
Heels yang lumayan runcing itu menjejak lantai begitu kerasnya, menimbulkan bunyi yang sedikit menyakiti telinga.
"Aawwhh ...!" kaki Naja terpeleset dan jatuh terduduk di lantai lorong menuju ruang ganti.
"Kamu ngga papa?" wanita MUA yang sejak tadi mengikuti Naja, berjongkok di depan Naja, ia memeriksa pergelangan kaki Naja yang terkilir. "Nona kakimu terkilir, mungkin kamu ngga bisa jalan loh ...," ucapnya penuh khawatir saat memandang Naja kembali.
"Bantu aku berdiri, Kak ... aku ngga papa kak." Naja mengulurkan tangan pada MUA itu dan menjadikannya pegangan untuk berdiri. Memang pergelangan kakinya terasa nyeri, tetapi ia tersenyum seolah ia baik-baik saja.
Naja berusaha terus berjalan meski terpincang-pincang. Pikirannya terus berputar, bagaimana caranya membersihkan telur yang menodai bagian depan tubuhnya. Meleleh hingga bagian bawah gaun yang membalut tubuhnya.
“Nona Malaikat ... biar aku panggil Tuan Tristan saja, ya ... Angel sudah keterlaluan." wanita MUA itu terlihat semakin khawatir melihat Naja yang ia tahu tengah menahan sakitnya. Tidak satupun dari mereka menyangka ladang mencari nafkah mereka menjadi ajang kecemburuan seorang wanita yang cintanya tak bersambut.
“Jangan, Kak!” cegah Naja seraya menyeka keringat yang memenuhi dahinya, pandangan matanya berlarian. “Aku lebih suka Angel yang mengatakan kekhawatirannya, daripada orang lain yang bermulut manis tapi menyembunyikan racun di balik senyumnya. Angel bukan ancaman bagiku sekarang kak ... justru Angel yang harus berhati-hati ... jika aku tidak muncul tepat waktu, Tristan tidak akan tinggal diam mencariku, 'kan?"
Wanita MUA yang belum di ketahui namanya itu sejenak mengerutkan keningnya, sungguh ia tak paham jalan pikiran Naja yang menurutnya aneh.
“Sudahlah kak ... sekarang yang paling penting membersihkan telur-telur ini dari tubuh dan bajuku.” Naja memandang lelehan cairan yang dirasa mulai menembus pakaian dalamnya.
Kakak MUA itu mengangguk, membenarkan ucapan Naja, mengkhawatirkan Angel bukanlah yang penting, mereka memiliki masalah yang lebih pelik untuk di selesaikan.
Kedua wanita itu bergandengan tangan menyusuri lorong, menuju toilet yang tak jauh dari ruang ganti. Kedua wajah wanita itu di liputi kecemasan yang cukup dalam. Beruntung, toilet tampak kosong, sehingga Naja leluasa menumpahkan kecemasannya. Ia dengan brutal mengusap noda dengan tisu yang tersedia, membuat gaun itu malah semakin menampakkan warna kuning dan bau amis.
Naja mengerang frustrasi, ia bahkan nyaris menangis jika Kakak MUA itu tidak segera datang usai mengambil handuk. Ia tak kalah panik saat melihat penampakan Naja kini.
Ia lalu menyalakan keran air untuk membasahi salah satu ujung handuk tersebut, berniat mengusapkannya pada tubuh Naja.
Namun, belum sempat air menyentuh ujung handuk tersebut, tangan nan kokoh menampilkan ototnya, menahan handuk dan mematikan keran dengan gerakan cepat. Mata gelap itu memindai penuh dua orang yang tengah menaikkan pandangan padanya.
“Jangan di basuh dengan air ... di lap saja pakai handuk kering yang mengenai badanmu itu, untuk gaunnya biarkan saja ...,” ucap Excel datar, air mukanya bahkan tidak berekspresi sama sekali. Ia bergegas meraih handuk yang di pegang sang MUA, “... ambilkan apa saja untuk menutupi tubuhnya.”
“Dibiarkan bagaimana?” tanya Naja dengan kening berkerut dan kesal. Ia tak mau gagal, ia tak mau kalah, semua sudah sejauh ini.
Excel tidak menjawab, ia mulai mengelap tubuh bagian depan sebatas tulang yang menonjol di bawah leher. Mengusap noda yang sudah hampir mengering itu dengan lembut hingga bersih.
Excel celingukan mencari wanita MUA yang tak kunjung datang. Excel tak punya pilihan, ia membuka kancing kemejanya, berniat menggunakan bajunya untuk menutupi tubuh Naja, tetapi tepat ketika ia tiba di kancing terakhir, seseorang melapisi bagian depan tubuh Naja dengan jas hitam. Sejenak Excel tercekat, ia menatap pria itu dengan pandangan tak terbaca.
"Mungkin ini bisa membantu ...," ucap pria itu datar dan kaku.
