Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Rindu Yang Tak Lagi Halal


__ADS_3

Hilir mudik, mungkin ribuan langkah telah tercipta saat Naja menunggu suaminya dalam resah. Kuku telunjuknya mulai terkikis oleh ulah gigi Naja yang bergerak tak terkendali. Setiap ada suara mobil melintas, kepala Naja langsung menoleh dan memindai penuh harap. Tak jarang ia mendesah dan menghempaskan napasnya di antara udara dingin malam yang memeluk. Sesekali ia menengadahkan wajahnya, meluruhkan bahu yang tertimpa ketegangan luar biasa.


Naja mendesiskan suaranya saat dingin menusuk lengan terbalut piama satin lembut, kedua tangan Naja menumpu di atas pembatas balkon yang teraba dingin dan mengembun. Ia melirik ponsel yang sejak tadi hening, manik mata cokelat itu bergerak liar, lantas ia berlari menuju ponsel yang berada di sebuah ayunan rotan yang menggantung malas di pojok balkon.


Gerakan ibu jari yang seakan sudah terbiasa dengan ponsel barunya, segera menekan nomor suaminya. Tubuhnya menegang sehingga jemarinya yang bebas saling meremas sendiri. Ia semakin gelisah saat nomor suaminya hanya dijawab oleh operator saja.


Naja melempar ponsel yang tidak berguna itu ke ayunan dengan matras empuk melapisinya. Menatap ponsel itu dengan kekesalan yang menumpuk. Mengutuk dan menyumpah serapah. Meski semua itu tidak juga melegakan resah hatinya.


Mata yang berbingkai embun itu, kembali menari di antara gelapnya malam, di sela terang lampu yang menghiasi pemukiman ini. Hingga pandangannya terfokus pada sekelebat bayangan yang tampak semuram malam kehilangan sinar. Rambutnya panjang berantakan, tubuhnya tak sebagus saat terakhir kali ia menyentuhnya. Riak wajahnya sendu dan tenang, setenang permukaan danau.


Tubuh Naja kini menghadap Ai dengan sempurna, saat Ai tampak membeku di tempat menyadari Naja tengah menatapnya. Ragu, bibir Naja tergerak untuk menyapanya, tetapi pria itu secepat angin berembus kembali masuk ke dalam bilik di belakangnya.


Bibir Naja terkatup rapat, menelan kembali sapaan yang hendak ia ulurkan pada Ai. Langkah Naja mengayun mundur, menjauh, Naja memutar badannya membelakangi masa lalunya. Sungguh ironis sekali kisahnya, dulu saling merindu saat tak bisa saling bertatap muka, tetapi kini bahkan napas saling bersahutan tapi rindu telah haram. Dekat, tapi tak bisa saling merengkuh.


Kepala Naja sejenak menoleh, masa lalunya harus selalu di belakang. Siapa saja boleh punya ingin, tapi tidak semua ingin harus menjadi milik. Hati boleh saling menyinta, tapi kuasa menentukan segalanya.


Sembari menatap jalannya, Naja meluruhkan seluruh beban yang masih tersisa. Ia harus tetap menggumpalkan tekatnya, tugasnya masih banyak. Mungkin lebih menantang dari sekadar lari dari sebuah masalah, tapi kini ia harus menaikkan dagu, cukup sekali dia kalah oleh keadaan, saatnya keadaanlah yang harus tunduk padanya.


Naja menutup pintu balkon, menarik tirai untuk memberi batas pada gelapnya malam yang tak malu mengintip terangnya kamar mereka.


“Kenapa di luar? Udara di sana sangat dingin ...,” suara yang begitu kokoh berasal dari ambang pintu, memaksa Naja menoleh dengan cepat. Mengusir semua gelisah, muram di wajahnya pudar berganti dengan binar yang menguar lewat sorot mata dan senyumnya.


“Kau sudah pulang?” Naja membawa langkahnya berlari menuju suaminya. Pria itu tak bisa menyembunyikan lelah dan juga lega melihat wanita yang selalu membuatnya kalang kabut itu baik-baik saja dan menyambutnya dengan sebuah pelukan.


“Kalau aku sudah di sini artinya aku sudah pulang ...,” jawabnya sembari mengeratkan pelukan. Memeluk separuh hidupnya.

__ADS_1


“Kau mencariku?” gumam Naja dalam dekapan rindu yang rasanya tak pernah habis meski ia telah merengkuhnya. Ia memuaskan dirinya berlama-lama di sana, selagi ia belum ingat malu yang biasa membakar wajahnya. Menutup mata akan semua hal di luaran sana, membiarkan sejenak bilik ini menjadi penghalang dunia yang mendesak masuk ke dalamnya. Mencampuri urusan yang begitu mendesak untuk di selesaikan.


“Tidak ... kenapa aku mencarimu?” hujan ciuman mendarat lirih di antara elusan jemari Excel, “memangnya kau kemana?”


Naja membuka matanya, mengangkat wajahnya menemui rahang laksana karang tengah berdiri angkuh mengabaikan sorot mata keberatan dari Naja. “Bisa ngga, sedikit saja menyenangkanku? Mengiyakan semua ucapanku? Apa itu sulit?”


