
Separuh kota telah ia jelajahi
hingga hari beranjak malam, tetapi keberadaan Naja belum juga ia temukan.
Beberapa teman yang ia ketahui nomor kontaknya telah ia hubungi, tetapi tak satupun dari mereka yang mengetahui. Sepanjang perjalanan itu pula, telinganya dipenuhi dengan nasehat dari kedua teman karibnya itu. Nasehat yang sebagian besar hanya berupa ejekan, yang malah membuat telinganya terasa mau meledak.
Lelah, akhirnya Excel memutuskan menghubungi Jen—sejak tadi ia urungkan niatannya itu—satu-satunya orang yang paling dekat Naja tetapi dengan resiko paling besar
yaitu ketahuan oleh mama dan papanya. Ya, ia terpaksa melakukan itu sebab ia
tak tahu lagi harus mencari istrinya tersebut kemana. Ia telah menyiapkan hati
dan juga telinganya untuk menerima omelan kedua orang tuanya tersebut.
Excel mengembuskan napas sebelum
menekan nomor Jen yang tersimpan dalam smartphone-nya.
"Jen ... kamu lagi di
mana?” sergah Excel ketika sambungan teleponnya itu terhubung.
“Lagi di studio, Kak ... ada
apa?”
“Apa Naja sedang bersamamu?”
Excel kembali menyergap saudara perempuannya itu tanpa basa basi.
“Tidak ... kenapa Kakak
menanyakan istrimu padaku? Kalian sedang berantem, ya?” tuduh Jen.
“Tidak juga ... tadi ... tadi
sepulang kerja, Kakak tidak menemukan Naja di rumah ...! Ponselnya juga tidak aktif sejak tadi.” kilah Excel sembari
menggosok ujung hidungnya yang begitu mancung. Sejenak mengalihkan pandangannya
pada dua orang sahabatnya yang tengah memegang cup kopi, mereka tampak sedang
mencibir dirinya dalam gerakan pada mimik wajah mereka. Mereka tengah berhenti di sebuah kedai kopi untuk sekadar beristirahat.
“Mungkin dia sedang belanja, Kak
... dia tadi me—" Jen menggantung ucapannya. “itu .. tadi dia bilang Tara
akan menginap di rumah kalian ... sudah ya, Kak ... aku sibuk!” pungkas Jen
tanpa menunggu persetujuan kakaknya saat memutuskan sambungan telepon.
Excel kembali mendesakkan
napasnya ke udara yang mulai terasa dingin, “kita pulang saja ... mungkin dia
sedang bersama Tara ...,” ia segera menarik pintu mobil tanpa menuggu
sahabatnya tersebut.
“Pulanglah, Cel ... aku dan Sam
naik taksi saja ...!” Rega menundukkan tubuhnya saat Excel sudah berada di
dalam mobil. “Jangan terlalu khawatir ... Naja tidak mungkin kabur atau mengadu
kepada orang tuanya hanya karena dia akan dipaksa olehmu ....”
“Itu jika pikiran gadis itu
nyampe ... kurasa dia ngga mungkin mikir sejauh itu.” Excel turun kembali dan
mengambil alih kursi kemudi. Pikirannya teracuni oleh bayangan sikap Naja yang
sangat kekanakan dan lelet. Excel mendengkuskan napasnya, bibirnya menarik
senyum samar. “Aku pulang dulu.”
Usai berkata begitu, Excel
segera melajukan mobilnya tanpa menghiraukan lagi kedua sahabatnya tersebut.
***
Setelah menyelesaikan masakannya
dibantu Kira, Naja kini duduk di ruang tamu bersama kedua mertuanya sembari
menunggu Excel. Harris sengaja meminta Naja untuk tidak memberitahu Excel jika
mereka berdua ada di sini. Bersyukur sebab ia tak harus berbohong karena Naja
tidak tahu kemana Excel pergi. Teh herbal —yang Kira bawakan untuk menantunya—kini telah terseduh di cangkir dan mengepulkan asap tipis. Aroma menenangkan menjalar ke indra penciuman seluruh penghuni ruangan ini. Biskuit cokelat dan juga
setoples keripik kentang juga ikut meramaikan meja yang biasanya hanya terisi
lembaran kertas kerja milik Naja.
“Excel memperlakukanmu dengan
baik ‘kan, Na?” Kira menatap menantunya dengan lembut.
