
Excel tertawa dalam hati saat melihat ketakutan Naja. Sungguh dia merasa senang ketika tahu kelemahan seorang Naja. Dengan mengancamnya seperti ini, dia tidak akan berani berulah dan kurang ajar padanya. Excel merangkak dramatisi mendekati Naja.
“Menjauhlah ... atau mau kutendang itumu?” ancam Naja yang membalutkan selimut ke atas tubuhnya seraya terus mundur. Bahkan kini dia sampai di tepi ranjang.
"Lakukan kalau kau bisa ...," Tantang Excel dengan sebelah bibir menukik tajam, meneror Naja dengan terus merangkak maju.
“Ini kamarku, kau ingat? Sesuka hatiku mau melakukan apa. Bukankah kau yang masuk dan tidur di atas ranjangku?” Ekspresi Excel begitu menyebalkan, semakin dekat mendorong Naja mundur.
Astaga, Naja lupa. Dia pikir Excel yang sempurna itu tidak akan melakukan hal seperti ini. “Cel ... kau tidak bisa seperti ini." Naja benar-benar ketakutan, dia belum ingin berakhir tragis seperti cerita segelintir orang.
"Baiklah ... maafkan aku ... aku akan pindah ke kamar lain.” Naja menurunkan kakinya, dia benar-benar takut jika Excel bertindak buruk padanya.
“Pergilah ... tengah malam begini pasti semua kamar sudah dikunci. Atau kau mau tidur di pos satpam?” seringai menyebalkan terukir dari sudut bibir Excel.
“Aku tidur di sofa saja!” serunya sambil menarik selimut.
“Ini milikku, sofa di sini tidak ada yang dilengkapi selimut!” Seru Excel penuh kemenangan. Puas sekali rasa hatinya saat ini–tangan Excel menahan selimut itu–
Naja mengentak kakinya, lalu mencampakkan dengan kasar selimut sembarangan. Membuang muka dengan kesal, Naja menuju sofa dan menghempas tubuhnya di sana.
Excel melipat tangannya di dada, lega sekali rasanya membuat gadis itu kesal. “Baik-baik di sana!” serunya sembari menarik selimut tebal yang sudah setengah jalan meninggalkan ranjang lalu membalutkan ke tubuhnya sebelum berguling dengan nyaman.
Naja mendengus sebal, tangannya terkepal meninju telapak tangan yang lainnya, "Dasar pelit ... apa dia keturunan Nyai Endit?"
**
__ADS_1
Nada dering ponsel Excel menggema, tetapi Excel mengabaikannya. Tubuhnya benar-benar lelah hari ini. Namun, ponsel itu gencar berbunyi, sehingga memaksa tangan Excel meraihnya.
“Halo ...,” mata Excel memicing, mengintip jam digital yang tepat berada di depan hidungnya. Baru beberapa saat dia memejamkan mata, pantas kepalanya terasa berputar dan pening.
“Cel ... Kakek Dirga telah berpulang beberapa saat lalu.” Suara Rio terdengar dari seberang telepon.
Excel terkesiap, manik matanya membuka, seakan tak ada kantuk di sana. “Apa? Ulangi lagi, Om?” Excel melompat bangun. Tubuhnya gemetar melemas, detak jantungnya meletup-letup.
Naja terkesiap saat Excel berteriak di tengah malam buta. Tubuhnya beringsut bangun, dan mendapati Excel tengah duduk di tepi ranjang membelakanginya. “Apa dia mengigau ya?” kening Naja berkerut dalam.
Ponsel yang menempel di telinga Excel lolos dari cekalannya, meluncur beradu dengan lantai. Tangis pria itu luruh hingga bahunya berguncang. Hatinya begitu terpukul, tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakeknya telah pergi meninggalkannya. Bahkan saat Excel belum sempat kembali menjenguknya.
Naja melompat saat melihat Excel melorot dari ranjang, “Cel ... kamu kenapa?” tanya Naja saat tiba di depan Excel. Manik mata gadis itu memindai Excel dengan teliti, dia takut jika Excel hanya mengerjainya. Hingga suara di ponsel yang panggilannya masih terhubung, membuat Naja sedikit mengerti. Ia meraih ponsel itu dan menempelkan di sisi kepalanya.
