Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Cukup Tahu Saja


__ADS_3

Tujuh hari berlalu sejak kepergian Dirgantara senior, jejak duka masih terasa tetapi mereka mulai menjalani kehidupan dengan normal. Bahkan Excel sudah mulai bekerja sejak beberapa hari lalu.


Hujan menjejak basah kala senja menggantung. Naja baru saja selesai mandi usai membantu menyiapkan makan malam ketika Excel memasuki kamar.


"Sudah pulang?" tanya Naja kala mereka saling bertatap mata. Naja menyisir rambut dengan jemarinya, semerbak wangi seketika memenuhi kamar.


"Seperti yang kau lihat ...." jawab Excel sambil berlalu, melewati Naja yang mencebikkan bibirnya. Excel melepas jas yang dikenanya, jemarinya menarik kain yang melilit kerah kemeja abu muda yang mencetak jelas tumpukan otot yang kian memadat. Mencampakkannya di ranjang lalu duduk di tepi ranjang untuk melepas sepatunya.


Naja mengembuskan napas ke udara, membiarkan saja apa yang dilakukan Excel. Tugasnya nanti mengemas semuanya. Langkah Naja mengayun ke sofa, dan menghempaskan tubuhnya di sana.


Selama tujuh hari penuh, Naja dan Excel jarang terlibat pembicaraan. Pria itu tampak sibuk sepanjang waktu dan Naja enggan mengganggunya yang nanti malah akan membuatnya susah sendiri. Sofa menjadi ranjang empuk bagi Naja, kini ia tak lagi mengeluh sebab tubuhnya mulai terbiasa.


Selama itu pula rasa penasaran akan Papa kandung Excel dan Alicia yang telah mengepul, menguap begitu saja. Cukup sudah dia tahu, bahwa Excel memiliki ayah dan adik lain selain yang tinggal di rumah ini. Meski sesuatu dalam dirinya terasa gatal untuk mengetahui bagaimana bisa dia memiliki ayah lain yang sempurna. Cerita mereka pasti menarik.


“Kenapa tidak segera mandi? Kamar mandimu sudah ku bersihkan setelah memakainya.” Cetus Naja saat Excel tampak berlama-lama di sana.


“Alicia itu adik tiriku ... dan laki-laki yang bersamanya adalah Papa kandungku.” Excel memutar kepalanya sedikit ke arah Naja. Mengabaikan pertanyaan Naja yang kini tengah duduk di sofa.


Setelah kejadian hari itu, Excel memang ingin mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi ada saja yang menghalangi mereka untuk bicara. Ditambah pekerjaannya yang tak bisa ia tinggalkan dan waktu untuk sekadar berbincang yang kurang. Jen dan Ranu tak henti-henti mengajak Naja berlama-lama di kamar mereka, dan itu terkadang membuat Excel merasa kesal.


Naja yang hendak merebahkan diri di lengan sofa, menegakkan kembali tubuhnya “Ya ...?”


“Dia bukan Mikha ...,” Excel beranjak dari ranjang dan duduk di sofa seberang Naja.


“Aku tahu ...,” Naja menarik salah satu sudut bibirnya.

__ADS_1


“Kau tidak penasaran?” Excel mencondongkan tubuhnya dengan menumpu siku pada lututnya.


Naja menarik napas, “Karena aku bukan siapa-siapa bagimu, penasaran pun percuma, ujung-ujungnya kau juga tidak akan mengatakan apa-apa ‘kan?”


Excel membisu sejenak, memperhatikan riak wajah Naja yang sepertinya tidak peduli. “Mama dan Papa berpisah karena Mamanya Sia.”


“Pantas Jen tidak begitu suka dengan Alicia,” gumam Naja dalam hati.


Naja mengembuskan napas, ekor matanya melirik Excel yang tampak murung. “Kalau kau masih merasa sakit menceritakan masa lalu orang tuamu, lebih baik tidak usah bicara. Aku tidak terlalu memikirkannya, lagi pula cukup tahu saja siapa mereka bagimu.”