Pertanyaan Kira membuat hati
Naja melompat, “I-Iya, Ma ...,” hanya itu yang ia bisa katakan sekarang, ia tak
ingin melebihkan atau menghilangkan kebaikan Excel meski hanya sedikit saja
menurutnya.
“Jangan takut mengatakan sikap
__ADS_1
buruk anak Mama itu, Na ...,” Kira meraih gagang cangkir bermotif itu dan
mengadukan ujung cangkir tersebut dengan bibirnya. Anggun dan elegan, Naja
bahkan tak menyangka wanita yang telah menjadi mertuanya itu pernah
dikhianati oleh mantan suaminya. Apa kurang wanita cantik ini di mata mantan
suaminya? Naja saja yang masih muda merasa minder bila berdekatan dengan
mertuanya itu. Ah ... lelaki memang sungguh misterius. Susah dimengerti maunya.
“Benar kok, Ma ... putra Mama
sangat baik memperlakukanku,” ujar Naja diiringi senyum meyakinkan. Ya, kecuali
tadi siang dan juga suaranya yang selalu membekukan.
“Dia memang tidak suka banyak
bicara, dan kau tahu ‘kan, dia seperti itu karena Mikha ... sebelumnya dia
hanya suka menyendiri tapi dia masih perhatian dan hangat.” Harris menyandarkan
kembali punggungnya di sandaran sofa usai menyesap teh seduhan menantunya
tersebut. “Oh ya, Yang ... kamu bilang akan memberitahu Naja sesuatu. Ayo ...
beritahu sekarang ...!” Harris mematahkan kepalanya ke arah Naja yang memberi
perhatian penuh pada kedua mertuanya tersebut.
Kira menarik napas dan
meletakkan cangkir kembali ke tatakannya. “Na ... sebenarnya kamu masih punya
seorang ayah mertua selain papa mertuamu yang ini ....” Kira meletakkan telapak tangannya di atas tangan suaminya.
Naja mengangguk, “aku sudah
tahu, Ma ... Excel sudah memberitahuku beberapa waktu lalu ...,”
Bibir Kira mengukir senyum, “Mama berencana mengajak kalian
makan malam bersama lusa atau kapan hari jika kamu sudah siap.” Kira merasa
lega sebab Naja tak terlalu mempermasalahkan silsilah keluarga Excel. Rupanya
Naja berpikir lebih dewasa dari penampilannya, pikir Kira.
“Kapan saja, Naja siap, Ma ...
aku juga ingin berkenalan dengan ayah suamiku.” Naja tidak berpura-pura atau
sekadar basa basi, baginya mengenal keluarga orang yang akan menjadi teman
hidupnya itu juga perlu. Senyum di bibir Kira terkembang, ia mengalihkan
dari bibirnya.
***
Excel menyipitkan matanya ketika
mendapati rumahnya dalam keadaan terang benderang dan pintu depan yang
tampaknya terbuka. Ia tak pasti melihat pintu itu karena letaknya yang sedikit
tertutup tanaman hias yang cukup basar.
Setelah memarkirkan kendaraannya
serampangan, Excel mengayunkan langkah kakinya tergesa-gesa ke dalam rumah.
Rasanya hanya dalam satu kali tarikan napas, kaki Excel sudah menjejak di depan
pintu, matanya tergesa mengintip masuk ke dalam rumah. Akan tetapi di saat
yang sama, pandangannya bertemu dengan papanya yang rupanya mendengar suara samar mobil
memasuki halaman rumah.
“Papa ...,” Excel mengerjapkan
kelopak matanya, menyingkirkan rasa cemas yang melanda dirinya sesaat lalu,
namun masih tersirat di ambang wajahnya saat ini. Sejenak ia juga melayangkan pandangannya pada Naja yang langsung berdiri untuk menyambutnya. Wajahnya tampak biasa saja seolah tidak terjadi apapun sesiangan ini.
“Kau dari mana saja? Malam begini
baru pulang?” pertanyaan Kira menyela bibir suaminya yang sudah terbuka untuk
menanyakan hal yang sama.
Excel membisu, tetapi ia segera
menghampiri kedua orang tuanya itu, dan menyalaminya, “dari kantor, Ma ...,” jawab
Excel lirih. Ia tidak mau sampai orang tuanya tahu bahwa dirinya masih
mengurusi Mikha.
Namun, sepertinya baik Harris
maupun Kira sepertinya tidak percaya begitu saja dengan penuturan putranya. Sehingga mereka menatap Excel penuh kecurigaan, tetapi mereka tak sampai hati mencecar putranya itu saat ini.
