
Talenan dan pisau beradu dengan kuat menimbulkan bunyi tak-tak yang begitu keras, menggema di seluruh penjuru ruangan dapur yang benderang. Bibir mungil itu menguncup, sesekali menggerutu begitu kesalnya. Tak jarang pula, ia membawa kepalanya mendongak ke ujung tangga, tempat sekiranya Excel akan muncul.
Naja mendesis saat merasakan ada sesuatu yang aneh dari dirinya, sesuatu yang ingin dipenuhi. “Haaaissh ...,” Naja menepuk sisi kepalanya, “... besok-besok aku tidak akan membaca artikel online yang tidak bisa dipercaya itu dan aku tidak akan menonton drama atau film yang hanya akan membuat otakku piknik.”
Tangannya terus mengiris cabai dan daun bawang yang akan dijadikan pelengkap untuk membuat mi instan. Setelah mengatakan lapar dan setelah memorak-porandakan perasaan Naja, Excel mendorong tubuh Naja keluar kamar. Lapar yang sebenarnya. Ya Lord ... sumpah demi apa pun, Naja sangat kesal sehingga dia mengentakkan kakinya setelah Excel menutup pintu. Ia bahkan menuruni tangga dengan kasar, sembari terus menggerutu. Kenapa dia sangat marah?
“Haah ... dasar menyebalkan!” maki Naja pada ruangan kosong ini. Entahlah mengapa ia sangat marah saat ini.
“Siapa yang menyebalkan?” Lagi-lagi Naja melompat, menghamburkan irisan yang telah ia buat di atas talenan. Dengan pisau masih tergenggam, Naja memegangi dada yang nyaris rontok semua isinya.
“Kau ...!" Naja menangkup bibirnya. “ma-maksudku daun bawang ini ....”
Excel mengedip dramatis, melengkungkan senyum yang hanya bisa dipahami olehnya sendiri, ia menatap lekat wanita yang membuat hatinya kalang kabut setiap detiknya. Tanpa pesona, tapi membuatnya sekarat.
Naja memang telah memakai piama yang Excel lemparkan padanya tadi, tapi ia merasa risih ketika pandangan suaminya itu seolah menelanjanginya. Seketika, ia memalingkan wajahnya dan mulai bergerak meracik menu instan yang akan ia buat. Irama mulai tak seiras dalam dirinya, sehingga Naja sering melakukan kesalahan.
“Bisa tidak ...?” Excel mendekat, meneliti satu per satu bahan yang sedikit tercecer di atas meja. “hanya mi instan?”
Naja yang tengah menyalakan api, menoleh sekilas, “Lupa kalau tadi asyik reunian?” datar tapi sarat sindiran.
Excel membeku, ia melirik Naja melalui sudut matanya, tak berani menatapnya langsung. Ini sepenuhnya salahnya. Hening menjeda cukup lama, Excel membuka kulkas yang nyaris kosong melompong, bersih seperti habis lebaran, suci.
“Beneran habis semua?” sambungnya lagi setelah kekang di lehernya terurai. Kini ia mengerti bagaimana di posisi papanya, saat mama Kira menyindir sang papa. Rasanya seperti tercekik.
Dua buah telur mendarat di atas air yang menggelegak panas. Mi kuah panas hampir siap. “Apa aku terlihat berbohong? Untuk apa? Ditimbun dan dibawa pulang kampung? Mending nimbun duit, yang tidak susah ketika membawanya.” Naja melempar cangkang telur ke tempat sampah, matanya menatap penuh Excel yang mengusap punggung lehernya.
Mi yang masih di atas nyala api kompor, mendidih dan meluber kemana-mana. Menimbulkan bunyi berdecis dan berhasil menceraikan tautan mata kedua manusia itu.
“Wuah ...,” manik mata Naja melebar, ia tergesa berlari untuk mematikan kompor, tetapi karena tidak hati-hati malah ia menyenggol gagang panci yang mencuat, sehingga kuah dan isinya tumpah kemana-mana, “Astaga-astaga ....” gumam Naja. Ia kerepotan mengatasi situasi ini. Lelah, marah , dan kecewa, Naja melempar lap yang sedianya akan ia gunakan untuk mengangkat panci tersebut.