Excel menarik tawanya menjauh, ia selalu suka protes yang akan menguntungkannya lebih banyak. Tak apa tampak buruk sedikit, demi indah yang begitu murah datang padanya.


Mata gelap itu menurunkan pandangannya, “Aku tidak bisa ...,” jemarinya terulur untuk mengusap dan menarik dagu istrinya agar kesal itu luruh. “... memberimu sedikit, karena aku hanya bisa memberimu banyak. Aku tidak bisa mengiyakan, karena aku hanya bisa mewujudkan. Itu sulit, tapi aku mau ....”


Naja mengerjap, dengan cepat senyumnya merangkak naik, mengambangkan semu merah di tulang pipinya. “Kalau kau seperti ini, jangan salahkan aku jika aku mudah melupakan Ai ...!” ketus Naja di buat-buat. Ia menarik tangannya dari tubuh Excel dan menyilangkannya di dada, membuang mukanya menjauh.


“Bagus kalau begitu ... aku akan melakukannya lagi dan lagi, terus dan tidak pernah berhenti ... bagaimana?” Tangan Excel meraih pinggang Naja dan merapatkannya ketat di tubuhnya. Pandangan pria itu menyusuri seluruh wajah Naja dan bermuara di irisan bibir yang bergerak menguncup penuh sipu. Perlahan mendekat, Excel berbisik. “... agar secepatnya kontaminasi pria itu segera luntur dari ingatanmu,”


Napas bersahutan, dan Excel sudah berada di atasnya. Namun, Naja secepat kilat menjauh darinya, sehingga membuat Excel mengerutkan kening dan hampa.


Tumpukan kerut di dahi Excel kian menumpuk, ia sungguh tak mengerti apa maksud ucapan Naja.


“Jangan mengganggu Tristan lagi, Cel ...,”


“Mengganggu?”


“Tristan ...,” Naja ingin mengatakan keadaan sebenarnya, tetapi ia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang diucapkan Tristan tadi siang. Ia masih perlu meyakinkan beberapa hal. “Pokoknya kamu jangan mengganggu Tristan, aku tidak mau kau kesulitan nanti ....”


Excel terpaku beberapa saat, ia menatap istrinya tajam. Tiba-tiba wajah itu kembali di liputi ketegangan yang luar biasa. Tidak mengerti mengapa Naja mengatakan hal seperti itu padanya. Tak relakah Tristan tersentuh olehnya? Kenapa?

__ADS_1


Memilih membuang muka dan berlalu pergi, Excel mengambil handuk dengan kasar. Mati-matian, Excel menahan amarah saat Naja mementingkan Tristan, hatinya terbakar. Tetapi ia tak mau membuat Naja ketakutan padanya, ia takut Naja benar-benar pergi jika sampai satu kata penuh bentakan keluar dari mulutnya.


“Tolong Na ... jangan membuatku berpikir bahwa kau peduli pada pria lain.” Excel melirik sejenak istrinya yang sepertinya sedang berharap sebuah kata sepakat dari bibirnya.


Naja memburu Excel yang telah membelakanginya, meraih lengan yang masih terbalut kain, “Cel ... tak bisakah kau mendengarkanku kali ini? Aku ... aku yakin, Tristan tidak bersalah dalam hal ini ... jangan kau mengusik ketenangan orang lain. Lag—“


Lelah, Excel menoleh dengan tatapan tajam menyertainya. “Tristan juga sudah mengusikku dengan memintamu untuk menjadi sesuatu yang aku tidak inginkan, apa itu tidak terlalu jelas bahwa dia hanya ingin memilikimu saja? Apa kurang jelas sorot matanya yang terang-terangan menggodamu, meski aku ada di antara kalian? Apa aku harus selalu berpikir kau tak bisa ku genggam meski aku telah memilikimu, Na?”


“Aku ... aku ... kami tidak sepeti itu, Cel ... sungguh bukan itu, aku—“


“Lalu apa, Na? Aku cukup lama mengenal Tristan ... dia tak akan tertarik pada suatu hal jika ia tak menginginkan sesuatu darinya. Aku yakin dia sangat ingin kau menjadi miliknya ...,” dada Excel meledak saat mengucapkan hal itu. Entahlah, bagaimana ia bisa begitu emosional menyangkut Naja. Entahlah, dia merasa Naja hanyalah miliknya, hanya milikinya seorang.


“Kau salah, Cel ... kau salah ... Tristan tidak melakukan itu karena aku ... tapi karenamu—“


“Ya tentu saja karena aku ... selalu karena aku ... karena aku suamimu ... itu sebabnya dia ingin membuatku pergi dari kamu!” Excel membelalak lebar. Berteriak hingga ruangan ini penuh, membentak Naja yang langsung menjauh dengan meringis takut.


Excel membawa napasnya yang memburu ke kamar mandi, membiarkan air membasuh sakit hatinya. Sakit karena Naja lebih memilih Tristan dari pada memahami apa maunya, suaminya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


maaf masih apa adanya ... besok revisi lagi yak ... maaf othornya lama up, ada beberapa hal yang memang tak bisa othor tinggalkan ... sekali lagi Maaf🙏😍


__ADS_2