
Dua hari berlalu, tetapi Naja belum juga bisa menemui Tristan. Kesal, bahkan Lisa belum memberinya kabar apa pun. Naja mengumpat dalam hati saat ia tengah membuatkan teh herbal untuk suaminya itu. Sesekali ia bergumam tak jelas, beberapa saat kemudian ia menghembuskan napasnya dengan keras. Jalannya terasa buntu, Tristan benar-benar menghindarinya rupanya.
Aroma jahe dan lemon pekat menusuk hidung Naja, saat ia mengantarkan teh beserta camilan ke ruang tengah dimana Excel tengah duduk dengan laptop terpangku di pahanya. Pria itu tampak menawan saat berekspresi serius dengan kacamata membingkai kedua mata indahnya. Jam memang menunjukkan pukul sembilan malam, tapi tak ada tanda-tanda dari kedua orang itu ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. Sejak hubungan mereka ... ehem ... lebih dekat, Excel lebih sering berada dalam jangkauan Naja.
Sungguh membingungkan bagaimana cinta bekerja ....
Naja memang pusing mencari cara agar Tristan mau menemuinya, tapi di depan Excel ia bersikap seolah ia tidak tahu apa-apa dan tidak terjadi apa-apa. Karena sejak kejadian di depan kantor Tristan, Excel tidak mengatakan apa pun, sehingga Naja juga tidak mau ambil risiko bila membahas masalah itu. Mungkin Excel akan melarangnya atau malah mengurungnya di rumah. Naja sejenak mengolah ekspresinya, sebelum tiba di depan suaminya. Bersikap biasa dan tampak tak peduli.
“Apa ini?” Excel memindai Naja penuh curiga saat Naja meletakkan satu nampan penuh teh dan camilan di meja. Ini di luar kebiasaannya, pikir Excel.
Naja menyipitkan matanya, menatap suaminya dengan wajah dibuat sedramatis mungkin. “Kau tahu apa itu i-ni-si-a-tif ...?”
Excel mendengkuskan napasnya sebagai jawaban, ia meraih gagang cangkir dan menyesapnya perlahan.
Naja mendesis sinis, “Enak ‘kan teh buatanku?”
“Biasa saja ... dari dulu teh itu rasanya ya begini-begini saja ...,” Excel kembali mengenyakkan punggungnya di sandaran sofa dan memperhatikan laptopnya usai beberapa kali menyesap teh buatan istrinya.
“Ish ... kau ini memang menyebalkan, ya ...!” Naja bangkit seraya mengentakkan kakinya, tetapi langkahnya terhenti saat Excel meraih tangan Naja dan mengisyaratkannya duduk kembali. Ya, memang tehnya biasa saja, tapi yang berbeda adalah saat ada wanita yang menemaninya.
“Bicaralah ...!” titahnya pada istrinya yang telah duduk dengan bibir menguncup. Bibir Excel tertarik sekilas, entah apa yang dipikirkan pria itu saat melihat ekspresi Naja.
“Bicara apa?” Naja menoleh heran, rasanya tidak ada hal yang ingin dia katakan pada suaminya ini.
Excel membuang napasnya dengan berat, ia menggeser nampan dan meletakkan laptopnya di sana. Kemudian ia mengisyaratkan agar Naja mendekat ke dalam pelukannya.
Meski heran Naja menurut saja, dan menjatuhkan tubuhnya di atas bahu suaminya.
__ADS_1
“Biasanya, ketika seseorang bersikap diluar kebiasaan dan manis seperti ini ... pasti ia menginginkan sesuatu ....” Excel mengusap pipi Naja dengan lembut.
“Kau mau apa dariku?”
Sekali lagi, Naja mengerutkan dahinya. “Aku tidak mau apa-apa ... hanya ingin saja membuatkanmu teh dan camilan ... siapa tahu kau memang membutuhkannya. Aku hanya ingin jadi istri yang baik dan pengertian, itu saja!”
“Benarkah?” Excel menatap curiga, “Atau kau ingin aku berpikir bahwa kau sudah tidak ingin mendatangi Tristan lagi?” Excel mengubah posisinya menghadap Naja. “Dan ketika aku lengah, kau mau datang padanya diam-diam? Seperti kemarin?” dagu Excel bergerak ke depan, menegaskan bahwa ia tidak mudah dikelabuhi, bahkan dengan cara seperti ini. Mikha telah mengajarkannya banyak hal.
Tubuh Naja menjauh saat detak jantungnya berdentum hebat. “Bagaimana dia tahu?” batinnya.
“Ti-tidak ... tentu saja tidak ... aku mana mungkin datang kesana ... lagipula aku tidak ada urusan lagi dengannya,” Naja mengedip cepat, manik matanya bergerak liar menghindari tatapan menginterogasi dari suaminya itu.
“Lalu apa urusanmu kemarin saat kau berada di sana?”
“Ya Tuhan ... kenapa dia mengerikan seperti itu? Rupanya dia memiliki insting dan ingatan yang kuat ...,” Naja meringis ngeri sampai bibirnya tergigit rapat. Pandangannya jatuh bergantian antara suaminya dan lantai.