Excel mendekat dengan tak kalah panik, “Kau baik-baik saja? Mana yang luka?” meraih tangan Naja dan membolak-baliknya berulang-ulang. Ia menoleh ke arah istrinya yang terisak dengan mulut tertutup. “Na ... kau kenapa? Apa kau sakit?”
Excel meraih istrinya itu dalam pelukan, menepuk punggungnya dengan lembut. “maaf, malam-malam membuatmu sibuk.” Bisik Excel yang malah membuat Naja terisak semakin dalam.
__ADS_1
Excel bingung, tapi ia tak melepaskan pelukannya, ia hanya terus membelai punggung istrinya dengan lembut. Entah, ia hanya merasa bahwa itu adalah hal yang benar.
Entahlah ... Naja hanya merasa seperti dipermainkan. Sebentar dilambungkan, sedetik kemudian di jatuhkan sejatuh-jatuhnya. Ya ... ia merasa seperti itu menyikapi perlakuan mesra suaminya.
***
“Kenapa kau menangis?” Excel yang telah menghabiskan mi yang telah berhasil membuat drama dini hari ini, duduk bersebelahan dengan istrinya. Sejak tadi Naja membisu, bahkan ia tak mau mencicipi sesuap pun mi yang telah ia buat.
Embusan napas Naja sedikit berat terdengar, ia membawa tubuhnya duduk tegak. “Aku ini ceroboh, tidak cantik, tidak pintar, tidak bisa masak, dan banyak lagi kekuranganku ... jika kita tidak bisa saling mencintai, apa bisa kita saling menghargai? Menghargai kekurangan masing-masing, maksudku, tentu ... kau tidak punya kekurangan ta-tapi ini ... ini lebih ke aku ...,” bibir Naja berdecak karena apa yang ada diotaknya tak bisa ia sampaikan dengan benar. Ditambah luapan emosi yang terasa entah, membuat Naja kesulitan mengungkapkan isi hati yang sebenarnya.
Excel menggeser tubuhnya mendekat, ia menatap Naja yang tak mau menatapnya, lekat-lekat. “Aku pria yang tidak pandai bergaul dan kaku. Meski menurutku itu bukan kekurangan, tapi aku rasa tidak ada salahnya mengakui kekurangan. Dan apa yang kau bilang tadi, itu hanya nilai yang kau berikan pada dirimu ketika kamu membandingkan dirimu dengan orang lain, benar?” Naja menoleh menjumpai ketampanan yang tiba-tiba naik beberapa derajat. Kening halus itu berkerut.
“Karena aku suamimu, biarkan aku yang menilai dirimu, tanpa peduli banyaknya kekurangan yang ada di dirimu. Tak apa kau ceroboh, aku yang akan lebih berhati-hati. Kau tidak cantik, biar aku yang ganteng ...,”
“Mana bisa begitu? Kalau aku tidak cantik, ya, dimodalin biar bisa beli skincare ... masa mau kamu borong semua yang lebih-lebih.” Bibir Naja kembali menguncup. Menarik tubuhnya berdiri, Naja meraih mangkuk dan membawanya ke tempat cuci piring.
Excel tertawa geli. “Kau tinggal ambil mana yang kamu mau ... ‘kan aku sudah memberimu nafkah sendiri. Apa itu kurang?”
Naja menipiskan bibir. Membicarakan nafkah membuat ia merasa seperti istri sesungguhnya. Begini saja sudah berdaun-daun ... eh, berbunga-bunga. Mimpi apa aku semalam, pikir Naja.
Naja membeliak saking kagetnya, “A-ku bisa jalan sendiri, Cel ...,” degup jantung Naja sudah mulai bertalu tak karuan. Panas dingin ia dibuatnya.
“Kau mau membawaku kemana?” tanya Naja lagi saat Excel membawanya menapaki tangga, “Turunkan, Cel ... aku pasti berat.” Protes Naja, ia panik saat Excel hanya menatap lurus tangga tanpa menghiraukan ucapan keberatan Naja.
“Cel ...,” ulang Naja penuh demo. Namun, patung es berjalan itu hanya diam sembari terus melangkah.
Bahu Excel mendesak pintu hingga terbuka, membawa Naja berbaring di ranjang.