“Iya Naja ... ini Om Rio. Tolong jaga Excel ya ... dia pasti terpukul mendengar kabar ini. Om titip Excel padamu ya!”
Rio tampak terburu-buru sehingga langsung memutuskan sambungan teleponnya. Naja begitu penasaran sehingga dia melihat tumpukan pesan dari beberapa anggota keluarga Dirgantara.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un ...,” lirih Naja. Tangan wanita itu membekap mulutnya sendiri. Air mata pun turun berderai di pipi Naja. “Kuatkan hatimu, Cel. Ikhlaskan beliau.” Naja mengusap lengan Excel pelan. Ia bersimpuh di depan Excel, ikut berduka dengan kepergian pria yang begitu baik kepada semua pekerjanya.
“Bersedihlah ... tapi jangan terlarut. Masih ada adik yang harus kau kuatkan, kau harus tegar di depan mereka.” Ucap Naja lembut. Ia merasa iba dengan keadaan Excel yang begitu rapuh.
Naja menyeka air matanya, lalu berpindah ke sebelah Excel yang masih menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan yang menumpu lutut. Tangan Naja terulur ragu saat hendak mengusap punggung Excel yang berguncang.
“Tidak apa-apa ... menangislah!” titah Naja saat Excel menangis lebih keras. Tanpa dinyana, pria itu menubrukkan tubuhnya, memeluk tubuh Naja. Tak ada jarak yang tersisa, bahkan kini pundak Naja terasa basah.
__ADS_1
Bibir Naja terpisah sempurna, tidak menyangka pria kaku dan datar ini, begitu emosional dan ekspresif dalam menunjukkan perasaannya. Tangan Naja masih menggantung di udara. Ragu untuk membalas pelukan suaminya. Tetapi tangis Excel semakin keras, membuat Naja meletakkan tangannya di punggung Excel. Membelai tubuh angkuh yang juga bisa luruh.
***
Mendung bergelayut di kaki langit, begitu kelabu. Iring-iringan mobil mengular memenuhi jalan raya menuju tempat peristirahatan terakhir Wisnu Dirgantara, pria yang mengangkat dirinya dari kubangan kekurangan menjadi seorang pria penuh kemewahan. Keteladanannya masih membekas, meski kini hanya nama dan kenangan akannya yang tersisa.
Pemakaman keluarga yang berada di kaki bukit sebuah kota, di mana Dirga kecil menghabiskan masa kanak-kanak, menjadi tempat peristirahatan terakhir Dirga bersama Amalia, istrinya. Kini, kerinduan Dirga akan segera terobati, berdampingan dengan Amalia selamanya hingga akhir dunia.
Tenda besar telah berdiri tak jauh dari liang lahat. Hingga sampai di sini, karangan bunga dan ucapan belasungkawa terus mengalir. Pelayat bahkan sudah memenuhi area pemakaman. Bukan orang hebat, hanya seorang pria dermawan yang memajukan kota ini dengan mendirikan banyak lapangan kerja.
Harris, pria itu tampak muram, matanya semerah darah, tetapi garis tegas wajahnya tetap berdiri kokoh. Di dadanya, bersandar wanita yang telah bersamanya hampir dua dasa warsa terakhir. Sejak dinyatakan meninggal, Kira belum meredakan tangisnya. Kini, tak ada lagi tempatnya menemukan jawab dari semua ragu dan tanya.
Tak terlukiskan kesedihan di wajah, anak, cucu, dan kerabat juga staf dan pekerja tatkala jasad bebalut kain putih itu diturunkan ke dalam liang lahat. Lantunan doa pun tak henti terlafalkan dari segenap pelayat yang hadir mengiringi kepergian Wisnu Dirgantara ke alam abadi. Tanah menguruk liang sebagai pemisah alam, taburan bunga menyertai setelahnya. Membalut gundukan tanah yang masih basah. Foto Dirga tampak tersenyum dengan kacamata berbingkai hitam, ciri khasnya.
"Selamat tinggal, Pa ... kuharap Papa bahagia bisa memeluk mama kembali. Tunggu kami menyusulmu ... usai tugas kami tunai di dunia." lirih Harris sambil mengusap nisan bertahtakan nama besar Wisnu Dirgantara.
.
.
.
.
.
__ADS_1