Excel menatap Naja dan pria itu bergantian. Kesal dan ingin melempar jas itu ke tong sampah. Tetapi, sepertinya ia tak bisa melakukan itu saat ini. Ia tak mau terlihat arogan dan egois, sehingga ia segera menuju ke belakang tubuh Naja. Lalu ia mulai menurunkan gaun Naja setelah mengisyaratkan agar pria itu memutar tubuhnya. Gaun itu meluncur turun dan dibiarkan teronggok begitu saja. Dengan gerakan cepat, ia meraih tubuh Naja dalam gendongannya. Wanita itu sepertinya masih dilanda syok sehingga sejak tadi bibirnya terkatup rapat. Membiarkan pria itu mematung sendirian di sana, Excel membawa Naja menuju ruang ganti.
__ADS_1
“Tunggulah di sini dan jangan bertingkah macam-macam!” perintah Excel lembut penuh ketegasan setelah sampai di ruang ganti. Ia merapatkan jas hitam itu, lalu memosisikan kaki Naja saling menumpu setelah Naja duduk di sebuah kursi. Usai memastikan Naja aman, ia segera mengambil langkah cepat meninggalkan Naja.
Setiap perintah Excel—entah mengapa—Naja tak pernah berniat membantahnya. Meski bingung, ia menurut apa kata Excel, lagi pula dia tak bisa melakukan apa-apa dengan tubuh yang sebagian besar terekspose seperti sekarang ini.
***
Angel tersenyum penuh kemenangan saat Naja belum juga muncul meski sudah lewat hampir sepuluh menit. Tristan sudah tak karuan lagi rupanya, ia beranjak dan mencari seseorang yang bisa dimintai tanya atas terlambatnya penampilan Naja, bintang hari ini. Kasak-kusuk mulai terdengar di antara para tamu kehormatan Trist&Jewells.
Sementara di balik layar, Naja masih mendapatkan balutan pada pergelangan kakinya yang terkilir. Excel, yang membantu Naja mulai dari mencarikan gaun baru hingga membantunya berjalan sampai di sini. Lembut, meski sorot mata pria itu tampak tegang, sejak tadi Naja memperhatikan wajah suaminya itu. Selalu begini, dalam hati Naja selalu tersentuh oleh perlakuan Excel yang terkadang di luar dugaan.
Excel yang sudah selesai membalut kaki Naja, memasangkan sepatu pada kedua telapak kaki Naja. Sejenak ia menengadahkan wajahnya, menjumpai Naja yang tengah melamun menatap dirinya.
“Cobalah berdiri, bilang kalau masih sakit ...!” perintahnya pada Naja yang gelagapan saat tersadar dari lamunan.
“Lebih baik ...,” Naja menggerakkan kakinya, satu dua langkah ke depan dan berbalik ke arah Excel. Sebenarnya kakinya masih nyeri tapi dia tak mau membuat Excel khawatir.
Excel meraih bahu istrinya, membawanya berhadapan dengannya. Ia mengusap pipi Naja dengan lembut dan menatap istrinya dalam. Bibirnya mendadak kelu dan beku.
“Ayo Naja, semua orang sudah menunggumu ...,” seorang wanita dengan peranti komunikasi berlari tergesa ke arah Naja dan menyambar tangan Naja dengan keras. Membuat tubuh Naja tersentak, tetapi detik berikutnya ia menatap Naja dengan pandangan heran. “Amazing,” pikirnya.
Naja masih enggan melepas tautan mata dengan Excel, ia berharap Excel menahannya dan memberinya sepatah kata yang membuatnya lega dan percaya diri. Namun hingga Naja tiba di bawah tangga, Excel hanya memandangnya sendu.
Terseok, Naja mengikuti stage manager yang sejak beberapa hari ini cukup akrab di mata Naja menaiki anak tangga yang tak seberapa tinggi.
“Tunggu Na ...,” panggilan Excel membuat Naja menoleh ke arah suaminya.
Excel mendekat dan memasangkan topeng dengan aksen bulu menutupi area sekitar mata. “tidak akan ada yang tahu siapa kamu, setidaknya ini membuat aku sedikit tenang.”
Naja menipiskan bibir menahan haru, ingin rasanya dia menubruk dada suaminya itu, tetapi sekali lagi seorang lain, menarik tangannya untuk menuju panggung, tanpa menjawab pernyataan suaminya. Meski begitu Naja masih terus menatap Excel hingga pandangannya tak mampu lagi menjangkau.
“Kalian pasangan yang romantis dan saling mencintai, ya ...,” tutur Kakak MUA yang memang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka berdua. Ia mengulurkan tangannya, “... Mira,” ucapnya memperkenalkan diri.
Excel mendengkuskan napasnya perlahan, sembari membalas uluran tangan Mira. “Dia tidak mencintaiku!” Tegas Excel seraya berlalu.
Mira terbengong sesaat, “kurasa Anda salah menilai istri Anda, Tuan. Bahkan aku yang baru bertemu dia hari ini, dengan jelas melihat besarnya cinta Nona Malaikat padamu.”
Excel sejenak berhenti. Hatinya berdebar tak karuan mendengar ucapan Mira. “Beberapa waktu lalu dia mengatakan itu padaku—“
“Jangan percaya pada bibirnya, Tuan ... lihatlah matanya yang mencerminkan perasaannya. Nona Malaikat sangat mencintaimu, Tuan. Tolong bahagiakan dia ....”
