
Napas Naja seakan berhenti, dia tidak percaya Tanna lah yang melakukan semua ini. Sekilas pandang saja, Naja sudah bisa menebak apa yang terjadi.
“Kenapa kau lakukan ini, Tan?” Naja seolah tersedak ucapannya sendiri. Keadaan ini menjelaskan segalanya, tanpa Tanna mengucapkan sepatah kata, Naja tahu mengapa Tanna berbuat senekat ini. “Tega kamu, Tan ...!” kecamnya penuh amarah. Sorot mata kedua wanita itu beradu saling menguarkan kebencian. Naja mengimbuhinya dengan ancaman yang begitu kental.
Naja memalingkan wajahnya ke atas tempat tidur dimana ia melihat Excel yang tengah tergolek tak berdaya. Tangan pria itu tampak memeluk Mikha.
“Cel ... bangun!” bisik Naja lirih. Tangannya meraba seluruh wajah Excel dan mengguncangnya perlahan.
“Kamu emang gila, Tan ... kamu apakan Excel sampai seperti ini, ha? Kau sungguh menjijikkan!” Naja menceloskan ucapan yang begitu kasar pada Tanna yang malah tersenyum sinis. Dia berusaha menguasai dirinya yang mulai goyah sebab Rega yang semula berjaga di pintu, usai dua orang komplotan Tanna kabur, kini merangkak lebih dekat.
“Basi lo ...!” Tanna memasukkan ponselnya ke dalam saku belakangnya dengan gerakan samar. Ia mencoba bersikap tegar meski kakinya terasa mengigil dan melumpuh. Bukan karena Naja, tapi bila Rega di sini, artinya dia tak punya jalan keluar lain selain melarikan diri. Setinggi apa pun dirinya, tidak akan menang bila Rega telah memergokinya.
Tanna semakin menggigil saat Rega berangsur mendekatinya, sementara dua orang yang bersama Tanna telah lari tunggang langgang bahkan sebelum Tanna mengatakan apa pun. Sialan, batin Tanna terpojok.
Rega seakan menusuk Tanna dengan pandangannya, mengecam, dan menekan dengan langkah kakinya hingga tersudut nyaris menyentuh tembok. Tangan Rega terulur, mencengkeram tangan Tanna tanpa menyurutkan sorot matanya. Dengan gerakan cepat dan menyentak, Rega memelintirnya hingga tubuh Tanna berputar membelakanginya.
“Cewek sialan ...,” Rega mendesis, namun ia yakin kalau Tanna bisa mendengarnya.
“Lo mau apain gue?” Tanna terengah saat ini, ia tak mampu menggerakkan tubuhnya sebab punggung atasnya diimpit Rega.
Sepi ... hanya suara Naja yang terdengar khawatir memanggil suaminya.
“Yang pasti bukan untuk memperlakukan kamu penuh kasih sayang. Sampah kaya kamu enaknya jadi makanan penghuni kebun binatang,” kecam Rega. Ia menarik paksa ponsel yang terselip di saku belakang celana Tanna. “ngga pantes disebut manusia kamu itu.”
Suara Rega terdengar begitu dingin membelai telinga Tanna, membuat kakinya melumpuh. Ancaman Rega membuat nyalinya semakin ciut.
“Balikin ponsel gue, sialan!” ronta Tanna masih dalam tekanan Rega. Rega membuka ponsel yang diberi password berupa angka, sehingga membuatnya kembali mendesis geram.
“Nanti kalau kamu sudah dipenjara, baru aku balikin, sekarang ini jadi barang bukti. Sekalipun kamu kabur, benda ini menceritakan segalanya.”
Tanna mengerang, dadanya terasa sakit saat Rega menekan tubuhnya sekali lagi. Sial ... sial, umpat Tanna dalam hati. Entah bagaimana ia bisa lolos kali ini, sungguh hanya keajaiban yang ia harapkan.
