
Naja mengembuskan napas, membanting punggungnya di sandaran kursi penumpang di sebelah Excel. Naja yang sedang bersiap untuk pindah rumah terpaksa harus meninggalkan kegiatan mengemas barang yang sebenarnya tidaklah terlalu banyak. Ya, panggilan dari Sam, mengharuskan dia datang hari ini, Tristan yang menginginkannya. Mempercayakan semua pada Sita dan Jen—yang sejak terpecahnya koalisi pertemanan dengan Tanna—lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sesekali bekerja dan lebih banyak ikut merawat kakeknya sebelum meninggal.
Mobil melaju, meninggalkan kediaman Dirgantara. Naja mengembuskan napasnya dengan keras berkali-kali, memancing Excel untuk menarik manik matanya melirik Naja.
Naja melipat bibirnya, “Apa tidurmu nyenyak?” ekor mata Naja mencuri pandang ke arah Excel, yang sejak memulai perjalanan mengusap punggung lehernya berulang-ulang.
"Kan aku sudah bilang ... di sofa itu ngga nyaman, bikin pegel." imbuh Naja.
Excel melirik Naja sejenak sebelum kembali fokus ke depan, “Aku sudah pernah tidur tanpa alas, jadi tidur seperti itu sudah hal biasa bagiku.”
Naja menaikkan alisnya, “Ucapanmu tidak terlalu meyakinkan ...,”
“Kau pikir aku serta merta hidup enak karena kini papa sambungku memiliki semuanya?” Excel meletakkan tangannya di atas kemudi setelah di rasa pegalnya hilang.
“Memangnya pernah gitu, hidup susah?” Naja memalingkan wajahnya ke arah Excel dengan sebelah mata memicing. Ia meragukan ucapan pria itu.
Excel melirik Naja dengan kesal. “Kau pikir hanya kamu saja yang menderita? Kau pikir semua orang yang hidupnya terlihat mewah itu tidak melalui proses susah terlebih dahulu?”
Naja memajukan bibir bawahnya, “Aku ngga pernah mikir sih ... melihat kamu, Jen, dan Tanna tampak mudah menjalani hidup.” Naja mengendikkan bahu. “Ku pikir ya, kalian tinggal menikmati dan meneruskan usaha orang tua kalian saja.”
Excel mendengkus. “Kau terlalu memikirkan dirimu sendiri—"
“Aku tidak seperti itu, ya!” seru Naja tidak terima seraya memajukan tubuhnya. Tahu apa dia tentangku?
Excel mendesis saat telinganya terasa berdengung. “Bisa ngga kalau ngga teriak begitu?” Excel mendelik sehingga Naja kembali mundur.
__ADS_1
“Kalau kau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam!” Naja melipat tangannya di dada. Pandangannya tak bersahabat masih terkunci pada sisi wajah Excel.
Naja membalas tatapan Excel dengan berani, setelah pria itu mendengar ucapan Naja, Excel menoleh dengan tatapan menghujam dalam, “Kau pun begitu, lebih baik diam daripada membuka mulut dan asal bicara!”
Naja mendecih sambil membuang muka, menenggelamkan kekesalannya pada pemandangan jalanan yang kian memadat. Batinnya terus mengutuk dalam heningnya suasana. Pun dengan Excel, ia lebih memilih fokus mengemudi daripada meladeni Naja. Kebisuan terus menjeda hingga tiba di rumah mode Sam.
Naja membenarkan posisi tas yang menggantung di pundak, “Nanti biar aku pulang sendiri saja, tidak perlu mengantarkanku pulang!”
Tangan Naja terulur untuk membuka pintu mobil, tetapi ia urungkan saat Excel tak menyahuti ucapannya. Naja memutar kepalanya, mendapati Excel tengah memandang lurus ke depan dimana dua orang yang tengah beradu mulut tak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Itu 'kan Mbak Mikha dan Tuan Tristan ... mereka bertengkar lagi." batin Naja. Ia menyipitkan mata bahkan kepalanya condong ke depan, memastikan ia tak salah lihat.
Naja berpaling ke arah Excel dan melihat dengan jelas, buku jari Excel menegang erat pada lingkaran kemudi. Rasa penasaran mendorong Naja membuka sedikit kaca yang memblokir suara masuk ke dalam mobil.
“Kau tidak bisa membuangku begitu saja, Tan ... setelah apa yang terjadi di antara kita dan kau tidak bisa membuangku sampai kebenaran itu terbukti!” Mikha dengan erat memegangi tangan Tristan yang sejak tadi terus menerus di tariknya menjauh.