Excel mengangkat wajahnya, menjumpai wajah Naja yang tengah menatapnya. Kebisuan menyela cukup panjang di antara mereka, bahkan jika ada jarum yang jatuh pasti akan terdengar.


“Mandilah ... bau badanmu tercium sampai di sini.” Naja mendenguskan hidungnya, seolah ada bau busuk yang menyelinap ke dalam hidungnya. Telunjuknya bahkan menggosok ujung hidung, seakan merontokkan bau yang menggantung di sana.


“Heh ... tidak mau ... masa depanku taruhannya. Ucapan pria mana bisa dipegang?” gerutu Naja sembari merebahkan kepalanya. Meraih ponsel dan segera melakukan panggilan video dengan ibunya di kampung.


**


Excel tidak segera mandi ketika tiba di kamar mandi. Dia berlama-lama menatap pantulan dirinya di cermin. Dirinya kembali tidak baik-baik saja setelah bertemu Mikha untuk yang kedua kalinya. Entah dulu dia hanya menunggu seperti yang dikatakan Rega atau memang Mikha benar-benar ingin Excel melupakannya, Excel tidak tahu. Yang ia tahu kini Mikha dengan begitu mudahnya ia jumpai meski di jalanan yang berjubel sekalipun.


Excel membuang napas dengan keras, jemari panjang nan ramping itu menyisir rambutnya ke belakang. Mikha hari ini juga masih kukuh dengan sikap angkuhnya, tidak mau mengatakan apa pun yang bisa sedikit saja membenarkan tindakan Excel. Ingin melupakan tetapi jujur saja, ia belum bisa. Namun, keadaannya saat ini tidak membenarkan jika dirinya memiliki perasaan atau bahkan mengingat Mikha lagi.


Excel mendorong tubuhnya hingga berdiri, fokusnya saat ini, jika bisa ia ingin bersikap selayaknya seorang suami untuk Naja. Bagaimanapun, Naja cukup bisa diajak kompromi meski sikapnya menyebalkan.


**

__ADS_1


“Pa ... Ma, lusa aku akan tinggal sendiri dengan Naja,” Makan malam pun kembali seperti waktu-waktu lalu. Malam ini, Excel memberanikan diri untuk minta izin melepaskan diri dan hidup mandiri. Dia ingin memulai hidupnya dengan Naja—seharusnya Mikha—di tempat yang baru.


Naja—yang sejak tinggal di sini duduk bersebelahan dengan Excel—menahan sedak yang menyundul di tenggorokannya. Ya, nyaris saja ia menyemburkan air putih yang baru saja mendorong makanan di esofagus menuju lambungnya, jika saja ia tidak dengan segera menutup mulutnya. Seketika masa depan Naja terasa suram mendengar ucapan Excel.


Harris melirik istrinya yang sedang menunduk, ia tahu cepat atau lambat putranya pasti akan mengatakan hal itu, tetapi ia tak menyangka akan secepat ini.


“Apa tidak bisa kalian tinggal lebih lama di sini? Beberapa bulan mungkin? Atau beli saja rumah di depan itu, biar kalian ngga terlalu jauh dengan kami?” Harris mengerti inilah yang ingin di sampaikan Kira, tapi dia masih terlalu sedih jika harus ada perpisahan lagi.


“Rumah kami hanya berjarak sepuluh menit dari sini, Pa ... kami akan sering main kemari, Papa jangan terlalu risau.” Ujar Excel meyakinkan, sisi kakinya menyenggol Naja seolah dia ingin Naja membantu meyakinkan Papanya.


“Baiklah jika itu mau kalian ... asal kalian tidak punya niat untuk berbuat macam-macam.” Putus Harris kemudian. Ia tak ingin tampak egois dan kentara sedang mengawasi putra sambungnya tersebut.


"Kami tidak akan berani, Pa ...," sudut bibir Excel menerbitkan senyum kepuasan. Tangannya meraih gelas berisi air putih dan menenggaknya.


Sementara yang lain, meluruhkan pundaknya nyaris bersamaan. Kecewa karena akhirnya mereka tidak bisa lagi menyomot Naja semau dengkul mereka lagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2