Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Kunjungan Mertua


__ADS_3

Separuh kota telah ia jelajahi


hingga hari beranjak malam, tetapi keberadaan Naja belum juga ia temukan.


Beberapa teman yang ia ketahui nomor kontaknya telah ia hubungi, tetapi tak satupun dari mereka yang mengetahui. Sepanjang perjalanan itu pula, telinganya dipenuhi dengan nasehat dari kedua teman karibnya itu. Nasehat yang sebagian besar hanya berupa ejekan, yang malah membuat telinganya terasa mau meledak.


Lelah, akhirnya Excel memutuskan menghubungi Jen—sejak tadi ia urungkan niatannya itu—satu-satunya orang yang paling dekat Naja tetapi dengan resiko paling besar


yaitu ketahuan oleh mama dan papanya. Ya, ia terpaksa melakukan itu sebab ia


tak tahu lagi harus mencari istrinya tersebut kemana. Ia telah menyiapkan hati


dan juga telinganya untuk menerima omelan kedua orang tuanya tersebut.


Excel mengembuskan napas sebelum


menekan nomor Jen yang tersimpan dalam smartphone-nya.


"Jen ... kamu lagi di


mana?” sergah Excel ketika sambungan teleponnya itu terhubung.


“Lagi di studio, Kak ... ada


apa?”


“Apa Naja sedang bersamamu?”


Excel kembali menyergap saudara perempuannya itu tanpa basa basi.


“Tidak ... kenapa Kakak


menanyakan istrimu padaku? Kalian sedang berantem, ya?” tuduh Jen.


“Tidak juga ... tadi ... tadi


sepulang kerja, Kakak tidak menemukan Naja di rumah ...! Ponselnya juga tidak aktif sejak tadi.” kilah Excel sembari


menggosok ujung hidungnya yang begitu mancung. Sejenak mengalihkan pandangannya


pada dua orang sahabatnya yang tengah memegang cup kopi, mereka tampak sedang


mencibir dirinya dalam gerakan pada mimik wajah mereka. Mereka tengah berhenti di sebuah kedai kopi untuk sekadar beristirahat.


“Mungkin dia sedang belanja, Kak


... dia tadi me—" Jen menggantung ucapannya. “itu .. tadi dia bilang Tara


akan menginap di rumah kalian ... sudah ya, Kak ... aku sibuk!” pungkas Jen


tanpa menunggu persetujuan kakaknya saat memutuskan sambungan telepon.


Excel kembali mendesakkan


napasnya ke udara yang mulai terasa dingin, “kita pulang saja ... mungkin dia


sedang bersama Tara ...,” ia segera menarik pintu mobil tanpa menuggu


sahabatnya tersebut.


“Pulanglah, Cel ... aku dan Sam


naik taksi saja ...!” Rega menundukkan tubuhnya saat Excel sudah berada di


dalam mobil. “Jangan terlalu khawatir ... Naja tidak mungkin kabur atau mengadu


kepada orang tuanya hanya karena dia akan dipaksa olehmu ....”


“Itu jika pikiran gadis itu


nyampe ... kurasa dia ngga mungkin mikir sejauh itu.” Excel turun kembali dan


mengambil alih kursi kemudi. Pikirannya teracuni oleh bayangan sikap Naja yang


sangat kekanakan dan lelet. Excel mendengkuskan napasnya, bibirnya menarik


senyum samar. “Aku pulang dulu.”


Usai berkata begitu, Excel


segera melajukan mobilnya tanpa menghiraukan lagi kedua sahabatnya tersebut.


***


Setelah menyelesaikan masakannya


dibantu Kira, Naja kini duduk di ruang tamu bersama kedua mertuanya sembari


menunggu Excel. Harris sengaja meminta Naja untuk tidak memberitahu Excel jika


mereka berdua ada di sini. Bersyukur sebab ia tak harus berbohong karena Naja


tidak tahu kemana Excel pergi. Teh herbal —yang Kira bawakan untuk menantunya—kini telah terseduh di cangkir dan mengepulkan asap tipis. Aroma menenangkan menjalar ke indra penciuman seluruh penghuni ruangan ini. Biskuit cokelat dan juga


setoples keripik kentang juga ikut meramaikan meja yang biasanya hanya terisi


lembaran kertas kerja milik Naja.


“Excel memperlakukanmu dengan


baik ‘kan, Na?” Kira menatap menantunya dengan lembut.