“Tan ... kau tahu mengapa aku melakukan semua itu, bukan? Aku terpaksa, Tan ... sungguh aku dipaksa melakukan itu. Aku hanya cinta sama kamu!” Mikha luruh di kaki Tristan. Tangannya mendekap kaki Tristan dengan erat hingga celana bahan yang begitu licin itu tampak kusut. Luruh sudah harga diri seorang Mikha di hadapan Tristan.
Tristan mengusap wajah hingga rambutnya, tanpa merusak tatanannya. “Berhentilah merengek dan mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Kau tahu, telingaku bosan mendengarnya. Aku sudah menganggap kita sudah berakhir sejak kau menolak untuk jadi modelku waktu itu, dan jika dipikir lagi, hanya dengan Star saja kau menolak. Apa itu tidak terlalu aneh? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan sekarang?”
Mikha masih tak bergeming dari posisinya, ia masih meluruhkan tangis. Sejenak hening menjeda, akan tetapi Tristan tampak jengah dengan keadaan ini. “Bangunlah ... dan menyingkir dariku. Carilah pria lain yang tergoda dengan wajah palsumu itu!” bibir Tristan meliuk ke atas, lalu menarik kakinya dari dekapan Mikha yang tampaknya mulai mengendur.
Perlahan Mikha berdiri, “Kau akan menyesal melakukan ini padaku, Tan ... kau akan menyesal!” Mikha berbalik, ia menyeka air matanya dengan kasar sehingga membuat make up yang disapukan di wajahnya berantakan. Tristan berhenti sejenak memberi lirikan sinis pada Mikha sebelum ia melanjutkan langkah memasuki rumah mode yang masih tampak sepi itu.
Naja begitu terkesiap saat Excel turun dari mobil tiba-tiba. Tanpa banyak bicara, Naja juga turun dan mengekor sedikit jauh dari Excel.
__ADS_1
“Hanya ngga mau jadi model saja mereka putus dan ribut? Hem ... dunia pria kaya sungguh memusingkan.” Gumam Naja sambil terus berjalan.
Excel berhenti menyisakan jarak yang sangat jauh dari tempat Mikha. Excel menyembunyikan kedua telapak tangannya di dalam saku, tatapan pria itu begitu tak terbaca, tetapi kini ia tahu kenapa Mikha meninggalkannya.
"Excel ...," lirih Mikha. Manik mata berbingkai bulu mata lentik itu membulat penuh. Ia begitu terkesiap, dan bersegera menghapus jejak air mata yang masih tertinggal. "Aku ... aku sedang ada keperluan di sini."
Bibir Excel tertarik ke atas, "Aku tidak bertanya ...," ujar Excel dingin. Tangan Excel terulur ke belakang meraih pertengahan lengan Naja, menariknya melewati Mikha begitu saja.
Sumpah demi apa pun, Naja tidak ingin berada di sini saat ini. Sejak mendengar Mikha memanggil nama Excel, sejak itu pula pikiran gadis itu seperti tersiram cahaya lampu Thomas Alfa Edison, ia mendadak memahami siapa Mikha yang selama ini sering ia bicarakan dengan Excel.
Naja sejenak menatap Mikha yang mengangkat wajah sambil mengusap pipinya yang basah. Naja ingin berhenti dan menyapa Mikha, tetapi Excel menautkan jemarinya di sela jari Naja, menggenggamnya hangat.
Naja menarik pandangannya dari Mikha, menjumpai Excel yang seolah tak ingin Naja berlama-lama di sini. Tak punya pilihan, Naja kembali menghadapi Mikha dengan mata meredup, memohon Mikha untuk memahami situasinya.
Mikha mematung menyaksikan dua orang yang terlihat begitu mesra. Excel bahkan belum pernah memaksa Mikha untuk menuruti kemauannya. Mikha selalu terbang bebas kemanapun ia mau, dan Excel yang melebarkan jaring di bawahnya, berjaga-jaga bila ia jatuh. Ia memang telah mengeraskan hati agar ia tak lagi tergoda memiliki Excel kembali. Tetapi kenyataan bahwa ia terlalu mencintai pria itu, membuatnya merasakan sakit yang teramat dalam ketika Excel ternyata telah menggantinya. Dan wanita itu Naja, wanita yang terlihat lemah dan polos.
Mikha melenguh sinis, "Aku akan mengulitimu, Rubah Betina!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih yang selalu sabar menungguku ...😍🥰