Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Siapa Yang Meminta?


__ADS_3

Usai mengatakan itu, Excel segera mengabil posisi berjongkok di depan Naja. "Naiklah ke punggungku ...!"


"Hem ...," Naja mengedipkan matanya berulang-ulang. Ia baru saja mentas dari buaian tangan Excel yang menari lembut di pipinya.


Excel memutar kepalanya ke belakang, "Tunggu apalagi?" tanyanya saat Naja masih tak mengubah posisinya.


Manik mata Naja berkeliaran sejenak, berusaha merontokkan rasa yang selalu saja membuatnya salah tingkah, bahkan gumpalan perasaan itu menggulung kian besar saja.


Ah ... dasar Excel ... bisa-bisanya dia membuatku semakin menyukainya ....


Excel kembali berdiri, ia menyusupkan tangannya di balik punggung dan lutut Naja. Membopong istrinya yang masih tampak berpikir. "Sudah kubilang, otakmu yang kecil itu lama sekali loadingnya, jadi jangan sekali-kali di gunakan untuk berpikir ...!"


Excel menatap Naja yang mulai berpegangan pada tubuhnya, bibir Excel mengembangkan senyum penuh ejekan, "Kau suka sekali ku gendong, ya ...!"


Naja berdecak keberatan, ia meleraikan pegangannya. Tetapi belum sempat protesnya lolos dari bibirnya, Excel sudah menyusuli ucapannya.


"Pegangan yang benar ...!"


Sorot mata Excel mempertegas ucapannya, sehingga membuat Naja kembali berpegangan dengan erat. Excel mulai berjalan menyusuri lorong yang semakin ramai oleh beberapa orang. Tak ada percakapan kecuali napas dan detak jantung Excel yang begitu terasa oleh Naja. Sesekali Naja menatap wajah Excel yang tampak tegang dan tampak tak ramah. Naja menahan senyumnya yang tiba-tiba mengembang tanpa permisi.


"Aku sudah gila ...."


Meski Naja yang meminta, tak pelak dirinya merasa malu terlebih di luar masih banyak orang yang berpapasan dengan mereka.


“Turunkan, Cel ... aku membuatmu malu di sini masih ada karyawanmu!” bisik Naja yang memilih tenggelam di perpotongan leher Excel. Ia merasakan malu yang tak terhingga saat mendengar beberapa orang menyapa Excel dengan hormat.


“Siapa yang minta digendong tadi?” tanya Excel tajam.


Naja langsung terdiam dengan bibir tergigit, ia semakin dalam menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. Jangan sampai satu inci wajahnya tampak oleh orang-orang itu. Sungguh memalukan.


Excel sendiri tak terlalu memedulikan apa kata orang, sebab pergelangan kaki kiri Naja yang ia balut seadanya tadi terlihat jelas oleh orang yang berpapasan.


Mobil Excel terparkir sembarangan saking tergesanya ia tadi, menghalangi jalan pengendara lain yang hendak keluar dari gedung milik keluarga Tristan ini. Excel tampak tenang melihat kekacauan yang ia buat, seolah ia tak melakukan suatu kesalahan. Pandangannya lurus, tetapi ia masih jelas melihat seluruh sudut halaman ini termasuk Mikha yang tengah menatapnya. Sekali lagi, Excel tidak mengerti arti tatapan Mikha itu, ia berlalu begitu saja tanpa menyapa atau berbaik hati menawarkan tumpangan padanya. Dari kelihatannya, Mikha tengah menunggu seseorang untuk menjemputnya. Sekali lagi, Excel merasa prihatin melihat Mikha, tetapi itu bukan urusannya lagi.

__ADS_1


"Bye, Mikha ...," ucap Excel dalam hati.


***


Dalam hal bersikap tidak peduli, mungkin Excel adalah pemenangnya. Bagaimana tidak, saat suara klakson mobil lain mendesak Excel untuk bergegas, pria itu tampak sekokoh gunung dan sekuat pohon beringin. Tetap tenang dan santai menghadapi umpatan melalui bunyi klakson yang memekakkan telinga.


“Cel ... bisakah aku melakukannya sendiri? Hanya kakiku yang sakit, tanganku masih sehat ...,” Naja berusaha mengusir tangan Excel yang masih asyik membuat duduk Naja nyaman. Ia bahkan memasangkan seatbelt untuk Naja.


“Kalau mau berbuat baik itu jangan nanggung, biar kelihatan tulusnya. Lagian aku tidak sedang terburu-buru, kok,” sahutnya datar.


“Ya ... kamu memang ngga keburu-buru ... tapi orang-orang itu sepertinya mengalami hal yang darurat,” Naja mendorong Excel yang masih berada di depannya dengan gemas. Ia sudah tak melakukan apa-apa, tapi masih berlama-lama di sana. “Ayolah ... mungkin kucing mereka mau melahirkan ...!”


Excel keluar dari kabin mobil dan masih sempat melayangkan pandangannya pada beberapa mobil yang terhalang olehnya. Ia mendengkus dengan sebelah bibir terangkat. Mobilnya memang menyilang di tengah jalan keluar. Sembari mencebik, Excel segera menuju kursi kemudi dan menjalankan mobilnya dengan santai.


“Memangnya jalan itu punyamu? Seenaknya saja parkir dan menguasai jalan semaunya!” sindir Naja sembari merebahkan kepalanya di sandaran kursi penumpang.


