
Melepas suaminya bekerja sekaligus berangkat ke luar kota siang nanti, pagi ini Naja berusaha menampilkan senyumnya. Ia tak mau membuat Excel khawatir akan kehamilan yang hampir tiba waktu persalinannya. Sekitar tiga hari lagi, bayi dalam perut Naja diperkirakan melihat dunia.
“Baik-baik di perut mommy, Sayang ... jangan buat mommymu kesakitan, ya!” ucap Excel di depan perut yang rasanya sudah setipis balon. Dikecupinya perut bulat sang istri yang ia yakin sedang berusaha baik-baik saja.
“Berangkat dulu, ya, Mom ... butuh apa-apa telpon mama, mas Agus juga akan standby di sini. Aku usahakan pulang meski agak malam.” Meraih belakang kepala Naja, Excel mengecup kening istrinya. Penuh rasa tidak tega, tapi ia tahu, Naja tak suka bila dia berlebihan akannya.
“Bye, Dad ... dedek nungguin Daddy pulang.” Naja tersenyum ceria mengantarkan suaminya hingga menghilang di ujung jalan.
Rabu pagi yang cerah, Naja memandangi langit yang biru membentang. Masuk ke dalam matanya pula mangga yang pemiliknya sendiri nyaris tak mencicipi rasanya. Pun ketika ia melihat Sheila, Naja tersenyum tipis saat wanita itu ceria menyapanya.
“Bumil sehat-sehat ya, lancar lahirannya.” Sheila setengah berlari menghampiri Naja. Ia mengulurkan tangan membelai perut buncit Naja.
“Kamu juga, She ... segeralah miliki bayi, kalian menikah sudah cukup lama.”
Mata Sheila meredup meski senyumnya belum pergi. “Doakan saja yang terbaik untuk kami. Aku berangkat dulu bumil cantik, ojekku sudah sampai.”
Dia melambaikan ke arah sepeda motor yang sedang melaju ke arahnya.
“Hati-hati, She ...,” Naja melambai ke arah Sheila yang hendak menyeberang. Wanita itu hanya membalasnya dengan lambaian tangan.
Sheila enggan menoleh, ambang mata wanita itu sudah penuh dengan cairan bening yang menumpuk.
Sementara, Ai yang melihat Sheila menaiki sepeda motor, segera menghampirinya. Menarik wanita itu hingga turun.
“Aku sudah bilang untuk menungguku, ‘kan?” Ai menatap Sheila tajam. Tetapi ia segera melunak mengingat Naja sedang mengawasinya. Ai langsung membayar tukang ojek yang di pesan Sheila, lalu menarik wanita itu kembali ke halaman rumah mereka.
Naja melihat itu semua, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Dia bertahan di sini, agar Ai tahu bahwa hidup terus berjalan dan cinta terus berganti. Naja hanya berpikir kalau sampai kapan pun, mereka tak akan bisa bersama, bahkan sampai sekarang, Linda masih saja tak ramah padanya. Jikalau mereka bersama, tak akan ada kata bahagia.
Naja berbalik, ia tak mau mengintip ke dalam pagar rumah orang lain. Tetapi baru berjalan beberapa langkah, pinggangnya terasa nyeri hingga ke perut bagian bawah.
Mungkinkah sudah waktunya?
Meringis tetapi dia sangat bahagia. Akhirnya waktunya akan tiba. Naja melangkah hati-hati memasuki rumah. Bersama teh Esih, ia habiskan sepanjang pagi dengan kegiatan yang menyenangkan.
__ADS_1
“Apa sudah waktunya, Neng?” teh Esih mengetahui setiap perubahan ekspresi pada nona mudanya, sehingga saat Naja menggeram menahan sakit, ia langsung bisa menduganya. “Ke rumah sakit sekarang ya, Neng!”
Teh Esih berlari ke depan untuk memanggil Agus, tetapi Agus belum kembali sejak pagi. “Ai, si Agus ka mana? Ti tadi teu acan uih dei. Keur mah si Eneng tos karasa bade babaran.” Teh Esih meremas kedua belah tangannya dengan perasaan cemas.
“Teh, sakit teh ...,” rintihan Naja terdengar hingga membuat wanita itu masuk kembali ke dalam rumah.
“Telepon mama aja ya, Neng ... Agus ngga tahu pergi kemana.” Teh Esih meraih Naja dalam rengkuhannya, ia mengusap nona mudanya dengan penuh kasih. “Sabar atuh, Neng ....”
“Teh, telpon taksi saja, mama pasti sudah di restoran kalau jam segini.” Naja tersengal-sengal. “Errrhhmm ...,” mata wanita itu memejam rapat. Peluh bermanik di keningnya yang masih berbingkai poni.
“Muhun Neng ... ke Teteh bade nelpon taksi heula nya ... Neng kudu kuat, kudu sabar demi si dede bayi nu tos bade borojol.” Esih dengan gemetar menghubungi taksi.
