
Uap hangat yang menari diatas permukaan kulit Naja, meliuk lembut mengudara,
terkadang terberai tatkala napas dari hidung dan mulut Naja terhembus
perlahan, bahkan tak jarang terembus kasar. Naja memilih untuk tenggelam dalam
bilik kaca yang kini dipenuhi uap hangat, daripada melihat atau mendengar apa
saja yang dua pria itu lakukan di bawah sana. Hanya mengenakan under wear, Naja menyentuhkan tubuhnya di lantai. Bersandar pada dinding kaca yang mengembun. Menyandarkan beban hidup yang terasa berat menimpa dirinya.
Akankah selamanya seperti ini? Terselip keraguan di hati Naja akan pernikahan yang memang tidak di dasari cinta. Cinta? Naja mengulas senyum sinis saat menggumamkan kata itu. Dia mengakui sedikit demi sedikit perasaannya telah terkikis untuk Ai, ya
... dipaksa untuk lebur memang, tapi bukan berarti ia membenci Ai, Naja hanya
ingin Ai menyerah. Menyerah pada suatu hal yang akan berakhir sia-sia. Kalaupun tidak
dengan Excel, Naja yakin ia akan berlabuh pada pria lain selain Ai.
Hidup memang hanya sekali, tak pantas rasanya ia mengorbankan perasaannya sendiri, tetapi hidup juga cuma satu kali untuk berbakti pada kedua orang tuanya. Sayangnya, ia memilih untuk membuat dua malaikatnya tersenyum di penghujung usia, sebab seumur hidupnya ia tak akan mampu memberikan bahagia dengan cara lain.
***
Tangan Naja mengusapkan handuk pada rambutnya yang basah. Ia memandangi pantulan dirinya di cermin, dari atas turun ke bawah dan berbalik lagi, beberapa saat lamanya, hingga akhirnya ia menyudahi semua itu dengan hembusan napas putus asa. Tak ada yang bisa ia banggakan dari tubuhnya.
“aku memang tidak cantik dan memiliki tubuh seindah Mikha, bahkan Tanna yang digilai banyak pria itu saja dia tidak tertarik. Pantas saja Excel tidak melirikku sama sekali,” tubuhnya terempas di kursi kecil yang mendampingi meja rias yang hanya memiliki sedikit penghuni, itu saja sudah bercampur dengan barang milik Excel. Berbeda sekali dengan milik Tanna yang pernah ia lihat saat ia berkunjung ke rumah sahabatnya itu dulu. Skincare yang dipesan khusus dari dokter terkenal di luar negeri, perawatan tubuh yang tak terkira jumlahnya mulai dari kuku sampai rambut, parfum dari brand kenamaan dunia, dan jangan lupa semua yang melekat di tubuh Tanna adalah mewah dan mahal. Ia tidak iri, karena sadar kemampuan diri, tetapi ia mendadak buntu. Pikirnya ia ingin memikat hati suaminya dengan dirinya, seperti apa yang dikatakan sebuah artikel yang membahas keharmonisan rumah tangga, tetapi ia tak tahu harus mulai dari mana, dan dia juga tak tahu suaminya menyukai tipe wanita seperti apa.
“Terserah saja apa dia akan menyukaiku atau tidak, aku sudah pasrah. Benar-benar pasrah.” Tangan Naja terulur untuk meraih gagang pengering rambut yang telah ia colokkan pada stop kontak, dan menyalakannya. Ia benar-benar lelah berpikir.
Tak berapa lama, kegiatannya itu usai karena kini rambutnya memang tak sepanjang dulu. Menarik tubuhnya hingga berdiri, Naja berniat mengganti handuk berbentuk jubah itu dengan pakaian tidur, tetapi baru saja ia melangkah, kakinya terantuk pada sebuah tas yang berisi kotak yang berukuran sedang. Kiriman yang ia peroleh dari Jen beberapa hari lalu yang ia biarkan tergeletak begitu saja. Alis Naja nyaris menyatu dan penasaran saat melihat kotak berwarna silver dengan taburan blink dan pita senada menyembul dari balik tas. Bergegas ia mengambil dan
__ADS_1
membukanya.
Mata Naja membulat sempurna saat tangannya memegang kain lembut transparan yang akan membuat seluruh tubuhnya terlihat semua. Sebelah tangan Naja meraih secarik kertas dengan tulisan tangan Jen, yang ikut terhambur saat Naja menarik kain itu.