Pertanyaan Kira membuat hati


Naja melompat, “I-Iya, Ma ...,” hanya itu yang ia bisa katakan sekarang, ia tak


ingin melebihkan atau menghilangkan kebaikan Excel meski hanya sedikit saja


menurutnya.


“Jangan takut mengatakan sikap

__ADS_1


buruk anak Mama itu, Na ...,” Kira meraih gagang cangkir bermotif itu dan


mengadukan ujung cangkir tersebut dengan bibirnya. Anggun dan elegan, Naja


bahkan tak menyangka wanita yang telah menjadi mertuanya itu pernah


dikhianati oleh mantan suaminya. Apa kurang wanita cantik ini di mata mantan


suaminya? Naja saja yang masih muda merasa minder bila berdekatan dengan


mertuanya itu. Ah ... lelaki memang sungguh misterius. Susah dimengerti maunya.


“Benar kok, Ma ... putra Mama


sangat baik memperlakukanku,” ujar Naja diiringi senyum meyakinkan. Ya, kecuali


tadi siang dan juga suaranya yang selalu membekukan.


“Dia memang tidak suka banyak


bicara, dan kau tahu ‘kan, dia seperti itu karena Mikha ... sebelumnya dia


hanya suka menyendiri tapi dia masih perhatian dan hangat.” Harris menyandarkan


kembali punggungnya di sandaran sofa usai menyesap teh seduhan menantunya


tersebut. “Oh ya, Yang ... kamu bilang akan memberitahu Naja sesuatu. Ayo ...


beritahu sekarang ...!” Harris mematahkan kepalanya ke arah Naja yang memberi


perhatian penuh pada kedua mertuanya tersebut.


Kira menarik napas dan


meletakkan cangkir kembali ke tatakannya. “Na ... sebenarnya kamu masih punya


seorang ayah mertua selain papa mertuamu yang ini ....” Kira meletakkan telapak tangannya di atas tangan suaminya.


Naja mengangguk, “aku sudah


tahu, Ma ... Excel sudah memberitahuku beberapa waktu lalu ...,”


Bibir Kira mengukir senyum, “Mama berencana mengajak kalian


makan malam bersama lusa atau kapan hari jika kamu sudah siap.” Kira merasa


lega sebab Naja tak terlalu mempermasalahkan silsilah keluarga Excel. Rupanya


Naja berpikir lebih dewasa dari penampilannya, pikir Kira.


“Kapan saja, Naja siap, Ma ...


aku juga ingin berkenalan dengan ayah suamiku.” Naja tidak berpura-pura atau


sekadar basa basi, baginya mengenal keluarga orang yang akan menjadi teman


hidupnya itu juga perlu. Senyum di bibir Kira terkembang, ia mengalihkan


dari bibirnya.


***


Excel menyipitkan matanya ketika


mendapati rumahnya dalam keadaan terang benderang dan pintu depan yang


tampaknya terbuka. Ia tak pasti melihat pintu itu karena letaknya yang sedikit


tertutup tanaman hias yang cukup basar.


Setelah memarkirkan kendaraannya


serampangan, Excel mengayunkan langkah kakinya tergesa-gesa ke dalam rumah.


Rasanya hanya dalam satu kali tarikan napas, kaki Excel sudah menjejak di depan


pintu, matanya tergesa mengintip masuk ke dalam rumah. Akan tetapi di saat


yang sama, pandangannya bertemu dengan papanya yang rupanya mendengar suara samar mobil


memasuki halaman rumah.


“Papa ...,” Excel mengerjapkan


kelopak matanya, menyingkirkan rasa cemas yang melanda dirinya sesaat lalu,


namun masih tersirat di ambang wajahnya saat ini. Sejenak ia juga melayangkan pandangannya pada Naja yang langsung berdiri untuk menyambutnya. Wajahnya tampak biasa saja seolah tidak terjadi apapun sesiangan ini.


“Kau dari mana saja? Malam begini


baru pulang?” pertanyaan Kira menyela bibir suaminya yang sudah terbuka untuk


menanyakan hal yang sama.


Excel membisu, tetapi ia segera


menghampiri kedua orang tuanya itu, dan menyalaminya, “dari kantor, Ma ...,” jawab


Excel lirih. Ia tidak mau sampai orang tuanya tahu bahwa dirinya masih


mengurusi Mikha.


Namun, sepertinya baik Harris


maupun Kira sepertinya tidak percaya begitu saja dengan penuturan putranya. Sehingga mereka menatap Excel penuh kecurigaan, tetapi mereka tak sampai hati mencecar putranya itu saat ini.


