Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Membuatku Berprasangka.


__ADS_3

“Mana istri Kakak? Katanya mau dikenalin ke aku?” bibir mungil gadis belia di depan Excel menguncup, membuat Excel makin gemas pada adik lain ibu yang sengaja pulang karena mendengar Kakaknya menikah.


“Dia sudah pulang ...,” jawab Excel sambil mengacak rambut Sia yang bergelombang. “Lain waktu Kakak akan membawanya menemuimu.”


"Dia cantik ngga?" beo Sia. Tangan gadis itu sibuk mengiris tenderloin steak dengan kematangan medium di depannya.


"Kamu nilai saja sendiri nanti, kalau bagi Kakak sih lumayan," Excel tersenyum simpul, membayangkan istrinya yang sebenarnya manis.


“Sudah lama kamu kenal dia, Nak?” Rian menyela percakapan kedua anaknya.


“Em ... satu tahun ini Pa.” Jawab Excel sembari menjejalkan potongan besar daging ke dalam mulutnya. Menutupi kegugupannya. “Maaf kami tidak memberitahu Papa kemarin!” sambungnya lirih.


“Tidak apa-apa, nanti 'kan masih ada resepsi jika Ayah dari istrimu keadaannya sudah lebih baik.” Rian tersenyum. Dari Kira, Rian tahu semuanya. Bahkan Kira meminta pertimbangan dari Rian akan keputusannya.


Excel nyaris tersedak, bila tidak segera menyusulkan cairan untuk melegakan tenggorokannya. “Iya Pa ....”


“Bagaimana kuliahmu?” Excel mengganti topik pembicaraan.


“Lancar Kak ... seperti biasa. Dengan bantuan Kakak, semua terasa mudah. Meski Sia merasa kurang menantang.” Jawab Sia enteng sambil terus mengunyah steak dengan lahap.


“Sia ... masa bilang ke Kakaknya begitu?” Rian menghentikan makannya, dia menatap putrinya yang suka sekali membuatnya jumpalitan akibat ulahnya.


“Maaf Pa ... tapi emang gitu kan? Sia tuh mau mandiri saat tinggal jauh sama Papa, eh ... ini malah difasilitasi. Jadi ngga seru Pa.” Kepala gadis itu bergerak naik turun saat tangannya memberi penekanan pada daging cokelat dengan garis kehitaman, yang sebenarnya tidaklah keras.


“Harusnya bersyukur, bukan mengeluh ... bayangkan mahasiswi lain yang harus kerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhannya? Harus bagi waktu antara belajar dan kerja, berhemat, dan tinggal di tempat yang kurang layak. Sementara kamu, tidak ada yang kurang dari hidupmu, Nak.”


Excel hanya tersenyum melihat adiknya yang langsung manyun, sebab tidak bisa membantah sang papa. “Sudahlah Pa ... Sia hanya penasaran dengan hal-hal baru."

__ADS_1


Pandangan Excel bergulir ke arah Sia, "Bener kata Papa ... Sia harus banyak bersyukur. Dan jangan membantah Papa. Ayo ... segera habiskan makannya!"


“Papa dan anak sama saja ...,” gerutu Sia dalam hati, tetapi dia segera menghabiskan steak yang sudah di cacahnya dalam potongan kecil. Rian menggelengkan kepala melihat kelakuan anak gadisnya yang baru beberapa bulan berjauhan darinya karena Sia melanjutkan kuliah di luar kota bersama beberapa temannya. Tak butuh waktu lama, makanan pun telah habis, sehingga mereka melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda.


**


Usai makan malam, Naja kembali menghadapi kertas dan penanya. Tangan gadis itu bergerak sangat cepat saat fokus telah dia dapat. Sunyi adalah temannya, seakan imajinasinya mampu menebarkan sayap selebar mungkin. Temaram lampu sengaja ia buat untuk mendukung terciptanya suasana damai. Ya, sejak kejadian tadi siang Naja berusaha membuat dirinya senyaman mungkin saat berada di tengah-tengah keluarga barunya, seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan Excel tampak tidak ingin menjelaskan apa pun pada Naja. Dia memilih ke ruang kerjanya usai makan malam.