“Apa kau tidak mau melanjutkan yang tadi?” bibir Excel bergerak di pipi dengan suara berbisik. Mencipta panas berlebih di atas sana.
“Yang-yang mana? A-aku tidak ingat ...,” kilah Naja sembari menjauhkan wajahnya. Tremor melanda sekujur tubuh Naja, suhu tubuhnya bergerak tak normal. Demam apa ini?
“Tapi ini mengingat semuanya.” Punggung telunjuk Excel bergerak di atas pipi Naja yang merona. Mata Naja mengatup rapat, napasnya tertahan saat seluruh ujung sarafnya terbuka, gerakan sedikit saja membuatnya geli tak tertahan, seperti berjalan di atas tumpukan bulu angsa.
__ADS_1
Perlahan sekali, Excel mulai membuai istrinya, memberikan sentuhan yang juga baru pertama ia berikan pada wanita. Dia memang tidak menghiraukan orang berbicara bagaimana caranya menaklukkan wanita, tapi telinganya memperhatikan, dan otaknya sigap merekam.
“Kau takut padaku?”
“Heem?” Naja membuka matanya, ia tak mengerti maksud Excel, ia sudah jauh melambung di antara bintang-bintang.
“Kau hanya perlu percaya padaku, hanya padaku!” ucap Excel penuh penekanan. Manik mata Excel begitu menghipnotis Naja, sehingga hanya anggukan saja yang ia berikan sebagai jawaban. Entahlah, otaknya terlalu penuh dengan stimulus yang tak henti datang. Seluruh isi kepalanya bingung menerjemahkan rasa ... ahh ... yang melanda.
Excel kembali menjamah dengan lembut bibir istrinya. Dia hanya butuh kepercayaan dari wanita ini, itu sudah cukup, lebih dari cukup. Tenggelam semakin dalam, Excel membiarkan hormon kelelakiannya meraja, membiarkan logikanya tertidur sejenak. Memainkan mode auto pilot saat ia terbang di antara awan putih yang lembut. Ia hanya ingin menikmati, menikmati rasa yang akan membuatnya memiliki Naja sepenuhnya. Mengusir ancaman yang masih terus mengintai. Dia berharap setelah ini, ia tidak akan terus dihantui ketakutan akan kehilangan wanita yang sudah satu tahun lebih di kenalnya.
Peluh-peluh cinta mulai menetes, Excel merasa ia telah membawa seorang gadis menjadi wanita, untuk menemaninya di separuh perjalanan hidupnya. Ia merasa telah mengukir kisah atas hidup seorang wanita. Tugasnya kini, menggandeng tangannya, merengkuh dalam dekapannya. Rasanya, ia baru lahir sebagai pria seutuhnya, dini hari ini.
***
Lampu masih terang menyala di ruangan yang berhadapan dengan balkon tempatnya berdiri. Tirai memang menghalangi pandangannya, tapi siluet itu menceritakan segalanya. Bibir Ai bergetar saat melihat dan mendengar suara yang membelah dini hari yang begitu sunyi. Hewan malam bahkan malu untuk bernyanyi, suara mereka pasti terdengar sumbang di antara merdunya nyanyian dua insan yang sedang dibuai cinta yang memabukkan.
Tubuh Ai luruh, “Na ... secepat ini kau melupakanku? Sakit ... Na ....” isak Ai sembari memukul lantai dengan kedua tangannya. Silet tajam rasanya memutus tiap aliran darah, pisau tak kasat mata, seolah mengiris tiap jengkal lapisan tubuhnya. Dibunuh perlahan oleh wanita yang begitu ia cinta, sejak sebesar nyala lilin hingga membakar seluruh tubuhnya.
Ai menekuk lututnya lebih rapat, menenggelamkan tangis yang sungguh tak mampu ia bendung. “Sungguh kejam caramu membunuhku, Na ....”
.
.
.
.
.
Ya Lord ... anak gadis baru mletek di suruh buat beginian ... sungguh ternoda kepolosanku ... 😂😂😂
__ADS_1
Selamat membaca ... maaciew atas gift, vote, like, dan komen sekenceng tornado ... Sampai bikin othor ini tremor mendadak ...🥰🥰🥰
Sending Love from othor 💖