***
Seharusnya, taksi itu sudah sampai, tetapi hingga hampir lima belas menit berlalu, halaman ini masih sepi dari kendaraan yang dimaksud. Di dalam, Naja sudah tak bisa menahan lebih lama lagi kontraksi yang melanda.
Hingga sebuah mobil berwarna putih melintas, Esih menghambur ke hadapan mobil itu. “Mas ... Mas Ai ... tolongin Neng Naja, Mas ... dia mau lahiran.”
“Neng Naja mau melahirkan Mas ... tolong antar ke rumah sakit, ya ...,” ulang Esih tersengal.
Ai terkesiap, “I- iya, teh ....” Ai tak berpikir dua kali saat nama Naja di sebutkan. Ia langsung memutar haluan mobilnya ke halaman rumah mantannya itu.
“Neng, yang penting Eneng dapet pertolongan dulu.” Esih memapah tubuh Naja ke mobil Ai.
“Teh ...,” Naja terkesiap saat melihat Ai yang datang padanya.
“Maaf, Neng ... si Agus juga ngga bisa dihubungi ... Mas Doni juga lagi pergi sama Tuan besar dan Mas Excel. Kalau nunggu Nyonya atau orang rumah takut kelamaan. Yang penting, Eneng ke rumah sakit dulu, jangan pikirkan yang lain."
"Iya, Na ... keselamatan kalian lebih penting," ucap Ai menyakinkan.
Naja kembali ragu, tetapi ia tak punya pilihan. Diantara kesakitannya, Naja sempat mengucapkan terimakasih kepada mantannya tersebut.
"Makasih, Ai ...."
__ADS_1
"Bukan masalah. Masuklah!" Ai membukakan pintu untuk Naja. "Teh ... hubungi suaminya atau keluarganya. Aku akan menghubungi rumah sakit," Ai bergerak cepat. Ia melajukan mobilnya sekencang mungkin tanpa meninggalkan kehati-hatian. Ia lupa pada tujuannya kembali ke rumah, ia lupa pekerjaannya, ia lupa saat ini Vania tengah menunggunya di tengah-tengah rapat yang berlangsung. Tentang Naja, Ai bisa melupakan dunianya.
***
Sementara, Excel merasakan hal lain dalam hatinya. Hatinya perlahan berdesir pelan. Ada rasa tak nyaman hingga ia berulang kali mengubah posisi duduknya.
"Kalau kamu tidak tenang, sebaiknya kita pulang saja. Papa bisa membatalkan pertemuan kita kali ini, mumpung kita masih setengah jalan ke sana." Harris mengerti benar perasaan putranya, hingga ia tak tega melihat gelagat Excel yang begitu gelisah.
"Tapi, Pa ... ini sangat penting buat Papa. Aku-aku hanya kepikiran Naja saja, nanti setelah aku menelponnya, aku pasti baik-baik saja." Excel meraih ponsel yang terselip di saku dalam jasnya. Ia segera menggerakkan jarinya di atas nomor bernamakan, "3VOJ", tetapi hingga kedua kalinya ia menghubungi Naja dan Teh Esih, keduanya sedang sibuk dan sedang dalam panggilan lain.
"Kita kembali, Nak ... keselamatan mantu dan cucu Papa diatas segalanya." ujar Harris saat melihat semua itu. "Ko, hubungi klien kita, berikan opsi yang membuat mereka berpikir ulang jika sampai tidak mau menunggu kedatangan kita."
"Baik, Tuan." Riko mengangguk dan menghubungi klien yang dimaksud. Riko selalu tahu bagaimana membuat mereka tidak punya pilihan selain menunggu kedatangan Harris. Setelah Mateo runtuh, Harris sedikit bermain-main dengan mitra yang dulu menolak memihak padanya. Meski ia melakukan dengan lembut dan sopan.
"Makasih, Pa ... sudah mau mengerti keadaanku." Excel menipiskan bibir, ia benar-benar kagum pada Papanya.
Harris menepuk pundak putranya. "Temani istrimu selama beberapa hari ini, Nak ... jangan sampai kau mendapat kejutan seperti Papa saat Agiel dan Azziel lahir. Bahkan Papa tidak tahu jika adikmu itu kembar, mamamu benar-benar hebat menyembunyikan hal sebesar itu dari Papa."
"Iya, Pa ... sekali lagi terima kasih atas pengertian Papa dan kasih sayang Papa sama kami, tanpa Papa, kami bukan siapa-siapa."
Harris merangkul putranya. "Tanpa kalian, Papa juga tidak akan berdiri di sini sekarang. Papa selamanya akan berada di jalan yang salah, Papa ... tidak akan merasakan memiliki keluarga yang utuh." Harris menepuk bahu putranya berulang-ulang.
Excel memejam penuh syukur, episode gelap dalam hidupnya tersingkap sudah. Kini ia hanya akan berbahagia. Meski akan ada luka, tetapi ia telah siap, hidup telah mengasahnya lebih tajam. Ia siap menyongsong hari di masa depan.
.
.
.
.
.
__ADS_1