Jemari Naja mengoyak kertas yang telah terisi sebagian dengan coretan. Meremasnya menjadi gumpalan yang langsung ia campakkan ke dalam tempat sampah. Napas kasar kembali terbuang saat punggungnya menubruk sandaran kursi yang ia atur menghadap halaman belakang kediaman Dirgantara. Manik mata wanita itu tampak menyapu seluruh meja yang seharusnya di gunakan Excel. Bosan, sebab di sini terasa gersang. Kamar ini begitu dingin.


Naja bangkit dari kursi mengambil ponsel yang masih berada di sana sejak terakhir kali ia tinggalkan. Tanpa sengaja, kertas yang ia ambil dari ruang kerja Tristan ikut tertarik keluar hingga terjatuh. Dengan cepat ia mengambil kertas itu dan membacanya sekali lagi.


Mikhayla, Nn.


Begitu yang tertera di atas kertas dari sebuah klinik ternama di kota ini. Naja mengerutkan keningnya dalam-dalam, bukankah jika sudah seperti ini, Mikha sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan yang baik? Ah ... kepala Naja berdenyut hebat.


Langkah Excel sedikit terhuyung ketika memasuki kamar. Berulang kali, ia memijat pelipisnya, lelah tentu saja dirasakan pria yang tak lama lagi berusia 29 tahun itu, sehingga tanpa mengganti pakaiannya, dia langsung merebahkan diri di atas ranjang.


“Bagaimana perasaanmu setelah bertemu Mikha?”


Excel terlonjak, pria itu terduduk kembali, “kau mengagetkanku saja?” tatapan tajam pria itu kembali terlontar ke arah Naja yang masih tak bergeming dari posisinya. Naja yang belum lama terpejam, terkejut kala ranjangnya bergoyang, sehingga membuat Naja terjaga, meski matanya masih terpejam.


“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Naja lagi, tanpa mengubah posisinya yang membelakangi Excel. “Kau senang bukan?” bayangan Excel yang begitu gembira menyambut wanita itu, menari-nari dalam benak Naja.


“Iya ... aku sangat senang.” Jawab Excel sekenanya. Ia pikir Naja melihatnya ketika ia dan Mikha berbicara di halaman rumah mode Sam.


“Huh, pantas ...,” dengus Naja sinis dan lirih.

__ADS_1


“Apanya yang pantas?” suara Excel begitu ketus terdengar.


Naja terduduk, jemarinya menyibak rambut yang memenuhi wajah, manik mata Naja menatap Excel, “Aku tidak yakin kalau kalian terlibat perasaan yang rumit melihat kemesraan kalian tadi siang? Apa kau yakin tidak mau kembali padanya?”


Excel yang semula mengarahkan pandangannya ke sembarang arah, kini menatap Naja dengan penuh tanya. “Siang? Bukannya aku bertemu Mikha tadi pagi?” batin Excel. Tetapi seketika bibirnya tersunggingkan senyum.


“Kau melihatku?”


“Iya ... aku melihatmu. Kalian tampak serasi.”


Bibir Excel tertarik samar. “Apa aku sedang bermimpi? Ucapanmu seperti seorang istri yang kesal karena memergoki suaminya bersama wanita lain.”


Dagu Naja terangkat, tubuh wanita itu bergeser menghadap Excel. “Jangan mengada-ada ...! Mana ada aku seperti itu?” kilah Naja ketus. “Aku hanya senang kau sudah bertemu Mikha-mu itu. Jadi bisakah kita kembali ke pasangan masing-masing?”


“Otakmu pasti sudah geser ...!” telunjuk Excel menggusur kening Naja hingga Naja nyaris terjungkal ke belakang. “Jika hubunganku dengan Mikha sesederhana yang kau pikirkan, aku pasti melakukan hal yang sama seperti yang kekasihmu lakukan. Dan apa kau yakin, kekasihmu mau menerimamu, jika aku sudah melakukan sesuatu padamu, hem?”


Kini bukan hanya telunjuk, wajah Excel yang dihiasi senyum jahat tengah menuju Naja yang spontan menggeser tubuhnya menjauh. “Tentu kau tidak akan melakukan apa pun padaku! Ka-kau ‘kan membenciku?”


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2