Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Kekesalan Excel


__ADS_3

Naja menghambur ke dalam pelukan sahabat sekaligus adik iparnya. Jejingkrakan dan berputar dengan lengan saling bertautan di pinggang.


“Aku mandi dulu, setelah itu kita seru-seruan.” Ucapan Naja menghentikan gerakan melompat kecil itu, bahkan langsung membuyarkan lingkaran kecil yang berhasil mereka ciptakan barusan.


Naja menarik mundur dirinya dan memandangi kedua adiknya dengan seksama.


Seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan Naja, Jen meraih Naja dalam rangkulannya.


“Tenang saja, aku sudah siapkan piama yang sama dengan kita ... karena malam ini kita akan memburu pagi ...,” ucap Jen dengan irama ceria. Di sambut Ranu yang juga ikut bersorak dan merangkul kakak iparnya.


Semenjak pindah rumah, Naja tak punya lagi piama dengan motif yang bernuansa ceria dan kanak-kanak lagi. Yang ia punyai adalah gaun tidur dengan renda, tipis, dan licin. Yang kesemuanya itu, terpaksa ia tutupi dengan outer yang panjang, sweater, atau ia memilih memakai kaos kebesaran yang biasa ia pakai saat santai di rumah.


“Kau kemanakan semua piama milikku dulu?” tanya Naja setelah menjauhkan sedikit tubuhnya. Ia yakin lenyapnya piamanya adalah ulah Jen. Sama halnya dengan datangnya lingerie yang tiba-tiba menjamur di dalam lemarinya.


Jen menyengirkan senyumnya, meletakkan kepalanya di atas bahu Naja yang lebih rendah dari posisinya. Menguraikan kekesalan yang tampak menghiasi wajah saudara iparnya. “Kan demi terciptanya seorang adik bayi di perutmu, dan juga karena aku tak sabar melihat kakakku yang beku itu kelabakan nurutin ngidammu yang kudoakan sangat aneh bin nyeleneh.” Ucapan Jen diakhiri dengan kikikan yang teramat menyebalkan.


“Kau senang melihatku kesulitan?” Naja mengecam ucapan Jen yang membuatnya bergidik ngeri. Hamil saja ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya atau memang Naja tidak memikirkan untuk hamil dalam waktu dekat, atau juga ... Naja tidak tahu kalau perbuatan Excel bisa membuatnya menjadi seorang ibu.


“Ya Tuhan ... aku baru ingat efek perbuatanku itu!” keluh Naja dalam hati.


Menyadari hal tersebut keceriaan yang menghiasi wajah Naja perlahan pudar. Ia menatap Jen, ingin mengatakan sesuatu tetapi ia memilih menelan kembali perkataan yang sudah berjejal di ujung lidahnya.


“Kenapa, Na?” tanya Jen bingung dan heran. Ia menyapukan pandangannya ke setiap inci wajah Naja yang tampak pucat.


Naja membasahi kerongkongannya, ia menundukkan wajahnya, lalu sedetik kemudian ia kembali menatap Jen. “Ti-tidak, tidak ada apa-apa. Oh ya ... tadi ada kue dari tetangga baru di meja depan. Kalian makan dulu sembari menungguku mandi. Oke ....” mengembalikan raut wajah ceria yang susah payah ia upayakan, Naja menepuk bahu kedua adiknya dan berlalu ke kamar tanpa menghiraukan lagi keheranan dan kebingungan yang menghiasi wajah mereka.


***


Naja mendorong pintu dengan tergesa, menjeblak hingga menimbulkan bunyi gaduh dan membiarkannya menganga lebar. Langkahnya terhambur menuju kalender yang berada di meja rias. Melihat lagi jadwal kehadiran tamu bulanan yang ia terlupa kapan itu terjadi. Samar ia mengetahui tanda awal seseorang mengalami kehamilan.


