Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Rumah Baru


__ADS_3

Langkah Naja terayun begitu ringan, meski perasaannya memberat. Akan tetapi, ia tak terlalu memedulikan perasaannya lagi saat ini. Untuk apa? Semua akan sama ... Naja dan Excel sama-sama memiliki beban tanggung jawab yang begitu besar pada kedua orang tua mereka. Entahlah ... semua terasa jelas kini, Mama mertuanya tidak ingin putranya kembali pada Mikha yang telah menoreh luka, pun dengan orang tua Naja yang tidak menginginkan anaknya bersama pria pujaan hatinya. Lalu apa yang bisa mereka berdua lakukan? Selain berdamai dan ikut kemana hidup akan membawanya bermuara.


Pikiran Naja terus berkelana, meski tangannya masih dengan sadar mengambil troli dan mendorongnya menyusuri rak yang berisi aneka kebutuhan humanis. Mengembuskan akumulasi beban yang sama sekali tak mau susut memenuhi rongga dadanya.


Suara berdebum dari barang-barang yang beradu di dalam troli, menggetarkan tangan Naja sehingga dia pun berangsur kembali dari perjalanan menyusur ingatan lampau. Manik mata Naja membola kala wajah angkuh itu memenuhi penglihatannya. Ia tak menyangka Excel akan menyusulnya, dia pikir Excel akan menunggu di mobil.


“Kalau kau keberatan memasak, kita bisa pesan di aplikasi atau makan di luar saja. Aku tidak suka ada orang yang lain dimulut lain di hati.” Usai berkata begitu, Excel berlalu begitu saja, sehingga membuat Naja mengadu giginya.


“Mana tahan jika harus bersama dengan manusia macam dia seumur hidup ... bukankah seumur hidup itu lama? Sikapnya angkuh, ekspresinya selalu mengerikan, dan kata-katanya nylekit ... meski ucapannya terlihat jujur.” Bahu Naja kembali terhempas turun bersamaan dengan udara yang terembus kasar. Manik matanya memandangi punggung Excel yang semakin jauh darinya.


Troli terdorong pelan saat Naja kembali berjalan menuju bagian belakang dimana aneka kebutuhan masak memasak berada. Tangan Naja bergerak lincah dalam memilih bahan-bahan yang sekiranya ia butuh kan untuk memasak siang ini. Tak lama kemudian, Excel kembali dengan beberapa benda di tangannya yang langsung ditumpahkan ke dalam troli.


“Hei ... hei, itu ‘kan perabot pria ... kenapa bisa kau campur di sini ... ambil troli dan bayar sendiri!” Naja mendorong troli lebih dekat ke Excel dan mengusir dengan jijik beberapa produk pria seperti shaving gel, alat cukur, dan underwear pria dari troli.


“Trolinya jauh ...,” tangan Excel merogoh saku belakang dimana ia meletakkan dompetnya. “Nih ... bayar semua pakai ini.” Tangan Excel mengangsurkan sebuah kartu debit ke tangan Naja.


Naja sejenak memperhatikan kartu keluaran sebuah bank. Tangan Naja hampir sampai menerima kartu tersebut, tetapi kartu yang diapit telunjuk dan jari tengah Excel itu ditariknya kembali.


“Mulai sekarang kau pakai kartu ini untuk belanja berbagai kebutuhan rumah dan kebutuhanmu ... uang hasil kerjamu simpan saja sendiri.” Ujar Excel mendorong kembali kartu tersebut ke tangan Naja.


“Tapi ...,”


“Jangan membantah ... sekarang kau tanggung jawabku! Ikuti saja apa kataku!” Manik mata mereka saling bertaut pandang beberapa jenak sebelum Excel mengambil alih troli yang cukup berat itu dan mendorongnya ke kasir.


**

__ADS_1


Mobil Excel mulai melambat ketika memasuki kompleks sebuah perumahan, dan berhenti di depan rumah berwarna broken white dengan taman kecil yang rumputnya belum tumbuh sempurna. Naja mencondongkan tubuhnya demi mengagumi rumah yang akan segera ditempatinya.


Naja terbengong-bengong melihat rumah dengan lantai dua yang tampak memesona mata. Bahkan hingga masuk ke dalam rumah ia masih menggumamkan “Woah” berulang-ulang.


“Kamarmu di atas ... berseberangan dengan kamarku.” Seru Excel setelah meletakkan beberapa barang belanjaan di dapur. Terdengar “hem” sebagai jawaban.


“Jangan kampungan!” serunya lagi ketika sudah sampai di ujung tangga.


Naja menoleh ke ujung tangga sambil berdecak, ingin mengumpati Excel tapi pria itu sudah tak tampak di penglihatan Naja. "Ini bukan kali pertama aku melihat rumah mewah, tapi interior rumah ini kenapa bisa pas sekali dengan mauku, ya?" gumam Naja sambil terus meneliti seluruh ruangan ini.