“Jangan melelehkan es batu dengan hair dryer, karena itu akan sia-sia. Cukup dengan ini, bukan hanya leleh, tapi juga menguap.”
Mencampakkan kertas yang telah berbentuk gumpalan itu ke belakang, “Apa-apaan, sih, Jen ini, menyebalkan.” Ia mengaduk kotak yang hanya berisi tiga helai kain sutra
berenda itu, ia bersumpah tidak akan memakai outernya, tapi innernya bisa lah
ya, dipakai, pikir Naja. Dia segera meraih dua benda yang memang ia butuhkan saat ini dan memakainya. “Nyaman juga ...,” gumam Naja setelah dua benda itu melekat ditubuhnya.
Naja membawa tubuhnya berputar, untuk mengambil piama yang masih berada dalam lemari, “Astaga ...,” kelopak mata Naja melebar penuh, tubuhnya limbung dan terantuk ujung meja rias yang lancip, ketika ia melihat Excel telah berada tepat di
belakangnya. “se-sejak kapan kau di situ?” kaki Naja melipat untuk menutupi harta benda yang seumur hidup baru sekarang terbuka di depan orang lain. Kedua tangannya sibuk menaikkan penutup tubuh atasnya yang tidak menjangkau keseluruhan isinya. Ini sungguh memalukan, batin Naja
Excel mengalihkan tatapannya dari tubuh eh ... wajah istrinya yang tampak memerah, tangannya membuka gumpalan kertas yang dilempar Naja tadi. Belum sempat membacanya, Naja sudah merampas kertas itu.
penasaran dengan isinya, meraih lagi kertas itu, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Dengan gerakan mata yang begitu cepat, Excel membaca tulisan itu. Sengaja berlama-lama, agar Naja terus merengek dan fokus pada kertas itu, Excel meraih tubuh Naja dan meraup bibir yang masih meneriakkan namanya.
Naja yang berhasil meraih kertas itu, kini membulatkan matanya penuh. Ia sungguh
terkejut dengan tindakan suaminya yang mulai memainkan dirinya. Excel yang
sudah melepas bajunya saat memasuki kamar, kini bersinggungan langsung dengan
kulit Naja yang putih bahkan pucat. Hangat hingga mampu menyusup ke dalam hati
ketika mereka semakin dalam memagut. Membuai, beberapa saat lamanya.
__ADS_1
Naja menundukkan wajahnya yang terbias panas, saling menjauh setelah napas merekaterasa kosong. Ia sangat malu karena meski masih
kaku, ia juga membalas perlakuan Excel padanya. Perlakuan yang melahirkan
desiran yang seakan membelah tubuhnya menjadi dua, “Ka-kau belum mandi ...,”
lirih Naja. Ia menarik tangannya yang sejak tadi tersampir di pundak Excel, dan
juga tubuhnya dari jangkauan suaminya.
Excel meraih tangan Naja yang meluncur menyisakan genggaman pada ujung jemari Naja. Memaksa wanita itu menoleh dengan sipu yang masih tercipta jelas di pipi. Manik mata Naja berlarian saking salah tingkahnya. Ia cukup mengerti arti tatapan itu, bisakah ia menyerahkan diri sekarang? Bagaimana nasibnya nanti? Benarkan usai
melakukan itu akan benar tumbuh rasa cinta itu? Jika tidak jua ada cinta diantara mereka, bagaimana? Ya ... itulah yang ia baca dari salah satu artikel
beberapa hari lalu, menaklukkan suami dengan bercinta. Yang Naja sendiri tidak
mengerti bagaimana caranya secara jelas. "Oh itu sungguh menyesatkan ... dan Jen ... kau sungguh kawan yang buruk." rutuk Naja dalam hati.
Excel menyentak Naja hingga menabrak tubuhnya lagi, dekat tak berjarak. Aroma Naja begitu kental untuk diciumi, sehingga Excel mendekatkan ujung hidungnya di pundak yang terbuka hingga menjalar ke leher dan bawah telinganya, “Aku ... lapar,”
Ucapan Excel membuat Naja menjauhkan tubuhnya. Ia menatap suaminya itu gugup.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Penasaran ngga? like kenceng, gift banyak ... bakal double up ...