Rega yang masih belum bisa terima dengan semua kejadian ini, begitu gemas ingin melayangkan tangannya sekadar memberi Tanna sebuah kenangan, akan tetapi Tanna adalah seorang wanita. Dan sudah pasti, bila satu saja tinjunya membelai pipi Tanna, Tanna akan pingsan, sebab saat ini Rega benar-benar di ambang batas kesabarannya.
__ADS_1
Rega memejamkan mata, ia menyimpan ponsel itu dengan aman di dalam saku jas yang ia kenakan, lalu masih dengan cepat ia merambatkan tangannya di antara rambut Tanna. Menariknya hingga Tanna meringis kesakitan. Namun, ketika Rega ingin melanjutkan niatnya, suara Naja yang begitu nyaring memekik membuyarkan semuanya.
“Mas ... Mikha mengalami pendarahan, sebaiknya kita cepat, Mas!"
Rega sedikit mengendurkan tekanannya sehingga membuat Tanna meronta dengan cepat dan berlari meninggalkan kamar.
"Ah ... sial," Rega menatap kepergian Tanna yang menyisakan tilasnya saja. "Pergi sono ... ke lubang cacing sekalipun kamu bersembunyi, bakal aku temukan. Hidupmu ngga bakal tenang setelah ini."
Rega bergegas menghampiri Naja dan sedikit terkejut melihat tubuh Mikha yang terbuka. Namun, detik berikutnya, ia sudah menjauh dan menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
"Tenang, Na ... anak buah om Riko sudah di bawah, om Riko sendiri sedang mengikuti Tanna." Rega mengantongi ponselnya di saku belakang dan membuka jas setelah mengosongkan isinya. Menyerahkan jas itu pada Naja. "Pakaikan itu pada Mikha, meski dia sudah buruk, tapi kita harus menjaga martabatnya sebagai manusia."
Naja mengangguk dan mengikuti perintah Rega. Meski kini tubuhnya menggigil ketakutan dan cemas, ia berusaha untuk fokus dan melakukan semuanya dengan benar. Tak berapa lama, tak kurang lima orang datang dan memboyong Excel dan Mikha untuk mendapatkan pertolongan.
***
Tanna melajukan mobilnya ke salah satu apartemen milik rekannya. Ia yakin, Rega dengan mudah akan menemukannya bila ia kembali ke apartemen maupun rumahnya. Dari kedengarannya tadi, Tanna yakin, Rega tidak akan menyerah menyeretnya hingga ke balik jeruji besi.
Sudah hapal benar, Tanna masuk setelah menekan beberapa digit angka sebagai kunci masuk ke dalam hunian mewah itu.
"Cantik-cantik mulutnya pedes ...," cibir seorang pria yang tengah duduk di sofa dengan beberapa alat hisap dan beberapa bungkusan putih di depannya.
"Brisik lo!" Tanna berlalu ke arah kulkas dan menenggak cairan yang bisa melegakan dadanya.
"Mumpung cewek gue lagi pergi, lo temenin gue Tan!" pinta si cowok yang memakai celana pendek selutut dan bertelanjang dada mendekati Tanna. Ia mulai meraba Tanna dengan nakal.
Tanna meletakkan botol dengan kasar dan menutup pintu kulkas hingga menggetarkan seluruh badan kulkas yang tinggi itu.
"Lo breng sek, ya, lama-lama gue biarin!" Tanna dengan ekspresi malas dan bosan dengan sikap pria bernama Mark itu, menampik tangan Mark yang sudah kelayapan di atas tubuhnya.
Mark terkekeh dan mengangkat tangannya melihat Tanna begitu marah padanya. "Sorry ... Sorry ... gue becanda tadi."
"Lo liat ngga kalau gue lagi kesel ... mau gue remukin badan lo?" ancam Tanna yang belum menemukan pelampiasan yang tepat.
__ADS_1
Mark menarik sudut bibirnya samar, ia menekan kedua tangan yang semula menggantung, ke udara di depan dadanya. "Relax, Nona ... gue punya solusi buat numpahin kekesalan lo." ekor mata Mark menunjuk meja dengan beberapa barang yang telah siap untuk mereka nikmati.