Alis Excel bergerak naik, tatapannya meminta jawaban, bahkan tubuhnya kini semakin condong dan mendekat ke arah Naja.
“Mungkin kau mau menggoda Tristan lagi?” lirikan penuh cemburu kentara sekali mengambang di mata pria itu, ia bahkan harus menahan suaranya agar terdengar datar. Sebab dalam dadanya sudah menggelegarkan rasa kesal yang luar biasa.
“Lagi? Apa maksudmu lagi? Aku dulu pernah menggoda Tristan begitu?” Suara Naja terdengar kesal, ia tidak terima jika ia dikatakan seperti itu oleh Excel.
“Buktinya Tristan langsung akrab denganmu, padahal Tristan bukan orang yang mudah bergaul apalagi dengan orang baru ...,” Excel menjelaskan kecurigaannya. Ia masih ingat dengan jelas Tristan mencandai istrinya tepat di depan hidungnya. Ah ... yang benar saja ....
Naja menatap kesal suaminya. “Aku tidak tahu bagaimana Tristan bisa akrab denganku, dan aku tidak melakukan apapun apalagi sampai menggodanya. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya ketika dia menanyaiku kenapa aku bisa bekerja di dua tempat dengan pekerjaan yang berbeda ... itu saja!”
Napas Naja naik turun saking marahnya, entahlah, ia kesal dicurigai dan dikatakan sebagai penggoda. Ia sampai membuang muka, karena tak tahan dengan sikap suaminya yang seakan tak percaya ucapannya.
__ADS_1
"Terserah kau percaya atau tidak ... aku mengatakan yang sebenarnya, lagipula untuk apa aku menggodanya, lebih baik aku menggodamu saja ... kurasa kau akan lebih menatang untuk ditaklukkan," pungkas Naja. Ia bangkit sembari menghentakkan kakinya, tatapannya belum putus menghujam Excel yang melongo mendengar ucapan istrinya itu.
"Habiskan teh dan camilannya, kalau tidak kamu habiskan ... jangan harap aku akan membuatkannya lagi lain waktu!" kecam Naja semakin memburu. Ia mematikan televisi dengan kasar, lalu berjalan cepat menaiki anak tangga. Sesekali ia melirik ke arah Excel yang rupanya masih menguntitnya dengan tatapan tidak percaya.
"Yang benar saja ...? Masa aku menggoda Tristan?" Naja menutup pintu kamarnya, ia berjalan ke arah pintu yang menuju balkon. Disambut angin dingin menerpa dan menerbangkan helaian rambut, Naja memeluk tubuhnya, berjalan ke tepi balkon. Mengamati bintang dan bulan yang bersinar redup, teduh, dan menenangkan. Jika matahari menyengat, bulan lah yang menenangkan, dua hal berseberangan tapi saling melengkapi.
Excel menutup pintu kamarnya perlahan. Ia meletakkan laptopnya hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Menyadari kesalahannya, Excel berniat minta maaf, tetapi, ketika ia melihat Naja tengah menengadah langit di balkon, yang mungkin saja di seberang sana Ai tengah mengamati istrinya itu, Excel kembali tegang. Ia benci pikirannya yang mudah curiga, bahkan matanya ketat mengawasi seluruh sisi balkon di seberang yang bercahaya redup.
"Sayang ... udara malam tidak baik untuk kesehatanmu!" Excel mengeraskan suaranya. Entah disana ada Ai atau tidak, ia tak mau Naja berlama-lama di sana. Segera Excel meraih tubuh istrinya dan membawanya kembali ke dalam.
"Kau ini apa-apaan? Aku masih kesal padamu, ya ... jadi jangan sok sayang-sayangan ... apa kau lupa tuduhanmu tadi padaku?" Naja meronta hingga berhasil turun saat tiba di sisi tempat tidur. Ia masih memandang Excel penuh permusuhan.
Usai melampiaskan kekesalannya, Naja beranjak naik ke tempat tidur dan menenggelamkan tubuhnya di sana. Mengambil posisi di sisi jauh tempat tidur yang luas ini.
Excel menghembuskan napas, ia segera kembali ke arah pintu kaca penghubung kamar dan balkon, memastikan sekali lagi bahwa Ai tidak ada di sana sebelum ia menutup rapat tirai yang menggantung di sana. Ia tak ingin membuat Ai semakin menderita karena Naja telah dimilikinya, apalagi ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong pria itu. Mengembalikan Naja? Tentu tidak, bibir Excel tertarik samar, ia tak bisa melepaskan wanita yang telah menjeratnya itu. Tidak untuk Ai, maupun pria lain di luar sana.
Excel memutar tubuhnya menghadap ranjang, senyum pria itu mengembang makin lebar. "Aku gila bila mengembalikanmu pada Ai ... yang benar saja?" Excel mendengkuskan napasnya kasar, menyodokkan lidah pada pipi bagian dalam. Jangan bermimpi ....
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf othornya sosibuk kemarin ... hari ini mau dobel? yuk gift yang kenceng lagi ... wkwkwkwkwk😂
Love untuk semua reader tersayangku😘😘😘