Meninggalkan ruang tamu dan ruang tengah yang hanya di batasi sebuah partisi, Naja menuju bagian belakang dari rumah ini. Dapur dengan mini bar dan kithcen set tampak begitu apik. Cukup lega menurut Naja, tangan wanita itu menyapu seluruh permukaan dapur dengan senyum terkembang. Naja ingat saat ia dan Ai dulu pernah berangan tentang rumah impian dengan dapur yang luas dan halaman belakang yang ditanami pohon mangga. Naja memasak dan Ai sedang bermain dengan anak mereka di halaman belakang. Dalam khayalan itu hidupnya terasa sempurna.


Tarikan napas begitu berat pun memenuhi dada Naja dan terhembuskan perlahan, diapun segera menepiskan pikiran akan Ai. Ia tak mau lagi terlarut dengan bayangan Ai. Bergegas mengambil beberapa kantung belanjaan, Naja mulai memasak. Masakan sederhana yang cepat dan praktis, sebab perut Naja sudah berdendang kelaparan.


Excel yang tengah menyelesaikan pekerjaannya di lantai atas segera beranjak setelah perutnya merasakan lapar. Sebenarnya ia masih harus berada di kantor siang ini, tetapi perintah Mamanya agar tetap di rumah dan menemani Naja tak bisa di abaikan begitu saja. Meski Mamanya tak mengawasinya tapi tetap saja sulit bagi Excel membantah perintah Mamanya.


Excel mendecakkan lidahnya, tentu Jen dan Sita yang menata tempat ini sebelum mereka datang. Mereka pasti tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengingat ia dan Naja begitu alami menyembunyikan ketidakakuran mereka di depan keluarga besarnya.


Excel mengembuskan napasnya, segera ia menarik handuk, membiarkan hal ini diurus nanti. Perutnya terlalu lapar untuk memikirkan hal berat, ia pun bergegas mandi.


Naja yang sudah menyelesaikan ayam goreng dan buncis asam manisnya, segera menyajikan di atas meja makan kecil tak jauh dari tangga yang menjadi sekat ruang tengah dan dapur. Telapak tangan Naja bergesekan berulang, saat dirasa pekerjaannya sudah tuntas. Kini ia tinggal naik ke atas dan memanggil Excel.


Sekilas saja, Naja langsung tahu mana kamar Excel, pintu yang tak menutup itu menampakkan dinding berwarna Navy blue, khas seorang Excel yang kaku.


Naja menyelonong begitu saja tanpa permisi, sebab ia rasa Excel pasti sedang menyelesaikan pekerjaannya di sana.

__ADS_1


“AAAAA ....” Naja membalik tubuhnya dan berlari keluar kamar dengan telapak tangan menutup wajahnya saat melihat Excel hanya memakai handuk saja di bagian bawah tubuhnya.


Sementara Excel yang baru saja menutup pintu kamar mandi tampak biasa saja meski terkejut mendengar teriakan Naja. Bibirnya tertarik sekilas saat melihat wanita itu berlari secepat kilat keluar ruangan.


Naja menenggelamkan wajahnya yang terasa panas pada kedua telapak tangannya, matanya ternodai oleh penampakan dada bidang yang tampak penuh dan bersih. Perut datar yang belum tercetak petakannya seakan enggan meninggalkan penglihatan Naja. Telapak tangan Naja menepuk pipinya agar bayangan itu segera rontok.


“Bajumu berada di lemariku ... jika kau lelah hari ini, pindahkan saja besok. Kau bisa mengambil pakaianmu seperlunya hari ini.” Seperti biasa, Excel mengatakan segala sesuatu dengan jelas sehingga Naja tak punya kesempatan mendebat. Kecuali Naja punya alasan kuat menolak atau mendebat suaminya.


Excel duduk tepat di depan Naja, tangan pria itu mulai menyendok nasi dan lauk pauknya. Ia memulai makan dalam diam. Sementara Naja sedikit menyerongkan duduknya demi menghindari bertatapan dengan Excel, ia terlalu malu. Bahkan kini laparnya menguap entah kemana.


Gelas beradu lembut dengan meja kayu yang menampakkan seratnya, menandakan usainya makan siang Excel kali ini. Terdengar kursi terdorong dan aroma Excel perlahan menjauh.


“Lain kali ketuk pintu jika masuk ke kamar orang lain!” kaki Excel sudah menapak dua anak tangga, tetapi ia berhenti dan melirik Naja yang seperti patung sedang belajar makan saking kakunya. Jujur saja Excel ingin tertawa sepanjang acara makannya, melihat tingkah lugu wanita itu. Kasihan tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk mencairkan suasana.


.


.


.


.


.


__ADS_1


Akak Yaini ... maafkan aku ya ... komen kakak masuk di notif tapi ngga ada di komentar bab ... jadi ngga bisa ke bales ... Maafkan sekali lagi ya kak🙏🙏🙏


__ADS_2