
“Kau sariawan, Ja?” celetuk Jen mengagetkan Naja yang terpaku memandang ke luar jendela kamar Jen. Angin pagi menggoyang lembut dedaunan, menerobos sela jendela yang segaja dibuka, meniup sepoi poni yang membingkai kening Naja.
Naja menurunkan jemarinya yang sejak tadi hilir mudik mengusap bibir. “Tidak kok ...,” Naja memutar tubuhnya yang semula memunggungi Jen. “Memangnya kenapa? Apa aku tampak seperti orang sariawan?”
Jen mengenyakkan tubuhnya di kasur, masih memakai jubah mandi berwarna pink pucat, Jen meraih hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. “Tuh dari tadi pegangin bibir sambil ngelamun? Atau habis dicium pacar? Eh ... jangan-jangan kamu ngilang semalem ...,” Jen memiringkan wajahnya, melirik Naja dengan alis terangkat dan seringai menggoda. Semakin senang karena wajah Naja perlahan blushing.
“Hayoo ... ngaku!” Jen bangkit dan mendekati Naja yang mundur menjauh sambil memegangi pipinya.
“Ngga kok ...,” kilah Naja, terus menyembunyikan wajahnya. Panik dan malu.
“Apa itu bisa dikatakan ciuman?” batin Naja sambil menggigit bibir bagian dalam. Entahlah, yang pasti semalam Naja hampir tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Bahkan tubuhnya terasa panas saat ingat kejadian itu.
“Kalau ngga kok kabur? Kok menghindar?” Jen bersedekap di atas ranjang bernuansa biru pastel.
“Aku bukan menghindar, aku emang mau turun kok.” Naja berlari ke pintu, meninggalkan Jen yang masih berteriak memanggilnya.
“Itu kan tidak sengaja, mana bisa disebut ciuman?” gumam Naja. Dia berjalan sambil menundukkan wajah. Langkahnya begitu pelan tanpa menimbulkan bunyi. Batinnya terus mendengungkan sangkalan atas kejadian semalam yang begitu membekas.
“Lagi pula, dia secara terbuka bilang kalau tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia hanya memanfaatkan aku saja kan? Lagian, aku sudah punya Ai.” Bisik Naja.
BRUK.
“Auwh ...,” desis Naja. Kaget dan memejam saat tubuhnya menabrak tubuh lain di depannya. Si pemilik tubuh menahan punggung Naja, menghindari benturan dengan lantai. Meski saat ini, posisi mereka membuat siapa saja yang melihatnya, berpikir yang tidak-tidak. Aroma mint segar kembali tercium, seketika Naja membuka matanya. Sekali lagi mulutnya terkunci. Pria yang begitu dibencinya, sedang menatapnya tajam. Manik mata gelap itu sekali lagi menikam lurus di dada Naja.
Belum sempat mengucap apa-apa, Excel bergegas bangkit. Membenarkan posisi tubuhnya kembali normal dengan berdehem lirih. Lalu ditariknya tangan Naja, hingga mereka berhadapan.
“Makasih ...,” lirih Naja. Dia segera berlari menjauh. Membawa debaran yang tak terkendali. Sementara, Excel masih terpaku, seolah Naja masih berdiri di hadapannya.
Naja melambatkan laju larinya ketika sudah sampai di tangga terakhir. Tangannya mengipasi wajah yang seolah terbakar. Mengembuskan napas dengan cepat seakan parunya tak mampu menampung banyaknya udara.
“Hai Na ...,”sapa seorang pria dari ujung lain ruang tengah yang cukup luas ini, sehingga Naja memutar tubuhnya ke sumber suara.
__ADS_1
“Hei ... Darren,” pekik Naja girang, dia berlari menyongsong sahabat baiknya. “kupikir kau sudah kembali pulau K.”
“Belumlah, aku masih mau stay di sini ...,” Darren mengadu tinju dengan Naja. “Jen mana?”
“Di kamar, princess mu itu kalau belum glow mana mau keluar kamar.”
“Mana ada glow nya anak itu kalau ketemu aku, ileran dan kucel iya ....”
“Tapi kamu suka kan?” Naja menyikut Darren yang kini berjalan bersisian dengannya.
Darren membungkam mulut Naja, “jangan keras-keras, nanti ada yang denger.” Bisik Darren.
Naja menampar tangan Darren berulang agar segera melepas bekapannya. “Ih ... nekannya jangan keras-keras juga kali, kan sakit!" kesal Naja sambil menekan pipinya. Wajah Naja yang merengut membuat Darren gemas.
“Maaf ...,” Darren mengusap rambut Naja sambil terkekeh geli. Keduanya masih saling melempar tangan saat terdengar derap langkah yang begitu lembut tetapi tidak meninggalkan kesan angkuh seperti pemiliknya. Naja dengan mudah menebak siapa itu.
Darren menghentikan cubitan di pipi Naja yang sudah memerah, “Kak Excel ....” sapa Darren. Dia meninggalkan Naja yang masih mengusap pipinya.
***
Ruang makan sudah begitu riuh dengan tiga bocah Dirgantara. Si kembar memulai sarapan sambil memainkan ponsel sementara Ranu makan dengan tenang tanpa ganguan si kembar.
“Pagi Nanu ...,” sapa Naja saat sampai di ujung meja.
Ketiganya serempak menoleh, “pagi juga Mbak ...,”
Naja mengerutkan kening, "Kok pada main hape? Nanti ketahuan Mama loh ...,”
Agiel menempatkan telunjuk di depan bibirnya, “Kak Excel udah turun belum?”
“Sudah ... masih di depan sama Darren!” Naja mendekati Agiel. “Bukannya kalian harus takut sama Mama dan Papa?”
__ADS_1
“Mbak Naja gimana sih? Papa dan Mama udah berangkat tadi pagi ... jadi kita aman,” Agiel dan Aziel saling adu toss.
“Tapi kalau ketahuan Kak Excel juga sama bahayanya, Bocah ...!” tukas Ranu dengan tegas. Dia melayangkan tatapan penuh peringatan pada dua adiknya.
“Ck, Nanu ngga asyik ...,” sungut Agiel. Mereka segera memasukkan ponsel ke dalam tas. Beruntung sebab Excel dan Darren tiba di ruang makan saat mereka kembali menghadapi sarapannya.
Naja segera beranjak ke dapur saat Excel memindai Naja begitu dalam. Sekali lagi, Naja dibuat tak nyaman saat berada satu ruangan dengan Excel.
“Duduk Kak Darren, Kak Jen masih di kamar.” Ranu mempersilakan Darren yang sedang bertukar sapa dengan si Kembar.
“Makasih Ran ...,” begitu Darren mendaratkan tubuhnya, Ranu segera menyuguhkan beberapa potong roti lapis dan susu di piring Darren. “Udah kaya istriku aja kamu, Ran.” Celetuk Darren enteng, sehingga membuat Ranu merona.
“Bener Bang Darren, Nanu tuh tipikal wanita rumahan. Cocok kalau jadi emak-emak, bawelnya udah kelihatan dari orok.” Agiel menimpali ucapan Darren yang selalu menggoda Ranu dengan candaan yang sama tiap kemari.
Ranu mendelik sebal kepada Agiel. Wajahnya merah padam, bahkan bibirnya berkumat kamit menebar ancaman.
“Agiel, jangan bersikap tidak sopan pada Nanu. Ingat, Nanu lah yang selalu membantumu ...!” Excel belum memulai sarapannya. Dia masih sibuk memperhatikan tingkah adik-adiknya dan juga ujung ruang makan. Perasaannya begitu gelisah.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1