“Ucapkan saja terima kasih padaku ... semua karena kamu ‘kan?” Excel melirik sejenak istrinya yang mendengkus dan berpaling menjauh.


“Kita ke dokter dulu, kuharap kau bertahan sedikit lagi dengan sisa telur yang masih menempel di badanmu ...”


Excel membelokkan mobilnya ke sebuah klinik, ia khawatir kaki Naja mengalami luka yang serius. Lagi pula, setelah sampai rumah nanti ia hanya mau menikmati waktunya tanpa mengkhawatirkan apapun.


Usai memarkirkan mobilnya dengan benar, Excel kembali menggendong Naja ke ruang UGD. Ya meski sekali lagi, Naja harus memerah karena malu.


Sembari menunggu dokter, Excel keluar untuk menghubungi Rega, ia ingin tahu bagaimana keadaan Tristan usai di bekuk oleh anak buah papa kandungnya sendiri. Entahlah, Excel merasa kasihan pada anak yang menjadi korban keegoisan orang tua mereka. Disaat yang sama juga, ia merasa beruntung karena sekalipun Harris memaksanya untuk meneruskan Star, ia tetap menjadi dirinya sendiri. Harris tidak pernah mengasari anak-anaknya, apalagi memaksakan kehendak. Yang ada, Excel yang merasa tidak enak hati pada papa sambungnya yang tak pernah meminta apa-apa padanya sebagai imbalan kasih sayang yang melimpah ia dapatkan.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Excel sudah berhadapan dengan dokter yang memeriksa Naja. Pergelangan kaki kiri Naja telah dibalut dengan rapi.


“Saran saya, Nona ... anda jangan memaksakan diri mengikuti tren dengan memakai sepatu hak tinggi. Sepertinya, kaki anda bukan hanya satu kali saja mengalami terkilir seperti ini, benar ‘kan?” Dokter itu tersenyum ke arah Naja yang nyengir lebar menutupi takutnya. Ia hanya menatap dokter pria itu, tanpa berani membalas tatapan suaminya yang sudah pasti sedang mengecamnya.


“Beruntung hanya ototnya sedikit tertarik dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Pertolongan pertamanya cukup membantu menahan pergelangan kaki sehingga tidak banyak gerakan yang memperparah traumanya. Setelah ini jangan banyak berjalan dulu, ya!"


Naja mengangguk dengan senyum mengembang. "Baik, Dok ...,"

__ADS_1


Tetapi detik berikutnya ia membawa wajahnya menunduk saat Excel menatapnya tajam. Ia merasa, ia tak akan aman dari omelan suaminya sekalipun ia merengek dan menangis.


“Haah ... ingatkan aku agar tidak bertindak ceroboh, omelannya lebih mengerikan dari omelan emak-emak, dan parahnya lagi, omelannya itu benar,” batin Naja pasrah. Ia menghembuskan napasnya kasar.


***


“Duduk dan diam ... menurut saja atau aku akan memarahimu!” perintah Excel saat Naja telah bersih dan wangi. Naja masih belum bisa merontokkan kekesalannya saat Excel memaksa untuk memandikannya. Sungguh memalukan.


Naja mencebik dan duduk dengan nyaman di atas ranjang. Kakinya bertumpu pada bantal. Tentu saja itu ulah Excel, siapa lagi yang bersikap begitu berlebihan pada luka yang tidak begitu terasa lagi. Tangan dokter itu sungguh ampuh. Setelah mendapat perawatan tadi, kaki Naja sudah lebih baik, tetapi ia tetap tidak boleh banyak bergerak setidaknya dua sampai tiga hari. Ah ... lamanya.


"Tunggulah sebentar, aku akan membuatkan makanan untukmu ...," Excel melepaskan bajunya yang basah, ia berniat mengganti baju saja sebelum memasak.


"Pesan makanan saja, Cel ... kau bisa mandi dan beristirahat."


Excel yang sudah setengah jalan menarik bajunya, menoleh ke arah Naja yang menggoyangkan ponselnya. Dari penampakannya, ia telah memesan makanan melalui aplikasi.


"Sebagai ucapan terima kasihku ... aku mentraktirmu ...," Naja mengendikkan lehernya, alisnya yang tidak terlalu rapi itu terangkat naik. "Jangan khawatir ... aku cukup kaya untuk membelikanmu makanan ... sekalipun di hotel bintang lima ...."


Excel menyodokkan ujung lidah pada bagian dalam pipinya, ia gemas sendiri melihat tingkah sombong istrinya itu. Menyikukan tangannya di pinggang Excel menatap Naja penuh ancaman. Dia pikir, dia sudah sangat hebat ... dasar gadis yang sok ...!


"Ayo lihat dan buktikan seberapa kaya dia, awas saja kalau yang ia pesan hanya bakmi atau ayam geprek di depan kompleks itu ...!" kecam Excel dalam hati. Ia mengembalikan baju yang telah ia tarik dan menutup kembali lemarinya. Ia segera melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Naja yang masih asyik memainkan ponselnya. Dia tak tahu, bahwa ancaman masih mengintainya.


"Nikmati waktumu selagi bisa, Na ...," Excel tersenyum miring, saat memikirkan balasan yang sepadan untuk istrinya yang sombong itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2