__ADS_1
Excel menaikkan pandangannya, kini hatinya berdesir pasti. Selama ini, perasaannya tak keliru kalau begitu, hanya karena ia terlalu mempercayai apa yang dilihatnya, hatinya menjadi ragu. Semoga apa yang diucapkan Mira adalah kebenaran. Excel berlalu setelah menoleh sekilas pada Mira yang tengah menatapnya sendu.
Sementara itu, Naja melangkah pelan dan gemetar, meski ia telah berusaha menenangkan diri. Ia merasa canggung karena terlalu lama membuat para tamu undangan menunggu. Tepat ketika nama perhiasan yang ia kenakan di sebut, ia menghembuskan napas dengan keras, memejamkan mata sejenak sebelum menatap lurus di atas kepala para tamu. Tidak peduli apa kata dan pendapat mereka, ia hanya tahu menyelesaikan ini semua.
Gaun panjang Naja melambai dengan anggun, kilau dari batu permata yang menggantung di leher dan telinganya nyaris membutakan mata para tamu. Cahaya yang menaungi para tamu memang di buat redup, sementara runaway yang dipijaki Naja terang dengan cahaya yang menyoroti seluruh tubuh Naja.
Bahu putih Naja tampak kontras dengan gaun hitam pekat yang membalut tubuhnya. Kedua belah tangannya terbalut sarung tangan hitam sebatas siku, dengan cincin besar di jari manis sebelah kiri Naja. Ia berjalan dengan anggun, dan menatap lurus. Ya, semua orang tidak tahu siapa dia karena perlindungan Excel. Sejurus tatapannya menangkap sosok Excel di ujung belakang ruangan.
Naja berhenti tepat di ujung landasan, ia menekuk tangan kirinya dan meletakkan dengan malas di samping pipinya. Ia menurunkan sedikit wajahnya sesuai arahan dari pengarah gaya yang masih jelas ia ingat. Ia berjalan dan mempertontonkan kalung dan anting dengan batu mulia besar berbentuk tearsdrop. Naja terus berjalan dengan anggun meski ia melihat jelas kasak kusuk di kursi para tamu.
Di ujung ruangan yang tak tersentuh oleh cahaya, Excel bersilang dada dan menyandarkan kepalanya pada dinding bercorak serupa serat kayu. Namun kegelapan ini tak membuat mata tajamnya tidak mengenali siapa yang berjalan menuju ke arahnya.
Menodong pria dengan kemeja putih dengan uluran tangannya, Excel menyapa pria itu dengan hangat.
"Selamat atas pernikahanmu ...," Excel menjeda ucapaannya hingga mendapat perhatian dari pria tersebut. "... Syailendra," sambung Excel saat Ai dengan kesal menoleh dan menyambut uluran tangan Excel.
"Semoga kalian berbahagia dan langgeng ...," lanjut Excel dengan senyum seperti mengejek keluar dari bibirnya.
"Doa yang sama untukmu ...," sahut Ai sedikit menajam.
"Terima kasih doanya ... oh ya ... jas mu akan aku kembalikan dalam keadaan bersih. Sebagai ucapan terimakasih, kalau ada waktu aku akan mengundang kalian makan di rumah bersama. Bagaimana?"
"Tidak perlu berlebihan ... aku hanya kebetulan melihat kejadian itu, sekalipun bukan Naja aku akan melakukan hal yang sama." Ai berlalu pergi setelah mengatakan itu. Jika bukan karena pekerjaan yang mengharuskannya berada di sini, tentu ia tak akan mau berkeliaran dan melihat mantannya yang tampak cantik itu. Ya, setelah rencananya untuk kawin lari gagal, Ai memutuskan bekerja di perusahaan orang tua Tristan yang lain, hari ini dia diberi kepercayaan sang bos untuk mengawasi jalannya acara.
Excel mengalihkan perhatiannya dari Ai yang sudah nyaris tenggelam di telan pintu keluar pada panggung di mana Naja hampir menyelesaikan tugasnya. Excel tersenyum melihat kerja kerasnya mencarikan gaun pengganti yang tampak memuaskan dan memukau itu. Ia menuntun kakinya untuk meninggalkan ruangan ini dan menyambut Naja di balik panggung. Setelah ini, ia bisa leluasa mengungkapkan perasaan cintanya pada Naja, sekali lagi ia harus berusaha.
Putaran terakhir dan Naja berbalik untuk meninggalkan panggung. Hatinya bergumam penuh syukur, entah bagaimana hasilnya, ia tak peduli.
.
.
.
.
.
Berikan komentar terbaik kalian ... ingat othor yang baik tercipta dari pembaca yang berattitude baik dan sopan ... ingat jatah umur makin tahun makin berkurang ... sekadar mengingatkan saja ... mungkin ada yang lupa ... wkwkwkwkkwk ... 🤭🤭
__ADS_1
LOVE SEKEBON TEBU BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA DAN KANGEN SAMA AKU ... YANG NGGA KANGEN ... PLIS ... KANGEN DONG🥺🥺🥺
wkwkwkwkwkwkkwk ... papayooo😘😘😘😘