Panas dingin tubuh Naja terasa, berulang kali ia menyatukan bibir dan mendorong salivanya turun ke saluran pencernaannya. Ia menatap nanar kalender yang dipegangnya. Namun tiba-tiba ia merasakan gelenyar aneh yang menjalari sekujur tubuhnya. Tanpa sadar, ia meraba perutnya.


Lamunannya buyar saat pintu kamar mandi terbuka hingga menampakkan sosok yang tengah bertelanjang dada dengan celana kain membalut kakinya. Pandangan mereka saling beradu hingga Naja mengakhirinya terlebih dahulu.


“Kau sudah selesai?” tanya yang tak membutuhkan jawaban. Ia meletakkan dengan hati-hati kalender yang ia pegang ke tempat semula. Lantas, ia beranjak menuju lemari.

__ADS_1


Excel masih memakukan fokusnya pada istrinya yang tampak sayu lagi. Tindak tanduknya menampakkan kalau ia sedang memikirkan sesuatu.


“Apa dia hanya berpura-pura senang saat menjumpai Jen dan Ranu tadi? Kemana lenyapnya keceriaan di wajahnya barusan?”


“Masih memikirkan Tanna? Sudah kubilang, untuk melupakan wanita itu. Ini bukan salahmu, Na ... jadi jangan membuat dirimu terbebani dengan rasa bersalah yang memang bukan tertujukan padamu.”


Naja yang tengah mengambil handuk di lemari pun menoleh, ia merentangkan senyum.


“Aku sudah tidak memikirkan itu lagi, karena yang bersalah sudah mengaku. Aku hanya sedang lelah saja, dan aku rindu Bapak dan Ibu.”


“Benarkah? Kalau begitu kenapa kau tidak ambil cuti dan mengunjungi mereka?” Binar dimata Excel perlahan tumbuh, sebab angin mulai berembus di atas harapan yang telah lama ia pupuk. Mengucapkan kata cuti seperti memompa lagi semangatnya untuk memiliki Naja lagi.


“Akan aku pikirkan lagi kapan waktuku pulang. Hingga besok aku masih harus bekerja.” Naja mengatakan itu tanpa ragu. Ia mengulas senyum untuk suaminya sebelum beranjak meninggalkan kamar menuju kamar mandi.


***


Popcorn, minuman bersoda, keripik kentang, dan berbagai kudapan ringan lain meramaikan meja yang mendampingi sofa besar nan lembut dan nyaman. Ketiga wanita itu memakai sandal bulu berbentuk kelinci dan memakai piama dengan gambar dan warna yang berbeda-beda. Ini sudah terjadi sejak setahun lalu, sejak Naja bergabung dalam genk tanpa nama. Bedanya kali ini Tanna tidak ada.


Sebuah drama yang baru saja menayangkan episode terakhir beberapa waktu lalu, kini mereka tonton kembali. Antusias sekali Jen dan Ranu menyaksikan drama itu. Akan tetapi tidak dengan Naja, kendati matanya menatap layar kaca tetapi pikirannya mengelana dengan rasa penasaran yang menggebu.


“Ngantuk, Mbak?” tanya Ranu yang sedang dipaksa Jen menurunkan penutup mata dengan gambar unicorn saat ada adegan dewasa dalam drama tersebut.


“Kebiasaan ih, Nanu ... kalo disuruh tutup mata mesti ngelak. Nanti ketahuan kakak bisa-bisa ngga jadi begadang kita.” Jen melebarkan matanya di depan Ranu.


“Apaan, sih, Kak ... orang beneran kok ... tuh lihat saja!” Ranu memutar kepala Jen agar menoleh ke arah Naja yang tengah memejamkan mata.


Bergegas Jen membalik tubuhnya dan merangkak mendekati Naja. “kau kenapa?” tanya Jen panik. Bisa-bisa digorok sama Tembok Besar China kalau sampai Naja sakit, pikir Jen sambil terus meraba kening dan leher Naja.


“Hentikan, Jen ...! Aku hanya lelah saja ... hari ini pekerjaan lumayan banyak.” Naja meraih tangan Jen menyingkirkannya dari tubuhnya.