"Daripada lo capek-capek remukin gue yang butuh waktu berabad-abad, apalagi dengan tubuh kecil lo yang sebenarnya gue suka ...," Mark menahan bibirnya dengan senyum menawan. Namun Tanna membalasnya dengan sorot penuh peringatan.
"... becanda!" Mark mendekat dan meraih tangan Tanna yang terlipat di dada. "Lo aman di sini, ngga bakal ada yang tahu keberadaan lo, bahkan pria idaman lo dan anak buahnya sekalipun. Meski gue ngga bantuin lo, tapi gue akan melindungi lo di sini. Dan ...,"
Mark masih terus melanjutkan ocehannya sembari terus menarik tangan Tanna ke arah meja. Tetapi mendengar suara lembut Mark, Tanna merasa diguyur kehangatan. Kehangatan yang ia inginkan dari seorang pria, yang ia harapkan itu dari seorang Excel yang tinggi.
Air mata Tanna meleleh tanpa permisi, mengingat semua perasaan yang rasanya sia-sia. Ia menyalakan api yang berharap akan menghangatkannya, tetapi ia hanya mendapat asap yang memedihkan matanya. Andai Excel sedikit saja memberi harapan sekadar memberinya kesenangan, ia yakin sakit hatinya tak akan separah ini. Namun pria itu selalu memberi batas tegas, siapa Tanna baginya.
Mark berbalik ketika mendengar isakan Tanna, senyumnya kembali terbit. Pepatah mengatakan datangi wanita saat dia tengah terluka. Saat paling buruk dalam hidupnya adalah celah paling lebar yang dengan mudah disusupi oleh perhatian dan ucapan penghiburan.
"Gue tahu lo sedih, makanya gue ajak lo bercanda. Tapi gue ngga tahu lo terluka sedalam ini, Tanna ...." Mark menuntun Tanna dalam pelukannya. Membelai lembut helai rambut yang diberi perwarna pirang.
"Sudah ... lo kaya ngga tahu caranya melupakan kesedihan saja, Tan ...," Mark melerai pelukannya dan mengusap air mata wanita itu. "... akan gue siapin, dan lo tinggal nikmatin. Gue punya sesuatu yang baru, gue yakin lo bakal suka."
Senyum dan perhatian dari Mark, seperti setetes embun yang membuat kekeringan di tubuh Tanna memudar. Meski ia tahu, ini bukan hal baik, tapi di dalam gelap hidupnya, apa kata Mark adalah cahaya yang berpijar. Benar dan masuk akal, selain benda-benda itu tak ada yang bisa membuatnya melupakan Excel. Lukanya tak akan bisa sembuh meski dengan menghabiskan separuh kekayaan orang tuanya.
Tanna mengawasi gerakan Mark yang begitu lihai, dia dengan sabar membimbing Tanna menikmati benda-benda haram itu. Mark terus menggumamkan kata yang membuai Tanna hingga mengawang tinggi ke angkasa. Ia hanya tahu berenang diantara bintang, tanpa menghiraukan Mark yang mulai sibuk menggerayangi raganya.
"Angkat tangan!" suara tegas milik orang lain ikut masuk ke dalam angan Tanna, ia pun mengikuti dengan patuh dan menaikkan tangannya.
Mark terkesiap dan menjauhkan wajahnya dari dada Tanna yang menantang. "Oh, Sh it!" desisnya mengumpat. Dalam perjalanan mengangkat tangannya, Mark mengusap bibirnya yang berliur. Ekor matanya masih tak rela bila keindahan dan kenikmatan itu sirna.
Serombongan aparat yang berwenang itu segera meringkus Mark dan merapikan sejenak Tanna yang kacau akibat ulah Mark sebelum membawanya ke tempat semestinya.
"Semua beres, Tuan!" Riko berdiri di ujung lorong, menyaksikan polisi membawa keluar Tanna dan Mark. Cukup seorang diri, Riko meringkus tikus kecil yang mengganggu malamnya. Mata pria itu masih mengikuti jejak rombongan itu hingga lenyap, sementara telinganya sigap menerima perintah dari bosnya.
.
.
.
__ADS_1
.