“Mama dan Papa sudah lama di
sini?” Excel mendaratkan tubuhnya di sebelah Naja, mengganti topik pembicaraan. Ekor¹
matanya melirik Naja degan perasaan lega, istrinya itu tampak baik-baik saja. Berjubel pertanyaan yang berebut untuk melompat dari kerongkongannya, tetapi Excel menyimpan semuanya untuk nanti.
__ADS_1
“Na ... antar suamimu ke kamar
agar segera mandi ... bau keringatnya kecium sampai di sini,” alih-alih
menjawab, Kira menggosok ujung hidungnya seakan Excel mengeluarkan aroma yang
mengganggu penciuman sang Mama.
“Baik, Ma ...,” Naja mengisyaratkan “ayo” pada Excel yang tengah memandangnya,
dengan gerakan mata. Excel pun segera bangkit mengikuti Naja yang telah
berjalan mendahuluinya.
“Kamu tadi kemana?” sergah Excel
ketika ia menutup pintu di belakangnya. Mereka berdua telah berada di dalam
kamar. Naja yang tengah berjalan ke lemari, terkesiap ketika mendengar pintu
kamar tertutup. Sungguh sekarang pikirannya tengah dipenuhi adegan mengerikan
tadi siang. Manik matanya kini menatap penuh curiga pada wajah suaminya yang
tampak datar.
“Aku keluar membeli pembalut ...
memangnya kenapa?” Naja membalik tubuhnya kembali, ia sungguh takut melihat
ekspresi suaminya itu. Ia juga tak kuasa bila berlama-lama mengadu pandangan
dengan pria tampan di depannya ini.
“Kalau mau kemana-mana bilang
dulu ... kau tahu aku tadi kebingungan mencarimu!” suara Excel terdengar ketus
di telinga Naja.
Naja memutar kepalanya menghadap
Excel yang mulai melucuti pakaiannya, sehingga tampaklah dada bidang Excel yang
penuh dan bersih. “K-Kau mencariku?” Gugup Naja sembari memalingkan wajahnya ke arah lemari dan buru-buru membukanya. Ia tak mau berlama-lama di sini sebab udara di sini terasa pengap.
“Apa aku kurang jelas berkata?”
sembur Excel sembari mendekati Naja yang tengah meletakkan tangannya di atas
tumpukan baju milik Excel.
“Untuk apa mencariku? Jelas-jelas
aku hanya keluar sebentar ...,” tubuh Naja beringsut sedikit menjauh. Ia merasa
panas bila terlalu dekat dengan suaminya ini.
“Kau ini bodoh atau bagaimana
sih? Aku mencarimu karena kamu tidak ada di dalam rumah dan kau pergi juga
tidak berpamitan denganku!” seru Excel.
“Kau itu juga pendek pikiran ...
sudah tahu kau masih berada di dalam kamar mandi, bahkan aku sudah menunggumu
begitu lama. Apa iya aku harus masuk ke dalam sana hanya untuk meminta izin
beli pembalut?” balas Naja tak mau kalah. Mata Naja tebingkai penuh oleh
kelopak matanya yang melebar sempurna, ia bahkan tak mengizinkan kelopak
matanya untuk mengatup barang sejenak. Naja begitu kesal selalu dikatai bodoh
oleh Excel.
“Kalau aku mau kabur semua
barang-barangku pasti juga kubawa, dan apa kau tidak melihat ada notifikasi
masuk ke dalam ponselmu? Aku memakai kartu darimu untuk membeli pembalut!” Naja
menabrakkan bahunya di lengan Excel yang langsung menggetarkan tubuh tinggi
Excel. “Dasar pemarah ...!” gerutu Naja yang pasti di dengar Excel dengan
jelas.
"Lama-lama kuremas juga bibirnya yang selalu berkata pedas itu." gerutu Naja ketika ia hendak menuruni tangga. Ia mencengkeram erat pegangan dari kayu sebagai pembatas tangga itu, tetapi kepalanya masih lekat mengawasi pintu seolah di sana terlukis gambaran wajah Excel yang tengah menatapnya dingin.
Naja kembali ke bawah bersama
mertuanya yang sepertinya terlibat obrolan serius. Tak ingin menganggu, Naja akhirnya
meminta izin untuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
.
.
.
.
.
Follow akun media sosial author atau bergabung di gc author agar tahu jadwal update author
Arigatou🙏😉
__ADS_1