“Mama dan Papa sudah lama di


sini?” Excel mendaratkan tubuhnya di sebelah Naja, mengganti topik pembicaraan. Ekor¹


matanya melirik Naja degan perasaan lega, istrinya itu tampak baik-baik saja. Berjubel pertanyaan yang berebut untuk melompat dari kerongkongannya, tetapi Excel menyimpan semuanya untuk nanti.

__ADS_1


“Na ... antar suamimu ke kamar


agar segera mandi ... bau keringatnya kecium sampai di sini,” alih-alih


menjawab, Kira menggosok ujung hidungnya seakan Excel mengeluarkan aroma yang


mengganggu penciuman sang Mama.


“Baik, Ma ...,” Naja mengisyaratkan “ayo” pada Excel yang tengah memandangnya,


dengan gerakan mata. Excel pun segera bangkit mengikuti Naja yang telah


berjalan mendahuluinya.


“Kamu tadi kemana?” sergah Excel


ketika ia menutup pintu di belakangnya. Mereka berdua telah berada di dalam


kamar. Naja yang tengah berjalan ke lemari, terkesiap ketika mendengar pintu


kamar tertutup. Sungguh sekarang pikirannya tengah dipenuhi adegan mengerikan


tadi siang. Manik matanya kini menatap penuh curiga pada wajah suaminya yang


tampak datar.


“Aku keluar membeli pembalut ...


memangnya kenapa?” Naja membalik tubuhnya kembali, ia sungguh takut melihat


ekspresi suaminya itu. Ia juga tak kuasa bila berlama-lama mengadu pandangan


dengan pria tampan di depannya ini.


“Kalau mau kemana-mana bilang


dulu ... kau tahu aku tadi kebingungan mencarimu!” suara Excel terdengar ketus


di telinga Naja.


Naja memutar kepalanya menghadap


Excel yang mulai melucuti pakaiannya, sehingga tampaklah dada bidang Excel yang


penuh dan bersih. “K-Kau mencariku?” Gugup Naja sembari memalingkan wajahnya ke arah lemari dan buru-buru membukanya. Ia tak mau berlama-lama di sini sebab udara di sini terasa pengap.


“Apa aku kurang jelas berkata?”


sembur Excel sembari mendekati Naja yang tengah meletakkan tangannya di atas


tumpukan baju milik Excel.


“Untuk apa mencariku? Jelas-jelas


aku hanya keluar sebentar ...,” tubuh Naja beringsut sedikit menjauh. Ia merasa


panas bila terlalu dekat dengan suaminya ini.


“Kau ini bodoh atau bagaimana


sih? Aku mencarimu karena kamu tidak ada di dalam rumah dan kau pergi juga


tidak berpamitan denganku!” seru Excel.


“Kau itu juga pendek pikiran ...


sudah tahu kau masih berada di dalam kamar mandi, bahkan aku sudah menunggumu


begitu lama. Apa iya aku harus masuk ke dalam sana hanya untuk meminta izin


beli pembalut?” balas Naja tak mau kalah. Mata Naja tebingkai penuh oleh


kelopak matanya yang melebar sempurna, ia bahkan tak mengizinkan kelopak


matanya untuk mengatup barang sejenak. Naja begitu kesal selalu dikatai bodoh


oleh Excel.


“Kalau aku mau kabur semua


barang-barangku pasti juga kubawa, dan apa kau tidak melihat ada notifikasi


masuk ke dalam ponselmu? Aku memakai kartu darimu untuk membeli pembalut!” Naja


menabrakkan bahunya di lengan Excel yang langsung menggetarkan tubuh tinggi


Excel. “Dasar pemarah ...!” gerutu Naja yang pasti di dengar Excel dengan


jelas.


"Lama-lama kuremas juga bibirnya yang selalu berkata pedas itu." gerutu Naja ketika ia hendak menuruni tangga. Ia mencengkeram erat pegangan dari kayu sebagai pembatas tangga itu, tetapi kepalanya masih lekat mengawasi pintu seolah di sana terlukis gambaran wajah Excel yang tengah menatapnya dingin.


Naja kembali ke bawah bersama


mertuanya yang sepertinya terlibat obrolan serius. Tak ingin menganggu, Naja akhirnya


meminta izin untuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


.


.


.


.


.


Follow akun media sosial author atau bergabung di gc author agar tahu jadwal update author


Arigatou🙏😉

__ADS_1


__ADS_2