“Istirahat sana ...,” perintahnya pada Naja setelah menghembuskan napas lega.


“Bukannya malah tidur tapi malah pusing karena denger kalian nonton sambil ngoceh. Belum lagi suara berisik kalian saat ngunyah, rayap aja malu loh, dengernya,” sindir Naja tanpa mengubah posisinya. Ia hanya melirik malas dan kembali memejamkan mata.


“Ya udah ... kita ikutan tidur saja, kalau tuan putri merasa terganggu dengan suara kita.” Tangan Jen meraba-raba di mana Ranu berada.

__ADS_1


Dirasa telah sampai pada tubuh Ranu ia langsung menampar sekenanya. “Tidur Ran ... tuan putri kita capek,” perintahnya pada Ranu yang meringis akibat tamparan Jen yang mengenai lengannya.


“Ngga asyik ah, lagi seru-serunya juga. Mana pas part ini aku belum nonton lagi.” Keluh Ranu sembari bangkit menuju ranjang. Pun dengan Naja yang mengemas makanan ringan mereka agar tidak terlalu berhamburan di atas meja.


Naja meregangkan tubuhnya, sebelum beranjak menuju kamarnya. Akan tetapi langkahnya terhenti kala Jen meneriakinya.


“Eh ... eh ... mau ke mana? Tidurnya di sini sama kita. Ngga bosen apa tidur sama es batu tiap hari.” Jen yang sudah di atas ranjang melambai pada Naja yang berdiri diambang pintu.


Berpikir sejenak, Naja memutuskan untuk menuruti Jen. Ia menutup pintu dan merebahkan diri di antara dua saudara itu. Mereka saling menempel di sisi kiri dan kanan Naja, dan memejamkan mata.


Naja memejamkan mata, membiarkan saja kedua adiknya itu melakukan apa yang mereka suka, membiarkan mereka tidur dan ia akan bergerilya di laman pencarian. Memuaskan rasa penasaran yang menggerogoti perasaannya. Mengingat lagi bahwa jadwal bulanannya telat, bibir Naja merentang tanpa bisa dicegah. Bahagia mengguyur seluruh tubuhnya.


“Na ... apa Tanna pernah menghubungimu?”


Kelopak mata Naja kembali memisah saat mendengar pertanyaan Jen. "Apa dia tidak pernah menghubungimu? Aku pernah bertemu dia ... malah dia menanyakanmu waktu itu." Ingatan Naja melayang ke waktu di mana ia dan Tanna tanpa sengaja bertemu untuk pertama kalinya usai keributan yang terakhir kali terjadi.


Jen merangkak naik dan menatap Naja tidak percaya. "Kau tahu, Tanna pernah bertemu denganku dan dia tampak sangat membenciku."


"Tapi dia biasa saja saat bertemu denganku dan Excel, ya ... meski ia agak sedih saat melihat Excel," tutur Naja kembali mengawang pada kejadian tadi sore.


"Kau tahu, dia dan Mikha malah sering bersama saat ini," celetuk Naja yang langsung membuat Jen kembali menatap Naja dengan siaga.


"Mikha? Ini agak tidak mungkin Na ... Tanna sangat membenci Mikha, bahkan ketika Mikha pergi, ia menyumpahi agar Mikha tak pernah kembali." Kedua sahabat yang telah menjadi saudara itu kembali mengadu pandang dengan pikiran masing-masing.


Sementara, Excel yang tengah memendam kekesalan pada istrinya itu ikut bermain Game dengan kedua adiknya. Sepeninggalan Naja ke kamar mandi, Excel memeriksa kalender yang sempat di pegang oleh Naja. Betapa kesalnya dia, saat mendapati tanggal yang dilingkari Naja adalah dua hari lalu. Artinya saat ini hingga beberapa hari ke depan, ia tak bisa melakukan apapun kepada istrinya itu.


"Sungguh sangat menyebalkan." Excel menekan stik yang ada di tangannya dengan kuat, menumpahkan segala kekesalan pada stik yang tidak tahu apa kesalahan dan dosanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2