganti pakaian dan memindahkan barang-barangnya dari kamar Excel. Sisa harinya, ia habiskan tenggelam di dalam kamar baru yang begitu nyaman.
***
"Lo kalau marah kira-kira dong, Bro ... masa hanya karena Tristan ingin bini lo jadi model dia, lo mau paksa-paksa dia begitu?" Sam yang duduk di depan bersama Rega memutar tubuhnya menghadap Excel. Pria jangkung itu tampak kesal dengan sikap cemburu berlebihan yang tidak dimengerti oleh sahabatnya tersebut.
"Lagian buat apa maksa, Cel ... kalian halal kok buat begituan!" timpal Rega sembari menyunggingkan senyum menggoda. "minta saja baik-baiklah! Dan ... segera klaim kepemilikan atas Naja dengan cap resmi bukan hanya tanda tangan di atas kertas aja!" sambung Rega yang langsung dilimpahi tawa yang sangat menyebalkan dari Sam.
"Kalian kalau ngga segera diam, bakal kutendang dari mobil ini!" ancam Excel yang malah membuat tawa kedua sahabatnya kian membahana. Mereka mengerti, Excel seperti kebakaran jenggot saat kehilangan Naja. Begitu cemas dan frustrasi bahkan sejak tadi ia berulang kali menghubungi Naja yang belum juga mendapat jawaban.
"Mungkin di kos adiknya kali ...!" celetuk Sam yang telah menguasai dirinya setelah menangkap raut tegang di wajah sahabatnya itu.
Mata Excel merangkak naik, ia lupa jika ada tempat terdekat yang bisa dijadikan tempat bersembunyi istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak kepikiran sejak tadi, ya?" ujar Rega lebih pada dirinya sendiri. Namun ucapan Rega mewakili pikiran Excel yang memikirkan hal yang sama. Terlalu panik, sehingga ia lupa akan hal itu. Pikirnya, Naja sudah pulang kampung sehingga ia nyaris saja berpikiran untuk menyusulnya kesana.
***
Malam hampir menyapa, Naja tengah sibuk memasak makan malam untuknya dan Excel. Ia berencana menyiapkan makan malam saja dan tidak menemani pria yang telah menjadi suaminya itu makan. Otaknya masih memikirkan kejadian tadi siang yang membuatnya tercekam.
"Ketegangan tadi nyaris saja membunuhku," Naja menggelengkan kepalanya penuh ngeri. Ia membayangkan apa yang terjadi jika Excel melanjutkan niatnya tersebut. Terus tenggelam dalam pikiran yang memerahkan pipi, Naja mulai memasak makan malam yang telah ia racik.
Hingga ketukan di pintu menyadarkan dirinya dari lamunan. Ia memutar kepalanya ke pintu dan mematikan kompor yang tengah menyala dengan masakan yang nyaris matang di atasnya.
"Ya ... sebentar ...!" seru Naja sembari berlari kecil menyeberangi dua ruangan yang cukup luas itu. Tangan kecilnya terulur menarik pintu kayu tersebut hingga terbuka.
Manik mata Naja membola sejenak, tetapi ia segera menerbitkan senyum ramah menyambut dua orang di depannya. "Mama ... Papa?!"
.
.
.
.
.
__ADS_1